Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Ketika ada sedikit kebencian dihatimu, ketika kamu belum ikhlas atas perlakuan tak menyenangkan orang lain padamu. Itu pertanda hati perlu untuk dibersihkan lagi. Ketika ada yang salah disekeliling kita, pertanda hati ini perlu lebih diperbaiki lagi
______________________________________
Mobil yang mereka tumpangi sudah berada didepan perusahaan milik Angga. Asra segera turun dari mobil terlebih dahulu, ia membukakan pintu mobil untuk Angga dan mengiringi langkah Angga hingga ia tiba pada ruang kerjanya dilantai teratas gedung tersebut, yakni lantai ke 37. Dan pada lantai ke-38 adalah ruangan pribadinya, yang sengaja disediakannya dikantor pada saat dia malas untuk pulang ataupun pada saat sedang banyak-banyaknya pekerjaan.
"Asra, kamu pelajari sekali lagi mengenai proposal Zainal dan segera laporkan padaku," perintah Angga pada saat ia memasuki ruangannya.
Asra tampak melongo mendengarnya, apa ia tidak salah dengar. Bahkan dirinya saja tadi sudah mendengarkan dengan seksama saat Zainal menjelaskan saat meeting tadi. Lah... sekarang?
"Sepuluh menit,laporkan padaku," ucap Angga lagi.
"Baik bos," jawab Asra yang kembali menutup pintu ruangan Angga dan bergegas kemeja kerjanya untuk melaksanakan perintah bos besar.
Sementara itu didalam ruangannya, Angga tampak memijat batang hidungnya beberapa kali. Rasanya ia sangat lelah karena teringat dengan Rika yang sekarang yang sudah bekerja menjadi seorang pelayan restoran. Ia akan membiarkan saja Rika bersenang-senang sementara waktu dengan pekerjaannya sebelum ia merasakan kembali pahitnya dipecat dan dipermalukan. Angga sudah merasa bosan dengan barang mainannya, ia benar-benar ingin mengakhiri permainan ini.
Angga membuka laci meja kerjanya, ingin meraih foto yang ada disana. Namun urung saat melihat handphone murahan yang tergeletak disana. Handphone yang biasanya untuk menghubungi Rika, sengaja dimatikannya agar Rika tidak bisa menghubunginya. Ia benar-benar merasa terganggu saat handphone tersebut berdering. Handphone itu khusus ia gunaka saat sedang bersama dengan Rika agar Rika tidak mencurigainya. Sedangkan handphonenya yang sebenarnya disimpan dengan sangat apik dan juga disilentnya sehingga Rika benar-benar tidak tahu sama sekali kalau ia sedang dibodohi. Bukan dibodohi, tapi wanita itu benar-benar bodoh karena ia tidak menyadari kalau Angga menikahinya hanya untuk membalaskan dendamnya dimasa lalu atas terbunuhnya sang ayah.
Tok tok tok
Angga menatap malas kearah pintu, ia merasa ketokan pintu tersebut berada diwaktu yang kurang tepat. Walau begitu, ia tetap menginterupsikan agar seseorang dibalik pintu tersebut segera masuk.
"Bos, ada tuan Yakub datang kemari dan ia ingin bertemu secara langsung dengan Bos."
Ada apa lagi dengan pria tua itu sehingga begitu repot berkunjung ke tempat Angga. Angga tampak mengerinyit heran mendengar kata-kata Asra barusan. Setahunya kalau Yakup adalah pria tua yang sangat sombong dan juga serakah. Selama ini ia bahkan tidak pernah datang ketempat orang lain kecuali ia sedang mengalami masalah yang cukup besar.
"Sebaiknya kamu usir saja dia dari sini, aku tidak ingin melihat pria tua itu ada disini!!" perintah Angga pada asistennya.
"Wah!! keponakanku yang tidak tahu sopan-santun, bahkan ia ingin mengusir pamannya sendiri. Padahal pria tua ini sangat merindukanmu!!" Angga mendelik saat Yakub sudah memasuki ruangannya tanpa seizinnya. Bahkan Yakub berjalan kearahnya dengan senyum manis yang terkesan dibuat-buat. Tapi menurut Angga kalau senyuman itu terkesan sebagai senyum miringnya, dan juga kata-kata seorang penjilat dan bermuka dua.
Angga menatap sesaat kearah Asra, yang mengisyaratkan agar ia meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan saja pria tua itu bersama dengannya dan berbuat semaunya.
Asra mengangguk dan segera berlalu dari ruangan Angga, untuk memberikan privasi pada paman dan keponakan yang tidak pernah akur tersebut. Ia tahu kalau selama ini hubungan mereka tidaklah harmonis, karena Yakub selalu merasa diatas angin.
"Ada perlu apa paman kemari?" tanya Angga langsung sambil melirik kearah Yakub dengan ekor matanya. Yakub yang sudah duduk dikursi tamu yang tidak jauh dari tempat Angga, tampak terkekeh saat mendengar pertanyaan yang sedikit terburu-buru dari keponakannya tersebut.
"Woaw... kamu ternyata sangat tidak sabaran keponakanku, tidak bisakah kamu sedikit berbasa basi dengan pria tua ini. Menanyakan kabarku, mungkin," ia kembali terkekeh sambil menatap kearah Angga.
Angga tampak berusaha tenang dan tidak tersulut emosi dengan kata-kata yang dilontarkan oleh pamannya. "Buat apa berbasa-basi, toh aku melihat sendiri kalau paman baik-baik saja!"
Yakub tampak bertepuk tangan senang setelah mendengar ucapan Angga barusan, matanya beralih menatap dekorasi ruangan Angga yang tidak pernah berubah setelah terakhir ia melihatnya beberapa bulan yang lalu.
"Aku sangat sibuk sekarang, jadi katakan saja apa tujuanmu datang kemari?" Angga berusaha menekan rasa marahnya. Ia benar-benar tidak suka dengan keberadaan lelaki penjilat yang ada dihadapannya ini.
"Ternyata benar kalau kamu itu tidak suka berbasa-basi bahkan tidak sopan terhadap orang tua." Yakub menarik napas dengan perlahan, ia benar-benar terlihat tenang. Pandangan matanya menatap kearah Angga yang tampak menahan kesalnya. Ia tersenyum sinis melihat semua itu.
"Aku kesini hanya ingin mengunjungi keponakanku sendiri. Apa itu salah?" Angga hanya diam saja sambil menatap kearah pamannya dengan pandangan tidak terbaca, ia tampak kembali acuh dan membuka berkas yang ada didepannya. Ia benar-benar jengah dengan situasi ini.
"Ck...ck...ck... anak ini benar-benar tidak tahu sopan santun. Bagaimana dulu Eland mendidikmu hingga kamu__"
Brakkk!!!
Yakub tampak terperanjat kaget saat Angga menggebrak mejanya dengan begitu keras hingga ia tidak mampu meneruskan kata-katanya lagi. Bukannya takut ia dengan kemarahan Angga, malah dia terlihat santai dengan melipat tangannya didada disertai dengan tawa renyahnya.
Sedangkan Angga, jangan ditanya lagi bagaimana tatapannya terhadap Yakub, begitu tajam dan menghunus siap merobek apa saja yang dilihatnya. Ia sangat murka setiap kali Yakub selalu memojokkan nama ayahnya yang bahkan sudah lama tiada. Entah ada apa dengannya sehingga ia sangat suka menyinggung-nyinggung nama Eland disetiap kelakuan Angga yang dinilainya minus. Sama artinya Yakub sedang membuka luka lama yang masih basah. Luka yang berusaha ia kubur, luka yang sedang diperjuangkannya lewat dendam dan luka yang merenggut semua masa depannya. Bagaimana tidak, selama ini ia harus terkurung bersama wanita yang sangat dibencinya, seorang pembunuh. Pembunuh ayahnya lebih tepatnya. Tatapan matanya menghujam kelubuk paling dalam, bahkan lebih tajam dari tatapan elang.
"Silahkan paman keluar dari ruangan ini!!" tunjuk Angga pada pintu ruangannya dengan berdesis rendah. Auranya bahkan terlihat sangat menggelap dan semua itu sangat mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Asra muncul bersama seorang security. Ia sudah menduga sebelumnya bahwa akan ada keributan didalam sini sehingga ia mengantisipasi terlebih dahulu. Ia sangat tahu dengan tabiat saudara ipar ayahnya Angga tersebut. Ia akan mengunjungi Angga bila ada maunya saja. Pastilah semua tidak jauh-jauh dari yang namanya uang, padahal dia sendiri sudah memiliki perusahaan yang cukup maju. Namun seolah-olah semua itu tidaklah cukup baginya, hingga ia sering meminta uang pada Angga. Dan belakangan terakhir ini, ia sering menagih bagian warisan yang sudah ditinggalkan kakek Angga pada Angga. Benar-benar rakus.
"Wah, wah, benar-benar sambutan yang luar biasa," ucap Yakub lagi saat ia melihat security yang menghampiri dirinya dan bermaksud ingin menyeretnya. "Aku bisa sendiri berjalan keluar ruangan!" Yakub mengibaskan tangannya menolak sentuhan dari security tersebut. Ia segera berdiri dan menatap kearah Angga dengan senyum manis yang dibuat-buat. "Lain kali aku akan datang lagi kemari." Masih dengan mengukir senyumnya, ia melangkah keluar ruangan dengan langkah ringan.
"Brengsek!!" maki Angga. Ia kembali memukul meja yang ada dihadapannya setelah pamannya menghilang dibalik pintu. Ia benar-benar marah pada pamannya karena selalu memojokkan ayahnya. Dan itu membuat dadanya terasa sangat sakit dan membara. Ia kembali menggertakan rahangnya hingga terdengar gemeletuk di iringi dengan tatapan tajamnya, setajam elang. Ia harus melakukan perhitungan dengan Rika.
"Bos, apa yang harus kami lakukan dengan tuan Yakub?" Asra menatap bosnya yang terlihat sangat kacau bahkan amarahnya hampir meledak. Apa bosnya baik-baik saja, Asra sangat mengkhawatirkan Angga. Ia sudah lama tidak pernah melihat kemarahan Angga seperti ini kecuali saat dulu. Dimana ia melihat saat ayahnya dibunuh dengan sangat keji oleh seseorang yang sekarang berstatus menjadi istrinya sendiri bersama ayahnya Rika.
Itu tepat terjadi beberapa tahun yang lalu, disaat Angga berusaha 15 tahun. Sejak itulah ia bertekad untuk membalaskan dendamnya pada Rika dengan cara menyakitinya hingga ia mengalami kesakitan yang luar biasa atas kematian ayahnya yang disebabkan oleh Rika dan juga ayahnya. Walaupun dengan cara mengorbankan masa depannya yaitu dengan menikahinya.
"Tidak perlu, biarkan saja!" Ia memutar kursinya menatap kearah luar dinding kaca kantornya. Tampak gedung-gedung lain yang setingkat dengan tinggi gedungnya yang menjulang tinggi dan disinari panasnya matahari disiang hari. Angga berusaha merilekskan pikirannya dengan cara memejamkan matanya sesaat, ia benar-benar kalut sekarang. Ia tidak suka saat pamannya menyinggung keburukan ayahnya yang sama sekali tidak ada didalam diri ayahnya. Pamannya itu memang sangat lancang sekali mulutnya.
"Bos, 30 menit lagi akan ada rapat dengan para dewan Direksi." Asra masih setia berdiri dibelakang Angga. Ia merasa kalau Angga sudah tenang. Dan ia juga tahu kalau Angga mendengar apa yang diucapkannya walaupun ia tidak melihat ekspresi yang diberikan oleh Angga. Asra memutar tubuhnya untuk meninggalkan Angga seorang diri. Ia tahu kalau Angga perlu menenangkan diri sesaat sebelum rapat dimulai.
•
•
•
**********
Jangan lupa like dan commentnya 😊😊👍
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot