Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
CAPTER 26
SIASAT YANG GAGAL BAHKAN MENJADI PEMICU PERTENGKARAN
Hasan terburu-buru menuju tempat parkir, dia ada janji dengan tiga kunyuk siang ini untuk membahas soal postingan kemarin. Begitu sepeda motor keluar dari area kampus, dia langsung menambah kecepatan supaya segera sampai ditempat janjian.
Terlihat tiga kunyuk sudah menunggu kedatangannya, setelah memarkir sepeda motor dia segera berlari ke arah mereka bertiga.
"Maaf ya Mas telat!." Dengan suara terengah-engah.
"Nyantai Mas." Seru Andik.
"Gimana uda dapat info?." tanyaHasan tidak sabar.
Ilham langsung mengeluarkan beberapa lembar foto yang sudah dicetaknya tadi pagi, meletakkan semuanya dimeja dengan berjejer rapi.
"Nahhh sekarang coba perhatikan Mas...foto yang diatas sama yang dibawah." Ucap Ilham.
Hasan mengamati setiap baris foto satu persatu, sementara otaknya mencoba menerka apa yang menjadi perbedaan diantaranya. Dan dia pun menemukan sebuah perbedaan diantara foto baris atas dan foto baris bawah.
"Foto yang diatas semuanya bertiga...foto yang bawah cuma berdua...tunggu sebentar!." Tiba-tiba terpotong.
Hasan mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Yunita, mulai dari kedatangan Yunita sampai Hasan
mengantarnya ke tempat parkir dimana mobil mereka berada.
"Kayaknya foto ini diambil waktu Veny pesan minum...lalu yang ini waktu dia ngambil sesuatu miliknya yang terjatuh...masak yang memotretnya itu Veny?!." Tidak percaya dengan dugaannya sendiri.
"Tepat itulah yang aku simpulkan kemarin malam." Ilham berucap.
"Kita Ham bukan aku!." Protes Andik.
"Iya maksudnya kita." Ilham tertawa.
"Terus apa tujuannya Veny ngelakuin ini semua?." Seru Hasan.
"Mungkin dia pikir Mas gebetannya si Yunita itu!." Ucap Ilyas.
"Gini Mas kita akan cari tahu soal itu!." Ucap Ilham.
"Ok mas juga bakal cari tahu!." Sambung Hasan.
Pembahasan soal postingan sudah berakhir, mereka lalu memesan mie ayam untuk mengganjal perutnya yang lapar, sebelum akhirnya kembali ke kampus.
Dilain tempat, Naura yang tadi malam setuju untuk bertemu dengan Yunita memilih tidak datang. Dia bahkan mematikan telepon genggamnya supaya Yunita tidak bisa menghubungi. Dia tengah sibuk memasang payet digaun pengantin yang dipasang ke manekin, gaun pengantin warna biru pale turquoise, berbahan satin yang ditutupi dengan kain organza dengan warna yang senada.
Awalnya Yunita menunggu dengan sabar, sambil duduk manis dia sibuk bermain game di ponselnya. Tapi setelah sekian lama menunggu, Naura tak kunjung dating. Dia mengirim chat menanyakan apakah dia sedang dalam perjalanan. Namun sayang chatnya tidak terkirim, Yunita kembali mencoba dengan menelfon Naura, tapi lagi-lagi panggilan tidak tersambung. Kesal karena merasa dipermainkan, Yunita langsung meluncur ke butik Naura.
Dengan memasang muka manis semanis madu, dia masuk keruang kerja Naura. Mendapati Naura tengah sibuk bersama dengan asistennya yang tak lain adalah Lisa.
"Hai Ra...aku udah nungguin kamu!." Dengan senyuman palsu.
"Ohhh maaf aku lupa...soalnya lagi fokus sama ini!." Ucap Naura lalu menyuruh nya duduk di kursi tamu.
"Lis tolong buatkan minuman ya!." Pinta Naura.
"Iya Mba." Jawab Lisa dan segera turun ke lantai bawah untuk membuatkan minuman.
"Aku chat kamu nggak nyampek, ditelfon juga nggak bisa." Keluh Yunita.
"Maaf ponselku selalu aku matikan kalo lagi fokus sama garapan." Jawab Naura santai.
"Ada apa nih ngajak ketemuan?." tanya Naura.
"Soal postingan yang kemarin itu...aku mau klarifikasi sama kamu, sebelumnya aku uda bicara sama mas Hasan." Mencoba menjelaskan.
"Kalo udah bicara sama suamiku terus ngapain lagi bicara ke aku?." ucap Naura.
"Bukannya gitu aku cuma nggak enak sama kamu."
"Ngapain nggak enaknya sekarang...pas lagi megang lengannya kok nggak kepikiran!." Ledek Naura.
"Itu spontan Ra...aku nggak ada niatan sebelumnya." Berkilah.
"Mana aku tahu kamu ada niatan apa nggak...aku kan nggak bisa ngintip kedalam hatinya kamu."
"Tolong jangan ngomong gitu dong Ra... kedengarannya kamu itu kayak lagi nuduh aku!."
"Ohhh kamu ngerasa gitu...ok deh maaf!." Bersikap acuh.
"Kok kesannya kamu nggak suka gitu Ra aku kesini?!."
"Nggak juga...kalo uda nggak ada lagi yang mau diomongin aku mau lanjutin kerjaanku." Tujuan sebenarnya adalah mengusir Yunita.
"Ok aku pergi dari sini... sebenarnya aku juga sekalian mau ngundang kamu minggu malam di kafe x jam 7.30 malam...datang ya kalo bisa bareng sama suamimu." Ucap Yunita lalu pergi dari ruangan itu.
"Hmmm...."
Setelah beberapa menit lamanya Yunita pergi dari ruangan Naura, Lisa datang dengan membawa minuman yang tadi diminta olehnya. Lisa bingung, matanya clingak -clinguk mencari sosok Yunita diseluruh sudut ruangan.
"Cari siapa?." tanya Naura.
"Lohhh tamunya mana Mba?." Balik bertanya.
"Udah balik...kamu taruh aja disana."
"Terus yang minum siapa Mba?."
"Siapa lagi...ya kita berdua dong!."
-----
Waktu berjalan cukup cepat, tidak terasa matahari sudah mulai turun. Ingat kalau dia punya janji dengan Yunita hari ini, Hasan langsung ketempat yang ditentukan oleh Yunita. Sesampainya disana, Hasan mencari keberadaan Yunita. Matanya mengitari setiap meja yang ada tapi tidak mendapatkan sosok Yunita disana.
"Mungkin masih dijalan." Batinnya.
Setelah mengambil kursi yang berada didekat cendela, Hasan memesan minuman untuk menemaninya menunggu. Tidak begitu lama minuman yang dipesan sudah tiba, dia segera menyeruputnya. Tangannya juga sibuk membuka layar ponsel dan mulai membaca berita-berita seputar dunia bisnis saat ini.
Beberapa artikel sudah dibaca bahkan minuman pun hampir habis tapi Yunita juga belum muncul. Hasan melirik jam dipergelangan tangnnya, khawatir Yunita lupa. Hasan segera mengirim chat padanya tapi chat itu hanya centang satu dari tadi. Tidak bisa menunggu lama,Hasan mencoba menelfon Yunita tapi juga gagal tersambung.
" Loohh gimana kok nggak aktif." Guman Hasan.
Namun tetap memilih menunggu untuk beberapa saat lamanya, mungkin kurang lebih hampir setengah jam menunggu, Yunita juga tidak datang. Hasan yang masih memiliki kegiatan lainnya di kampus memutuskan untuk kembali.
Dia berjalan menuju parkiran dengan tergesa-gesa, hingga tidak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya.
"Maaf Bu saya lagi buru-buru!." Ucap Hasan meminta maaf.
Wanita itu terkaget begitu mendapati seorang laki-laki yang menabraknya adalah Hasan. Ibu Dewi terseyum lebar, dia bahkan menepuk pundak Hasan. Hasan segera mengangkat mukanya dan melihat wanita yang berdiri dihadapannya itu.
"Loh ibu Dewi!." Ucap Hasan.
"Kenapa buru-buru?." tanya ibu Dewi sambil tersenyum lebar.
"Iya Bu soalnya ada kegiatan di kampus dan saya sudah telat ini!." Jawab Hasan sambil menoleh jam ditangannya.
"Yah kurang tepat deh kalo saya ngajak makan bareng." Ucap ibu Dewi sedikit kecewa.
"Terima kasih Bu mungkin lain kali." Jawab Hasan
"Beneran lho ya...awas kalo nolak!."
"Inshallah Bu...maaf ya Bu saya tinggal dulu." Pamit Hasan.
"Ok deh hati-hati." Ucap ibu Dewi sambil melambaikan tangan.
Hasan yang buru-buru tidak menyadari kalau dia telah menjatuhkan pen dari saku depan kemejanya. Ibu Dewi yang hendak melangkah tidak sengaja kakinya menginjak pen itu. Segera dia berlutut untuk mengambil sesuatu yang dia injak tadi. Begitu matanya melihat kalau benda itu adalah sebuah pen, dia langsung tertuju pada Hasan.
"Bukannya dosen pasti bawa pen kemana-mana." Gumannya sambil memungut pen yang sudah rusak.
Timbul dihati ibu Dewi untuk membelikan Hasan pen, sambil mengambil kesempatan untuk lebih mengenalnya dan juga dekat dengannya. Dia yang awalnya hendak janjian dengan seseorang di kafe itu kangsung membatalkannya dengan alasan ada kepentingan yang mendesak yang harussegera diselesaikan. Ibu Dewi segera membawa keluar mobilnya dari area kafe, tujuannya saat ini adalah pergi ke toko alat
tulis untuk membeli sebuah pen. Namun ketika berada dipersimpangan jalan, dia menepi. Tangannya meraih ponsel yang ada didalam tas, lalu mulai browsing sebuah pen yang bagus dan cocok dijadikan hadiah. Setelah mendapati apa yang dicari dia mencoba membelinya melalui online. Lalu melanjutkan kembali laju mobilnya menuju sebuah restoran yang dia kelola selama ini.
----
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sesuai memberi materi dikelas khusus Hasan langsung menuju ruang dosen. Mengemasi barang-barangnya dan segera menuju tempat parkir, secepat kilat dia meluncur kejalanan karena masih mau mampir ke toko untuk membeli pennya yang hilang dan sesuatu yang lain.
Setelah mendapati apa yang dia cari ditoko langganannya, Hasan mampir sebentar diwarung lesehan pinggir jalan. Hampir tiap malam sepulang dari kampus, dia akan singgah sebentar untuk mengisi perutnya sebelum pulang kerumah. Yang menjadi alasannya tidak makan dirumah pak Malik, adalah karena sebenarnya dia merasa malu, hidup dengan gratis disana tanpa dibebankan apapun oleh sang mertua. Jangankan untuk uang belanja bulanan, bahkan menyangkut keperluan istrinya juga sudah terpenuhi sendiri.
Jauh dalam hatinya, dia berniat untuk memberikan Naura uang bulanan. Dia ingin merasakan momen seperti suami pada umumnya, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan juga memperhatikan segala yang menyangkut kebutuhan seorang wanita. Hasan tidak memiliki keberanian untuk membahas itu, dan juga merasa jika dibandingkan dengan Naura, penghasilannya mungkin hanya termasuk uang jajan atau bahkan lebih besar uang jajan istrinya.
"Mas pecel lela ya satu...sambelnya jangan terlalu pedes." Ucap Hasan pada penjual.
"Ditunggu ya Mas!." Ucap si penjual yang sedang mengulek sambal.
Hanya selang beberapa saat, makanan yang dipesan sudah datang.
"Minumnya Mas?." tanya si penjual.
"Teh anget Mas." Jawab Hasan.
Dengan lahap Hasan menyantap makanan yang dia pesan, pikirannya melayang entah kemana namun tiba-tiba Naura terlintas disana. Membayangkan duduk lesehan berdua dengannya diwarung pinggir jalan sambil mengobrol.
"Ya Allah kapan aku bisa makan berdua dengannya." Gumannya sambil melihat pasangan didepannya yang sedang makan berdua.
Yunita sudah tiba di kafe x, dia menunggu Hasan sambil berbicara dengan seseorang ditelfon. Cukup lama sampai panggilan diakhiri, namun Hasan juga belum datang. Yunita mencoba mengirim chat tapi sepertinya tidak terkirim. Mulai resah karena sudah cukup lama, Yunita mencoba menelfon Hasan, juga sama telefon tidak tersambung. Dia terus mencoba menelfon tapi tetap tidak tersambung, kesal karena tidak bisa dihubungi,Yunita pun keluar dari kafe itu dengan muka merah.
"Ini pasti ulah Naura...nggak mungkin mas Hasan sengaja matikan handphone...lihat saja nanti aku akan membalasmu." Guman Yunita sambil membuka pintu mobil.
Hasan sudah sampai dirumah, seperti biasa dia langsung naik keatas menuju kamarnya. Begitu masuk, Naura sudah menghujaninya dengan pertanyaan.
"Gimana pertemuannya dengan si seksi Yunita?." tanya Naura dengan nada meledek.
"Kenapa kok nanyain soal itu?." jawab Hasan dengan balik bertanya.
"Emang nggak boleh...apa takut keceplosan sama aku!."
"Keceplosan apa sih...lagian tadi juga nggak jadi ketemuannya."
"Ohhh...jadi lesu gitu karena nggak bisa ketemuan?." Ledek Naura.
Hasan tidak memiliki keinginan untuk meladeni omongan Naura, dia meletakkan tas ransel miliknya dimeja kerja. lalu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu Hasan masuk, Naura langsung mengambil ponsel Hasan, membuka nomor Yunita yang dia blacklist tadi malam. Langsung beberapa chat dari Yunita masuk, dan juga chat yang dikirim Hasan. Namun Naura langsung menghapus chat itu sebelum sempat dibuka oleh Yunita, sementara chat dari Yunita semuanya dihapus.
Setelah memastikan tidak ada yang terlewatkan, Naura kembali ketempat tidur dan pura-pura memejamkan mata.
Hasan kembali dengan memakai pakaian santai, atas kaos warna abu-abu tua dan bawahan celana boxer warna biru tua. Dia berjalan ke meja kerjanya untuk mengecek beberapa makalah yang sudah dikumpulkan oleh mahasiswanya hari ini.
Handphonenya berdering, tidak disangka ternyata itu panggilan masuk dari Yunita. Segera dia mengangkatnya.
"Hallo Mba." Seru Hasan.
"Hallo Mas...tadi kenapa kok nggak jadi dateng Mas?." taya Yunita.
"Tadi maksudnya Mba?." tanya Hasan yang bingung.
"Iya...katanya tadi jam 7, saya udah disana, dichat nggak nyampek ditelfon juga nggak bisa!." Yunita menjelaskan.
"Ohhh...maaf Mba ponsel saya mati, ini baru aja dicas...maaf ya Mba saya lupa." Berbohong.
"Masak sih mas Hasan lupa?." Yunita tidak percaya.
"Beneran Mba...soalnya tadi banyak kegiatan di kampus...maaf ya Mba saya beneran nggak bermaksud bikin mba Yunita nunggu."
"Ok nggak apa-apa...udah dulu ya Mas." Ucap Yunita dan langsung menutup panggilan.
"Mampus lhu sekarang... pasti bakal ribut." Guman Yunita dengan senyum puas diwajahnya.
Hasan mengecek ponselnya untuk memastikan apakah ada chat dari Yunita, namun benar tidak ada chat. Dia
juga mengecek chat yang dia kirim ke Yunita tadi sore, ternyata chat itu tidak ada lagi alias terhapus. Matanya langsung melirik Naura ditempat tidur, Naura yang tidak pandai berakting justru bangkit dari tidurnya.
"Kenapa gelihatin aku kayak gitu?." Sentaknya.
"Ohhh...dari tadi nguping nih ceritanya?!." Seru Hasan.
"Kalo iya kenapa?."
"Hmmm...jadi ini semua ulah Mba nya?!." Ucap Hasan dengan memicingkan mata.
"Atas dasar apa kok nuduh aku!." Ucap Naura sewot.
"Terus siapa lagi yang punya kesempatan buat ngelakuinnya!."
"Buat apa juga aku ngelakuin itu!." Berusaha mengelak.
"Nggak usah ngelak...yang tahu saya mau ketemuan sama dia kan cuma Mba nya."
"Apa buktinya?."
"Emang nggak ada bukti tapi tidak ada lagi orang yang bisa pegang ponsel saya dan juga yang tahu kalo saya ada janji sama dia."
"Kalo iya kenapa...marah karena nggak bisa ketemuan...bodoh emang aku pikirin!." Sentak Naura.
"Iya jelas lah saya marah...saya kan ketemuannya nggak ngumpet-ngumpet dari Mba nya, kalo Mba nya curiga kan tinggal ikut, nggak perlu berbuat kayak gitu!." Mulai kesal.
"Ngapain juga aku curiga...bukannya kita cuma berteman!." Ucap Naura dengan nada tinggi.
"Terus sikapnya mba Naura yang kayak gitu apa bisa dibilang berteman?!." mencoba mengontrol emosi.
"Ok aku salah...buat kalian berdua aku emang nggak ada benarnya, nggak Papa nggak juga Kamu!." Dengan suara tinggi.
"Bukan gitu Mba...saya nggak ada masalah jadi ketemuan atau nggak sama dia... tapi setidaknya bersikaplah dewasa jangan membuat malu...." Tutur Hasan dengan merendahkan nada suaranya.
"Apa kamu bilang...membuat malu, jadi kamu malu punya istri kayak aku?!." Bentak Naura.
"Ya Allah...bukan itu maksud saya Mba...." Sambil mengusap pelipis matanya.
"Cukup nggak usah ngelak...aku memang nggak se uwah Yunita, nggak sebaik hati Yunita, nggak secerdas Yunita dan dia emang masuk ke seleramu!." Ucap Naura dengan suara bergetar.
Selesai mengucapkan itu, Naura langsung turun dari kasur. Berlari ke kamar mandi dan langsung membanting pintu dengan keras. Bersimpuh disana dengan bersandar dibalik pintu sebelum pindah ke bathtub, menjatuhkan air matanya dengan deras sampai tertidur.
Diluar Hasan duduk lesu di sofa, merenungkan kembali apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilontarkannya pada Naura.
"Apakah sebenarnya dia cemburu." Gumannya setelah cukup lama berdiam diri.
Hatinya sedikit tersentuh tak kala memikirkan alasan itu di benaknya. Matanya menoleh ke belakang, mengira Naura sudah keluar dari kamar mandi. Sayang dia mendapati tempat tidur itu kosong, Hasan segera bangkit dan melangkah ke kamar mandi dengan cepat. Dirinya terluka melihat Naura meringkuk didalam bathup, dengan bekas air mata yang masih belum mengering di pipinya. Tangannya menyentuh pipi Naura, mengusapnya lalu mengelus lembut rambut istrinya. Matanya berkaca-kaca ketika merenungkan sikapnya yang kasar serta perbuatannya yang telah melakui istrinya.
"Ya Allah...maafin mas ya Dek, kalo itu melukai hati Adek mas janji mas tidak akan dekat dengannya, mas janji tidak akan terlibat dengannya dalam hal apapun yang membuat Adek terluka." Ucap Hasan dan membenamkan wajahnya dikepala Naura.
Lalu beberapa saat setelahnya, Hasan mengangkat tubuh Naura dari bathup dan membawanya kembali ke tempat
tidur. Merebahkannya dan menyelimutinya dengan penuh ketulusan dan perhatian. Mengecup tangan Naura dan juga mengecup kepalanya sebelum dia berjalan kembali ke sofa untuk mengistirahatkan dirinya sendiri.