Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Lily : Such A Good Friend
Harapan tinggalah harapan. Ketakutan yang terlintas di pikiranku tadi malam sebelum aku tertidur pagi ini menjadi nyata.
Hari ini, lagi-lagi Mas Dante terbangun dengan suasana hati yang buruk.
Dia tidak mau bicara denganku, tidak mau melihatku, tidak mau mendengar penjelasanku, tidak mau meminum obatnya bahkan tidak mau sarapan.
Dia mengamuk dan melempari benda apa saja yang bisa dia gapai sebagai bentuk refleksi dari kemarahannya.
Ku hubungi mertuaku untuk meminta bantuan seperti beberapa hari sebelumnya, namun sayangnya beliau tidak bisa datang karena tiba-tiba saja hari ini dan beberapa hari kedepan Ayah Mertuaku harus pergi keluar daerah dan Ibu Mertuaku ikut menemani.
Aku bingung harus berbuat apa. Mas Dante tidak mengijinkan siapa pun masuk ke kamarnya, termasuk Bi Aluh dan Pak Anang.
Ayo Lily berpikir! Kira-kira apa yang harus ku lakukan? Siapa yang bisa ku mintai bantuan?
Dokter Ryan?
Ah tidak, tidak mungkin, aku sangat yakin Mas Dante akan semakin marah jika melihat dokter Ryan saat keadaan seperti ini.
Lalu siapa? Orang yang mungkin bisa mengajak Mas Dante bicara dan menenangkannya selain orang tuanya?
Aku berpikir keras di tengah kepanikan. Sudah tak dapat ku hitung berapa kali putaran aku mondar-mandir di depan pintu kamar Mas Dante dengan ponsel yg terus ku genggam erat, dan otak yang terus berpikir kepada siapa akhirnya aku meminta bantuan.
Dan tiba-tiba aku teringat seseorang.
Revan!
Yah, dia! Aku yakin Mas Dante mau bicara dengannya, mereka berteman baik, kan Aku juga bisa meminta tolong padanya tanpa rasa sungkan. Ah pas sekali!
Pertanyaannya sekarang, apakah Reven bisa datang? Dia orang yang sangat sibuk, apa mungkin dia bisa meluangkan waktunya untuk membantuku?
"Coba saja, Lily. Siapa tahu dia bisa membantu. Lagi pula ini hari Sabtu, kemungkinan Revan punya waktu luang setidaknya lebih besar di akhir pekan begini," gumamku pelan pada diriku sendiri.
Ku usap ponselku, lalu mencari nama Revan di daftar kontakku.
Dengan harap-harap cemas ku sentuh tombol Dial. Tidak perlu waktu lama, teafnya pada dering ke tiga, Revan mengangkat panggilan dariku.
"Halo Lily, apa kabar?" sapa Revan hangat seperti biasa.
"Halo Revan, aku baik, maksudku tidak, eh, bukan, aku baik tapi keadaan tidak baik." Duh mengapa aku jadi gagu begini.
"Hey Lily, kau kenapa? Tarik napas dulu dan bicara dengan pelan."
Aku menuruti apa yang di anjurkan oleh Revan. Menarik dan menggembuskan napas drngan pelan beberapa kali sebelum kembali berbicara padanya.
"Aku perlu bantuanmu, bisakah kamu datang kerumahku, bukan rumahku yang dulu, tapi rumahku bersama Mas Dante, kamu tahu, kan?"
"Lily, bicara dengan jelas dan pelan, bantuaan apa yang kau maksud?" tanya Revan bingung.
"Aku perlu bantuanmu, Revan," kataku dengan gemas. Kenapa sih dia sulit sekali mengerti apa yang ku maksud?
"Ya, bantuan apa, Lily, tolong jelaskan. Astaga kamu ini kenapa? Kamu bahkan tidak menanyakan kabarku terlebih dahulu," ucapnya sambil diiringi suara tawa kecil.
Dia mentertawakan ku?
Astaga Revan, ini bukan saatnya untuk bercanda, apa dia tidak tahu kalau aku benar-benar panik sekarang?
"Hey kenapa diam?" tanyanya lagi.
"Begini Revan, kamu sudah tahu keadaan Mas Dante, bukan?"
"Ya, aku tahu, aku sudah mendengarnya sedikit dari Mamanya Dante. Kamu sombong sekali, Lily, tidak mau bercerita tentang keadaan Dante padaku. Jangankan bercerita, kamu bahkan sama sekali tidak membuka pesan whatsapp yang ku kirim."
"Kamu mengirimiku pesan whatsapp?"
"Lihat, kamu bahkan tidak menyadarinya. Astaga aku tersinggung sekali," ucap Revan.
"Maaf," kataku pelan.
"Tidak, aku tidak mau memaafkanmu."
"Heh? Kau serius?"
"Tidak! Mana pernah aku bisa marah padamu! Ya ampun, kamu ini, kenapa jadi serius sekali sekarang."
"Revan, andai kau tahu betapa pusing dan bingungnya aku dengan kehidupanku sekarang, kamu pasti mengerti kenapa sekarang aku begitu serius dan sulit di ajak bercanda."
Dia diam, hanya ada terdengar sayup seperti suara hembuasan napas dari sambungan telpon.
"Revan? Kamu masih di sana?"
"Ya, aku masih di sini, Ly. Katakan bantuan apa yang kamu perlukan?"
"Begini, Mama Mas Dante pasti sudah bercerita kan tentang keadaan Mas Dante yang tidak menentu setiap harinya?"
"Ya," jawab Revan singkat.
"Hari ini Mas Dante terbangun dalam keadaan yang buruk sekali, dia marah pada semua orang di rumah, dia tidak mau bicara dengan siapa pun, tidak mau meminum obatnya dan juga memakan sarapannya. Sebelumnya Mas Dante juga pernah terbangun dengan kondisi begini, tapi saat itu Mama Mas Dante datang dan bisa menenagkannya. Sayangnya, mertuaku hari ini tidak bisa datang karena sedanv ada di luar daerah dan aku bingung harus meminta bantuan kepada siapa lagi selain dirimu," terangku panjang lebar.
"Kamu ingin aku bicara pada Dante?" tanyanya.
"Dan membujuknya untuk meminum obat juga makan," tambahku.
"Oke baiklah," katanya.
"Kamu bisa membatuku? Kamu bisa datang kesini?" tanyaku untuk memastikan.
"Iya ...," jawab Revan.
"Apa tidak akan merepotkan atau mengganggumu?" tanyaku lagi.
"Tidak. Tidak sama sekali."
"Terima kasih, Revan."
"Sama-sama Lily kecilku yang bawel," ucapnya gemas di iringi suara tawa pelan.
Kenapa sih dia masih memanggilku begitu? Iya aku tau, kami berteman sejak aku kecil dan sudh seperti adik kakak, tapi kan sekarang aku sudah dewasa dan sudh menikah, jadi agak aneh mendengarnya memanggilku begitu.
"Revan berhenti memanggilku seperti itu, aku sudah dewasa," kataku agak kesal.
"Bagiku, kamu selamanya Lily gadis kecil yang selalu merengek minta bantuanku."
Ih, kok dia jadi bahas itu sih, aku kan jadi merasa malu jika mengingat masa kecilku yang selalu di bayang-banyangi oleh Revan. Iya ku, akui dulu pas kecil aku sering merengek padanya.
"Tapi--" Aku belum sempat melanjutkan kalimatku.
"Sudah jangan terlalu bnyak protes, buktinya saja sekarang kau merengek minta bantuanku, kan?" ucap Revan memotong kalimatku.
"Terserah kau saja lah." ucapku sedikit kesal.
Dia tertawa terbahak sesaat sebelum bicara, "aku akan tiba dalam 10 menit. Sudah dulu ya, aku matikan telponnya, aku mau fokus meyetir, aku tidak mau kecelakaan seperti Dante, hehehe ...."
"Baiklah dan hati-hati. Aku menunggu."
***
Revan datang tidak sampai 15 menit setelah dia memutus sambungan telpon kami. Melihat dari cara yang berpakaian casual, sepertinya memang hari ini dia tidak terlalu sibuk.
"Cepat sekali, belum sampi lima belas menit, loh. Kamu ngebut ya?" ucapku sesaat dia baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Ly, aku baru datang, baru juga keluar mobil, disambut kek, disapa kek bilang hay gitu, ini malah langsung bicara begitu," ucap Revan.
"Oh jadi kamu mau disambut, oke baik lah. Hay Revan, selamat datang di rumahku, silahkan masuk," ucapku sambil merentangkan tangan dan sedikit menuntuk seolah memberikan sambutan kehormatan atas kedatangannya.
Revan tertawa terbahak-bahak, "Lily, Lily," ucapnya sambil mengusap kepalaku atau mengacak-acak rambutku lebih tepatnya.
"Yuk, langsung masuk saja," ajakku.
"Baiklah," ucapnya.
Kami masuk kerumah dan aku langsung membawa Revan menuju kamar Mas Dante tanpa mempersilahkannya duduk di ruang tamu terlebih dahulu dan tanpa menyajikan minuman untuknya terlebih dahulu.
Di depan pintu kamar mas Dante, aku kembali bicara dengan Revan. Kali ini dengan suara yg kupelankan.
"Dia di dalam, ketuk pintunya dahulu jangan langsung masuk, bicara pelan-pelan padanya, jangan memaksakan dia untuk mengingat apapun, cukup jelaskan saja keadaannya dan bujuk dia agar mau meminum obatnya," terangku pada Revan.
"Oke aku mengerti," kata Revan.
Saat dia mengangkat tangannya hendang mengetuk pintu, ku pengang tangan Revan Dan menahannya.
Revan menatapku dengan alis terangkat, "kenapa lagi?" Tanyanya.
"Tolong jangan membahas tentang Laura sedikitpun pada Mas Dante," ucapku penuh permohonan.
Revan diam dia tidak mengatakan apapun, matanya menatapku dan kemudian dia tersenyum padaku lalu mengangguk.
~Bersambung~
...---------------------...
Di part ini, Si Dante nggak muncul dulu ya, kita isi dengan cogan lain yang akan turut meramaikan cerita ini, muehehehee ....
Oh, ya jangan lupa like, komen, vote, rate di cerita ini yaa, biar saya makin semangat updatenya.
Dan juga, kalo ada typo bisa komen untuk koreksi ya. Typo ini penyakit yang susah banget saya hilangkan soalnya. huhuhuu....
Part ini segini dulu ya,
See you on next part.
Salam halu,
Tata Tetott.