NovelToon NovelToon
SAHABAT RASA PACAR

SAHABAT RASA PACAR

Status: tamat
Genre:Pengawal / Tamat
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: ARIA METHA

gsusbdvdiebdidbs

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIA METHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KLARIFIKASI 1

Haris benar-benar sukses membuatku kesal, aku bisa melihat dia sedang mengerjaiku dari wajahnya yang menyeringai licik. Dia cuma tertawa saat aku memukuli lengannya, “Kamu bohong, abang nggak mengancammu kan?”

“Siapa yang bilang kalau aku mendapat ancaman dari abangmu?” Haris terus tertawa.

Aku beranjak dari sofa sambil menghentak-hentakkan kaki menuju pintu, bisa-bisanya dia bercanda saat seperti ini, “Riana, jangan ngambek dong. Aku kan cuma bercanda,” Haris kembali menggiringku duduk di sampingnya.

“Maaf ya sudah membuatmu kesal, aku kan cuma bercanda,” ucapnya saat melihatku cemberut.

“Kamu minta maaf hanya untuk itu? Kamu nggak merasa bersalah sudah mempermalukanku saat di pantai tadi?” tanyaku sarkas.

Rahangnya mengeras dan tatapannya berubah dingin ketika aku mengungkit peristiwa saat di pantai tadi, “Berjanjilah padaku, kamu tidak akan menggenakan bikini lagi.”

“Kenapa aku harus berjanji padamu?” Tanyaku tidak mau kalah. Memangnya hanya dia yang bisa marah, aku juga kesal di perlakukan tidak manusiawi, apa lagi aku tidak tahu alasannya membopongku.

“Aku tidak suka tubuh calon istriku di nikmati oleh mata laki-laki lain, aku  bisa melihat dari tatapan mereka yang ingin menerjangmu,” ucapnya dingin.

“Termasuk kamu kan?” tuduhku.

“Aku tidak serendah itu, Riana.” Geramnya marah, “Kalau aku ingin merusakmu sudah dari dulu aku melakukannya. Aku hanya ingin mengambilmu dengan izin orang tua dan abangmu melalui ikatan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Jadi tolong, penuhi permintaanku itu.”

Aku hanya bisa megap-megap seperti ikan mas koki ketika mendengar penjelasan Haris, otakku mendadak mati dan jantungku berdegup kencang. Apa lagi saat Haris menatapku seperti ini, rasanya aku ingin pingsan saja.

“Kamu mengerti kan sekarang? Jangan buat aku marah lagi, oke?” aku hanya mengangguk menyetujui permintaan Haris.

“Aku serius, yan. Jangan pernah mengenakan bikini lagi, kamu hanya boleh mengenakan bikini ketika kita sudah menikah, itu pun hanya boleh digunakan di rumah saja saat kita berenang bersama.” Jelas Haris.

“Jangan harap aku mau melakukannya.” Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengenakan bikini saat berduaan dengan Haris.

Haris tertawa, dia mengacak-acak rambutku yang memang sudah seperti sarang burung akibat menangis, “Jadi cewek jangan judes ah, nggak enak di pandang.”

Aku hanya mendengus, memangnya kapan aku judes? Aku tidak merasa tuh sudah bersikap judes padanya.

“Sudahlah, aku mau ke kamar, mau mandi,” aku beranjak dari sofa lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan tote bag ku yang di bawa Haris tadi.

“Kamu mencari apa?”

“Tote bag dan selimut aku kamu letakkan di mana?”

“Ada di atas meja dekat pintu,” kata Haris kemudian setelah dia berusaha mengingat dimana dia meletakkan Tote bag dan selimutku.

Aku memasukkan kain pantai ke dalam tote bag kemudian menyampirkannya ke bahu, “Kita makan siang bareng, nanti aku jemput,” teriak Haris sebelum pintu tertutup.

Aku masuk kedalam lift dengan pikiran melayang, pipiku merona saat mengingat kembali peristiwa yang baru saja aku alami. Benar dugaan Nita, Haris menyukaiku.

Aku mencari-cari kartu kunci di tote bag, setelah menemukannya aku segera membuka pintu kamar dan langsung menghubungi Nita.

“Halo yan, gue lagi di butik nih. Nanti gue telpon lagi …”

Kata-kata Nita langsung aku potong, “Ta Haris suka sama gue,” teriakku histeris.

“Lo baru nyadar,” aku bisa merasakan Nita memutar matanya.

“Respon lo kok gitu banget sih,” protesku.

“Lo aja kali yang lemot, gue udah menduganya kali. Selamat ya Riana, akhirnya lo nggak perlu lagi susah-susah nyari pacar. Noh di depan mata juga ada yang bersedia jadi pacar lo.”

Aku hanya mengangguk-angguk menyetujui perkataan Nita, “Haris ternyata sahabatnya mbak Dian, Ta,” aku merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.

Nita berdecak kagum,“Dunia ternyata sempit banget ya, gue nggak nyangka aja gitu Haris udah kenal calon kakak ipar lo. Jadi gimana? Lo kenikahan gue bareng Haris kan?”

“Gue masih belum berani mengenalkan Haris ke nyokap, Ta. Gue takut nyokap nggak akan setuju kalau gue jalan bareng Haris.”

“Pelan-pelan aja yan, jangan langsung ke nyokap lo. Haris lo kenalin aja dulu ke bang Reno, pasti penilaian nyokap lo berubah, kan bang Reno antek-anteknya Tante Rena,” Nita tertawa dengan leluconnya sendiri.

“Kayaknya abang dan bokap gue sudah tahu deh. Dugaan gue nih, Abang ke Bali bareng Haris,” gumamku. aku baru ngerti sekarang, kenapa papa bilang mbak Dian dan Haris akan selalu mengawasiku di Jogja.

“Lo sekarang di Bali? Kenapa nggak ngasih tahu gue sih,” teriak Nita, kupingku sampai berdengung mendengar teriakan Nita.

“Aduh ta jangan teriak-teriak deh, gue nggak tuli,” protesku sambil menjauhkan ponsel dari telingaku.

“Elo sih ke Bali nggak ngasih tahu gue, rencananya lusa gue mau nyuruh lo balik ke Jakarta untuk ngukur gaun pengiring pengantin gue,” gerutu Nita.

“Lo sekarang dimana?”

“Gue kan sudah ngasih tahu lo kalau gue lagi fitting gaun pengantin, dimana lagi kalau bukan di butik. Lo lemotnya kebangetan banget ya,” Nita berdecak sebal, “jadi kapan nih, lo ngukur gaun?”

“Gue kirimi ukuran aja deh, gue lagi males balik. Males ketemu nyokap.”

“Gue nggak mau tahu, pokoknya hari Rabu lo harus ke Jakarta untuk ngukur gaun pengiring pengantin, kalau perlu gue akan nyuruh Rogi untuk Jemput lo di Jogja,”

“Yah Nita, gue lagi males balik nih,” protesku.

“Gue nggak mau tahu, lo harus ke Jakarta. Lo juga hutang penjelasan, gue pengen tahu bagaimana Haris nembak lo.”

“Memangnya gue burung ditembak segala,” gerutuku masam.

Nita terkekeh geli mendengar ucapanku, “Gue tunggu Lo balik ke Jakarta.”

“Baiklah calon nyonya Rogi,” aku mengalah. Lagi pula aku perlu tempat curhat, Haris sudah tentu di coret dari daftar kerena objek curhatnya dia sendiri.

“Jangan lupa ya ajak pacar lo sekalian untuk ngukur tuxedo yang akan dia pake mendampingi elo.”

“Gue nggak janji ya.”

“Gue tutup nih telponnya mau lanjut fitting lagi, see you.”

“See you too, muaachh,”

“Geli banget dengernya, kamprett.” Gerutu Nita, lalu dia menutup telponnya. Siapa yang bisa melawan Nita kalau sudah ada maunya.

 Aku harus menyiapkan mental untuk bertemu mama, lama tinggal sendiri membuatku terbiasa hidup tenang tanpa perintah dan ocehan untuk mencari kerja. Sekarang ditambah lagi mencari pacar, walaupun sekarang aku sudah punya tetap saja aku yakin sekali mama akan merecokiku tentang pernikahan. Itu yang membuatku malas pulang ke Jakarta.

Sekarang sudah mendekati jam makan siang, aku harus bersiap-siap sebelum Haris menjemputku. Aku mengenakan mini dress berwarna pastel blue yang memperlihatkan betisku, dipadukan dengan clutch dan slop flat shoes berwarna senada.

Tidak lupa aku mengenakan make up minimalis yang menonjolkan mata dan rahangku. Terakhir, aku memasang anting berlian mungil yang aku beli kemarin.

Aku menatap diriku di cermin, kapan terakhir kali aku berdandan seperti ini? Saat wisuda satu tahun yang lalu, mungkin. Aku sudah lupa. Seingatku setiap jalan bareng Haris aku selalu mengenakan celana jins dan hoodie, itu pun setelah satu jam penuh dengan keringat yang membanjiri tank topku, tanpa make up. Sedikit pun. Saat ke kampus pun aku hanya menggunakan BB Cream dan lip balm saja.

Bunyi bell menandakan Haris telah tiba di depan pintu. Aku segera membuka pintu dan benar saja, Haris berdiri di depanku mengenakan polo shirt berwarna abu-abu yang di padukan dengan celana jins hitam dan sneakers. Aku menarik nafas ketika melihat penampilan Haris yang lebih tampan dari biasanya, padahal pakaian yang dikenakannya sangat sederhana.

Wajahnya langsung cemberut ketika melihat penampilanku, “Aku tidak suka melihatmu mengenakan dress ini.”

“Apa yang salah dengan penampilanku? Aku tidak mengenakan pakaian yang aneh-aneh kok,” tanyaku bingung.

“Dress ini terlalu pendek, paha kamu jadi kelihatan,” jelas Haris sambil menunjuk mini dress yang aku kenakan.

“Apa bedanya dengan dress biru dongker yang kamu pilih tempo hari?”

“Ya beda, sayang. Dress itu panjangnya sampai ke lutut, kamu malah kelihatan elegan saat mengenakan dress pilihanku itu. Sedangkan dress ini terlalu pendek, cepat ganti.”

Aku menatap Haris cemberut, “Aku nggak mau menggantinya, kalau kamu protes dengan pakaianku lebih baik aku makan sendiri saja.” Sudah capek-capek aku dandan malah nggak dihargai, dia ingin ceweknya dekil apa gimana sih? Heran deh biasanya laki-laki ingin ceweknya terlihat cantik dan menarik.

Aku menutup pintu lalu meninggalkan Haris yang masih tidak setuju dengan dress pilihanku, dia mengikutiku masuk ke dalam lift yang akan membawa kami ke restoran hotel yang ada di lantai dasar.

“Aku akan membunuh setiap laki-laki yang melirikmu,” gumam Haris, “Dress itu terlalu pendek jadi jangan menunduk kalau tidak mau pakaian dalammu kelihatan.”

Mini dress yang aku kenakan ini tidak terlalu pendek, panjangnya hanya beberapa senti diatas lutut selain itu aku mengenakan celana pendek dibalik dress ini. Tapi ya sudahlah, turuti saja apa kata Haris, aku tidak mau terjadi pertumpahan darah hari ini.

Haris memilih duduk di dekat kolam renang, selain kolam renang kami juga bisa menatap pantai dari kejauhan. Aku memesan Norwegian salmon steak, Cesar salad dan orange jus, sedangkan Haris memesan premium tenderloin steak di sertai kentang goreng dan orange jus.

“Dari mana kamu tahu aku ada di sini?” tanyaku begitu pelayan sudah menerima pesanan kami.

“Reno memberitahuku kalau kamu ada di Bali. Jumat pagi aku ke kosmu, tapi kamu sudah pergi ke bandara,” Haris bersandar di kursi, “Apa yang kamu pikirkan saat itu? Aku yakin sekali kamu ke sini bukan untuk liburan tapi untuk menghindariku.”

“Siapa yang bilang aku menghindarimu, aku kesini beneran untuk liburan.”

“Aku nggak percaya,” Haris menggelengkan kepalanya, “Jangan coba-coba kamu berbohong. Tiga Minggu aku berusaha menghubungimu, tiga Minggu,” Haris menekankan kata-katanya, “Telpon, WhatsApp, bahkan aku ke kosmu pun tidak kamu perdulikan,” Jelas Haris berapi-api, “Aku bolak-balik ke kosmu, dan kamu tidak pernah sekalipun memberitahuku apa yang salah. Aku jadi bertanya-tanya, apa salahku hingga kamu tidak mau bertemu denganku?”

Aku hanya menatap tanganku yang ada di pangkuan, membiarkan Haris mengeluarkan unek-uneknya.

“Apakah saat itu kamu merasakan sesuatu? Kamu marah aku bersahabat dengan Dian?”

“Mungkin saat itu aku hanya kaget, aku tidak tahu kamu sudah kenal mbak Dian. Sehari sebelumnya kamu bilang suka sama seseorang, aku pikir orang itu mbak Dian,” jelasku.

“Kamu hanya berasumsi, sayang. Kamu tidak benar-benar memastikan siapa sesungguhnya wanita yang aku sukai, seseorang yang ingin aku ajak menikah. Jelas bukan Dian orangnya, dia sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Aku tidak akan pernah merebut calon istri orang lain, kayak dunia ini kekurangan wanita saja,” gerutu Haris.

“Mungkin saja kamu beneran suka, siapa pun yang melihat kalian saat saling menyapa akan mengira kalian pacaran,” aku tidak bisa mengontrol nada suaraku yang berubah sinis.

Haris tertawa, benar-benar tertawa lepas, “Kamu lucu kalau cemburu, jadi gemes,” kemudian dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.

“Halo Tama gue yang tampan, apa kabar?” sapa mbak Dian beberapa saat kemudian.

“Hai D, aku sekarang di Bali nih,” sapa Haris balik, dia sengaja mengaktifkan mode speaker supaya aku bisa mendengar percakapan mereka.

“Lo sudah ketemu Riana? Reno bilang kalian akan bertemu di bandara untuk menjemputnya, dari tadi gue nelpon Reno nggak aktif terus ponselnya.”

“Reno sudah balik lagi ke Surabaya, mungkin sekarang dia lagi di udara makanya nggak bisa menjawab teleponmu. Kamu mau bicara sama Riana? Orangnya sekarang ada di depanku.”

Aku berusaha menyibukkan diri dengan menata makanan ketika pelayan datang dan tidak menghiraukan Haris yang menyodorkan ponselnya kearahku.

“Yan kamu masih hidup?” Haris meletakkan ponsel di depanku ketika aku tidak juga menyambut ponselnya.

1
yourstrawberry
Sejauh ini, ini yg paling ok. Ngetiknya rapi, penggambarannya bagus, bs ngerasain frustrasinya si tokoh utama. Like this!
Nining Wati
lanjut dor ceritany bagus
sv7whs8sbsudbsi
maaf ya untuk sementara aku nggak bisa sering-sering update, ada rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan. nanti aku usahakan untuk melanjutkan cerita Riana dan Haris. mohon pengertian dari kalian 🙏🙏
LiveChic
dari sekian banyak novel yang saya baca, novel inilah yg bnarツイ bagus, penulisan untaian kataツイ yg indah, emosi,bahagia,, sedih, sangat mendominasi. novel ini mengajarkan kita ttg arti sebuah pengorbanan, keikhlasan akan takdir yang Allah sdh tentukan,, mahabbah atau cinta kepada Allah dan sesama
SugarplumChum
Thor, kalau tiba-tiba aku kurus berati itu salahmu ya. Habisnya ceritamu bikin lupa waktu wkwkwk Semangat!
girl gang goodies
Imajinasi tanpa batas. Mantap! 総晶
random acts of pastel
Saya suka kalau alur dan ceritanya jelas kayak gini nih! Semangka! Semangat kakaaaak‾
SnowySecret
Thor, please bagi tips gimana caranya biar bisa keren gini ceritanya!!
sv7whs8sbsudbsi
Terima kasih telah mendukung cerita ini dengan cara like, vote dan coment ♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!