"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan yang Mulai Disengat
Kantor ruko Gudang Berkah Arumi masih terasa tegang, namun Arumi menolak untuk berlama-lama larut dalam kesedihan. Kerugian ratusan juta rupiah akibat sabotase kemarin memang sempat memukul operasionalnya, tetapi sebagai wanita mandiri yang merangkak dari bawah, mental Arumi sudah sekeras baja.
Pagi-pagi sekali, Arumi sudah duduk di meja kerjanya dengan segelas kopi hitam tanpa gula. Lembaran manifes baru, rute alternatif yang lebih aman, dan strategi negosiasi ulang dengan klien yang sempat beralih ke kompetitor sudah tertata rapi di depannya.
"Rum, Pak Hendra dari swalayan Jakarta Barat menelepon lagi," ujar Kak Nia yang baru saja masuk dengan wajah agak lega. "Setelah Dhanu membantu mengurus dokumen trayek truk kita yang tertahan kemarin, bumbu instan kita akhirnya sampai meskipun telat. Pak Hendra bilang kualitas bumbu kompetitor baru itu sangat buruk, konsumennya banyak yang komplain. Beliau mau kembali kontrak dengan kita, tapi minta jaminan keamanan pengiriman."
Arumi mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang teratur. "Katakan pada Pak Hendra, aku menjamin pengiriman berikutnya tidak akan terlambat satu menit pun. Aku akan mengubah total sistem logistik kita, Kak Nia."
Arumi berdiri, berjalan menuju jendela kaca yang menghadap langsung ke halaman parkir. Di luar sana, Setya sedang menyapu area dekat pos satpam. Namun, ada yang berbeda dari gerak-gerik pria itu hari ini. Jika kemarin dia memasang wajah paling memelas dan tubuh yang membungkuk pasrah, hari ini Setya berjalan dengan punggung yang sedikit lebih tegak. Ada binar kepuasan yang tersembunyi di matanya yang sesekali melirik ke arah ruko kantor.
Setya merasa dirinya seperti seorang agen rahasia yang hebat. Berkat foto dokumen yang ia ambil, Raya memujinya habis-habisan semalam di telepon dan bahkan berjanji akan memberikan bonus uang tambahan dari "bos besar" mereka. Ego Setya yang selama ini diinjak-injak sebagai tukang bersih toilet dan tukang sapu, mendadak membubung tinggi.
Kecerobohan pertama Setya pun dimulai dari rasa percaya dirinya yang berlebihan.
Saat Setya sedang asyik menyapu, ponsel di saku celananya bergetar. Ia buru-buru menengok ke kanan dan ke kiri. Merasa situasinya aman karena para buruh angkut sedang berada di dalam gudang utama, Setya mengangkat telepon itu sambil bersandar di balik truk yang terparkir.
"Halo, Raya?" bisik Setya, suaranya terdengar bersemangat.
"Bagaimana, Mas? Apa si janda itu masih nangis-nangis di kantornya?" suara Raya terdengar nyaring dan penuh kemenangan dari seberang telepon.
"Hahaha, mukanya pucat sekali dari kemarin, Raya. Kak Nia juga teriak-teriak pusing," Setya terkekeh pelan, merasa sangat puas. "Arumi sedang sibuk menyusun rute pengiriman baru di mejanya. Tenang saja, nanti malam saat jam sepi, aku akan cari tahu lagi ke mana truk-truk itu akan dikirim. Kali ini kita buat dia benar-benar bangkrut."
"Bagus, Mas! Jangan sampai ketahuan. Nanti kalau ini sukses lagi, aku akan belikan kamu pakaian baru yang mahal. Aku tidak tahan melihat suamiku memakai baju gembel biru itu setiap hari," ujar Raya manja sebelum menutup telepon.
Setya tersenyum lebar, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Namun, begitu ia berbalik dari balik badan truk, jantungnya hampir melompat keluar dari rongga dadanya.
Dhanu berdiri hanya berjarak tiga meter di depannya.
Pria mapan itu mengenakan kemeja batik modern, tangan kirinya membawa tas kerja, sementara mata tajamnya menatap Setya dengan pandangan yang sangat dingin dan menyelidik. Dhanu baru saja memarkirkan mobilnya di sisi lain truk dan tidak sengaja menangkap basah Setya yang sedang berbisik-bisik di telepon dengan wajah licik.
Setya seketika pucat pasi, sapu lidi di tangannya hampir terlepas. "P-Pak Dhanu... Selamat pagi, Pak."
Dhanu tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Setya, auranya yang berwibawa seketika membuat Setya merasa kerdil dan terintimidasi.
"Lama sekali kamu menerima telepon di jam kerja, Setya," ujar Dhanu, suaranya berat dan penuh penekanan. "Dan seingat saya, kemarin kamu bilang uang gajimu habis untuk biaya hidup dan obat ibumu yang sakit. Tapi barusan... saya dengar kamu tertawa sangat puas. Siapa yang sedang kamu telepon dengan wajah sebahagia itu?"
Setya menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Lidahnya mendadak kelu untuk menyusun kebohongan. "I-itu... Pak. Itu tadi saudara saya dari kampung. Dia memberi kabar kalau... kalau ada kerabat yang mau meminjamkan uang untuk tambahan obat Ibu. Makanya saya senang, Pak."
Dhanu menyipitkan matanya. Sebagai seorang CEO yang biasa menghadapi berbagai macam negosiasi bisnis, Dhanu tahu betul tanda-tanda orang yang sedang berbohong. Kegugupan Setya, matanya yang tidak berani menatap langsung, dan perubahan sikapnya yang mendadak ceroboh memicu alarm kewaspadaan di kepala Dhanu.
"Begitu?" Dhanu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat dingin bagi Setya. "Baguslah kalau begitu. Tapi ingat, Setya. Arumi menggajimu untuk membersihkan tempat ini, bukan untuk bermain ponsel di balik truk. Kembali bekerja. Dan jangan biarkan aku menangkapmu sedang berbisik-bisik lagi di sini."
"Baik, Pak. Baik, maafkan saya, Pak," Setya membungkuk berkali-kali, lalu buru-buru berlari menjauh sambil membawa sapu lidinya dengan perasaan was-was yang luar biasa.
Dhanu menatap punggung Setya yang menjauh dengan tatapan yang sangat dalam. Ia tidak langsung masuk ke dalam ruko Arumi. Pria itu mengambil ponselnya sendiri, berjalan agak menjauh ke sudut halaman.
"Halo, Rian?" Dhanu menelepon kepala tim investigasi internal di perusahaannya. "Aku mau kamu melakukan satu hal. Lacak aktivitas nomor telepon staf kebersihan di gudang Arumi bernama Setya Utama untuk dua puluh empat jam terakhir. Cari tahu dengan siapa saja dia berkomunikasi, dan jika memungkinkan, lacak lokasi nomor tujuan yang sering dia hubungi."
Dhanu menutup teleponnya dengan wajah yang mengeras. Instingnya mengatakan bahwa sabotase raksasa kemarin tidak mungkin terjadi tanpa adanya keterlibatan orang dalam yang memberikan informasi fisik. Dan Setya... pria itu baru saja menunjukkan celah kecerobohannya.
Di dalam kantor, Arumi menyambut kedatangan Dhanu dengan senyuman hangat, sedikit mengikis rasa lelah di wajah cantiknya. Dhanu memilih untuk tidak langsung memberitahukan kecurigaannya tentang Setya kepada Arumi. Ia tahu Arumi sedang pusing memikirkan nasib bisnisnya, dan Dhanu ingin memberikan bukti yang valid terlebih dahulu sebelum membuat Arumi semakin terbebani.
"Arumi, ini ada beberapa data kompetitor baru yang kemarin merebut klienmu," Dhanu menyodorkan selembar dokumen tebal dari tas kerjanya. "Nama perusahaannya PT Multi Rasa Nusantara. Perusahaan ini baru terdaftar dua minggu lalu, tapi modalnya sangat besar. Dan yang menarik... salah satu pemegang saham terbesarnya menggunakan nama perusahaan cangkang yang berbasis di luar negeri."
Arumi menerima dokumen itu, membacanya dengan teliti. "Dua minggu lalu? Berarti mereka memang sudah bersiap untuk menyerangku sejak lama. Siapa sebenarnya pemilik asli di balik perusahaan cangkang ini, Dhanu?"
Dhanu menatap Arumi dengan tatapan lembut namun sarat akan keseriusan. "Tim analisku sedang melacaknya, Rum. Tapi dari pola gerakannya yang sangat personal dan tak kenal ampun... aku merasa orang ini tidak hanya ingin mencari keuntungan bisnis. Orang ini ingin menghancurkanmu secara pribadi."
Arumi menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit kantor dengan pandangan yang dalam. Permainan catur ini semakin rumit. Valerie dan Raya mengira mereka sudah menang satu langkah di depan dengan membuat Arumi kebingungan. Namun, mereka lupa bahwa di samping Arumi, ada sosok Dhanu yang memiliki mata dan telinga di mana-mana.
Umpan pertama sudah dilemparkan, dan tanpa sadar, kecerobohan Setya yang merasa di atas angin telah memicu benang merah yang perlahan akan menuntun Dhanu dan Arumi langsung ke pintu apartemen mewah milik Raya, serta membongkar topeng glamor Valerie dalam waktu dekat.