tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan
Terdengar suara kebisingan dibalik tembok salah satu ruangan kamar, dilihatnya seorang putra kiyai itu memanggilnya untuk segera menghampirinya dengan cepat. Lantas Zim pun menjawab sambil menelungkupkan kepalanya kebawah.
"Ada apa A memanggil saya."
"Nanti sore, temani Aa ikut program 'MABIT'..." Nahrawi mengatakannya dengan pelan.
'bukannya mabit secara bahasa itu bermalam?' keluhnya dalam hati. Awalnya ia ingin sekali menolak, meskipun tujuannya itu untuk kebaikan, lantaran menurut keterangan Mabit ialah salah satu sarana tarbiyah untuk membina ruhiyah, diantaranya melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk beribadah khususnya shalat tahajud, dhuha, witir, hajat, dzikir, tadabbur dan tafakur.
"Mabit?"
"ya."
"Insyaallah saya siap A." Zim menjawab tanpa ragu sambil membusungkan dadanya seketika.
"Bagus!" sahut Nahrawi, lalu pergi kembali kedalam rumahnya, sementara Zim masih berdiri mematung seorang diri, sebenarnya ia paling benci mengikuti acara perkemahan ditengah-tengah hutan, apalagi jika harus mandi di sungai yang terbuka, terlebih dengan cuacanya yang sangat dingin. Namun mau tidak mau ia juga harus melakukannya, karena ini adalah sebuah perintah dari gurunya langsung kepadanya, yang tetap harus ia lakukan. Jika tidak, maka ia sama saja dengan mengecewakan kepercayaan gurunya sendiri secara sengaja.
Bruk!!!
Zim membanting pintu kamarnya sangat keras, hingga membangunkan ketiga temannya yang masih saja tertidur tanpa melakukan apapun seharian ini.
"Apa!" Zim mengancam temannya yang terus saja memperhatikannya dengan aneh.
"Gak ada." Rinto menjawab setengah sadar, lalu melanjutkan kembali tidurnya.
'Aku harus segera mempersiapkannya sekarang!" pikirnya, lalu mulai mengeluarkan beberapa pakaian serta sinjang sarung yang ia simpan di dalam peti lemari kayunya yang berukuran kecil.
"Kau mau kemana?" tanya Rinto setengah sadar.
"Kemping."
"Ooh." Rinto melanjutkan kembali tidurnya, lagi.
***
melihat langit yang sudah tersipuh rona merah jingga, spontan Zim pun yang sudah menyiapkan seluruh barang bawaannya kedalam tas langsung melihat kearah arlojinya seketika. Dilihatnya jarum pendek tepat mengarah pada jam 4 kurang lima belas menit, sontak ia pun bergegas keluar sambil menggendong tasnya, terpogoh-pogoh menunggu putra kiyai itu, semoga tidak meninggalkannya lantaran lama menunggu.
"Ayo berangkat!" ajak Nahrawi tanpa berbasa-basi.
"Iya." Zim mengangguk kecil, lalu mengekorinya dari belakang.
"Nanti kita akan dipandu oleh salah seorang santri senior dipondok pesantren Al Alawiyyah modern, setelah sampai ke sana."
"Tapi, bukankah kau juga lulusan Al Alawiyyah?"
"Iya, nanti setelah program ini selesai, aku juga berencana ingin mengajak mu untuk mendalami ilmu tafsir dan akhlaq disana selama satu tahun. Itupun jika kau ada kemauan?"
Mendengar ajakan gurunya itu, bocah itu merasa heran seraya tersenyum kecut tanpa memperhatikan disekitarnya. Disisi lain, Ia juga sangat ingin mendalami ilmu tafsir sejak dulu, terlebih dengan ilmu akhlaq, karena merasa sadar akan diri yang kurang santun terhadap orang lain. Lalu, membalas ajakan gurunya itu. "Sa_saya akan selalu siap A!"
"Bagus, itu baru murid ku." Nahrawi membalas dengan antusias setelah anak itu menerima ajakannya tadi, lantaran untuk yang pertama kalinya Nahrawi memiliki hubungan antara guru dan murid sedekat ini, meski dalam waktu beberapa Minggu kebelakang saja.
"Oia, kita sudah akan hampir sampai sebentar lagi!" kata Nahrawi yang tengah berdiri dibawah gemuruh air sungai mengalir landai, lalu menatap kearah bukit yang menjulang tinggi tepat berada dihadapannya itu.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣