Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. percaya padamu
Hari sudah gelap, mobil yang kami naiki memasuki halaman keluarga Wijaya. Dua satpam yang biasa berjaga segera membukakan pintu gerbang untuk kami. Yang ku rasa saat ini hanya lelah yang teramat sangat.
Rumah tampak sepi, aku bergegas ke kamar. Aku melihat Andra sudah lengkap dengan piyama tidurnya sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Suara ketak ketik terdengar beruntun.
"Mas, maaf aku baru..."
"Sayang, kamu sudah pulang? Maaf ya, mas tadi terpaksa pulang duluan,"
Andra menghampiriku dan memelukku lembut. Meraih tas jinjing bawaanku dan menaruhnya di ranjang.
"Mas nggak cemburu?"
Aku menatapnya, reaksi Andra mengejutkan. Dia tertawa.
"Dia kan kakak iparmu, apa salahnya kalau kalian pulang bersama?"
Apa aku tidak salah dengar? Bukannya dia bilang aku tidak boleh berdekatan dengan Andre? Kenapa tiba-tiba berubah?
"Tapi kan kemarin mas yang bilang, aku nggak boleh deketan sama Andre,"
Protesku.
"Oh, itu? Mulai hari ini aku bolehin. Mas percaya sama adek, dan nggak seharusnya mengekang adek sampai seperti itu. Maafin mas ya sayang,"
Andra mengecup keningku.
"Mas lagi ngerjain apa sih?"
"Itu, berkas yang mau mas bawa ke Amerika. Banyak banget pe-er mas, nih. bisa minta tolong buatin kopi sayangku?"
Andra mengedip-ngedipkan matanya seperti boneka mampang. Ya Allah, dia sangat imut.
"Oke, mas tunggu ya, adek bikin kopinya,"
Aku bergegas keluar kamar dan menuju dapur. Mungkin hanya perasaanku, tapi aku merasa kalau Andra terlihat lebih manja dari biasanya. Setiap hari rasa cintaku semakin bertambah padanya. Justru ini terjadi di saat kami akan berpisah. Sejujurnya aku takut kalau ini menjadikanku sulit saat jauh darinya.
Aku mengambil toples kecil tempat kopi, lalu memasukkan satu setengah sendok gula. Suamiku itu sangat suka kopi hitam yang kental dan sedikit pahit. Sekarang aku sudah mulai terbiasa menyajikan ini untuknya.
Saat pertama kali aku menyeduh kopi untuknya pantas saja hanya di minum beberapa teguk tanpa komentar. Setelah aku selidiki, baru ku mengerti kalau dia anti kopi manis.
"Mas, ini kopinya. Mau sambil aku pijitin?"
Aku segera pasang posisi, memijat pundak suamiku itu. Matanya fokus ke layar laptop, begitupula jarinya yang lincah menari di keyboard.
"Boleh, sayang. Terimakasih perhatiannya,"
Andra menoleh ke arahku sambil mengacak rambutku pelan.
"Mulai besok, kamu ikut aku ke kantor ya, Rian sudah aku liburkan, biar istriku ini yang menggantikan dia jadi sekertarisku."
Katanya lagi.
"Yeah, terimakasih, mas. Aku akan berusaha jadi sekertaris mas yang baik,"
Aku memeluk Andra dari belakang. Rasa hangat di punggungnya mengalir ke tubuhku. Ingin selalu seperti ini, memeluknya setiap saat. Meskipun semuanya tidak akan seiring dengan keinginanku. Aku todak berkuasa untuk melarangnya membantu kakek. Apalagi Anita pernah bilang padaku kalau kakek wijaya sangat tegas dan galak. membayangkan saja sudah mengerikan. Sampai terbayang tokoh mafia di film-film barat.
"Adek lagi menggoda mas, ya?"
Andra meledekku.
"Nggak mas. Aku lagi pengen aja meluk mas seperti ini. Biar mas bisa rasain, kalau aku sayang sama mas,"
Aku semakin mengeratkan pelukanku. Satu tangan Andra mencakup kedua tanganku.
"Nanti, kalau mas sudah pulang dari Amerika, kita jalan-jalan keluar kota yuk, kan nanti kandungan aku pasti udah kuat mas,"
usulku sambil membayangkan kepergian kami yang sekelas dengan honeymoon.
"Iya sayang, doa'in, biar urusan mas cepat kelar dan kita bisa cepet kumpul lagi,"
Andra kembali fokus bekerja. Aku masih tetap menempel di punggungnya. Tidak ingin berpindah tempat lagi.
"Mas, coba kamu tebak, nanti anak kita cowok atau cewek?"
Sebenarnya mungkin aku ini sedang mengganggunya bekerja. Pertanyaanku terlalu remeh-temeh sekali.
"Apapun sayang, asal lahir dengan sehat. Mas sudah sangat bersyukur,"
Sahutnya. Tetap fokus.
"Mas, kenapa bisa jatuh cinta padaku dengan cepat?"
Aku memanahnya dengan pertanyaan lagi.
"Karena kamu cantik,"
Jawabnya singkat.
"Jadi kalau aku nggak cantik, kamu nggak cinta?"
Sungutku. berpaling dan pura-pura ngambek.
"Bukan gitu maksud mas, tapi memang cantikmu itu yang buat mas terpesona,"
Andra balik memelukku.
"Gombal, Memangnya di amerika sana nggak ada wanita cantik?" Aku menunjukkan kecurigaanku.
"Adek cemburu?"
Dia malah balik bertanya padaku.
"Wajar kan mas, kalau aku cemburu. Mas kan ganteng, jadi cewek mana yang nggak kepincut,"
Aku memonyongkan bibir. Sepertinya aku benar merasa cemburu.
"Senangnya, Akhirnya adek akui, mas ganteng.."
Sahut Andra dengan nada kege-eran.
"Bu-bukan mas, maksudku..."
"Cup.."
Andra tanpa aba-aba mengecup bibirku. Kami berdua mematung.
"Masih mau ngotot?"
Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Kalau iya mau apa?"
Tantangku. Andra mendorong tubuhku ke kasur, hingga posisi kami saling tindih.
"Mau tau mas mau ngapain?"
Andra langsung menelusupkan wajahnya ke leherku dan menciumnya, menghisap seperti vampir dan aku yakin pasti meninggalkan bekas merah di sana.
"Massh..stop..."
Aku mendorong wajahnya menjauh, bukannya menurut, Andra lalu berpindah ke sisi leherku yang lain dan melakukan hal yang sama.
"Masih mau lagi?"
Tawarnya dengan senyuman nakal.
"Mas nakal,"
Aku mencubit perutnya sampai si empunya meringis kesakitan.
"Siapa yang akan melarangku? Adek milik mas,"
Ia memberikan penegasan. Lalu berguling turun dari tubuhku dan kembali memeluk mesra.
"Memangnya kerjaan mas udah kelar?"
Lagi-lagi aku mencolek hidung mancungnya.
"Mas nggak bisa konsentrasi. Abisnya adek sih, godain mas terus."
Keluhnya, membuatku tertawa.
"Siapa suruh mas tergoda."
Aku menjulurkan lidahku, membuat Andra sedikit kesal.
"Sayang.." panggilnya pelan, nyaris seperti berbisik.
"Beneran harus puasa nih?" Tanyanya, aku menyadari pasti untuk saat ini berat baginya menahan keinginan untuk 'itu'. Kami baru menikah, dan beberapa kali melakukannya.
"Sabar dong, sayang. Kan kemarin dokter bilang belum boleh." Andra memanyunkan bibirnya mendengarku menenangkannya.
Aku tidak tega melihatnya tersiksa seperti itu dan mengambil handphoneku untuk searching, siapa tahu
kami menemukan artikel yang bisa memberikan solusi untuk masalah ini.
Mataku berninar saat menemukan sebuah artikel yang pasti membuat Andra bahagia. Aku hanya berdo'a semoga anak yang ada di dalam kandunganku ini kuat, sehat dan selamat sampai lahir nanti.
"Mas, coba baca ini deh,"
Aku menyodorkan handphoneku ke Andra.
"Bentar-bentar mas beres-beres dulu,"
Andra segera menutup laptopnya, menyimpan di laci lalu mematikan lampu tidur kami.
"Mas, mau apa?"
Godaku.
"Mau batalin puasa.."
Bisiknya.
"Maksudnya apa sih mas?"
Aku masih berpura-pura bodoh.
Andra tidak menjawab lagi. Di tariknya selimut dan mulai menerkamku. Seketika keheningan berubah menjadi gaduh. Suara kami memenuhi kamar tidur yang kedap suara.
Pagi harinya, kami terbangun saat matahari sudah menampakkan diri dengan malu-malu. Andra terbangun dengan wajah ceria. Tidak lupa ia ucapkan terimakasih untuk semalam.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.