NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19 - Benih Cinta (2)

Aku sempat lupa betapa berbisanya mulut manusia. Terutama ketika sedang melihat sesuatu yang berada ‘di luar’ apa yang mereka tahu.

Sejak pertama tiba di Solmara aku tahu bahwa Jovienne adalah tipe tuan putri yang… berbeda. Bisa dilihat dari bagaimana ia memiliki julukan Twin Blade; nama yang seharusnya tidak melekat pada seorang putri kerajaan. Hal yang sangat keren menurutku. Tapi, tentu saja, akan selalu ada mulut-mulut yang mencibir.

Dan struktur sosial Kaelros, rupanya masih cukup kolot terkait itu.

Kegiatan ala putri bangsawan seperti menyulam adalah salah satu hal wajib yang harus Jovienne pelajari sebagai calon pengantin Havren. Dan di kelas itu, Jovienne terlihat jelas tidak cocok.

Hal-hal yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam ketenangan seperti itu bertabrakan dengan pembawaan Jovienne yang spontan. Jari-jarinya teramat kaku, entah berapa kali dia tertusuk jarum. Benang di tangannya sering kusut, dan pola yang dia buat sering tidak karuan.

Hari itu, kelas menyulam dilakukan di paviliun mawar. Kelopak warna-warni mawar sudah menghiasi taman yang mengelilinginya.

Para gadis bangsawan turut diundang untuk menemani Jovienne—untuk membangun hubungan baik, katanya; agar Jovienne tidak kesepian. Di bawah kubah putih, ditemani nampan berisi kue-kue cantik dan aroma teh yang lembut, mereka menyulam di antara hamparan bunga mawar yang bermekaran. Sangat cantik. Sangat elegan.

Tawa kecil yang terdengar di tengah ketenangan itu, namun, sungguh menyebalkan.

“Putri Jovienne tampak sedang bergulat dengan jarum dan benangnya.”

“Benangnya terlalu kencang, Putri. Bila dipaksa seperti itu, kainnya bisa robek.”

“Atau, teknik menyulam di Solmara memang berbeda?”

Semua itu diucap dalam nada manis yang mendayu-dayu. Bila didengar sepintas lalu, perkataan mereka tak lebih dari komentar tanpa maksud buruk. Tapi tentu saja, ada maksud lain di baliknya.

“Sewaktu pertama kali menyulam, aku juga berulang kali menusuk jariku sampai berdarah.” Althea tiba-tiba berkata.

“Aku sempat merajuk tidak mau belajar menyulam selama berminggu-minggu.”

Ia tertawa kecil. Lantas menoleh ke arah Jovienne dan tersenyum manis. “Kurasa, Putri Jovienne melakukannya dengan sangat baik.”

Aah… inikah momen lain di mana protagonis wanita sedang bersinar.

Sungguh pemilik hati yang baik dan pengasih.

“Kudengar di Solmara para perempuan lebih terbiasa memegang pedang.”

“Kabarnya mereka berlatih bersama para lelaki sejak kecil.”

“Ah, tidak heran kulit Putri Jovienne sedikit terbakar matahari.”

“Apa tanganmu baik-baik saja, Putri?”

“Aku bisa merekomendasikan minyak wangi untuk mengatasi kulit yang kasar.”

…. sayangnya, ternyata kebaikan hati protagonis wanita tidak cukup untuk meredam bisa para ular pohon ini.

Tawa renyah mereka kembali terdengar memenuhi taman mawar.

Sebelum Jovienne sempat menanggapi, sesuatu tiba-tiba diletakkan di atas kepalanya. Serta-merta membuat gadis itu mematung. Sebuah mahkota bunga—seperti yang pernah aku buat ketika kanak-kanak dan sedang bermain putri-putrian—tiba-tiba menghiasi rambut Jovienne. Hanya saja yang ini dibuat dengan lebih telaten. Bunga marigold yang cerah disusun di antara ranting tipis dengan sedikit daun hijau tua dan kelopak putih kecil tersebar di antaranya.

Dan pelaku yang meletakkan benda itu melongokkan kepalanya dari belakang Jovienne.

“Sudah kuduga warna ini cocok untukmu.” Havren tersenyum cerah dengan wajah berseri.

“Pangeran Havren!”

Semua yang ada di paviliun itu—tidak termasuk Jovienne yang tampak masih membatu—serentak berdiri dan membungkuk untuk menyapa.

“Apakah gerangan yang membawa anda kemari, Pangeran?” Althea bertanya.

Havren, meluruskan punggung, dan tersenyum.

Masih berdiri di belakang Jovienne, dia berkata, “Aku mencium aroma kayu manis dan memutuskan mampir.”

Mata biru pucat itu menatap ke seisi paviliun. “Kukira hanya minum teh, rupanya kalian sedang menyulam.”

Anggukan kecil dan gumaman samar terdengar.

“Mengapa tidak mengundangku?”

....

Pertanyaan itu… begitu tiba-tiba sampai tidak ada yang tahu harus menjawab apa.

“Aku yakin aku tidak akan kalah dari kalian.” Havren kembali berkata, masih tersenyum cerah.

Tawa canggung mulai terdengar.

“Humor yang sangat jenaka, Pangeran.”

“Pangeran Havren benar-benar memiliki selera unik.”

Samar-samar, biarpun tertahan, aku mendengar beberapa bisikan,

“—tidak bisa memegang pedang, dan sekarang ingin menyulam…”

“Posisi mereka tertukar, bukan?”

“...pasangan yang sangat serasi.”

“—tidak mengejutkan kalau dia benar bisa melakukannya.”

“Seperti di pesta kemarin?”

Jovienne yang mendengar itu, tiba-tiba berdiri. Kursinya berderit, memutus kekehan tawa yang tersembunyi di balik kain sulam.

Namun, sebelum tangannya yang terangkat sempat melakukan apa-apa, Havren menahan pergelangan tangannya.

“Putri Jovienne. Mau menemaniku minum teh setelah ini?”

Dia berkata dengan tatapan hanya tercurah pada sang putri Solmara.

Jovienne balas menatapnya dengan campuran emosi antara bingung dan marah—samar, terlihat sapuan rona merah di pipinya.

Aku memperhatikan mereka semua bergantian.

Aku yakin Havren juga mendengar bisik-bisik ejekan itu.

Havren tahu apa yang orang-orang sering katakan tentang dirinya. Bukan hanya hari ini, di pertandingan duel kemarin, juga di pesta tempo lalu. Dia tahu. Jelas sekali dia tahu.

Tapi… kenapa rasanya Havren tidak pernah bereaksi?

Dia tidak tampak tersinggung. Tidak terlihat marah. Bahkan tidak berusaha membantah semua itu.

Seolah… semua itu tidak ada. Seolah… semua itu tidak mempengaruhinya.

...*...

...*...

...*...

‘Setelah ini’ yang dimaksud Havren rupanya adalah ‘saat itu juga.’

Tanpa benar-benar menunggu jawaban, pangeran bungsu itu tetap memegang pergelangan tangan Jovienne dan membawanya meninggalkan Paviliun Mawar. Bisik-bisik di belakang mereka perlahan memudar, teredam di antara semak dengan kelopak warna-warni.

Havren membawa putri Solmara ke Paviliun Barat. Tempat yang lebih tenang dan jauh dari keramaian. Di hadapan mereka terhampar bunga Nemophila, terbentang di dekat bukit kecil hingga tepi danau.

“Kenapa kau melakukan itu??”

“Melakukan apa?” Havren menjawab seraya mengangkat cangkir teh dan menghirup aromanya.

“Yang tadi itu!”

"Hmm." Havren bergumam samar. Seakan sedsng berpikir.

Lalu, tanpa menatap ke arah Jovienne, pangeran muda itu berkata, “Bunga-bunga sedang bermekaran dengan sangat cantik. Saya hanya ingin memberi hadiah.”

Terdengar denting pelan ketika cangkir itu kembali diletakkan di tempatnya.

“Sebentar lagi ulang tahunmu, bukan?”

Perkataannya membuatku teringat, ini adalah kali pertama Jovienne akan berulang tahun jauh dari rumahnya.

Jovienne terdiam.

Selama beberapa waktu hanya terdengar keresak daun yang terhembus angin dan burung yang berkicau melintasi danau.

“Apa rencanamu untuk lusa, Putri Jovienne?”

Lusa. Hari ulang tahun Jovienne.

Putri Solmara itu mengedikkan bahu. “Kenapa kau ingin tahu?” Ia menyahut, amat terdengar defensif.

Havren tersenyum tipis. “Ada festival wine di alun-alun, saya ingin mengajak ke sana.” Ia berkata. Perlahan, jemarinya mengusap telinga cangkir.

“Atau, apakah anda ingin mengunjungi Solmara?”

Jovienne tidak segera menjawab. Gadis itu menatap ke arah hamparan bunga nemophila. Bunga biru-putih yang sangat seperti Havren.

Nemophila,

ah, aku ingat, bunga biru ini dalam bahasa bunga artinya….

あなたを許す, aku memaafkanmu.

Taman nemophila seluas ini, siapa yang menanamnya ya?

Menatap ke arah hamparan bunga itu sungguh menghipnotis. Seperti melihat riak air yang akan membawamu ke tempat lain. Tempat yang indah dan tentram. Tempat yang jauh dari kepedihan.

Hening yang menggantung di antara mereka berlangsung cukup lama. Aku menduga Jovienne sama sekali tidak berniat menjawab. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, dia terlihat tenggelam dalam kepalanya sendiri.

Lalu, di antara angin yang berhembus lembut, sahutan itu terdengar, nyaris sama pelannya.

“Festival wine terdengar menarik.”

Havren tersenyum.

Kali ini, senyumnya tampak lebih lembut, sekaligus lebih… hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!