Ibrahim Adlan baru menyadari telah jatuh cinta pada Najwa aulia,di saat gadis itu sudah di persunting oleh kakak sepupunya sendiri yang bernama Irfan Zidni.
Mempercepat keberangkatannya untuk melanjutkan study ke Ummul-Quro adalah langkah yang di tempuh oleh Ibrahim Adlan untuk menghindari pernikahan gadis yang di cintainya begitu dalam itu.
Disaat,Ibrahim Adlan sudah memiliki kemantapan hati untuk melupakan perasaannya setelah dua tahun berlalu,ia mendapat kabar kalau Irfan Zidni meninggal karna sebuah kecelakaan.Bukannya pulang untuk meraih kembali cintanya,Ibrahim Adlan justru menyerahkan perjalanan cintanya pada kehendak Taqdir.
Saat ia pulang dua tahun kemudian,keluarganya menjodohkannya dengan Aisha,gadis cantik yang sepadan dengannya.yakni sama-sama anak Kyai pemilik pesantren.Di saat yang sama ia juga kembali bertemu dengan Najwa Aulia yang masih di cintainya tanpa jeda.
Siapakah kemudian yang akan di pilih oleh Ibrahim Adlan.Apakah Aisha yang telah di anggapnya sebagai adik,ataukah Najwa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengannya,yang mungkin tidak akan di setujui orang tuanya..
Untuk tau jawabannya,simak ceritanya yukk..
ENGKAULAH TAQDIRKU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Engkaulah Taqdirku 26
" Nak ummi keluar dulu ". tanpa menunggu jawaban,
Nyai Masturoh segera bangkit,keluar dari kamar itu
sambil menyeka air matanya.
tak sanggup lagi melihat Aisha yang tampak susah payah menelan makanannya.betapa gadis cantik itu
sangat memaksakan dirinya untuk makan karna takut pada Kyai Faqih Zayyad, abanya, yang mengancamnya akan merawatnya di rumah sakit kalau putrinya itu tetap tidak mau makan.
" Sudah cukup mbak,"! Aisha mengangkat tangannya.Baru juga tiga suap nasi ia sudah tidak sanggup lagi.
" Sekali lagi ya dik??" Najwa coba membujuk.
Aisha menggeleng " sudah kenyang,sudah cukup".
gadis cantik itu benar-benar sudah enggan.Karna tak dapat lagi membujuk,Najwa pun membantu Aisha minum.
" Aisha sudah makan?" Kyai Faqih Zayyad hadir di ruangan itu.Najwa dan Mahil segera berdiri menyisih,ketika ayah mertuanya duduk di tepi pembaringan.Pelan mengusap kepala putrinya.
" Sudah aba".jawab Aisha.
" Tapi kenapa makanannya tidak di habiskan?"
Kyai Faqih menatap piring makanan di tangan Najwa yang bahkan belum habis separuhnya.
Aisha menunduk dalam.
" Nak,harus cepat sembuh ya!," kyai menatap dalam wajah cantik putrinya itu." dalam sakitmu ini,tak ada yang dapat membuatmu sehat kembali,kecuali semangat dalam dirimu sendiri."
Aisha mengangguk,ada air mengambang di sudut
matanya.
" Percaya pada kekuatan Allah! !,Allah yang sudah mengatur jalan hidup tiap manusia" lagi,beliau mengusap lembut kepala Aisha.lalu menghapus satu titik air mata yang jatuh di wajah putrinya itu.
" Aba ada acara keluar,apa Aisha mau di bawakan oleh-oleh?" Kyai menawarkan.
" Tidak aba".
" Baiklah". Kyai Faqih tersenyum,walau ada gurat kesedihan di sorot matanya melihat kondisi putrinya itu.
" Di mana ummimu nak?" Kyai Faqih menatap Najwa dan Mahil.
" Baru saja ummi di sini,mungkin beliau sedang istirahat di kamar". Mahil yang menjawab.
Kyai Faqih mengangguk.sekali lagi menatap Aisha
lalu bangkit. " tolong jaga Aisha ya nak!" ujarnya menatap kedua menantunya itu bersamaan.
" Baik aba".
" Mbak ada jadwal mengajar hari ini?" tanya Mahil pada Najwa yang kembali lagi ke kamar itu setelah meletakkan piring bekas makan Aisha ke belakang.
" Ia ada.satu jam lagi".
" Mbak istirahat dulu!, pasti semalam agak kurang tidur ya,biar saya yang di sini". Ujar Mahil dengan senyuman tulus.
Najwa tersenyum.memang sejak Aisha sakit ,ketika ia ada jadwal menginap di Al Bustan.Najwa selalu bergantian dengan Nyai Masturoh menjaga Aisha di malam hari.sedangkan Mahila lebih banyak menemani gadis itu di siang hari.
" Terima kasih Mbak Najwa,sudah selalu menunggui saya.maaf saya sudah merepotkan". Aisha berkata lirih
" Gak apa-apa dik". Najwa menjawab dengan senyum
" Saya benci pada diri saya sendiri dengan sakit ini."lagi Aisha berkata tandas.Terkadang ia memang menyesali dirinya yang serapuh ini.Tak menyangka akan sekecewa ini,sesakit ini.Ia ingin marah,tapi pada siapa.Ingin bicara tapi tak bisa.Segala beban di pendamnya dalam diam.Meski mungkin seluruh keluarganya kecuali Najwa tau apa yang ia rasakan,tapi ia tak ingin membicarakan.Malu itu yang di rasakan.Akhirnya jadi begini.Bahkan rasanya tak ada yang dapat mengobatinya,kecuali apa yang di inginkannya.tapi mungkinkah itu??.
Sepasang mata gadis cantik itu berkaca.
" dik aisha kok berkata begitu?" Najwa bertanya lembut.
" Mbak Najwa pernah merasa kecewa gak?" Aisha balik tanya.Najwa dan Mahil jadi saling pandang.
" kalau harapan yang kita bangun gak sesuai dengan kenyataan ,rasanya sakit mbak..sakit sekali"..Aisha menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.Air matanya jatuh.
" Sebenarnya,apa yang terjadi dik Aisha,apa yang kau alami saat ini?" Najwa kembali bertanya dengan lembut.Sedangkan sudah ada rasa tak nyaman yang masuk dalam perasaannya.Entah karna apa.
" Gak apa-apa kok mbak".
" Coba dik aisha jujur,mungkin saya bisa bantu!" Najwa berkata tulus.Aisha menggeleng lemah dan setelah itu ia menutup bahasanya,setelah berhasil mendatangkan tanda besar dalam diri Najwa Aulia atas kata-katanya itu.
**
" Aku kepikiran Aisha.." Nyai Masturoh menyeka air matanya. wajah cantik wanita baya itu nampak sedikit pucat.tatapnnya letih.Najwa memergokinya duduk sendiri di teras sambil bertetes air mata.
" Mau sampai kapan anak itu seperti ini?"ujarnya lagi tanpa menatap Najwa yang duduk di sebelahnya.
" Apa..kita opname dik Aisha ummi,biar kesehatannya cepat kembali?" Najwa coba mengusulkan meski ia tau kalau Aisha takut di infus.Dan Kyai Faqih sendiri kurang setuju kalau Aisha di rawat di rumah sakit.
" Tidak perlu.Aisha tidak butuh obat dari Dokter.dia hanya butuh semangatnya kembali." sahut Nyai Masturoh.
" Maaf ummi,,tapi kenapa dik Aisha tidak semangat?"
Najwa tak dapat menahan diri lagi untuk tidak bertanya,setelah berbagai tanda tanya yang memenuhi pikirannya selama ini,sejak Aisha jatuh sakit sekitar seminggu yang lalu.
" Aisha..itu,yang sakit perasaannya.Hingga badannya pun ikut sakit.."
" Kenapa ummi?"
"...". Nyai Masturoh menggeleng.ia tak mampu lagi melanjutkan.
Najwa aulia menghela nafas teringatkan perbincangan itu kemarin pagi ketika dirinya baru tiba lagi di Al- Bustan.
" nak..harus cepat sembuh ya,,dalam sakitmu ini,tidak ada yang dapat membuatmu sehat kembali,kecuali semangat dalam dirimu sendiri ".
ucapan Kyai Faqih pada Aisha juga terngiang-ngiang dalam pikirannya.
" Mbak..belum berangkat?'" Mahilatul Jamilah yang memperhatikannya sejak lima menit lalu itupun menghampiri.
" Ia ..sebentar lagi.." Najwa melihat pada jam tangan emas yang melingkari pergelangan tangannya.
" Kalau Mas Fathan sudah berangkat sejak pagi tadi mbak".
" Ia.dia punya jam pertama.saya jam ketiga".
" Saya perhatikan mbak sedikit resah,apa ada yang tengah pikirkan??" meski agak ragu,akhirnya Mahil pun bertanya.
" Terus terang,ia." Najwa menatap istri Fathan itu.
" Soal dik Aisha mbak??"
" Ia..apa dik Mahil tau, sebenarnya ada apa?"
" Apa mbak Najwa benar-benar gak tau?" Mahil malah balik tanya yang membuat najwa sedikit terhenyak.
"berarti memang betul ada apa-apa". batinnya.
" Tau soal apa dik??"
" Soal dik Aisha..kalau ia menyukai Mas Adlan?"
" Ia..saya bisa merasakan itu".sahut Najwa.
"Dan..aba dan ummi bermaksud untuk menjodohkan dik Aisha dengan Mas Adlan".
Mahilatul Jamilah menatap Najwa Aulia.Namun tak ada expresi kekagetan di raut wajah ayu itu.Najwa hanya menatap Mahil dengan seksama menunggu apa yang akan di katakannya,selanjutnya.
" Mereka sudah memberitaukan hal itu pada Mas Adlan."
lagi.Mahil menjeda kalimatnya hanya untuk mengamati Najwa.
"Lalu??" Najwa tak sabar ingin tau pada kelanjutannya.
" Mas Adlan menolak dik Aisha." ucap Mahil
Najwa nampak menahan nafas.perlahan ia mulai paham." jadi karna itu?" ia bergumam.
" Mas adlan menolak dik Aisha dan memilih mbak Najwa". Mahil melanjutkan ucapannya.
" Apa!?"
nangiss bombay malam2 😭😭