NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyamaran Sempurna

Fajar menyingsing di Ibukota Suci tidak ditandai oleh terbitnya matahari dari ufuk timur, melainkan oleh perubahan pendaran cahaya dari Sembilan Matahari Buatan di atas kota. Cahaya merah yang mengurung kota perlahan memudar menjadi keemasan yang hangat, menandakan bahwa Segel Matahari Mutlak mulai dilonggarkan untuk kegiatan siang hari, meski perondaan ketat masih diberlakukan.

Di dalam Bilik Teratai Merah, Chu Chen membuka matanya.

Ia melangkah mendekati cermin tembaga besar di sudut ruangan. Pantulan yang balas menatapnya bukanlah pemuda berwajah tajam dan dingin yang merangkak dari desa fana. Wajah di cermin itu memiliki tulang pipi yang sedikit lebih tinggi, rahang yang lebih tirus, dan sepasang mata yang memancarkan keangkuhan kosong. Itu adalah wajah Ba Tuo.

Chu Chen tersenyum. Senyum itu langsung mengubah wajah angkuh tersebut menjadi topeng iblis yang mengerikan, namun dalam sekejap, Chu Chen menekan senyum itu dan menggantinya dengan ekspresi malas dan angkuh yang ia sarikan dari ingatan asli sang Tuan Muda.

Gejolak Qi-nya benar-benar stabil di Alam Istana Jiwa Tahap Menengah, memancarkan unsur angin yang sedikit kotor karena sering digunakan untuk bermabuk-mabukan—sebuah tiruan mutlak dari fondasi Qi Ba Tuo.

"Sempurna," gumam Chu Chen.

Ia merapikan jubah sutra hijau zamrudnya, mengibaskan debu khayal dari bahunya, lalu menendang pintu bilik itu hingga terbuka.

Di ujung tangga, dua pengawal Lapis Kesembilan Puncak yang telah menunggu semalaman langsung menunduk hormat. Mata mereka sedikit melirik ke dalam bilik yang kosong, namun tidak berani bertanya ke mana perginya wanita es yang semalam menemani tuan mereka. Di rumah pelesiran ini, hilangnya seorang wanita penghibur lewat jalur belakang adalah hal yang biasa.

"Tuan Muda, Anda sudah selesai?" tanya pengawal yang lebih tua dengan nada patuh. "Perondaan prajurit kekaisaran semalam sangat ketat. Kita harus segera kembali ke kediaman. Kepala Keluarga pasti sudah mencari Anda."

Chu Chen mendengus malas, menirukan kebiasaan Ba Tuo yang selalu meremehkan pengawalnya. "Berisik. Ayah selalu marah-marah setiap hari, tidak ada bedanya. Siapkan kereta. Udara di Lingkar Luar ini membuatku muak."

"Baik, Tuan Muda!"

Kedua pengawal itu segera memimpin jalan keluar. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa tuan muda yang mereka lindungi kini telah berubah menjadi pemangsa buas dari luar batas akal sehat mereka.

Kereta kencana berlambang Klan Ba melesat membelah jalanan Lingkar Luar menuju pusat kota.

Setengah jam kemudian, kereta itu berhenti di depan sebuah gerbang raksasa yang memisahkan Lingkar Luar dan Lingkar Tengah. Dinding pemisah itu terbuat dari batu giok putih bercampur baja, dijaga oleh ratusan Prajurit Berzirah Emas.

"Pemeriksaan Pengenal!" bentak seorang perwira Istana Jiwa Puncak, menahan laju kereta kencana tersebut. "Segel masih berstatus siaga. Semua yang akan masuk ke Lingkar Tengah harus diperiksa gejolak darahnya!"

Kedua pengawal Ba Tuo memucat. "Tuan Perwira, ini adalah kereta Klan Ba. Tuan Muda kami ada di dalam."

"Aku tidak peduli dari klan mana pun kalian berasal! Aturan Jenderal Agung adalah mutlak!"

Tirai kereta disingkap dengan kasar. Chu Chen melangkah keluar, wajahnya ditekuk dalam ekspresi jengkel yang sangat nyata. Ia melemparkan sebuah plakat giok merah ke dada sang perwira.

"Periksa ini dengan cepat, anjing penjaga," dengus Chu Chen dengan nada angkuh. "Aku lelah dan butuh mandi air hangat."

Perwira itu menggertakkan giginya menahan kesal melihat kelakuan bangsawan manja ini. Ia menempelkan sebuah alat pusaka berbentuk cermin ke plakat giok merah tersebut, lalu memantulkan cahayanya ke tubuh Chu Chen.

BIP.

Cermin itu memancarkan cahaya hijau terang. Garis keturunan darah, gejolak Qi Istana Jiwa, dan susunan tulang semuanya cocok sempurna dengan catatan yang terdaftar atas nama Ba Tuo. Zirah Tulang Naga Hitam dan Dantian sejati Chu Chen tertutup rapat di bawah selubung rahasia Seni Kaisar Naga.

"Jati diri dipastikan," perwira itu mengembalikan plakat tersebut dengan enggan. "Silakan lewat, Tuan Muda Ba."

Chu Chen merebut kembali plakat itu tanpa mengucapkan terima kasih dan kembali masuk ke dalam kereta. Di balik tirai yang tertutup, senyum dingin kembali terukir di wajahnya. Gerbang neraka telah ia lewati tanpa setetes pun darah yang tumpah.

Lingkar Tengah Ibukota Suci adalah dunia yang sangat berbeda dari Lingkar Luar. Di sini, Qi Langit dan Bumi begitu padat hingga embun spiritual menempel di dedaunan pepohonan emas yang ditanam di sepanjang jalan. Bangunan-bangunannya adalah istana-istana megah yang mengapung di atas kolam Qi, dihubungkan oleh jembatan pelangi.

Kereta Klan Ba memasuki sebuah kediaman besar yang dipenuhi taman bambu ungu.

Begitu Chu Chen melangkah turun dari kereta, sebuah suara raungan yang menggetarkan udara langsung menyambutnya.

"BA TUO! ANAK TIDAK BERGUNA!"

WUSH!

Sebuah tekanan spiritual yang luar biasa berat menghantam pelataran. Sesosok pria paruh baya berjubah keemasan dengan kumis tebal mendarat di depan Chu Chen. Auranya sangat kental, memancarkan gejolak Alam Raja Fana Tahap Menengah.

Itu adalah Ba Zhen, Kepala Klan Ba sekaligus ayah kandung dari jati diri yang kini dicuri Chu Chen.

"Kekaisaran sedang dalam status darurat tertinggi! Jenderal Agung dibunuh! Dan kau malah semalaman suntuk berkeliaran di rumah pelesiran Lingkar Luar?!" Ba Zhen mengangkat tangannya, seolah ingin menampar Chu Chen. "Apakah kau ingin menyeret klan kita ke tiang gantungan karena dicurigai bersekongkol dengan penyusup?!"

Menghadapi amarah seorang Raja Fana, Chu Chen tidak melawan. Ia dengan cepat menundukkan kepalanya, tubuhnya sedikit gemetar—sebuah akting ketakutan yang disarikan sempurna dari ingatan Ba Tuo.

"M-Maafkan saya, Ayah," cicit Chu Chen dengan suara bergetar. "Saya sudah memesan bilik itu jauh hari... Saya tidak tahu Segel akan diaktifkan secara tiba-tiba."

Melihat putranya gemetar ketakutan seperti biasa, Ba Zhen mendengus keras, menurunkan tangannya. Raja Fana itu tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia bisa merasakan gejolak Qi angin Lapis Menengah yang lemah dari tubuh putranya ini, sama menyedihkannya dengan biasa.

"Dasar sampah," rutuk Ba Zhen. "Jika bukan karena kau satu-satunya putraku, aku sudah membuangmu ke Tambang Kekaisaran."

Ba Zhen menghela napas panjang, menekan amarahnya. Ia lalu merogoh Cincin Penyimpanannya dan melemparkan sebuah kantong berat yang langsung ditangkap oleh Chu Chen.

"Di dalamnya ada seratus ribu Batu Roh Tingkat Atas," ucap Ba Zhen dengan nada tegas. "Malam ini adalah Lelang Bayangan Klan Ye. Aku tidak bisa pergi karena harus menghadiri rapat darurat para Kepala Klan di Istana Pusat akibat kematian Jenderal Huang Jin."

Mata Ba Zhen menajam. "Kau gunakan Undangan Darah itu. Masuk ke lelang, dan beli Pedang Angin Pemutus Sukma yang dijadwalkan akan dilelang malam ini. Klan kita sangat membutuhkan pusaka tingkat bumi itu untuk Turnamen Antar Klan bulan depan. Jangan berani-berani menawar barang lain untuk memuaskan nafsumu. Mengerti?!"

Chu Chen memeluk kantong itu. Di dalam dadanya, Dantiannya bersorak kegirangan, namun wajahnya tetap menunduk patuh.

"B-Baik, Ayah. Saya tidak akan mengecewakan klan," jawab Chu Chen dengan nada bergetar.

"Pergilah bersihkan dirimu. Bau parfum murahan dari Lingkar Luar itu membuatku mual," Ba Zhen membalikkan badan dan melesat pergi menuju aula utama.

Setelah Kepala Klan itu menghilang dari pandangan, Chu Chen perlahan mengangkat kepalanya. Getaran ketakutan di tubuhnya lenyap seketika. Ia menimbang-nimbang kantong berisi seratus ribu Batu Roh Tingkat Atas di tangannya, matanya memancarkan rasa geli yang mematikan.

"Seratus ribu Batu Roh tambahan," bisik Chu Chen pelan. "Ayah palsu yang sangat pengertian."

Tentu saja, ia tidak punya niat sedikit pun untuk membelikan pedang bagi klan ini. Semua kekayaan ini akan ia gunakan sebagai modal untuk merebut Teratai Jiwa Bintang Primordial malam ini.

Siang berganti menjadi malam. Sembilan Matahari Buatan di atas kota meredup, menyisakan cahaya merah samar yang menindas.

Di dalam kamarnya yang mewah, Chu Chen mengenakan jubah hitam berpotongan berkelas yang biasa digunakan untuk menghadiri acara rahasia. Ia mengambil Undangan Darah Klan Ye dan menyisipkannya ke balik sabuk.

"Saatnya menghadiri perjamuan para dewa fana," Chu Chen tersenyum buas ke arah cermin. Ia melangkah keluar dari kediaman Klan Ba, berjalan menuju pusat Lingkar Tengah, tempat Lelang Bayangan akan mengubah tata ruang kekuasaan Ibukota Suci untuk selamanya.

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!