Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Camera
Happy Reading
***
Jasmine POV
Aku menghabiskan waktuku untuk menyelesaikan berbagai dateline gambarku. Mulai dari luksian, komik, karikatur, termasuk mengirimkan lukisan Jessi. Aku juga mengurus aruransiku yang terkendala. Setelah aku mengurus asuransiku, aku kembali mengerjakan datelineku.
"Hah...." teriakku kecil seraya menjatuhkan badanku ke atas ranjang setelah berjam-jam mengerjakan semua datelineku, besok aku hanya tinggal mengantarkannya ke penerbit.
Rasa pegalku sisa semalam masih terasa, terutama di bagian pangkal paha. Namun, aku mangakalinya dengan menempelkan banyak koyo di beberapa area tubuhku. Aku melihat ponselku dan melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Aku lapar. Benar-benar lapar karena aku belum memasukkan makanan apa pun seharian ini kecuali air mineral, teh, dan tentunya anggur. Aku belum mendapatkan panggilan apa pun dari Edward sejak pagi tadi dan aku pun tidak ingin memanggilnya karena takut mengganggu dia.
Aku melihat gambar Edward yang kufoto secara diam-diam saat kami mengelilingi rumahnya. Dia benar-benar tampan dan membingungkan. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya, termasuk siapa wanita tadi.
Lalu, kenapa dia tinggal di apartemen ini sementara dia memiliki mansiun yang mewah. Apa yang membuat emosinya begitu cepat berganti? Sebentar sedih, sebentar marah. Apa yang terjadi antara dia dan keluarganya? Seberapa banyak wanita yang dia tidur? Apa? Kenapa?
"Sial.." umpatku kecil ketika merasakan kram perut. Aku meringis. Bisa-bisanya aku memaksa otakku yang lamban untuk berpikir di saat lapar.
Aku membuka ponselku kembali dan memesan pizza, burger, keripik kentang, serta sup sebagai penggantai cola. Aku benar-benar tidak tahu cara menjaga kesehatan. Mungkin aku akan meninggal sebelum aku mencapai usia 60 tahun karena komplikasi kesehatan.
"Jagalah kesehatanmu, Jasmine..." ucapku pada diriku sendiri lalu berdiri untuk pergi ke dapur. Saat aku di dapur, aku melihat ruangan lukisanku yang berantakan. Lalu ruang tamu juga berantakan. Hah.. Astaga. Aku mengambil air mineral dari lemari pendingin lalu menegaknya hingga habis.
Aku berjalan ke arah ruang lukisanku untuk membersihkannya selagi aku menunggu pesananku datang. Aku membersihkan kuas, membuang kanvas yang robek, melap permukaan yang kotor, dan merapikan beberapa lukisanku yang telah jadi.
Aku berjalan ke arah ruang tamu dan merpaikannya. Aku melipat bajuku yang baru selesai ku laudry. Melap meja, televisi, dan tiba-tiba aku melihat cahaya merah kecil berkedip dari sudut mataku. Aku menoleh ke kiri dan melihat ke arah lampu kecil yang memiliki kap di atas meja nakas.
Apa itu? Aku meninggalkan kain lapku kemudian berjalan ke arah lampu tersebut. Aku yakin melihat lampu merah berkedip sekali dari sana. Saat tanganku ingin mencapainya, bunyi ponselku berdering dari kamar segera terdengar. Aku hendak mengabaikannya, tapi aku segera beralih dari sana dan pergi ke kamarku untuk mengambil ponselku yang berdering.
***
Edward POV
"Edward...: aku mendengar suara Jasmine dari seberang dan segera merasakan kelegaan luar biasa. Aku baru sampai di gedung apartemen ini sekitar 15 menit yang lalu dan tepat saat aku melihat kamera, aku melihat Jasmine berdiri hendak mendekati lampunya yang berkap
Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku yakin dia melihat sesuatu hingga menatap lampu tersebut tersebut dengan tatapan curiga. Sial. Aku meletakkan penyadap suara di sana. Hah.. Itu benar-benar melegakan ketika dia segera beralih dari sana.
"Edward? Kau di sana?" Jasmine memanggilku lagi karena aku tidak menyahut.
"Yah.. Yah.. Aku di sini." ucapku, "Apa kau di apartemenmu?"
"Yah.. Tentu saja.. Bagaimana denganmu?"
"Aku baru sampai. Kau keberatan jika aku datang ke tempatmu?"
"Yah. Yah.. Tentu.." aku bisa merasakan senyumnya di sana.
"I'm coming.." ucapku dan menutup panggilan. Aku segera duduk di depan layar monitor lalu menutup wajahku. Aku tidak akan melakukan ini lagi. Aku selesai. Aku tidak akan melanjutkan ini lagi.
Jangan gegabah...
"Diam kau sialan..." ucapku pada Lucas dnan segera mematikan daya layar monitor itu. Berakhir. Berakhir sudah. Aku tidak mau melakukan kegiatan menjijikkan ini.
Menjijikkan?
Aku mengabaikan bisikan Lucas dan segera bergerak dari sana untuk keluar dari apartemen. Aku berjalan ke arah pintu apartemen Jasmine dan saat aku hendak menekan bel, pintu segera terbuka. Jasmine berteriak kecil karena terkejut.
"Yah ampun... Edward. Kau mengejutkanku."
"Jasmine.."
"Masuklah terlebih dahulu.." ucapnya
"Kau pergi ke mana?"
"Mengambil makanan pesan antarku..." dia tersenyum dan segera pergi dari sana. Aku menatapnya yang berjalan ke arah lift dan masuk ke dalam lift. Aku berdiri di sana, memastikan dia sudah pergi. Setelah itu, aku segera masuk ke dalam apartemennya kemudian bergegas mengambil seluruh kamera dan penyadap yang kupasang.
Menyedihkan...
Aku memasukkan semuanya ke dalam saku dalam mantelku. Tepat setelah aku mengambil seluruh penyadap, Jasmine datang. Aku melihat ke pintu dan melihat dia tersenyum seraya membawa bungkusan putih.
"Kau sudah makan?" ucapnya seraya berjalan ke arah dapur.
"Aku berencana makan malam denganmu..." balasku seraya melepas mantelku dan menaruhnya dengan rapi di atas sofa lalu berjalan ke arah dapur.
Kami duduk di meja makan dan Jasmine membuka bungkusannya. Ada pizza, burger, kentang goreng, serta mangkok styrofoam berisi sup murahan.
"Kau belum makan apa pun, bukan?" tanyaku ketika dia mengambil gelas dan menyeduhkan air hangat untuk kami berdua.
"Aku memiliki banyak dateline hari ini..." dia duduk dan segera membuka bungkusan pizza, "Makanlah untuk mengganjal perut..."
Aku bukan penikmat makanan seperti ini.
"Berapa banyak anggur yang kau minum?"
Dia membuka bungkusan burgernya, "Kau mau?"
"Tidak..." aku menatapnya dalam lalu dia mengangkat bahu dengan jengkel.
"Kurang dari lima gelas..."
"Kau bisa mati muda jika gaya hidupmu begitu..." aku mengambil burgernya kemudian memberi dia gelas berisi air hangat itu, "Minumlah ini dulu..."
"Okay..." dia mengambil air putih kemudian meneguknya.
Aku menaruh kembali burgernya ke atas bungkusan "Apa kau merokok, Jasmine?" tanyaku seraya berdiri menuju lemari pendinginnya. Sejujurnya, aku tahu jawaban itu.
"No.. Aku bukan perokok, tapi aku pernah merokok."
Aku tau itu. Pertama kali kau merokok di usia 16 tahun karena kau melihat Ibumu melakukannya.
"Apa yang kau cari?"
"Buah.." Aku melihat isi lemari pendinginnya yang kosong. Hanya ada tiga buah pir, buah anggur, air mineral, dan tentunya alkohol. Aku mengambil satu buah pir dan anggur dari dalam lemari pendingin lalu mencucinya bersih.
"Di mana pisaumu?" aku tau jelas di mana posisi pisau itu, tapi aku bertanya hanya untuk berjaga-jaga.
"Di dekat wastafel..."
Aku melihatnya lalu memotong pir dalam beberapa potongan dan menaruhnya di piring bersama anggur. Kemudian, aku bergabung dengannya di meja.
"Makanlah setelah kau merasa kenyang dengan itu.."
"Kau tidak mau pizza?"
Aku menggeleng, "Aku tidak makan makanan seperti itu...."
"Jadi apa yang kau makan?"
Lihatlah dia.. Selalu bertanya. Terkadang pertanyaannya tidak begitu penting.
"Apa pun keculi makanan siap saji."
"Why?"
Aku melihat burgernya hanya digigit dua kali dalam gigitan kecil. Ckck...
"Mungkin kau harus lebih banyak makan dan lebih sedikit bertanya untuk saat ini, Jasmine..."
Dia mengangguk kecil, "Okay..."
Dia menghabiskan burger tersebut hingga habis dan aku tidak tahu harus merasa senang atau tidak. Itu bukanlah makanan sehat, tapi itu adalah makanan pertama yang di amakn untuk hari ini.
"Lain kali, kau harus memsan sandwich tuna atau pasta karena lebih bersahabat untuk perut.
"Aku bukan penikmat makanan laut..."
Sejujurnya kau tidak menikmati makanan apa pun, Jasmine. Hanya alkohol.
"Apa yang kau lakukan hari ini?" tanyaku.
"Melukis? Apalagi..."
"Aku berharap kau juga mau melukisku...." ucapku
"Yah, tentu... Aku ingin melakukannya. Kemarilah." dia mengambil tiga buah anggur dan segera memasukannya sekaligus ke dalam mulutnya. Well... Dia tidak berusaha menjaga imagenya di depanku menandakan dia nyaman didekatku. Namun, cukup aneh juga melihat dia bertingkah seperti itu.
"Kau ingin melakukan apa?"
"Sebentar..." dia segera berlari kecil menuju kamarnya dan beberapa detik kemudian dia membawa sebuah kamera.
"Kemarilah..." ajaknya dan aku berjalan ke arah ruang tamu.
"Kau ingin mengambil gambarku?" tnayaku
"Yah.. Aku ingin melukismu, tapi tidak dengnn cara lama. Aku akan mengambil gambarmu lalu melukisnya kembali ke dalam sebuah lukisan. Sejujurnya lebih menyenangkan jika melukis langsung, tapi aku tau kau orang yang cukup sibuk...."
Jika itu mengenaimu, aku tidak akan pernah sibuk, Jasmine. Aku akan senang hati berpose tanpa bergerak hanya untuk melihatmu seharian melukis.
"Berdirilah di sini..." dia mengrahkanku pada dinding polos di samping lampu berkap tadi. Yah, tempat penyadap yang sudah kuambil.
Jasmine menyalakan semua lampu di ruang tamu tersebut hingga semua terang benderang.
"Aku akan mengambil gambarmu. Okay?"
"Yah..."
Sedetik kemudian, Jasmine mengambil gambarku hingga beberapa kali.
"Bisakah kau sedikit tersenyum?"
Aku ingin gambarku ikut di ambil juga, Edward
Aku tersenyum seraya menahan diri agar Lucas tidak mengambil ahli badan ini.
"Cukup?" tanyaku
"Entahlah...." dia segera duduk di sofa seraya melihat-lihat hasil gambar yang dia ambil. Aku bergabung dengannya dan duduk di sampingnya. Aku mencondongkan kepalaku ke arahnya agar bisa melihat gambarku di kamera itu.
"Kau tidak tersenyum sedikit pun, Edward..." komentarnya pelan.
"Sulit bagiku tersenyum jika sedang berfoto seperti ini..."
"Oh my.. Untung kita ke sini.." ucap Jasmine secara tiba-tiba seraya berdiii menuju lampu berkap itu.
"Ada apa?"
He knows that, Edward...
"Aku ingat melihat lampu merah berkedip dari sini..." dia mulai memeriksa kap lampu tersebut, "Tadi aku melihatnya di sini...."
"Kau mungkin salah lihat.." ucapku.
"Yah.. Mungkin.." dia mengembalikan kembali tutup lampu tersebut lalu menatapku dengan tatapan yang tidak terbaca. Demi apa pun, aku ingin mengetahui apa yang dia pikirkan dalam kepala kecilnya.
"Kenapa?"
"Entahlah.. Sejak aku sampai di sini, aku selalu merasa di awasi."
Edward....
Aku bisa mendengar suara tawa Lucas di sana.
"Aku pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan sekitar tiga tahun lalu saat di apartemen lamaku..." dia kembali duduk di sampingku.
Sial. Ini membuatku gugup.
"Aku biasanya tidak menceritakan ini pada siapa pun, tapi aku pernah mengalami pelecehan seksual..." ucapnya pelan dan aku menatapnya yang menatap lurus ke depan.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
Kau tahu semuanya, Edward. Kenapa harus berpura-pura...
Jasmine menoleh ke arahku kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia mengangkat kakiknya.
"Aku memiliki seorang tetangga dan dia cukup ramah padaku. Awalnya aku merasa baik-baik saja dengan perlakuan ramahnya secara sangat jarang menemukan orang ramah di London, tapi semakin lama aku merasa tidak nyaman dengannya..."
Aku mendengar itu dan bisa merasakan kemarahan di sana. Bukan hanya kemarahanku, tapi kemarahan Lucas. Begitu terasa. Rasa amarah Lucas adalah rasa amarahku juga. Namun, rasa amarah Lucas jauh lebih kuat dan terasa.
"Dia baik padaku, tapi tidak pada orang lain. Hingga kejadian-kejadian aneh terjadi padaku. Apartemenku yang terkadang kutinggalkan kotor menjadi rapi..." suara Jasmine semakin memelan dan aku bisa merasakan deru napasnya sedikit mengencang. Aku tidak bisa membayangkan betapa takutnya dia saat itu...
"Lemari pendinginku pun selalu terisi. Saat di apartemen, aku selalu merasa diamati oleh seseorang. Itu membuatku tidak nyaman dan hendak pindah. Kejadian semakin aneh karena setiap aku pergi ke mana saja, aku selalu merasa diikuti....."
Tetangganya yang kurang ajar!!!!
Lucas berteriak dan kemarahannya semakin terasa jelas.
"Hingga suatu hari saat aku pulang saat larut dan keadaan sedang hujan. Aku tau aku diikuti malam itu. Di lorong gelap, aku berjalan cepat menuju apartemenku dan yah.. Tetanggaku yang selam kucurgai itu muncul..."
Aku merasakan suara Jasmine penuh getir.
"Dia menyerangku dan keadannya saat itu telanajng. Aku melawannya sekuat tenaga dan beruntung saat itu tetanggaku yang lain mendengarnya. Dia membantuku..."
"Jasmine..." bisikku pelan, "Kau tidak perlu meneruskannya jika itu memberimu luka.."
Sejujurnya itu memberiku luka pada diriku sendiri.. Mendengar ceritanya secara langsung dari bibir Jasmine.
Dia menoleh ke arahku, "No. Itu hanya luka lama. Aku tidak merasa trauma lagi. Sejujurnya sedikit. Itu membuatku sering over-thinking saat berada di luar."
Kemudian dia menoleh ke depan dan diam sejenak, seolah ingin melanjutkan ceritanya.
"Tetanggaku itu di tangkap oleh aparat polisi lalu menggeledah apartemennya yang penuh dengan fotoku. Semua fotoku saat beraktivitas dan bahkan dia membuat lobang yang tembus ke arah partemenku. Itu benar-benar membuatku syok dan juga Ibuku. Hanya saja.. Sehari setelah penggeledahan kamarnya, tetanggaku tersebut melarikan diri dari penjara kantor polisi dan saat di cari.. Dia kembali ke apartemennya dan ditemukan tidak bernyawa lagi..."
Aku membunuhnya...
"Dia bunuh diri dengan cara menggantungkan dirinya..."
Napasku tertahan.
"Aku belum pernah sepuas itu melihat kematian seseorang, Edward...."
Dia menyukainya, Edward...
Dia menyukai apa yang aku lakukan.....
"Apa maksudmu, Jasmine?"
Dia menoleh ke arahku dengan senyum, "Aku puas atas kematiannya, Edward. Melebihi apa pun..."
Good girl, Jasmine...
"Aku ingat selama enam bulan lebih aku uring-uringan, hidup penuh kekahwatiran, dan merasa tertekan bahkan setelah dia di tangkap, aku tetap merasa tidak aman. Namun setelah mendengar kematiannya, aku puas..."
Aku pikir selama ini dia merasakan trauma mendalam karena itu. Namun, tidak... Tetapi, bagaimana jika dia mengetahui bahwa aku terlibat dalam kematian pria itu? Secara harfiah, bukan aku... Namun, Lucas. Dia mengambil alih tubuh ini dan membalaskan semua amarah dan dendamnya.
Kita melakukannya bersama Edward dan liat Jasmine, dia bahagia.
Tidak perlu menyesal.
"Apa kau tidak memaafkannya?" tanyaku.
Dia melihatku, "Enthalah. Aku memang puas atas kematiannya, tapi sekarang aku merasa biasa saja dan tidak merasakan dendam lagi. Namun, mengetahui dia mengintipku, menguntit, dan masuk ke dalam apartemenku benar-benar mengerikan jika aku mengingatnya kembali..."
Aku melakukan hal yang sama. Aku melakukan itu semua.
"Bagaimana jika dia masih hidup sampai sekarang dan meminta maaf padamu dengan sungguh-sungguh, Jasmine?"
"Aku mungkin tidak akan pernah memafkannya. Tidak akan pernah...."
*****
MrsFox
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
dan kasihan juga Edward..
terimakasih thor cerita mu luar biasa