Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mamaaaa! Ini apa?
Pelukan Lim begitu terasa hangat. Memberikan kenyamanan tersendiri bagi Ais. Menenangkan, hingga Ia terlelap dengan sendirinya.
"Ais, udah tidur?" tanya Lim, namun tak di jawab lagi.
"Ya, putri tidur ini akan dengan gampang memejam kan mata jika mendapat tempat yang nyaman. Apa, kau nyaman dengan ku?" lirih Lim.
Ia pun merebahkan tubuh Ais di ranjang mereka. Tapi, Ais dengan kuat memeluk lengannya dan begitu sulit di lepaskan.
" Lenganku, senyaman bantal gulingmu? " Senyum Lim di ujung bibirnya.
Ia pun ikut tidur disamping Ais tanpa melepaskan bantalan tangannya. Terlelap disana, memeluk sang istri dengan erat. Meski belum timbul hasrat dalam dirinya dan, menganggap Ais sebagai adik kecil yang harus Ia lindungi.
*
*
Pagi datang dengan hawa dinginnya. Ais menggeliat, semakin erat memeluk lengan yang Ia kira bantal kecilnya itu. Tapi, Ia tersadar ketika akan membalik badan, bahwa yang ia peluk, tak dapat ikut bebalik bersamanya.
"Lah, kok?" fikir Ais, yang akhirnya membuka mata dengan lebar.
"Heh, tangan? Terus tangan siapa?" fikirnya lagi.
Ais pun membalik badan perlahan, setelah melepas lengan itu dari pelukannya.
"Waduh...." tatap nya pada Lim.
Ia pun mengedi-bgedipkan matanya beberapa kali, antara percaya atau tidak dengan sesuatu yang ada di hadapannya itu.
"Aarr.... Mppphh." bibirnya di tutup oleh tangan Lim, agar tak berteriak.
"Masih pagi, jangan buat kerusuhan." ucap Lim, tanpa membuka matanya.
"Kakak Kok disini?"
"Kamu yang ngga mau lepasin tangan saya Kamu kira, lengan saya bantal guling kecil itu?"
"Guling Ais mana? Kenapa ngga dikasih aja?"
Lim tak menjawab, hanya melepas lengan itu dari pelukan Ais.
"Kenapa bukan kamu duluan yang lepas, kalau kamu yang ngga nyaman?" balasnya, lalu pergi menuju kamar mandi.
Ais masih gamang. Ia mencari batalnya yang hilang entah kemana. Bahkan, Ia mencarinya ke dalam lemari Lim, dan berharap menemukannya disana.
"Mana, dimana, bantal guling saya? Bantal guling saya, disembunyiin Paksu." Senandung nya sembari terus mencari.
Terasa air menetes di tengkuk lehernya. Merinding, karena terasa begitu dingin. Ais menghentikan pencariannya, dan berbalik mendongakkan kepalanya ke atas.
" Ngapain?" tanya Lim, yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Dengan rambut dan wajahnya yang masih basah, berdiri tepat di depan Ais yang mengobral abrik isi lemarinya.
Gleeekkk! Ais menelan salivanya. Ia berdiri pelan, dengan bagian belakang yang masih menempel di lemari itu.
"CA-cari guling." jawabnya gugup.
"Kenapa obrak abrik lemari?"
"Kirain, Kak Lim sembunyiin disana. Jadi, Ais cari. Maaf, Ais ngga lagi lagi." ucap Ais, berusaha pergi, tapi Lim menahan dengan menempelkan lengan kirinya di lemari itu.
"Ais mau mandi, Kak. Nanti kesiangan." ucap Ais, yang serba salah menahan tatapan matanya.
Bagaimana tidak. Menatap kedepan, adalah mata tajam Lim. Sedikit kebawah, adalah dadanya yang bidang.dan jika tertunduk, makan kan melihat sesuatu yang lebih menantang.
" Bereskan dulu semuanya. Dan perhatikan, bagian mana yang kau buat berantakan." perintah Lim.
Ais pun kembali merayap, menuruni setiap jengkal lemari itu. Ia baru tersadar, jika yang Ia acak-acak adah lemari terbawah, bagian yang merupakan tempat penyimpanan pakaian dalam.
" Mamaaaaaa! ini apa?" pekik Ais yang nyaris menangis. Tapi, harus Ia tahan karena Lim terus mengawasinya.
"Makanya, kalau bertindak jangan gegabah. Untuk apa menyembunyikan bantalmu disana? Berikan itu satu, akan ku pakai," pinta Lim, mengacungkan tangannya.
biar je...