Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 22 Konfrontasi yang Tidak Profesional
Pagi di apartemen Gavin Mahendra terasa… hambar.
Tida ada pembahasan.
Tidak ada obrolan.
Tidak ada.
Yang ada cuma—
jarak.
Pukul enam lewat tiga puluh tujuh menit.
Gavin sudah duduk di meja makan.
Laptop terbuka.
Kopi hitam masih mengepul.
Namun sejak lima menit lalu—
fokusnya bukan pekerjaan.
Melainkan—
pintu kamar Rania.
Karena semalam—
ia benar-benar pulang sendiri.
Dan sejak itu—
sesuatu terasa tidak benar.
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Rania keluar.
Sudah rapi.
Terlalu rapi.
Terlalu siap.
Dan terlalu…
hati-hati.
“Pagi,” sapa Gavin akhirnya.
“…Pagi.”
Pendek.
Formal.
Lagi.
Gavin menutup laptop pelan.
“Kita ngobrol hari ini.”
Nah ini dia.
Bukan pertanyaan.
Kalimat sederhana.
Namun langkah Rania berhenti sepersekian detik.
Rania mengalihkan pandangan.
Mencoba menghindar dari situasi ini.
“…Saya ada meeting pagi.”
“Kamu selalu ada alasan.”
Sunyi.
Rania mengambil tas.
“Kita ngobrol nanti aja.”
“Nanti kapan?”
Tidak ada jawaban.
Dan itu—
mulai mengganggu.
Benar-benar mengganggu.
“Kamu marah sama saya?”
Akhirnya keluar juga.
Pertanyaan yang sejak kemarin mengganggu kepalanya.
Rania diam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum profesional.
Yang sekarang mulai Gavin benci.
“Nggak.”
Bohong.
Kelihatan sekali.
“Kalau nggak marah— kenapa kamu kayak orang mau resign?”
…
Kurang ajar.
Biasanya—
Rania pasti membalas.
Hari ini?
Tidak.
“Saya berangkat dulu.”
Lalu pergi.
Begitu saja.
Pintu tertutup pelan.
Dan anehnya—
apartemen terasa terlalu kosong.
___
Pukul sebelas lewat dua puluh menit.
Ruang meeting lantai direktur.
Meeting selesai lima menit lebih cepat.
Orang-orang mulai keluar.
Rania merapikan berkasnya dengan cepat saat melihat Gavin berjalan ke arahnya.
Namun terlambat Gavin sudah lebih dulu ada di di hadapannya.
…
Sial.
Pintu tertutup.
Mereka hanya berdua di ruang meeting.
Masih dengan wajah datarnya.
Namun kali ini—
ada sesuatu yang berbeda.
Lebih serius.
“Kita ngobrol sekarang.”
Rania mengembuskan napas pelan.
“Saya sibuk.”
“Kamu sibuk dari kemarin.”
Jeda.
“Apa saya bikin salah?”
…
Lagi.
Pertanyaan itu lagi.
Dan menyebalkannya—
cara Gavin bertanya terlalu serius.
Terlalu tulus.
Seolah benar-benar ingin tahu.
Masalahnya—
kalau begini—
Rania bisa goyah.
Dan itu bahaya.
“Nggak ada masalah.”
“Kamu bohong.”
Jawaban terlalu cepat.
Terlalu yakin.
Seolah Gavin bahkan tidak perlu berpikir.
“Kamu mulai formal.”
“Kamu nggak makan bareng.”
“Kamu pulang sendiri.”
“Kamu menghindar.”
Rania terdiam.
Karena—
sialnya—
semua benar.
"Saya cuma pengen profesional.”
Kalimat itu keluar lagi.
Dan kali ini—
ekspresi Gavin berubah.
Sedikit.
Nyaris tidak kelihatan.
“…Profesional?”
“Iya.”
“Setelah tinggal serumah?”
Jeda.
“Setelah pura-pura jadi pasangan depan satu kantor?”
Tatapannya lurus.
Tepat ke mata Rania.
“Agak telat buat profesional.”
Jantungnya langsung tidak sopan lagi.
Kurang ajar.
Kenapa cara ngomongnya harus begitu?
Kenapa harus terdengar—
seolah hubungan ini lebih dari kontrak?
Dan itu—
membuat semuanya terasa lebih sulit.
Rania menggenggam map lebih erat.
“Bukannya memang tinggal beberapa bulan lagi selesai?”
…
Sunyi.
Membeku.
Gavin mengernyit.
“…Apa?”
Rania langsung sadar.
Sial.
Keceplosan.
Namun semuanya sudah telanjur.
“Saya dengar waktu itu.”
“Nggak sengaja.”
“Enam bulan cukup.”
Suara Gavin mendadak lebih pelan.
“…Kamu denger pembicaraan saya?”
Rania tertawa kecil.
Pahit.
“Ya maaf kalau ternyata saya terlalu kepo.”
“Itu bukan—”
“Dan nggak apa-apa kok.”
Kalimat berikutnya keluar terlalu cepat.
Terlalu defensif.
“Lagian— Bu Clarissa jauh lebih ngerti hidup kamu.”
…
Apa?
Kini Gavin benar-benar diam.
Bingung.
Clarissa?
Ini nyambung dari mana?
“Apa hubungannya sama Clarissa?”
“Oh please," lanjutnya tidak paham.
Rania tertawa kecil.
Tipis.
Tapi jelas terdengar terlalu dipaksa.
“Semua orang kantor juga tahu.”
“Dia ngerti kamu.”
“Dekat sama kamu.”
“Dan kayaknya— kalian selalu punya hal penting buat dibahas.”
Sunyi.
Lalu—
untuk pertama kalinya—
Gavin terlihat benar-benar frustasi.
“Kamu mikir saya kayak gitu?”
Nada suaranya lebih rendah sekarang.
Lebih tajam.
Dan anehnya—
itu justru membuat dada Rania makin sesak.
“Masalahnya bukan itu,” gumamnya.
“Terus apa?”
…
Karena masalah sebenarnya terlalu memalukan untuk diucapkan.
Masalahnya—
aku mulai suka.
Dan aku takut.
Takut terlalu serius.
Takut jadi satu-satunya orang yang jatuh.
Tapi tentu saja—
itu tidak mungkin diucapkan.
Jadi akhirnya—
Rania cuma berkata pelan:
“Ini kontrak, Pak Gavin.”
Pak Gavin.
Boom.
Sunyi.
Ekspresi Gavin berubah.
Tidak banyak.
Namun cukup.
Seperti sesuatu barusan—
ditarik mundur.
Pelan.
Dingin.
“…Kamu serius ngomong begitu?”
Rania mengalihkan pandangan.
“Memangnya bukan?”
Jeda panjang.
“Saya pikir,” suara Gavin lebih pelan sekarang, “kita udah nggak sesekaku itu.”
Gavin menatap Rania.
“…Oke.”
Cuma itu.
Lalu ia mundur sedikit.
Tatapannya kembali datar.
“Kalau itu yang kamu mau.”
Dan anehnya—
hal itu jauh lebih menyakitkan daripada marah.
Sisa hari itu terasa aneh. Tidak ada chat. Tidak ada pesan jemput. Tidak ada “sudah makan?”
Dan anehnya— justru itu yang paling mengganggu.
___
Malam.
Apartemen.
Pukul tujuh lewat dua belas.
Hening.
Tidak ada makan malam bareng.
Tidak ada debat.
Tidak ada rebutan remote TV.
Cuma suara alat makan.
Rania duduk sendiri di dapur.
Mie instan.
Pilihan hidup yang buruk.
Namun hari ini—
semuanya terasa buruk.
Klik.
Pintu apartemen terbuka.
Suara ramai masuk.
“ANAK-ANAK!”
…
Apa?
Rania membeku.
Gavin yang baru keluar dari ruang kerja langsung berhenti.
Karena di depan pintu—
berdiri dua perempuan yang terlalu familiar.
Mama Ratna.
Dan di belakangnya—
Mama Ambar.
Masing-masing membawa satu koper besar.
Oh tidak.
Tidak.
Jangan bilang—
“Mama kangen!” seru Mama Ratna langsung memeluk.
Mama Ambar langsung masuk.
“Bagus kalian di rumah.”
Rania masih terlalu shock untuk bereaksi.
“…Kenapa di sini?”
Mama Ambar tersenyum terlalu tenang.
“Oh, cuma nginep beberapa hari.”
…
Apa?
“Beberapa hari?”
“Ya.”
Rania dan Gavin saling pandang.
Sama-sama terlihat: please bilang bercanda.
Tidak.
Ternyata tidak bercanda.
Mama Ratna sudah duduk di sofa.
Lalu perutnya berbunyi pelan.
“Mama lapar.”
Tatapannya berpindah cepat.
Ke meja makan.
Lalu menyipit sedikit.
“…Lho?”
Jeda.
“Kalian makan sendiri-sendiri?”
…
Membeku.
Karena memang—
di meja cuma ada satu mangkuk mie instan milik Rania.
Dan di counter dapur—
kopi dingin Gavin.
Tidak ada dinner bareng.
Tidak ada vibe pasangan menikah.
Tidak ada apa-apa.
Mama Ambar ikut memperhatikan.
“Kalian habis makan?”
“Udah,” jawab Gavin terlalu cepat.
“Belum,” jawab Rania bersamaan.
…
Mama Ratna perlahan menoleh.
Mama Ambar ikut diam.
Curiga.
Sangat curiga.
“Oh?”
Nada Mama Ratna berubah.
Pelan.
Berbahaya.
“Kalian habis berantem?”
“Tidak,” jawab Gavin cepat.
“Tentu saja nggak,” Rania terlalu cepat.
Dan—
itu justru terdengar makin mencurigakan.
Mama Ratna menyipit.
Mama Ambar melipat tangan.
Tatapan dua ibu itu sekarang terasa seperti interogasi kepolisian.
“Kenapa jawabnya beda?”
“Nggak beda,” kata Rania cepat.
“Sama.”
“Sangat sama.”
…
Makin mencurigakan.
Mama Ratna berdiri.
Berjalan ke dapur.
Membuka kulkas tanpa izin.
Melihat isi kulkas.
Lalu menoleh lambat.
“Kalian nggak makan malam bareng?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena—
beberapa hari terakhir memang tidak.
Dan hari ini—
lebih parah.
Mama Ambar menghela napas panjang.
Tatapan penuh penilaian.
“Ratna.”
“Iya?”
“Keliatan banget.”
Mama Ratna mengangguk pelan.
“Keliatan banget.”
…
Apa yang keliatan banget?!
Rania mulai panik.
“Mama terlalu mikir—”
“Fix,” potong Mama Ratna.
Ia menepuk tangan sekali.
Keputusan final.
“Mulai besok kalian butuh program percepatan cucu.”
Rania hampir tersedak udara.
“…Apa?”
Mama Ambar tersenyum lebar.
“Mumpung kalian masih muda.”
Jantung Rania langsung copot.
Program.
Cucu.
Besok.
OH TUHAN.
Mereka bahkan—
lagi perang dingin.
Dan lebih parah—
mereka tidur pisah.
Hening.
Gavin berkedip sekali.
Dua kali.
Lalu perlahan menoleh ke Rania.
Tatapan mereka bertemu terlalu lama. Tidak ada yang mau bicara duluan.
Karena—
beberapa jam lalu mereka hampir berantem.
Sekarang—
disuruh bikin cucu.
Bagus.
Luar biasa.
Mama Ratna menyipit curiga.
“Kalian tidur sekamar kan?”
…
Mati.
Rania langsung batuk.
Gavin diam.
Mama Ambar ikut menyipit.
“Jangan bilang pisah kamar?”
Gavin dan Rania sama-sama menggeleng cepat.
Tegang.
Parah.
Takut ketahuan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
Rania berharap bumi membuka diri dan menelannya hidup-hidup.
“Bagus.”
Mama Ambar tersenyum puas.
“Mulai malam ini jangan kerja malam.”
“Kurangi stres.”
“Dan jangan terlalu sering berantem.”
Diam.
Karena—
ternyata mereka kelihatan banget sedang dingin.
Lalu—
lebih parah lagi—
Mama Ratna berdiri.
“Oke.”
“Mulai malam ini Mama sama Tante Ambar tinggal di apartemen ini.”
…
Apa?
“Biar ngawasin.”
Tidak ada yang bicara.
Karena untuk pertama kalinya sejak menjaga jarak—
mereka tidak punya pilihan.
Mereka harus tidur.
Sekamar.
Lagi.
Sama seperti awal pernikahan dulu.
Malam itu—
lebih buruk lagi.
Karena tepat sebelum tidur—
Mama Ratna tersenyum manis.
Terlalu manis.
“Mulai malam ini mama cek.”
…
Apa?
“Pintu kamar jangan dikunci ya.”
Rania: ingin pindah negara.
Dan yang lebih parah—
malam itu—
mereka terpaksa tidur satu kamar.
Sunyi.
Awkward.
Tegang.
Lampu kamar redup.
Rania duduk di ujung kasur.
Menatap kosong.
Sementara Gavin berdiri di dekat lemari.
Lalu—
suara pria itu terdengar pelan.
Tenang.
Tapi terlalu serius.
“Kita belum selesai ngobrol.”
Yang penasaran sama kelanjutan cerita Gavin dan Rania, jangan lupa like dan komennya. 😘
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.