Karena terdesak kebutuhan, Putri terpaksa menjadi ibu pengganti. Karena ada sepasang suami istri yang tengah program bayi tabung. Tetapi rahim sang istri tak kuat mengandung si bayi tabung tersebut. Untuk itulah sepasang suami istri itu rela membayar mahal untuk rahim yang mau dipinjamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbayang
Malam itu Ghea pamit pulang. Ia tidak bisa menginap dan Putri mengatakan tidak apa-apa.
Putri sendirian di kamar rumah sakit. Namun kemudian ia teringat pada Adnan. Ia ingin menghubungi pria itu. Tapi ingat jika nomor satunya ada di kartu nama, dan kartu nama tersebut tertinggal di kos-kosan.
Di handphonenya hanya ada nomor Adnan, yang konon berada di handphone satunya dan jarang sekali dibuka oleh pria itu. Percuma bila Putri mengirim pesan kesana.
Jadilah akhirnya Putri menanggung rindunya sendirian malam itu. Ia tak bisa tidur meski telah di beri obat. Ia teringat pada Adnan di setiap detik.
"Hhhh, kenapa sih tuh orang manis banget. Kalau senyum itu loh, rasa nggak ada tulang gue."
Putri bergumam sendiri, lalu tersenyum sendiri pula. Persis seperti orang gila. Namun kemudian ia teringat kembali pula pada peristiwa ketika dirinya nyaris jadi korban perkosaan.
Lalu tiba-tiba ia menjadi histeris. Hingga mengundang kedatangan perawat jaga.
Para perawat itu kemudian mencoba menenangkan Putri dan memangil dokter. Ia lalu diberi suntikan obat dan tak lama kemudian ia pun tertidur.
***
Tak jauh berbeda dengan Putri, entah mengapa malam itu ia kepikiran pada orang yang memikirkannya.
Bahkan Adnan membayangkan bagaimana seandainya ia tidak melintas dijalan itu, pada saat kejadian Putri akan di ruda paksa.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Putri. Mungkin ia bisa saja mendengar berita buruk pada keesokan harinya dan ia kehilangan gadis itu.
"Mas, mikirin apa?. Serius banget."
Dira menyadarkan lamunan sang suami. Hingga pikiran Adnan tentang Putri pun mendadak menjadi buyar.
"Nggak mikirin apa-apa, lagi ngantuk aja." ujar Adnan berkilah.
"Bukan karena lagi ada masalah kerjaan?" tanya Dira.
Ia takut suaminya itu ada masalah dengan pekerjaan, dan ia enggan bercerita pada Dira.
"Nggak ada, sayang."
Adnan menarik Dira ke dalam pelukannya.
"Tidur yuk!" ajaknya kemudian.
Dira mengangguk, sesaat setelah itu mereka pun sama-sama berbaring. Adnan menarik selimut untuk mereka berdua, lalu ia mematikan lampu tidur yang ada di meja samping. Hingga kamar pun menjadi gelap.
***
"Put, udah ada uang lagi belum kamu?. Di undang ke TV-TV nggak?"
Ibu Putri bertanya pada sang anak melalui pesan singkat di WhatsApp. Ia tak mengetahui perihal Putri yang nyaris jadi korban ruda paksa.
Sebab berita itu tak terlalu heboh seperti berita pertama yang viral di jagat maya.
"Kalau ada, kirim lagi. Biar ibu bisa lunasin semua hutang dan biaya biaya adek-adek sekolah."
Ibu Putri seperti aji mumpung, dan persis seperti seorang ibu yang tak punya perasaan.
"Nanti tolong balas dan kabari ibu."
Ia mengirim pesan itu kemudian pergi tidur. Sedang Putri sudah terlelap sejak tadi.
***
"Es coklatnya, nanti ketahuan dokter."
Adnan meracau dalam tidurnya. Dan itu bertepatan dengan Dira yang tak sengaja terbangun karena ingin buang air kecil.
Dira memperhatikan suaminya itu. Ia bingung dengan kata-kata es coklat dan ketahuan dokter. Namun kemudian ia pun tersenyum.
Mungkin suaminya itu sedang bermimpi tentang sesuatu pikirnya. Dira lalu beranjak menuju ke toilet, sama sekali ia tak menaruh curiga tentang apa dan siapa yang menjadi mimpi dari suaminya itu.
Sebab mimpi seseorang bisa berupa apa saja dan berlatar belakang dimana saja.
Sangat wajar bila kemudian ada yang sampai mengigau dan mengatakan hal-hal aneh atau hal-hal yang tak masuk akal.
Pas buka kok aq udh baca sampai bab 100an tapi baru liat judulnya ini dan kalo liat komen²-nya sih cerita yg kartu dokternya ketuker itu gegara namanya sama dan dokternya salah melakukan inseminasi. Judulnya kalo ga salah Rahim utk suami orang.
Dibikin cerita dan judul baru lagi ya, say?
ini aq baca ulang dr bab 1 lagi biar jelas, toh tetep ga pernah bosenin karya²-nya Kak Tiwi..