Hai...
salam kenal dari saya, penghuni baru Noveltoon.
Saya coba up karya saya, semoga bisa menghibur.
Cerita tentang dua pria yang bersahabat dan mencintai satu gadis yang sama, namun akhirnya salah satu dari mereka harus mengalah demi sahabatnya.
Wanita itu adalah Azizah yang dari pertama sudah menyukai Gibran namun cinta mereka gagal bersemi, dan kedua lelaki tampan itu adalah Gibran dan Gery, mereka telah bersahabat sedari kecil karena ayah mereka bekerja pada satu bidang yang sama yaitu pejabat pemerintahan dikotanya.
Gibranpun harus merelakan Azizah untuk Gery, namun ternyata sifat Gery yang playboy masih saja melekat padanya meskipun ia sudah memperistri Azizah yang pernah Gibran cintai.
Lalu bagaimana cerita selanjutnya?
check it out gaesss....
happy reading....😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srie Moelyanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azizah tak ingin pulang kerumah
Mendengar pertanyaan Azizah, ia hanya tersenyum ringan dan berkata.
" siapapun kamu, aku hanya ingin melindungimu."
Jawab singkat Gibran pada Azizah yang membuatnya tak ragu untuk memeluk lelaki tampan itu.
Pagi ini Gibran sudah siap dengan seragam kerjanya dan hendak membangunkan Azizah yang belum keluar dari kamar tidur.
tok..tok...
" Za, bangun kamu mau berangkat kerja gak?"
Gibran tak mendapat jawaban dari Azizah, membuatnya memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tidur tanpa seizin penghuni yang ada didalamnya.
Gibran mendapati Azizah yang masih tertidur dengan posisi meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri seperti sedang kedinginan.
" Za, kamu masih tidur."
Gibran duduk disamping Azizah yang sedang meringkuk diatas tempat tidurnya, kemudian ia menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Azizah sampai bahu, rambut Azizah yang menutupi wajah membuat Gibran tergerak untuk membelai dan menyelipkannya kebelakang telinga Azizah, namun ketika tangan Gibran menyentuh wajah Azizah, ia merasakan hawa tubuh yang sangat panas dari Azizah.
" Za, badan kamu panas banget."
Gibran langsung mengambil handul kecil dari dalam lemari dan mengambil air hangat dari dapurnya menggunakan baskom kecil untuk mengompres kening Azizah.
Merasakan ada sesuatu yang menempel pada keningnya, Azizah perlahan membuka mata.
" Kak, Gibran..."
Azizah berusaha duduk namun ditahan oleh Gibran.
" udah gak usah bangun, kamu tiduran saja. Aku sedang mengompresmu. Badan kamu panas sekali, Za."
Gibran berpikir mungkin ini akibat semalam Azizah pingsan dikamar mandi dengan baju yang basah kuyup menyebabkan ia demam.
" Maaf ya, Kak. Zizah repotin Kakak terus."
Azizah seperti sungkan pada Gibran.
" udah, gak usah dipikirin, lebih baik sekarang kamu istirahat gak usah kerja dulu ya, aku akan menemanimu."
" gak usah Kak, mending Kakak berangkat kerja aja. Zizah gak apa-kok, nanti Zizah minum obat, abis itu juga pasti sembuh."
Tawar Azizah pada Gibran.
" udah gak usah banyak nawar, tunggu aku disini, mau beli sarapan dulu."
Gibran berlalu meninggalkan Azizah untuk membeli sarapan.
Sementara ditempat lain, Gery yang baru terbangun oleh suara alarm yang nyaring dari ponselnya, berusaha membuka mata yang terasa sangat berat. Ia memegangi kepala yang dirasanya masih sangat pening dan berat.
Gery melihat kamar yang sangat berantakan membuat ia sedikit terkejut apalagi dengan tubuhnya yang tanpa benang sehelaipun.
" Aku pasti mabuk berat semalam."
Kemudian Gery meraih selimut yang ada dibawah tempat tidur dan menutupi tubuh polosnya.
Gery duduk diatas tempat tidur dan bersandar pada *headboard* tempat tidurnya dengan kedua tangan yang memeluk dirinya sendiri, mencoba mengingat kejadian semalam, ia memejamkan mata sejenak dan kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Gery keluar kamar mandi hanya menggunakan celana boxer dan kaos oblong putih, ia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut rumah dan tak menemukan Azizah dimanapun.
Gery meraih ponsel pintarnya dan segera menghubungi Azizah namun ternyata ponsel Azizah sedang tidak aktif.
Gibran telah kembali membawa sarapan untuknya dan Azizah. Mereka berdua mulai menyantap sarapan dan setelah itu Azizah meminum obat penurun demam yang diberikan oleh Gibran.
" Za, lebih baik kamu hubungi atasanmu dan mengabarinya kalau kamu tidak bisa masuk kerja karena sakit."
Azizah mengangguk dan mengambil ponsel dari dalam kamar yang tergeletak diatas kasur.
" Hp Zizah mati, Kak. Mungkin baterainya habis."
Azizah memang belum men-charge ponselnya dari kemarin.
" ya udah, pake ponsel aku aja."
Gibran memberikan ponselnya pada Azizah.
" tapi kan Zizah gak hafal nomornya Kak..!"
Mereka tersenyum berdua, kemudian Gibran mulai menghubungi seseorang.
Gibran
[ Halo, Ger. Hari ini Gua gak masuk, tolong izinin ada keperluan mendadak.]
Sejenak Gibran terlihat sedang mendengarkan ucapan Gery dari ujung sambungan dan kemudian mengakhiri pembicaraan.
Senja mulai menyapa, menampakkan cahaya indahnya yang hampir tenggelam diufuk barat.
Gery yang baru saja keluar dari pabrik, dikejutkan dengan sosok wanita cantik yang sudah menunggunya diparkiran pabrik.
" Nunik, ngapain kamu disini?"
Gery bertanya pada Nunik dengan wajah datar.
" nungguin kamu, Mas."
Nunik mulai mendekati Gery.
" Sudah aku bilang, jangan ganggu aku lagi, kita sudah selesai."
Gery terlihat menghindari sentuhan Nunik pada pundaknya.
" tapi buat aku belum selesai, Mas."
" apa sih maksud kamu?"
" Gak enak ngobrol disini, kita ke kostan aku yuk!"
Ajak Nunik dengan nada yang menggoda.
" gak usah, kita kekantin aja."
Gery meninggalkan Nunik menuju kantin pabrik yang tak jauh dari tempat parkiran para karyawan.
Tak dapat dipungkiri bahwa Gery dan Gibran selalu mendapat perhatian yang lebih dari para pekerja wanita karena wajah mereka yang sangat tampan diatas rata-rata, membuat hati para wanita berdebar jika dekat dengan mereka berdua.
" langsung aja, kamu mau apa? aku sudah gak mau berurusan sama kamu. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Azizah."
Gery duduk diatas kursi kayu samping kantin yang mulai sepi, karena para pekerja sudah menaiki jemputan pabrik untuk mengantarkan mereka pulang.
" Aku mau kamu memberi kesan terakhir yang takkan bisa kulupakan Mas."
Janda muda itu tak berhenti menggoda Gery.
" Kamu ini ngomong apa sih? "
Gery belum mengerti maksud dari kesan terakhir yang tak bisa dilupakan yang terlontar dari mulut Nunik.
" Aku ingin kamu melakukannya sekali lagi tanpa alat kontrasepsi!"
Nunik dengan pelan berkata pada Gery yang membuat Gery membulatkan matanya seketika.
" Kamu sudah gila ya, aku ini suami orang, dan aku masih mencintai istriku.. dan mengenai kejadian itu, aku melakukannya setengah sadar karena kita sedang mabuk."
Gery merasa terintimidasi oleh Nunik si janda kembang yang super seksi itu.
" tapi kamu menikmatinya kan Mas?"
Nunik kembali melontarkan kata-kata yang tidak pantas pada Gery.
" Nunik cukup, saat itu aku khilaf, dan aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi."
Gery bergegas meninggalkan Nunik yang terlihat sangat jengkel karena Gery menolak permintaannya.
" Awas kamu Mas, aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu kembali."
Nunik mengepalkan tangan dengan hati yang emosi. Baru kali ini Nunik mendapat penolakan dari lelaki atas ajakan tidurnya.
Setiba dirumah, Gery masih belum menemukan sosok yang ia cari meskipun ia sudah mengecek setiap sudut rumahnya, tapi belum juga menemukan Azizah.
Gery duduk diatas sofa panjang depan televisi, ia hanya menyilangkan kedua tangannya keatas dada bidangnya.
" Apa yang semalam aku lakukan? mungkin aku sudah berbuat kasar pada Azizah dibawah pengaruh minuman keras. aaaarrgghh.."
Gery merutuki dirinya sendiri dan seakan menyesali perbuatannya semalam.
" Kak, bawa Zizah pergi... Zizah gak mau pulang kerumah."
Azizah seperti ketakutan dan terus meminta Gibran untuk membawanya.
" pergi kemana, Za. Kamu kan baru sembuh!"
Gibran mencoba mengingatkan Azizah yang baru saja suhu tubuhnya normal setelah banyak istirahat dan minum obat.
" kemana aja asal jauh dari rumah."
Azizah menatap melas pada Gibran.
Gibran berpikir sejenak mengenai permintaan Azizah.
" ya udah siap-siap, pake jaket. Aku ambil helm dulu."
Gibran mulai memanaskan si hijau kesayangannya dihalaman rumah, Gibran sejenak melihat kearah luar pagar rumahnya menatap sejenak kearah rumah Gery, sepertinya Gery sudah ada didalam rumah.