Arjuna. Dia menikahi seseorang lalu mengabaikannya, tanpa peduli dengan perasaan wanita itu karena hatinya masih tertinggal pada masa lalunya.
_____
“Kenapa, kenapa lama sekali aku menunggu kamu untuk melihat ke arahku, Mas?”
Arjuna seakan tertampar mendengar ucapan Danita.
_____________
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTD 27
...Pagi, aku update lagi nih!...
...Jangan lupa like, love dan vote ya....
...xoxo...
..._____...
...Happy reading!...
...***...
“Apa yang saya perintahkan sudah siap semuanya?”
“Sudah, Tuan. Semuanya sesuai dengan permintaan Tuan Arjuna.”
“Bagus, jangan sampai ada yang terlewat.”
“Baik, Tuan.”
“Kamu sudah boleh pergi”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
Arjuna menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Pria berkemeja biru itu pun keluar, saat itu pula Aldo masuk dan berpapasan dengan pria tersebut.
“Persiapannya sudah selesai?”
“Sudah.”
“Sukses deh, hadiah dari gua nyusul ya.”
Arjuna tersenyum mendengar ucapan Aldo. dirinya tak sabar untuk segera memberikan kejutan kepada Danita.
Semoga kamu suka.
Di sisi lain di waktu yang sama.
“Anda sangat tahu konsekuensinya, seharusnya Tuan tahu hal ini.”
“Tidak, saya tidak mungkin bisa mengatakan kepadanya sekarang. Bagaimana saya bisa menghancurkan kebahagiaannya.”
“Tapi_”
“Saya mohon, tolong rahasiakan semua ini.”
Wanita berkacamata itu mengangguk pasrah. Bagaimanapun ini pilihan adalah pilihan yang sulit, dia juga sangat memahami apa yang dirasakan wanita di hadapannya ini.
“Terima kasih.”
Dia percaya inilah yang terbaik.
...***...
“Sayang, kita memangnya mau ke mana?”
Sore tadi Arjuna mengatakan jika Danita harus bersiap untuk pergi. Saat ditanya akan pergi kemana, Arjuna tidak mengatakan apapun.
“Rahasia.” begitu jawabnya ketika Danita bertanya.
Arjuna bahkan menyiapkan pakaian untuk Danita. Dress berwarna biru pucat dengan berlengan panjang, gliter pada bagian tille membuat berkilau ketika diterpa cahaya lampu. Dress itu sangat cantik dan anggun, dan begitu nyaman saat digunakan meskipun kehamilan Danita yang semakin membesar.
Sekarang kedua tengah menaiki mobil untuk pergi ke tempat di mana hanya Arjuna yang tahu, karena sedari awal mata Danita ditutup kain.
“Nanti kamu juga akan tahu .... nah, sekarang sudah sampai.”
Arjuna memarkirkan mobilnya di halaman sebuah restoran mewah.
“Berarti sudah boleh buka ini. Tunjuk Danita pada kain yang menutup matanya.”
“Belum, nanti kalau sudah sampai. Sekarang kita keluar dulu, aku bantuin ya. Hati-hati.”
Arjuna menuntun Danita masuk ke dalam sebuah restoran mewah, di sana dia sudah menyiapkan kejutan untuk istrinya.
Samar samar Danita dapat mendengar debur ombak dan angin yang sejuk. Entah ke mana suaminya membawanya, apakah ke pantai? Tapi tidak mungkin, Arjuna begitu overprotektif kepadanya. Mengingat dirinya tengah hamil dan terlebih ini malam hari.
Apakah dia salah dengar? Entahlah.
Namun rasa penasaran Danita terjawab ketika Arjuna membuka kain yang sejak tadi menjadi penutup matanya.
Dihadapannya sekarang ada satu meja dengan dua sofa empuk, terdapat beberapa bunga yang dirangkai begitu indah, lilin, dan juga kelopak bunga mawar di meja itu. Meja yang langsung menghadap ke hadapan kolam renang dan terhubung langsung ke bibir pantai.
Cahaya lampu yang temaram serta beberapa lampu lampu lampion kecil yang terdapat di ruangan itu, semakin membuat suasana romantis.
Danita menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia begitu terharu dengan kejutan yang diberikan oleh suaminya.
“Mas, ini_”
Danita bahagia hingga tidak bisa berkata-kata. Pasalnya ini kali pertamanya mereka berdua melakukan makan malam romantis. Lebih tepatnya, Arjuna memberikan kejutan yang indah ini. Meskipun beberapa bulan ini mereka begitu bahagia, tapi ini kali pertama Arjuna menyiapkan kejutan manis yang pernah Danita impikan.
“Selamat ulang tahun pernikahan, sayang.”
Setelah mengatakan hal itu, Arjuna memberikan kecupan di kening dan bibir istrinya singkat.
“Kamu suka.”
Danita mengangukkan kepalanya.
“Terima kasih, Mas.”
Arjuna memeluk tubuh istrinya dari samping. Kemudian dia menggenggam tangan Danita dan menuntunnya untuk duduk.
Keduanya tengah menyantap hidangan yang sudah disajikan oleh pelayan. Arjuna tersenyum memandangi wajah istrinya yang nampak begitu bahagia. Di sana hanya ada Arjuna dan dirinya, karena suaminya sudah menyewa tempat itu untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka untuk pertama kalinya.
“Maaf kalau mas baru menyiapkan ini sekarang, dan enggak di bisa langsung di pinggir pantai karena anginnya terlalu kencang. Mas khawatir itu bisa memengaruhi kesehatan kamu dan bayi kita.”
Danita lagi lagi merasa terharu, hatinya menghangat karena Arjuna begitu hati hati dan mencintai dia serta bayi mereka.
“Terima kasih, Mas. Ini sudah lebih dari cukup, aku suka kok.”
Arjuna menyodorkan sebuah kota beludru berwarna biru tua ke hadapan Danita. Begitu Danita membukanya, dia langsung terpesona dengan benda itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulat, dan setengah dari bulatannya bertahtakan berlian kecil. Simpel dan elegan.
“Ini cantik sekali, Mas.” Danita memegang kalung itu.
Arjuna lalu membantu Danita memakaikan kalung itu ke lehernya.
“Terima kasih, Mas.” Ujarnya kemudian tersenyum.
“Tapi aku malah belum menyiapkan hadiah untuk Mas Juna.”
“Hadiah untuk Mas, cukup lihat kamu bahagia dan juga tetap selalu bersama mas dan anak-anak kita nantinya. Itu sudah lebih dari cukup.” Ujar Arjuna menggenggam erat tangan Danita.
Danita tersenyum.
Aku akan berusaha, Mas.
...***...
Setelah makan malam romantis kini keduanya tengah berada di kamar mereka. Arjuna mendekap tubuh Danita meletakkan kepalanya di tangan kanannya. Serta tangan kirinya mengelusi perut Danita.
Keduanya begitu menikmati kebersamaan mereka.
“Mas, kalau suatu hari nanti aku pergi lebih dulu. Tolong jaga anak kita ya,”
“Kita akan jaga mereka sama.”
Tak ada jawaban dari Danita.
Arjuna menegakkan punggungnya.
“Kenapa?”
“Enggak apa-apa, cuma takut kamu kecantol wanita lain dan mengabaikan anak kita di saat aku enggak ada nantinya.”
Arjuna mengecup bibir istrinya.
“Pertama, aku enggak akan berpaling ke wanita lain dan mengabaikan anak kita. Kedua, aku enggak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan aku dan anak kita. Jadi jangan bilang gitu lagi.”
“Ya siapa tahu, kan.”
“Sepertinya kamu memang harus dikasih hukuman karena merusak suasana dan mengatakan hal yang tidak tidak.”
Danita tersenyum melihat mata suaminya yang sudah diliputi gairah. Dai tahu betul apa yang dimaksud dengan ‘hukuman’ yang dilontarkan Arjuna.
Dengan berani dia menarik tengkuk Arjuna. Mengecup bibir suaminya. Arjuna tersenyum disela-sela ciuman mereka.
Ciuman lembut dan manis perlahan menjadi kecapan panas. Danita mendongak, membiarkan Arjuna mengecup leher jenjangnya dan memberikan setiap tanda di sana.
Ruangan itu kini terasa panas seiring kecapan yang berubah menjadi ******* yang menuntut.
Tubuh Danita yang tak tertutup sehelai benang, diperlakukan begitu hati-hati. Arjuna bahkan mematikan pendingin ruangan itu agar istrinya tak kedinginan. Arjuna menatap wanita di hadapannya dengan pandangan sayu. Wanita itu terlihat berkali-kali lipat begitu mempesona dengan perut babybum nya.
“Ahh ... Mashh.”
Arjuna lagi lagi memberikan sesuatu yang membuatnya melayang tinggi. Di akhir percintaan mereka, Danita yang hampir terlelap masih bisa mendengar ucapan Arjuna.
“I love you, sayang.”
...****...