NovelToon NovelToon
°

°

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Patahhati / Balas Dendam / Poligami
Popularitas:139.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ollane

Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.

Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.

Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.

Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.

Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27: Pesan Terakhir Aldo

Layar mulai berubah-rubah. Alma mematung di tempat setelah menekan video itu. Apa yang terpampangkan di layar computer mulai bergerak dan berganti.

Awalnya yang terlihat hanyalah ruang gelap tanpa cahaya, samar-samar terdengar isak tangis seseorang yang Alma kenali.

Tangis Bi Uyun 'kah?

Bi Uyun memanggil-manggil, "siapapun ... tolong ... tolong ... Tuan Muda, tolong ... kenapa Anda mengikat saya? Apa salah saya Tuan Muda? Saya sudah melayani Nyonya Alma dengan baik, saya juga yang menawarkan kepada mereka untuk membeli rumah yang mereka tempati sekarang sesuai perintah Tuan Muda ... Tuan Muda, Anda dimana? Apa salah saya? Apa ada perintah baru dari Anda untuk saya? Saya akan melakukan apapun yang Anda suruh, tapi jangan sakiti saya. Tuan Muda ...." Bi Uyun masih memanggil parau.

Alma meneguk ludah. Aldo yang menyuruh Bi Uyun agar Alma dan Adli membeli rumah ini? Sebenarnya apa tujuan Aldo.

Seseorang dari arah kamera itu muncul. Lelaki itu tersenyum, mendekat ke Bi Uyun lalu mengusap kepalanya. "Siapa yang ingin menyakitimu, Bi. Aku tak mungkin menyakiti perempuan yang paling berjasa dalam hidupku. Jangan mengada-ngada." Melihat Aldo, mata Alma berkaca-kaca. Baru beberapa hari yang lalu Alma lihat Aldo sudah terbaring tak bernyawa, oleh video itu Alma kembali mendapati Aldo yang terekam dalam keadaan bernyawa. Rasa rindu meremuk dada Alma. Air matanya tidak sengaja menetes.

Penampilan Aldo cukup aneh, pakaian serba putih di antara gelapnya ruangan.

"Pinjam tanganmu, Bi." Aldo menggengam tangan Bi Uyun lalu memperbaiki arah kamera yang awalnya miring.

"Anda mau apa, Tuan Muda?" Bi Uyun bertanya. Meskipun sedikit lega karena Aldo tidak akan menyakitinya. Suaranya masih parau bekas menangis ketakutan.

"Aku hanya ingin meminjam tanganmu untuk memegang kamera ini dan merekamku, Bi." Aldo mengusap pipi Bi Uyun, jemarinya menari-nari di pipi berkeriput itu.

"Sabar sedikit, ya. Aku ingin Alma melihat video ini. Setelah ini direkam, otomatis akan terkirim ke email Alma. Nanti setelah semuanya selesai, jika Alma tidak sempat mengecek emailnya, Bi Uyun mampir ke rumah Alma, ya. Nggak usah lama-lama, cukup bilang, pesan terakhir Aldo, mohon emailnya dicek." Aldo membungkus tubuh Bi Uyun dengan kedua lengannya, tepukan hangat Aldo berulang di punggung perempuan itu.

Aldo menjatuhkan diri, duduk bersimpuh di lantai. Mic kecil di tangannya mengeraskan suara Aldo yang tadinya nyaris tak terdengar.

"Alma ... maafkan aku, ya."

Tangan Aldo meraih vas bunga dan memecahkannya. Menggunakan serpihan benda itu untuk menancap di lehernya dan ditarik hingga membentuk lingkaran. Mengikuti Bi Uyun yang merintih meminta Aldo berhenti, Alma lupa sesuatu. Vas 'kan? Bukannya pisau? "Kamu mau tahu nggak kenapa aku pakai baju serba putih? Biar kamu bisa melihat darahnya dengan jelas." Aldo terkekeh, pakaian atasnya yang putih kotor oleh tetesan darah.

"Kamu tahu Alma, kenapa aku dibawa ke Paris?"

Mata Alma berkaca-kaca saat ditanyai.

"Di sana aku dipaksa menjadi boneka mereka. Dikendalikan, dikekang dan dipaksa untuk sempurna. Disiksa, dipukul dan nyaris dibunuh jika tidak bisa memuaskan mereka. Di sana aku terus merindukanmu, andai kamu ada di situ. Pasti aku baik-baik saja dan bisa menjalaninya, tapi sayangnya aku tidak bisa bawa kamu—" Alma menyesal. Menyesal memilih melupakan Aldo begitu saja. Andai dulu dia nekat untuk menyusul Aldo, semuanya tidak akan terjadi seperti ini.

"Tuan Muda, hentikan! Kumohon, Tuan Muda!" Teriakan Bi Uyun memutus ungkapan Aldo.

Saat Aldo mengambil seuntai tali, mengingat dengan cara apa Alma bunuh diri Alma ikut meraung meminta Aldo membuang tali itu. "Aku sering melakukan percobaan bunuh diri. Tapi jika teringat kamu, selalu kugagalkan. Tapi sekarang aku sadar, seharusnya aku mati sedari dulu. Kamu sendiri sudah tidak butuh aku lagi 'kan?" Aldo mengambil sebuah kursi, lalu mengikat talinya di plafon atas.

Lelaki itu diam sejenak, senyumnya terukir licik, lalu menaiki kursi atas. "Alma ...." Dipanggilnya nama Alma sekali lagi. Pelan, tatapan teduhnya mengarah ke ujung kamera. "Aku mencintaimu."

"TUAN MUDA!!"

Diikuti teriakan Bi Uyun, Alma menutup wajah dengan kedua telapak tangan karena tidak sanggup melihat apa yang terjadi. Alma menangis tertahan, apakah videonya sudah berhenti?

Alma merintih takut, "Aldo ...."

Tapi tawa seseorang dari layar computer membuat tubuh Alma menegang. Alma menyingkirkan kedua tangannya dari wajah, kembali menatap layar computernya. Aldo tertawa, cukup keras. Sambil memegangi perut. "Aku tidak sebodoh itu, Alma. Melepasmu dengan cara mati. Aku tidak mungkin sebodoh itu. Kamu takut 'kan? Nangis sekarang? Menyesal? Aku tidak sabar melihat ekpsresi wajahmu dari kamera kecil yang ada di kamarmu setelah nanti kamu melihat ini."

Aldo membuang tali ke lantai, lalu meloncat turun. Dia mendekati Bi Uyun yang berhenti menangis karena terkejut dengan tawa Aldo. Aldo mengusap pipi Bi Uyun dan menghapus air matanya. "Aku hanya ingin mengerjaimu dan Bi Uyun saja."

"Sebenarnya aku malas hidup, Alma." Aldo berkata. "Aku ingin mati. Tapi karena kamu masih hidup, masih di dunia ini, aku tidak mau pergi. Kamu mengikatku. Sehingga itulah aku tidak akan pernah melepaskan ikatanmu."

"Karena aku malas hidup, aku akan memalsukan kematianku. Biar dunia mengira aku telah tiada, asal kamu tahu aku masih ada. Itu yang aku mau, karena di dunia ini aku cuma mau kamu."

"Kelak kamu akan melihat mayat yang menyerupaiku. Itu lelaki yang mirip denganku yang kutemukan di kampung kelahiran ibuku, bisa dikatakan dia sepupu jauhku. Saat membuat KTP, aku menggunakan sidik jarinya. Jadi identitasku selama ini kupakai berdasarkan dia. Termasuk DNA dan semacamnya. Semua dataku yang tercatat di negara, DNA, sidik jari, golongan darah—kebetulan golongan darahnya sama dengan ibuku—kucatat berdasarkan dia. Jadi, sekalipun itu bukan mayatku, orang tidak akan curiga. Sedangkan dia membuat identitas berdasarkan diriku, menggunakan DNA, sidik jari dan semacamnya dariku."

"Karena dia juga malas hidup, dia menjual tubuhnya padaku dengan seharga 50 miliyar yang nantinya akan kukirim untuk anak dan mantan istrinya yang dia cintai. Jadi, dia yang akan menggantikanku gantung diri malam ini."

Aldo tersenyum, sangat khas.

"Aku takkan melepasmu, Alma." Aldo menggeleng, "takkan pernah. Bahkan meskipun kamu berdiam di rumah itu, aku masih menjeratmu. Rumah itu kubangun dan kujual ke Adli dengan nama orang lain. Di dalam dinding, entah berapa dan dimana saja, banyak sekali alat penyadap dan kamera tersembunyi yang tak mungkin kamu temukan kecuali kamu merobohkan seisi rumah."

Ekspresi Aldo terlihat menjijikkan, "kadang dari hasil rekaman, aku melihatmu mengganti pakaian. Melihat tubuh polosmu. Melihat kamu menangis. Melihat kamu bercinta dengan Adli. Kamu berciuman dengan Adli ...." Wajah Aldo suram. Lelaki itu tertawa. "Tapi aku lebih sering mengabaikan rekaman karena tidak sanggup mendengar dan melihat apa yang terjadi." Sedangkan Alma sudah meringkuk ketakutan. Berarti Aldo masih hidup dan dari rumah ini lelaki itu tengah mengawasinya. Tubuh Alma gemetar hebat, entah mengapa Aldo menjadi mengerikan.

"Saat dunia mengira aku telah tiada, kita bisa bebas Alma." Lelaki itu mengulangi kalimatnya, "kita bisa bebas. Aku rela menjadi seorang lelaki yang hanya dimilikimu di balik bayang-bayang, aku rela. Meskipun kita hanya bisa bercinta dan berciuman hanya dengan sembunyi-sembunyi aku rela."

Lelaki itu tidak nampak keberatan. Alma yang di atas kursi, masih meringkuk takut. Aldo bisa muncul kapan saja, Alma sudah menganggapnya sebagai hantu. "Dengan siapapun kamu menikah, Alma. Aku adalah selingkuhanmu."

Benar saja apa yang Alma takutkan, seseorang memeluknya dari belakang. Mengulangi kalimat terakhir dari layar computer, "dengan siapapun kamu menikah, Alma. Aku adalah selingkuhanmu." Alma takut menoleh. Tentu saja itu Aldo, yang dia anggap sebagai hantu. Aldo mencabut colokan computer Alma hingga layarnya menghitam. Pelukannya hangat saat membungkus Alma dari belakang, bibirnya dengan perlahan menciumi rambut Alma dengan terburu-buru, seperti ingin menghabiskan 100 kecupan dalam 1 menit. Alma menggeleng, menangis ketakutan.

Aldo menciumi pipi Alma yang dingin, wanita itu takut ingin memastikan siapa yang mencumbuinya. "Kamu tidak mau melihatku, Alma?" Kedua tangan lelaki itu membungkus pipi Alma. Benar Aldo, yang entah masuk dari mana. Manik Alma bergetar takut, wanita itu tergagap. "Saat ketakutan begini, kamu menggemaskan sekali." Aldo tersenyum sendu, "tidak mungkin kamu mengira aku hantu 'kan?"

"Ayolah," Aldo mengangkat tubuh Alma, menggendongnya. Senang memeluknya dengan posisi ini. Lelaki itu terlihat sedih, "jangan begitu. Aku melihatmu menangisiku, aku mendengar luapan tangismu."

1
katerina
lanjutkan karya bagus ini
Eka Pengestu
padahal bgus loh...knpa slalu buat cerita yg gantung gini sih thor kek di PHP in..😫
cinta pertama
ditunggu updatenya Thor
cinta pertama
yah... penasaran deh? lanjutkan Thor
cinta pertama
benar-benar menguras emosi dan bikin penasaran. semangat kak ollane... author favoritq
NandhiniAnak Babeh
author kemana ya.. sudah 2 bulan ga ada kabarnya lagi nih 🤔🤔🤔
Rika Jhon
ahaha sean bnr2 udh gila bkn stres lg..tpi aq suka n mendukung itu😀
Rika Jhon
ahaha sean stres🤣
Rika Jhon
ahaha ngakak bgt sm kelakuan ny sean
Rika Jhon
ahaha sean menghayal alma hamil dan dy akn memiliki anak dr alma
Rika Jhon
do'a mu aq dukung sean..dan akan di kabulkan olh otor ny😁
Rika Jhon
wuih sean udh mulai fall in love sm alma tpi dy tdk menyadarinya
NandhiniAnak Babeh
author where are you
NandhiniAnak Babeh
author Cepat bangun dan up lagi.. aku begitu setia dengan Karyamu sampai² slalu mengintip ke lapak mu di setiap waktu nya
NandhiniAnak Babeh
author dimanakah dirimu.. jangan bikin reader jadi tergantung seperti ini 😩😩😩😩😩
Vinna_hot mommy
wew....msh blom up jga c othor....
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
ande
up up up up😊😊😊😊
Lenabid Daeng Lumang
udh gk up lg y Thor😁SDH terlalu lama diriku menunggu🤭
Lenabid Daeng Lumang
kadang geram jg sma si Alma,,kan jadi kasihan sma Sean

semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊
Indah Tuk Di Kenang
up dong thorrr...semangat💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻ada aku yang menunggu😭😭walau berat😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!