NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

“Terus terus, gimana? Jadinya kapan?” Tini masih terus mendesak Ardhana.

“Sayang, udah. Jangan bikin mereka berdua nggak nyaman gitu,” tegur suami Tini yang merasa tidak enak setelah melihat wajah Sarah yang semakin memerah.

Setelah kehebohan yang dibuat oleh Tini mereda, suami Tini akhirnya berhasil menarik istrinya yang super bawel itu untuk berpamitan pulang. Begitu siluet pasangan suami istri itu menghilang di balik pintu kaca kedai boba, atmosfer di meja pojok tersebut mendadak berubah drastis. Sisa-sisa tawa jenaka runtuh seketika, digantikan oleh keheningan yang cukup tegang dan mendalam.

Sarah mengaduk-aduk sisa boba di dalam gelasnya dengan pandangan lurus ke bawah, sementara Ardhana menatapnya lekat-lekat. Pria tegap itu melipat kedua tangannya di atas meja, membuang jauh-jauh ekspresi tengil yang sejak tadi ia pasang di depan Tini.

“Sar,” panggil Ardhana dengan nada suara yang merendah, sangat lembut namun terdengar begitu serius.

Sarah menghentikan sedotannya, namun ia tetap enggan mendongak untuk menatap mata Ardhana. “Apa?”

“Pesan yang aku kirim malam itu… aku beneran serius sama setiap kata yang aku tulis di sana,” ucap Ardhana, membuka kembali obrolan yang sempat tertunda. “Aku nggak bermaksud mencari pembenaran atas sikap pengecutku dulu. Tapi, setelah bertahun-tahun berlalu dan takdir membawa kita berdua ketemu lagi di kota kecil ini, aku ngerasa ini bukan sekadar kebetulan biasa, Sar.”

Sarah menarik napas panjang, mencoba menahan gemuruh di dadanya yang kembali bergejolak. “Terus, maumu sekarang apa, Ar?”

Ardhana menggeser sedikit kursinya agar semakin dekat dengan Sarah, lalu menatap tepat ke dalam manik mata Sarah yang akhirnya mendongak menatapnya. “Aku mau kita mulai hubungan baru, Sar. Hubungan yang sehat, yang dewasa, tanpa ada bayang-bayang ketakutan atau tekanan dari orang lain lagi kayak dulu. Aku mau bilang kalau aku masih memiliki perasaan yang sama ke kamu. Rasa kagum dan suka yang dulu sempat terputus, jujur sampai detik ini nggak pernah berkurang sedikit pun di hati aku.”

Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan frontal dari bibir pria di hadapannya, Sarah tertegun. Jantungnya berdegup kencang, memukul dinding dadanya dengan bertubi-tubi. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayai kalimat itu. Namun, logika dan sisa-sisa luka lama yang mengendap selama bertahun-tahun di kepalanya kembali berteriak, mengingatkannya untuk tetap waspada.

Sarah terdiam cukup lama, membiarkan keheningan kedai boba menyelimuti mereka selama beberapa menit. Ia menatap Ardhana dengan pandangan yang sulit diartikan, mengumpulkan seluruh ketenangannya sebelum akhirnya membuka suara.

“Ar, dengar ya,” kata Sarah dengan intonasi suara yang sangat tenang, mencoba terdengar seobjektif mungkin agar kalimatnya tidak kaku namun tetap memiliki batasan yang jelas. “Aku hargai kejujuran kamu, dan aku juga makasih karena kamu sudah mau jelasin apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Tapi, untuk memulai hubungan baru atau mengikat diri dalam sebuah komitmen pacaran… maaf, aku nggak bisa.”

Raut wajah Ardhana seketika berubah tegang. “Kenapa, Sar? Apa karena kamu masih belum bisa maafin aku?”

Sarah menggelengkan kepalanya perlahan, seulas senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya. “Bukan soal maaf atau nggak maaf, Ar. Aku cuma mau semua hal di antara kita berjalan sewajarnya saja saat ini. Nggak perlu ada ikatan hubungan apa pun di antara kita berdua. Nggak ada status pacaran, nggak ada tuntutan apa-apa.”

“Tapi, Sar—”

“Kita jalani aja hidup masing-masing seperti biasa,” sela Sarah cepat sebelum Ardhana sempat mendebat kalimatnya. “Kamu fokus sama dinas kamu sebagai polantas, dan aku juga fokus mengajar anak-anak di sekolah. Kalau di antara kita memang ada garis jodoh yang sudah digariskan sama Tuhan, aku percaya cepat atau lambat pasti akan ada jalannya sendiri tanpa perlu kita paksakan sekarang. Tapi untuk saat ini, biarkan semuanya mengalir apa adanya.”

Ardhana terdiam seribu bahasa, lidahnya mendadak kelu mendengarkan keputusan matang dari sang mantan senior. Kalimat Sarah begitu tenang, tidak berapi-api penuh amarah seperti kemarin, namun justru di situlah letak ketegasannya yang tidak bisa diganggu gugat.

Sarah kemudian meraih tas jinjingnya di atas kursi, menyampirkannya di bahu, lalu menyedot sisa bobanya untuk terakhir kali. “Aku pulang duluan ya, Ar. Udah mau maghrib, nggak enak kalau kemalaman di jalan sendirian.”

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan lebih lanjut dari pria itu, Sarah langsung bangkit berdiri dari kursinya. Ia melangkah lebar menuju pintu keluar kedai, membiarkan suara denting lonceng di pintu kaca mengiringi kepergiannya sore itu.

Sementara itu, Ardhana hanya bisa duduk terpaku sendirian di sudut meja. Ia menatap kosong ke arah kursi kosong di hadapannya yang baru saja ditinggalkan oleh Sarah. Ada rasa sesak dan sedikit kekecewaan yang mendalam menghampiri dadanya saat menyadari bahwa memenangkan kembali kepercayaan penuh dari wanita yang dicintainya ternyata membutuhkan waktu dan pembuktian yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Pria tegap itu hanya bisa menghembuskan napas panjang dalam keheningan, meratapi langkah Sarah yang perlahan menjauh dan menghilang di antara keramaian jalanan sore.

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!