Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecowa
HAPPY READING
Langit malam itu begitu cerah dengan bulan purnama sempurna yang tampak di pertengahan gemerlap dari cahaya gedung-gedung pencakar langit di kota. Suasana yang meriah tampak dari berbagai sudut kota memperlihatkan berbagai kegiatan orang-orang yang sedang merayakan akhir hari itu. Ada yang sedang berpesta ulang tahun, menikmati makan malam berdua di sebuah restoran mewah, ataupun hanya sekedar menatap bulan bintang di tepi danau dengan suasana yang romantis. Orang-orang begitu bebas atas hidupnya sendiri.
Namun di suatu sudut lain, seorang gadis_Lily terlihat begitu gelisah. Ia mondar-mandir didalam kamarnya yang besar namun terasa sesak disaat yang bersamaan. Ia bingung dengan sikap kakaknya yang tempramen dan tidak teratur. Kadang baik, kadang bengis. Lily pun semakin lama semakin merasa tertekan karena terus-menerus di kurung di kamarnya ini. Meskipun kamarnya terlihat nyaman, namun baginya tak senyaman itu. Kebebasan yang ia miliki terasa hilang dan ia merasa sedang dipenjara di ruangan yang mewah.
Lily menghela nafasnya berat tatkala mengingat kejadian siang tadi. Apa mungkin ini adalah awal dari proses kematiannya? Apakah Lily yang baru takan bisa mengubah alur itu? Kedekatannya dengan Austin pasti akan memungkinkannya memendam perasaan padanya. Lily tidak ingin dirinya mati lagi. Ia ingin merasakan hidup tenang tanpa ada lika-liku masalah kehidupan yang terlalu rumit. Tapi rasanya itu mustahil.
"Mbok, kak Zevan belum balik?" Tanyanya ketika ia keluar dari kamarnya dan melihat mbok Hanur yang tengah membereskan jendela rumah. Pembantu baru di rumahnya yang tiba tadi sore. Ia katanya di kirim Zevan untuk menemaninya malam ini.
"Belum non, katanya pulangnya agak maleman! Mbok disuruh tuan muda buat jagain non Lily" Jawabnya dengan sopan.
"Um mbok, Lily malem ini ada urusan sama temen, gak bisa dibatalin, mbok jangan bilang-bilang kak Zevan, ya! Please! Lily janji pulangnya gak malem banget kok! Ada sesuatu yang harus Lily pastiin" Lily memohon karena pastinya tidak mudah baginya untuk bisa keluar dari rumah ini.
"Gak bisa non, nanti simbok kena marah tuan muda, non buruan masuk kamar aja, nanti simbok bawain cemilan kesukaan non ya!" Mbok Hanur menuntunnya menuju kamar. Lily hanya bisa diam. Ia berfikir lagi agar bisa keluar. Entah kenapa, rasanya Lily seperti dikurung. Bukanya karena Lily ingin bertemu dengan Austin, tapi ia merasa ada yang tidak beres dengan gelagat pemuda itu. Dan ia harus mencari tahu sesuatu itu.
'Kak Austin pasti nyembuyiin sesuatu!'
Batinya dengan berfikir.
"Ya sudah, simbok tinggal sebentar dulu ya non, mau buatin non cemilan. Awas lho ya jangan kemana-mana, nanti simbok kena marah" Ancamnya dengan takut-takut. Lily terkekeh geli dan mengangguk-angguk faham.
"Iyaa simbok! Lily gak akan keluar kok!"
"Nah begitu! Simbok kunciin ya kamarnya!"
Pintu pun terkunci dari luar. Lily hanya diam melihat pintu yang kini telah tertutup dihadapannya. Terdengar suara langkah kaki yang melenggang jauh dari kamarnya.
"Hum, kayaknya aku harus mulai nyari tau juga deh asal usul keluarga ini"
Lily menatap sekeliling kamarnya yang besar. Ia teringat sesuatu.
"Oh iya! Sekarang udah jam 8 pas! Pasti Austin nungguin! Kalo dia emang cowok gentle gak mungkin dong gak nepatin omongannya" Lily berjalan menuju balkonya. Ia melihat keluar kearah gerbang rumahnya. Benar saja, disana sudah terparkir mobil hitam dan diluarnya ada seorang pemuda dengan stelan kemeja hitam tengah bersandar pada mobilnya itu. Siapa lagi kalo bukan Austin. Ia terlihat sangat keren, ya. Lily akui satu hal itu. Austin melihat jam arloji ditangannya lalu melipatkan tangannya didada.
"Dia bisa keren juga" Cengonya dengan tidak sadar terus menerus menatapnya.
"Eh! Gak gak! Aku gak boleh suka sama orang itu!" Lily menepuk-nepukan jidatnya agar sadar. Ia pun meraih ponselnya dan hendak menelpon Austin. Mengapa dihpnya sudah ada nomor Austin? Ah masa bodoh yang penting ia menelpon orang itu terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama, telpon pun terhubung.
"Hallo, kak! Maaf ya, kayaknya aku gak bisa pergi, kamarnya udah dikunciin"
"Dikunci? Sama siapa?"
"Sama simbok, pekerja baru dirumah"
"Kenapa dia ngunciin lo?"
"Katanya disuruh kak Zevan buat jagain aku biar ga keluyuran malam"
"Bullshit! Lo jangan percaya gitu aja! Gak ada ya, yang namanya pekerja berani ngunciin tuan rumah sendiri! Gue ngerasa ada yang aneh"
"Mbok Hanur baik kok!" Ucap Lily yang tidak ingin berburuk sangka.
"Kalo pun dia emang bener disuruh buat jagain Lo, gak harus sampe ngunciin lah. Nah terus satpam rumah lo kemana nih? Kek gak ada penjaga aja ni rumah"
"Hah? Pak Feri dan kawan-kawan gak ada?" Heran Lily karena tidak menyadari hal itu.
"Gue pikir, lo harusnya pergi dari rumah itu"
"Aaaaaaaa!"
Nut
Nut
Nut
"Lily!? Lily?!"
Tanpa pikir panjang, Austin pun segera memanjat pagar rumah Lily yang tinggi itu. Yang dipikirkannya saat ini adalah Lily. Apa yang terjadi padanya?
"Ah sial! Pintunya terkunci!"
Austin pun segera mencari benda untuk mendobkrak pintu depan rumah. Dan kebetulan ia mendapati sebuah sekop kebun tergeletak sembarang dihalamannya.
Prank!
Prank!!
Austin memukul-mukulkan sekop itu pada gagang pintu. Berharap kuncinya segera terbuka. Dan memang benar, usaha takan menghianati hasil. Pintunya pun terbuka. Lekas berlarilah Austin menuju kamar Lily yang ada dilantai atas. Dengan nafas memburu, Austin tetap mencoba tenang.
Bruak!!
Bruak!!
Sekali lagi, pintu kamarnya terkunci. Austin lagi-lagi bingung mencari benda untuk membuka pintunya. Tak dirasa melihat benda pas, Austin pun malah melemparkan guci besar yang ia temukan dipojok ruangan pada pintu itu. Alhasil, guci itu pecah dan pintunya rusak.
"Lily!" Paniknya ketika melihat Lily sedang berada diatas lemari pakaian dengan takut. Ia menunjuk kearah bawah lacinya.
"Awas kak! Ada kecowa!" Pekiknya dengan sangat ketakutan.
"...." Austin sampai tidak bisa menjawab. Ia masih mencerna apa yang baru saja sedang terjadi.
"Cuma kecowa?" Austin ngos-ngosan.
"Aku takut kecowa tau! Tadi tiba-tiba ada kecowa terbang ketanganku, yaudah aku lempar aja hpnya terus lari naik kesini, hihi!" Lily tersenyum polos tanpa beban.
"Lo tau gak! Gara-gara lo gue ngerusakin dua pintu!" Austin malah duduk ditepi ranjang Lily dengan wajah tertekan. Ia harus ganti rugi pintu yang seharga ratusan juta itu.
"Salah sendirii" Lily mendelik tidak peduli. Lagian dia sudah menolaknya mentah-mentah tadi siang.
"Gue hawatir sama Lo!" Austin menatapnya dengan dalam. Entah kerasukan apa orang ini.
"Makasih" Lily malah tersenyum lebar dengan bangga. Austin sedikit kesal melihat respon Lily yang begitu dingin sekaligus terlihat hangat. Sekarang saja penampilannya sangat biasa, tidak seperti orang yang hendak bepergian keluar. Dia benar-benar telah di tolak.
"Jangan buat gue berfikir bakal kehilangan lo, Lily"
"Kenapa? Kita kan gak ada hubungan apa-apa" Ceplos Lily. Toh memang benar juga. Dia siapanya Lily dan Lily siapanya dia?
"Mulai sekarang, lo pacar gue, lo mikik gue, Lily Agatha cuma milik Austin Darmawira." Katanya yang membuat Lily menatapnya ilfil. Gak masuk dilogikanya kata-kata murahan khas novel dark romance itu.
"Apaan sih gak jelas, cringe tau gak!"
"Gue gak butuh persetujuan lo! Sini turun!"
"Hm mulaiii dehhh kayak si y/n sama ceo itu... gak suka"
"Turun Lily"
"Gak mau! Kecowanya masih ada!"
Austin pun menginjak kecowanya tanpa belas kasih sedikit pun.
"Tuh udah mati" Austin menatap wajah Lily yang terlihat ngeri campur jijik.
"Kasian tau! Main injek-injek aja! Kecowa juga pengen hidup kali!"
"Apapun yang udah nyentuh lo tanpa persetujuan gue, berhak mati"
"Anjay" Dengus Lily dengan wajah datar. Dia tidak merasa baper sama sekali.
"Kenapa? Gak boleh gombalin pacar sendiri?"
"Stop ya! Kita belum jadian" Ketus Lily sembari bergidig ngeri melihat bangkai kecowa yang telah gepeng.
"Sinii!" Austin merentangkan tangannya keatas untuk menangkap Lily.
"Kak Austin nyuruh aku lompat? GAK MAU!" Tolak Lily mentah-mentah.
"Lily, turun!" Titahnya lagi.
"Gak mau kak! Aku takut!" Tolaknya dengan masih keras kepala.
"Gue jamin bakalan nangkap lo!" Bujuknya lagi.
Lily pun memejamkan matanya ragu. Masalahnya ia merasa bodoh sendiri karena bisa naik tapi tidak bisa turun. Ia pun menghela nafasnya pelan dan mencoba menyeimbangkan tubuhnya.
Lalu . . .
Bruak...
Lily mendarat tepat dipangkuan Austin. Mereka pun terjatuh hingga seperti sedang berpelukan.
"Lily?!"
BERSAMBUNG