Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prewedding
Varel rebahan di kasur big sizenya, memainkan ponselnya berkirim pesan pada Nasya.
💌 Besok jangan lupa kita foto prewedding.
💌Aku tahu. Balasan singkat dari Nasya.
"Kenapa balasnya singkat banget," Varel mengumpat pada ponselnya.
💌Miss you 😘 Balas Varel tak lupa emoticonnya.
💌 bobo udah malam.
"ih disuruh bobo." kembali mengumpat pada ponselnya. Kesal, Varel melempar ponselnya sembarang tempat.
"Driiing...... (Suara ponsel ya guys)
"📞 jodohku calling....
Gelabakan Varel mencari ponselnya.
"Hallo, Jawabnya cepat setelah menemukan ponselnya.
"Kirain udah bobo." Suara Nasya di seberang sana.
"Baru mau bobo tadi."
"Nyanyin gue, ngak bisa bobo soalnya, please." Permintaan Nasya.
"Mau di nyanyiin lagu apa?" Varel tersenyum senang.
"Apa aja, aku kangen suara merdumu."
"ih sama yang empunya suara merdu ngak di kangenin?"
"Cepatan Nyanyi!"
🎵🎵Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik, dengarkanlah aku
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Suara merdu Varel terdengar malaui ponsel Nasya. Nasya tersenyum bahagia.
"Thanks, tambah suka sama suaramu." Ucap Nasya setelah Varel mengakhiri nyanyinya.
"Harus, sama yang empunya suara juga harusnya di sukai."
"Sudah ah, aku mau bobo. tut..
Nasya mengakhiri panggilan telponnya.
"Varel, andai kamu tahu aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita masih bocah." Berbicara pada ponselnya.
Di seberang sana, Varel mengumpat setelah Nasya mematikan sambungan telponnya sepihak. Padahal dia ingin ngobrol lama pada wanita yang di cintainya itu.
****
Hidup harusnya dipenuhi oleh rasa syukur, karena masih diberikan matahari pagi.
"Ini akan menjadi hari yang lebih baik, Ucap Nasya bangun dari tidurnya dan merenggangkan badan.
Dia meraih Handuk,bergegas mandi dan berpakaian rapi. Hari ini agendanya adalah melakukan foto prewedding.
"Mbok, Mami belum turun?" Tanya Nasya setelah tiba di dapur, mendapati hanya pembantunya yang berada di dapur.
"Belum non.Jawab Mbok singkat, terus melanjutkan aktifitasnya.
"Nasya bantuin mbok ya."
"Jangan Non, ini pekerjaan Mbok."
"Nasya bantuin potong-potong sayur ya." mengambil sayur yang masih utuh, tanpa menghiraukan larangan dari mbok.
Mbok membiarkan Nasya memotong-motong sayur. Dilarangpun tidak mungkin, karena dia tahu betul sikap keras kepala Nasya.
"Tumben mami belum turun?" Bertanya pada Mbok.
Tak ada jawaban dari mbok.
"Kenapa nyari mami?" Suara Nancy di belakang Nasya putrinya.
"Heh, Mami kagetin aku aja." Menghentikan aktifitasnya sesaat dan menatap kesal pada maminya.
"Tumben pagi-pagi udah didapur?"
"ih, Mami apaan sih biasanya juga nasya pagi-pagi udah di dapur bantuin Mami. Mami tuh yang tumben telat bangun."
"Hehe, Tertawa kecil menyadari kekonyolannya barusan.
ting.. tong... Suara bell di rumah Nasya.
"Bukain sana, pasti Varel." Ucap Nancy.
"Kenapa dia datangnya pagi banget sih." Ucap Nasya pelan, berjalan ke arah pintu depan.
Clek...
Pintu terbuka, terlihat Varel berdiri mengenakan pakain santainya. Nasya terpesona, dia berdiri mematung di hadapan Varel.
"Hey, ngak disuruh masuk nih." Suara Varel membuat nasya kaget dan tersadar dari diamnya.
"Gantengkan aku," Bisiknya pelan di telinga Nasya.
"Biasa aja, ayo masuk." Dusta Nasya, padahal jelas-jelas dia terpesona akan ketampanan Varel.
Varel sedikit kecewa, dia berjalan beriringan bersama Nasya hingga tiba di ruang tamu.
"Tunggu di sini sebentar, aku bantuin mami masak."
"Aku ikut ke dapur aja, malas di sini sendiri." Beranjak dari duduknya dan mengikuti Nasya.
"Nak Varel toh." Ucap Nancy melihat kedatangan Nasya bersama Varel.
"selamat pagi bi." Sapa Varel pada Nancy.
"Pagi juga, kenapa di dapur?"
"Malas sendirian di ruang tamu, kalau disinikan bisa lihat Nasya masak." Ungkap Varel malu-malu.
"Oh gitu," Melirik Nasya yang salah tingkah di sampingnya.
Setelah proses menyiapkan sarapan selesai dan makanan tertata rapi di meja makan.
"Kalau kita udah nikah, aku pengen di siapin sarapan kayak gini tiap pagi." Bisik Varel di telinga Nasya. Mendengar ucapan Varel membuat Nasya bersemu merah.
"Nasya, mukamu kenapa?" Tegur Kenzo memperhatikan Putrinya.
"Ngak apa-apa pi."
"Mukamu merah padam begitu!"
"Panas pi," Menggibas tanganya di wajahnya.
Varel dan Nancy hanya tersenyum melihat kelakuan Nasya.
Setelah sarapan usai, Nasya dan Varel pamit pergi. Mereka akan melakukan foto prewedding hari ini.
"Semoga hari kalian menyenangkan." Ucap Nancy mengantar kepergian Nasya.
Menaiki mobil mewah kepunyaan Varel, mereka melaju menuju sebuah stadiun besar yang berada di kota A.
Tiba di stadiun, mereka mencari keberadaan tim fotografer yang di siapkan oleh WO.
"Udah lama?" Tanya Varel begitu mereka menghampiri tim fotografer yang sedang mempersiapkan alat potret mereka.
"Sebentar lagi kita mulai, mas dan mbaknya silahkan ganti kostum dulu." Perintah si ketua tim.
Varel dan Nasya berganti kostum sesuai perintah si ketua tim. Sesi pertama mereka mengenakan kostum Arsenal Warna merah.
"Ayo kita mulai."
Nasya dan Varel sebagai objek foto berdiri dengan cangungnya di depan fotografer yang siap memotret mereka.
"Kenapa kaku begitu mas dan mbaknya kita foto prewedding loh bukan foto ktp. Mesra sedikitlah."
"Mesra bagaimana?"
"Masnya duduk, pegang bola mengunakan tangan kanan dan mbanya memeluk masnya dari belakang, kedua tangan melingkar di leher masnya." Arahan si fotografer.
Varel dan Nasya bergaya sesuai arahan fotografer.
"Aku tercekik Nasya,peluknya jangan terlalu erat aku ngak bisa nafas."Ucap Varel pelan memukul tangan Nasya yang berada di lehernya.
"Terus harus bagaimana?"
Varel dan Nasya berdebat tanpa henti.
"Ayolah Mas dan mbaknya mesra sedikit. kapan dapat fotonya kalau begini." Ucap fotografer setelah sekian lama dan capek mengarahkan kedua objek fotonya tersebut.
"Sekali lagi mas, kali ini akan serius." Ucap Varel.
"Ayo, peluk gue, jangan terlalu kencang peluknya. Kita tatap-tatapan ya.perintah Varel.
"Hem, Nasya bergaya sesuai permintaan Varel. Ketika mereka saling bertatapan sangat dekat. Hal itu membuat Jantung Varel berdegup tak beraturan, badannya terasa panas dan bagian bawahnya juga ikut menegang.
Momot, aku mohon jangan bangun, tidur aja. aku cuma pakai celana bola nih, ketahuan nanti kalau kamu bangun. batin Varel
"Bagus, tahan." Ucap Fotografer terus memotret.
"Oke sudah dapat, kita ganti kostum lain."
Ucap fotografer setelah berhasil memotret Varel dan Nasya.
"Bisa istirahat sebentar." Teriak Varel masih dengan posisi duduknya.
"Oke kita istirahat 15 menit setelah itu kita lanjutkan dengan kostum lain.
"Syukurlah." Ucap Varel pelan,memainkan ponselnya.
Momot tidur, waktumu cuma 15 menit.batin Varel.
15 Menit berlalu, Varel beranjak dari duduknya menuju ruang ganti. disana sudah ada Nasya yang sedang di rias.
.
.
.
.
.
🕊🕊🕊
selalu dukung Author ya guys melalui Vote, like dan komentar. biar Author semangat nulis untuk update selanjutnya😘😘🙏🙏