NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga

Mahkota Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Petualangan / Anak Yatim Piatu / Anak Genius / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: CloverMint

Adira Angkasa Samudra, cucu dari sang Raja Properti-Adiyaksa Samudra.

Gadis jelita yang selamat dari kecelakaan maut yang membinasakan kedua orang tuanya saat ia masih berusia enam bulan.

Kyai Brama Erlangga, atau yang biasa dikenal sebagai Pertapa Tua, Pertapa Sakti, Pak Tua, Tabib. Seorang titisan dewa yang menjalani hukumannya di bumi selama tujuh ratus tahun lamanya.

Dengan bantuan dari Sang Pertapa Tua, Adira mejalani masa kecilnya di tengah hutan.

Hidup bersama seekor harimau besar dan seekor monyet nakal, membuat Adira kecil tumbuh menjadi gadis tangguh dan periang.

Tak bisa melawan takdir, tepat saat Adira berusia lima tahun, Sang Pertapa Tua harus kembali ke Nirwana, meninggalkan Adira.

Sebelum kepergiannya, Sang Pertapa Tua menitipkan Adira kepada Juki-seorang Supir yang menyebabkan kematian kedua orang tua Adira, sebagai bentuk penebusan dosanya kepada Keluarga Samudra.

Ikuti terus perjalanan Adira di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 25

Pagi-pagi buta, Bu Sri, Rendra, dan Heri sudah berangkat ke pasar untuk bekerja. Dira yang baru bangun, menemukan rumah itu sudah kosong. Hanya tertinggal selembar uang dan sepiring nasi beserta lauknya di ruang tengah.

Setelah sarapan dan setelah bermain dua jam di atas pohon, Dira akhirnya bosan juga.

"Ayi, main ke rumah Paman Janggut yuk!" ucap Dira segera melompat turun dari atas pohon.

Sambil melangkah dan bersenandung riang, Dira berjalan bersama Ayi menuju ke markas Mamat. Tetapi di tengah jalan, seorang pria menghadang jalan mereka.

"Eh.. Ada monyet," seru pria itu.

Dira kemudian menatap pria itu dengan heran, lalu melewatinya dan melanjutkan perjalanannya kembali. 

"Anak kecil, tunggu dulu!" seru pria itu sambil menghadang Dira. 

"Hei, anak besar ada apa?" balas Dira tak mau kalah. 

"Serahkan monyet itu!" bentaknya. 

"Enak aja, mana mau Ayi sama kamu,"cibir Dira mengejek. 

Pria itu pun segera meraih tubuh Ayi. Dira sendiri cuma berkelit sedikit menghindari tangan panjang pria itu.

"Ayi kasih dia pelajaran!" seru Dira. 

Mendengar itu, Ayi segera melompat ke kepala pria itu dan menggigit telinganya lalu menjambak rambut pria itu. Setelah puas mengerjai pria yang memanggilnya monyet, Ayi kembali ke pundak Dira sambil berlompat-lompatan dengan gembira.

"Uu!! Uu!! Uu!!" tawanya sambil menunjuk-nunjuk pria itu.

"Monyet sialan!" maki pria tersebut marah dan segera berlari hendak menyergap Dira. 

Dengan lincah, Dira pun melompat dan mendarat mulus tepat di atas pria tersebut dan segera menjambak rambut gondrongnya lagi hingga pria itu terjerembab jatuh ke belakang.

"Orang jahat, dengar ya, kalau kamu berbuat seperti ini, Dira akan buat kamu lebih sakit!" ucap Dira sambil melompat menjauh.

"I-i-iya," jawab pria tersebut terbata-bata. 

"Ayi, kamu hati-hati ya, di sini orang jahatnya banyak sekali," ucap Dira memeluk Ayi.

"Uu.." ucap Ayi memasang wajah sedih.

Sesampainya di markas Mamat, Dira segera mendorong pintu dan masuk ke dalam. Dilihatnya Mamat sedang duduk melingkar dengan beberapa anak buahnya.

"Non Dira, ayo duduk," ajak Mamat dengan ramah. 

"Paman, bagaimana lukanya?" tanya Dira langsung duduk di salah satu kursi. 

"Sudah baikan Non, makasih sudah membantu kami semalam," jawab Mamat. 

"Yang lain bagaimana?" tanya Dira lagi. 

"Mereka juga sudah mulai membaik. Lagi pada istirahat di dalam," jawab Mamat. 

"Baguslah! Ya sudah, kalau gitu Dira pamit pulang ya!" ujar Dira beringsut dari duduknya. 

"Hmm.. Non.. Itu.." ucap Mamat ragu-ragu. 

"Ada apa Paman? Kalau bicara itu yang tegas!" ucap Dira membulatkan matanya sambil meniru perkataan Pertapa Tua.

"Musuh yang kemarin, Non.. Tadi bosnya mereka menantang kami bertarung. Kalau kami tidak datang, mereka mengancam akan datang lagi kemari," jawab Mamat sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. 

"Apa? Mereka ajak berantem lagi? Paman kan masih sakit," ucap Dira. 

"Itu dia Non.. Sejujurnya, kami juga bukan tandingan mereka. Kalau semalam nggak asa Non Dira, pasti rumah ini sudah hancur berantakan" ucap Mamat lirih. 

"Terus gimana dong?" tanya Dira. 

"Non Dira tolong bantu kami ya.. Ilmu Non kan hebat!" ucap Gendut angkat bicara. 

Dira terdiam sambil menatap pria-pria dewasa itu satu persatu, sambil memutar otaknya.

"Kalau Dira bantu Paman, nanti Dira dapat apa?" tanya Dira dengan senyum lebarnya.

"Benar Non bersedia bantu kami? Kalau Non bantu kami, Non akan kami jadikan pemimpin kami. Bagaimana?" ucap Mamat bersemangat. 

"Pemimpin? Untungnya apa jadi pemimpin?" tanya Dira menatap Mamat dengan tajam. 

"Kami semua akan tunduk dan mematuhi perintah Non. Apa yang Non minta, akan kami kerjakan," jawab Mamat dengan mantap. 

"Hihi.. Beneran ya? Kalian harus patuh dan menuruti semua keinginan Dira!" ucap Dira tertawa senang. 

"Iya Non Dira!" jawab mereka serempak. 

"Kalau kalian ingkar janji, Dira akan jadikan kalian santapan Loreng!" jawab Dira tertawa lebar. 

"Iya, iya Non," jawab Mamat yang bingung siapa itu Loreng. 

"Sekarang apa yang harus Dira lakukan?" tanya Dira mengerjap-ngerjapkan bola matanya. 

"Mereka menantang kami, Non Dira bisa ikut bersama kami bagaimana?" tanya Mamat.

"Boleh. Ayo kita ke sana," jawab Dira. 

"Tapi undangannya jam 11 siang, Non," jawab Gembul. 

"Kelamaan. Kita datangi saja," jawab Dira. 

"Baik, ayo kita bersiap," seru Mamat semangat. 

Akhirnya Mamat dan Dira, juga Gendut, Kontet, Fahrul, dan Baim, pergi naik mobil menuju ke markas musuh.

Dira yang duduk di kursi depan di sisi Mamat merasa senang pemandangan di kanan kirinya. Dibukanya jendela mobil, dan dirasakannya hembusan angin menerpa wajahnya.

Selama perjalanan, Dira sering bertanya tentang bangunan dan barang apa saja yang mereka lewati. Mamat juga menjawab dan menjelaskan dengan sabar, dan terkadang Gendut atau Kontet yang menjawab. 

Percakapan mereka terhenti ketika Mamat sudah sampai di depan sebuah bangunan yang lebih terlihat seperti gudang. Mamat lalu memarkirkan mobil di lapangan luas di depan bangunan itu.

"Non ini rumahnya," ucap Mamat sambil mematikan mesin mobil. 

"Ayo kita turun," seru Dira.

Gendut segera turun dan membukakan pintu untuk Dira yang melompat senang. 

Dengan riang, Dira berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat lebih luas dari kediaman Mamat.

"Hei.. Anak kecil mau ngapain kamu di sini?!" bentak seorang pria yang menjaga pintu depan.

"Eh.. Anak besar, Dira mau jumpa sama pemimpin Geng Burik," jawab Dira berhenti di hadapan pria itu. 

"Burik, burik! Nama geng kami Geng Beruk! Di sini bukan taman bermain, sana pergi!" jawab pria itu dengan kesal.

"Kami ingin bertemu Bang Adit," ucap Mamat setelah berdiri di sisi Dira. 

"Cih.. Mau apa kamu ketemu Bos kami?!" Pria itu memandang Mamat dengan hina.

"Kami datang memenuhi tantangan Bang Adit," jawab Mamat menatap tajam ke penjaga pintu itu.

"Cepat panggilkan Bang Adit, kok lama sekali sih?!" gerutu Dira dengan kesal. 

"Tunggu di sini!" serunya sambil berjalan masuk.

Tak lama, muncul 15 orang pria dewasa dengan seorang pria berkulit gelap, berkepala botak dan tubuh besar berjalan dengan jumawa memimpin mereka di depan. 

"Hahaha… Ternyata nyalimu besar juga Bos! Kamu sekalian mau mengantar nyawa kemari ya?" ejek Adit tertawa terbahak-bahak. 

"Kami tak datang mengantar nyawa, tapi kami tak mau kalian merebut lahan kami!" jawab Mamat.

"Apa yang aku inginkan, pasti akan aku dapatkan. Lebih baik kau menyerah, dari pada pulang-pulang tinggal nama," ejek Adit. 

"Jangan takabur. Nyawa gue bukan lo yang nentuin!" jawab Mamat.

"Kalian bicara apa? Lama sekali sih?!" sela Dira dengan kesal. 

"Hah? Lo kemari bawa bocah kecil? Udah gila ya lo?" ucap Adit membelalakkan matanya.

"Jangan menghina pimpinan kami!" bentak Gendut dengan suara tinggi. 

"Hah? Bocah ini pimpinan kalian? Lo yang katanya jagoan Benhil, kemari bawa anak kecil sebagai pimpinan? Benar-benar sebuah lelucon," jawab Adit tak habis pikir.

"Paman Botak, Dira kasih tahu ya, Paman Botak jangan ganggu Paman Janggut dan teman temannya lagi! Awas ya kalau kalian berani ganggu!" seru Dira sambil berkacak pinggang. 

Adit menatap Dira lalu tertawa dengan keras."Hahaha! Lelucon apa lagi ini? Lo bawa bocah ingusan buat ngancem aye? Mat, yang bener aja lo?!" ucap Adit tertawa hingga air matanya keluar. "Eh bocah ingusan, kalau aye mau ganggu atau mau ambil nyawa Mamat, lo emangnya bisa apa?" tanya Adit tertawa geli mendengar ancaman anak kecil seperti Dira.

"Kalau Paman berani ganggu mereka, Dira akan hukum kalian!" jawab Dira lagi dengan suara cemprengnya.

"Hahaha.. Lucu juga lo bocah, coba aye mau liat hukuman seperti apa yang lo maksud," ejek Adit kembali tertawa. 

"Huh.. Paman, Paman sudah botak, item, jelek,ketawanya jelek sekali lagi. Udah jangan tertawa lagi!" gerutu Dira kesal. 

"Anak sialan, siapa yang lo bilang jelek?" Adit menjadi emosi dengan ucapan Dira. 

"Ya kamu. Masa Dira? Kamu sama Ayi saja cakepan Ayi," jawab Dira dan Ayi yang ikut tertawa.

"Apa.. Lo samain gue sama tuh monyet?" seru Adit menjadi naik darah begitu melihat Dira mengelus kepala Ayi.

"Ayi, kasih pelajaran ke Paman Botak," perintah Dira. 

Dengan cepat, Ayi melompat ke kepala Adit dan memukul kepalanya.

Setelah Adit mengaduh, Ayi segera kembali melompat dengan cepat ke atas pundak Dira. 

"Dasar anak sialan!" bentak Adit segera mendekati Dira dan mencoba menangkapnya dengan tangannya yang besar. 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...

...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...

...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...

...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...

...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...

...Terima kasih.❤...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
ceuceu
ikutan sedih/Cry/
ceuceu
part/Sob//Sob/
ceuceu
author novelnya keren"
nining laksono
ceritanya menarik
nining laksono
bagus ceritanya
Aghitsna Agis
thor kpn nih up lg mahkota bunganya ditunggu blm up aja
ララサティ
apa kabar author?,semenjak izin oprasi mata sampai skrng udh 3 thn gx ada kabar sama sekali, thor aku nungguin kelanjutan ceritanya loh, cepet kembali yahh semoga aja semuanya baik² aja
Aghitsna Agis
thor cerita mahkota bunga akan up lg nga kalau nga mau diskip mks
Aghitsna Agis
kapan dilanjut lagi thor dutunggu
Grace Laoly
CERITA YG SERU dan ga bertele-tele favorit banget
Wahidun Wahidun
Thor ini cerita udah tamat kah ga up2 Thor ceritanya bagus loh Thor,tinggal menuju dan mncri misi balas dendam orang tua adhira
Aghitsna Agis
thor udah kangen nii sama verita dira sama lorengnya kapan up lagi sebelum betul2 lupa isi cetitanya lanjut fong thor
Rona Dhiangsah
thor ceritanya kapan up lagi.
Retnoendang Tri
ayo PD komentar biar up
Aghitsna Agis
thor belum dilanjut lagi niii mahkota bunganya aku nunggu kelanjutannya
Aghitsna Agis
thor apa ini nga dilanjutin
Riani Simatupang
semoga cepat sembuh kak,,gx sabar nunggu kelanjutan nya😊😊😊
Mbah dun3
semoga lekas sembuh thor...
Maya Sofha
thor,,, knp blm ada kelanjutannya??? udah lama nie blm ada lagi,, d tunggu thor. jgn kelamaanlah hiatus nya kan jadi nanggung nie
Aghitsna Agis
thor gimana kelanjutannya dan kapan uo lg ini nuguin semoga thor matanya sudah pulih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!