Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Ziyan, Sely, di mana kalian?" Shakira menggedor gerbang villa mewah milik Hadrian yang ditempati oleh adik dan istrinya.
Dia datang membawa kemarahan karena tidak berhasil menemukan Rasya di rumah sakit jiwa. Berulang kali dia memukul gerbang sambil berteriak memanggil nama mereka. Villa indah berada komplek perumahan elit di kawasan hutan kota Anggrek.
Seorang wanita berpakaian pelayan berlari kecil menghampiri gerbang. Membuka dengan cepat besi kokoh itu.
"Di mana Ziyan dan Sely? Aku harus bertemu dengan mereka," katanya cepat.
Pelayan wanita itu terlihat gugup, bola matanya bergerak liar mencari alasan. Namun, suara musik yang samar terdengar, membuat Shakira menyingkirkan pelayan itu dari jalannya hingga jatuh tersungkur ke tanah.
"Nona!" Pelayan itu gugup, mengejar langkah Shakira yang cepat.
Dia berjalan tergesa memasuki halaman, juga melompati anak tangga di teras. Suara musik semakin kencang terdengar. Berasal dari kolam renang yang berada di belakang villa mewah itu.
"Kalian benar-benar menikmati waktu kalian dengan berpesta di sini!" geramnya seraya membuka pintu dan terus menerobos masuk ke dalam villa.
"Nona! Nona!" Pelayan wanita tadi masih mengejar, berlari mendekati Shakira, tapi tak berani menyentuhnya.
"Nona, tuan mengatakan hari ini jangan ada yang mengganggunya," ucap pelayan itu tanpa diindahkan oleh Shakira.
Heelsnya terus menggema di lantai marmer villa, menuju bagian belakang. Suara sorak dan tawa menggema hingga ke dalam bercampur dengan suara musik yang memekakkan telinga. Shakira berdiri di depan pintu kaca yang tertutup. Menatap sepasang suami istri di sana yang sedang berpesta dengan teman-teman mereka.
Shakira mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kukunya yang panjang menancap di kulit. Dia kembali bergerak, menggeser pintu kaca itu dengan kasar hingga terbuka sepenuhnya. Ziyan dan istrinya, juga semua orang di dalam menoleh.
Tatapan mereka terlihat tidak senang karena pesta itu terganggu, tapi saat melihat Shakira, mereka kembali tertawa. Ziyan mendekati wanita itu, merangkul bahunya meski merasa jijik dengan luka di wajahnya. Ia membawa Shakira ke tengah-tengah perkumpulan, mengajaknya ikut berpesta.
"Kenapa wajahmu muram sekali? Ini minumlah! Jangan kau pikirkan sikap Hadrian yang dingin itu. Lambat laun dia juga akan sadar dan akan melihatmu," ucap Sely, bibi Rasya sembari menyerahkan segelas anggur merah kepadanya.
Shakira hanya melirik tanpa berniat mengambilnya. Ia kembali menatap mereka berdua yang terlihat baik-baik saja seolah-olah tidak ada masalah apapun.
"Hei, ayolah!" Sely menyerahkan gelas itu dengan paksa.
Shakira menyadari tatapan semua orang yang sejak kedatangannya tak lepas dari menatapnya. Ia menunduk, pandangan itu terkesan jijik dan enggan untuk mendekat karena luka di wajahnya.
"Shakira!" panggil Ziyan sembari menepuk pundak wanita itu.
Shakira mendongak, menenggak anggur di tangannya sekaligus. Dia melempar gelas itu tanpa segan hingga menimbulkan kegaduhan.
Prang!
"Pergi! Kalian semua pergi!" usirnya pada semua orang.
Mereka bingung, menatap sepasang suami istri yang mengundang mereka ke pesta itu. Ziyan mengibaskan tangan, meminta mereka untuk pergi. Dengan perasaan kesal, satu per satu dari mereka meninggalkan kolam renang sembari melirik Shakira jengkel.
"Shakira, ada apa? Kenapa kau mengusir semua orang?" tanya Sely ikut merasa kesal dengan sikap Shakira yang tiba-tiba.
Wanita itu menatap mereka dengan tajam, teringat akan Rasya yang tidak ia temui di rumah sakit jiwa.
"Ke mana kalian membawa Rasya?" tanyanya menahan gejolak emosi di dalam hati.
"Rasya? Bukankah kau menyuruh mereka membawanya ke rumah sakit jiwa?" Sely balik bertanya, keduanya saling menatap bingung.
"Benar, Shakira. Bukankah kau sendiri yang menyuruh mereka membawa anak itu ke rumah sakit jiwa. Kenapa sekarang kau menanyakannya kepada kami?" timpal Ziyan seraya menjatuhkan diri di kursi kayu.
Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Acuh tak acuh dengan sikap Shakira yang membingungkan. Apa yang perlu ditakutkan? Jika Hadrian bertanya, mereka punya bukti bahwa Rasya mengalami gangguan mental dan membahayakan. Para pelayan pun bisa menjadi saksi.
"Pagi ini aku menemui Hadrian di kantornya dan mengadukan tentang sikap Rasya. Dia tidak hanya tidak marah, tapi juga mengancam. Aku takut jika dia tahu bahwa kita mengirim Rasya ke rumah sakit jiwa, semua rahasia akan terbongkar dan dia akan membunuh kita semua," ucap Shakira panik.
Sepasang suami istri itu pun tertegun, tapi mereka tidak terlalu memikirkannya.
"Shakira, jika dia memang tahu maka kita punya bukti kuat dan juga saksi. Sekarang lebih baik kau pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum. Selebihnya kami yang akan mengatur seandainya Hadrian memang datang menuntut," ucap Ziyan diangguki sang istri.
"Itu benar, Shakira. Hasil visum bisa menjadi bukti untuk melemahkan Hadrian. Meskipun marah, dia tidak akan sampai membunuh kita. Kau tenang saja," timpal Sely membenarkan ucapan suaminya.
"Tapi masalahnya sekarang adalah Rasya tidak ada di rumah sakit jiwa!"
"Apa!"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄