Arzya Geovanka Razeta, yang kerap disapa Arzya atau zaza ini merupakan gadis yang sangat terkenal dengan sikapnya yang pendiam. Bahkan ia sempat dijuluki sebagai patung berjalan karena wajahnya yang selalu terlihat datar. Arzya memang selalu bersikap seperti itu pada orang-orang yang baru ia kenali.
Di dalam diamnya Arzya menyimpan begitu banyak rahasia yang ia simpan dengan rapat, bahkan hatinya yang rapuh pun hanya dia yang tahu. Terlebih lagi
Arzya sangat pandai menutupi sifat asli yang ceria, cerewet, gokil dan apa adanya.
Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang memberikan dia sesuatu yang selama ini tidak ia rasakan. Ya Arzya mendapatkan kasih sayang dari sang ketua osis disekolagnya. Dia mampu meluluhkan hati Arzya yang dingin itu.
Seperti kata orang, apa yang kita dengar belum tentu yang sebenarnya, kata itu selalu terngiang dibenak Arzan.
Follow IG : eh.han28
....
INI MURNI KARYA AUTHOR JIKA ADA KESAMAAN NAMA ATAU TEMPAT ITU HAL YANG WAJAR KARENA INI HANYA FITIF BELAKA! DAN MOHON JANGAN ADA PENIRU ATAUPUN PLAGIATISME KARENA ADA HUKUM YANG BERLAKU BAGI YANG MELAKUKAN PLAGIATISME!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku masih menunggu mu!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Arzya yang memang sejak pagi sudah tidak enak badan hanya berdiam diri didalam kelas, sejak tadi ia menyandarkan kepalanya pada tembok lalu tangannya digunakan untuk menopang dagunya. Dan sudah beberapa kali Diva, Arum dan Sari menyarankan Arzya untuk istirahat di ruang UKS tapi lagi-lagi ia menolaknya. Karena Arzya tak suka bau obat diruangan itu, ia lebih memilih istirahat dikelas sambil mendengarkan pelajaran walaupun tidak ada satu pun yang masuk kedalam otaknya.
Jam istirahat telah tiba, akhirnya Arzya bisa merebahkan kepalanya diatas meja dan punggung tangannya ia gunakan sebagai bantalan. Hanya dalam hitungan menit ia sudah tertidur lelap sambil menghadap tembok, Diva dan yang lainnya membiarkan itu.
Arzan yang penasaran karena tidak melihat Arzya dikantin pun langsung bergegas menuju kelas Arzya yang selalu ia lewati jika ingin pergi ke kopsis (koperasi siswa). Terlihat sepi tidak ada orang didalam kelas itu, hanya ada dua orang siswi yang memang membawa bekal jadi lebih memilih berdiam diri dikelas.
Tanpa permisi Arzan masuk kedalam kelas, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Arzya.
"Dia dimana?" batin Arzan.
Lalu Arzan mendekati siswi yang tak lain adalah Ambar, Arzan ingin bertanya dimana keberadaan Arzya.
"Arzya mana?" tanya Arzan langsung pada intinya.
Ambar mendongak ingin melihat siapa yang sedang berbicara dengannya, setelah mengetahui sang ketua osis Ambar lalu menoleh dimana Arzya duduk dalam diam.
"Itu," kata Ambar sambil menunjuk Arzya menggunakan dagunya.
Arzan pun menoleh mengikuti arahan Ambar, lalu ia berjalan menuju bangku Arzya tapi sebelum itu ia sudah mengucapkan terimakasih kepada teman sekelas Arzya itu.
Tanpa permisi Arzan langsung duduk dibangku sebelah Arzya, bangku milik Diva. Ia tak ingin membangunkan Arzya yang tengah tertidur nyenyak, sesekali Arzan menyentuh jidat Arzya yang memang terasa panas.
"Kenapa gak tidur di UKS aja?" gumam Arsan.
Arzan lalu memakaikan jaket yang sejak tadi ia bawa pada tubuh Arzya, ada rasa tak tega saat melihat Arzya sakit.
Arzya merasa terusik dengan perlakuan Arzan, lalu ia menepuk-nepuk punggung Arzya agar terlelap kembali.
Hampir lima belas menit Arzan duduk disana dalam diam, setelah dirasa cukup akhirnya Arzan pergi. Ia meletakkan roti dan juga susu disebelah Arzya.
"Titip Arzya, ya? Kalau sakitnya makin parah suruh pulang aja!" Arzan berdiri tepat didepan bangku Arzya lalu mengusap kepalanya sebentar setelah itu hilang tak terlihat lagi.
Sedangkan Ambar yang diajak bicara hanya mengangguk saja, tak selang berapa lama masuk lah Diva dan yang lainnya. Untung saja saat ini jam kosong sehingga mereka masih membiarkan Arzya tidur.
"Arzya kenapa bisa sakit?" tanya Arum.
"Heh, pasti kemaren kalian gak langsung pulang tapi main hujan, kan?" tebak Sari.
"Hehee, tau aja ini si Saridon!" Diva mecolek dagu Sari gemas.
"Iih jangan colek-colek atuh," kata Sari sambil menepis tangan Diva.
Membuat mereka bertiga tertawa, Arzya yang merasa terganggu dengan suara-suara teman mereka pun terbangun. Kepalanya terasa pusing sekali, tanpa sengaja jaket yang ada di punggungnya jatuh.
"Mendingan belum?" tanya Diva sambil menyodorkan jaket itu pada Arzya.
"Lumayan," saut Arzya, ia tak menerima jaket itu karena tidak merasa memilikinya.
"Jaket lo ini ambil lah, pegel tangan gue," kata Diva.
"Bukan punya gue, Div." kata Arzya.
"Terus punya siapa? Orang lo yang pakai tadi kan?" tanya Diva sambil meletakkan jaket itu dipangkuan Arzya.
Arzya hanya diam saja ia malas berdebat untuk saat ini, lalu ia menganbil susu kotak yang ada didepannya dan meminumnya.
"Makasih," kata Arzya sambil meminum susu kotak itu.
"Makasih apa?" tanya Diva lagi.
"Susu sama rotinya." Arzya menunjukkan susu kotak yang sedang ia minum dan juga roti itu pada Diva.
"Gue gak beliin lo, Zya... orang gue tadi makan di kantin sama mereka." Diva menunjuk Sari dan juga Arum yang duduk dibelakangnya.
"Terus ini?" tanya Arzya kebingungan.
"Jangan-jangan Kak Ilham dia kan su—" Arzya langsung membekap mulut Diva agar tak membicarakan soal kejadian kemarin pada yang lainnya. Biarlah ini menjadi rahasia mereka berdua saja.
"Kak Ilham kenapa, Zya?" tanya Arum penasaran.
Arzya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pada Arum, ia tak ingin orang-orang tau jika dia sudah menolak seniornya itu.
"Hmmbb hmmb" kata Diva tidak jelas karena mulutnya masih dibekat oleh Arzya.
"Lepasin, Zya... kasian Diva susah ngomong tuh," kata Sari yang peka.
"Maaf!" Arzya melepaskan bekapannya sambil terkekeh.
"Tangan lo bau!" kata Diva sambil mengusap mulutnya.
"Cih," dengus Arzya.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering sejak tadi, bahkan sudah terlihat beberapa pesan masuk dan juga ada dua panggilan tak terjawab. Arzya tersenyum tipis saat melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Yank, udah sarapan belum?"
"Udah berangkat belum?"
"Aku istirahat ini, mau makan malas banget... kamu gak ada kabarnya dari semalam!"
...Satu panggilan tak terjwab...
"Kok gak diangkat sih, sibuk banget ya. yank?"
"Jangan lupa makan, aku gak mau kamu sakit!"
...Satu panggilan tak terjwab...
Itulah isi pesan yang bisa membuat Arzya tersenyum saat membacanya, pesan dari Gilang pacar LDR nya.
Dengan gesit tangan Arzya mengetik beberapa kata yang langsung ia kirimkan pada Gilang, seakan rasa sakitnya yang sejak tadi ia rasakan hilang begitu saja. Bahkan Diva yang duduk disebelah Arzya pub menjadi sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.
"Badan lo makin panas ya? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Diva sambil menempelkan punggung tangannya pada jidat Arzya.
"Apa sih!" ketus Arzya.
"Pantes makin panas kok," gumam Diva.
"Tauk ah!" Arzya sedang tak ingin bercanda ataupun berdebat dengan siapapun, ia hanya ingin segera pulang dan istirahat saja.
Hingga suara ambar yang begitu halus memanggil namanya, membuat Arzya dan Diva menoleh pada tempat duduk Ambar.
"Arzya?" panggil Ambar.
"Sutt, dipanggil tuh," kata Diva.
"Iya, Mbar?" jawab Arzya.
"Tadi ada yang nyariin lo," kata Ambar.
"Siapa?" tanya Arzya bingung, karena ia belum memiliki banyak teman siapa yang mencarinya.
"Cewek apa cowok, Mbar?" tanya Diva antusias.
"Cowok, dia yang ngasih susu sama roti itu!" Ambar menunjuk kotak susu dan juga roti yang ada diatas meja Arzya.
"Siapa?" tanya Diva dan Arzya bersamaan. Terlihat jelas jika mereka berdua penasaran dan sedang menunggu Ambar menyebutkan orang itu.
"Kak, emmm siapa ya lupa namanya?" tanya balik Ambar.
"Yaah gimana sih, kok balik nanya? Kan gue gak tau, Mbar!" kata Diva yang lebih penasaran dari pada Arzya.
"Yasudah, kalau ingat aja kasih tau lagi Mbar!" kata Arzya, kemudian ia kembali pada ponselnya sedangkan Diva sedang bergosip dengan Sari.
BRAK!
"Ketos, ya si ketos itu tadi yang kesini," kata Ambar tiba-tiba membuat mereka semua keget karena Ambar sampai menggebrak mejanya saat ingat siapa orangnya.
"Kak Arzan kenapa, Mbar?" tanya Sari.
"Itu anu, gak jadi!" Ambar yang mendapat tatapan tajam dari Arzya pun tak bisa berkata-kata lagi, karena sorot mata Arzya seolah ingin memakannya hidup-hidup jika Ambar mengatakannya lagi. Sedangkan Diva yang tau pun hanya tertawa sambil meledeki Arzya.
"Uhuukk cieee ciee, ciee yang diperhatiin si kakak tampan!" ledek Diva sambil mencolek pipi Arzya.
"Apa sih!" geram Arzya.
"Uluh-uluh yang salting!" ledeknya lagi.
"Gak ya, gak!" ketus Arzya.
"Iya juga gak apa-apa lagi, gue dukung kok!" kata Diva sambil mengedipkan sebelah matanya, sedangkan Arzya hanya menatap malas sahabatnya itu.
...----------------...
Cepet sembuh, aku rindu melihat tingkahmu saat berusaha menghindariku, ~ Arzan, E H~
jan bikin pembully jaya dong thor.cepet kasih pelajaran buat si pembully