Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 26
Bersama Cassie dan Setyo di Sekolah
**
Some kembali ke kelas dengan berjalan lesu, mungkin ia menghabiskan dirinya dengan berjalan tidak tahu arah dari kelas IPA 6 sampai kelasnya. Tak disadarinya bel istirahat telah berbunyi, bahkan dari tadi darah keluar dari hidungnya sama sekali tak dirasanya.
"Some," pekik Cassie melihat ke arah pintu kelas. Ia duduk dan di depannya ada Setyo yang sedang mendengarkan ceritanya.
"Something," pekik Dina menyusul karena terkejut. Mungkin dia yang jarang melihat Some terpuruk berpikir kalau Some sedang tidak baik - baik saja. Namun yang lebih membuatnya khawatir adalah darah itu. Ia bergegas mendekati Cassie dan Setyo.
"Loe baik - baik aja," khawatir Setyo, namun dengan tergesa ia menghampiri Some dengan tampang penuh perhatiannya. Some mengerti Setyo hanya kaget karena sudah beberapa kali Some seperti ini.
Lantas Cassie dan Dina mendekati Some juga sayangnya mereka tak berani memberitahu apa yang terjadi sebenarnya. "Nggak usah gue nggak kenapa - napa kok," ujar Some ketika Setyo memberikan sehelai tisu miliknya. Setyo membawanya kembali dengan tampang merasa bersalah.
"Some kemana aja, pasti itu yang bikin loe kayak gini. Loe ada urusan apa sih di luar kelas," ujar Dina segera menempel pada gadis itu. Ia melihat darah merembes itu dengan ngeri.
"Biasa aja gue sering kan keluyuran kalua lagi sumpek di rumah," ujar Some dengan senyum jailnya. Namun Setyo dan Cassie geleng - geleng kepala seolah menyetujui Dina.
"Bukan, jadi maksud loe ini biasa aja," ujar Cassie sambil menahan rembesan darah segar itu di kerah baju Some. Sontak cewek itu gelagapan, dan menghapus butiran darah yang keluar. Ia nggak mau semua orang tahu kalau ia lemah.
"Cas gue nggak kenapa - napa, tadi kepala gue sempat pusing mungkin karena demam atau haid kali gue mimisan gini," ujar Some mengelak. Melihat betapa Cassie nampak penasaran dengan Some akhir - akhir ini.
"Gue nggak peduli, loe bisa jelasin di bangku, yuk," Cassie menarik Some perlahan menuju bangku mereka. Ia mendudukkannya tepat di tengah - tengah grup mereka. Some gelagapan namun kemudian ia menundukkan kepalanya pasrah.
Semakin hari dia semakin pening, jika saja dia dengan sengaja menikmati hidupnya tanpa mengkhawatirkan sama sekali kesehatannya. Apa itu akan menjadi pemicu dirinya lanjut kritis. Some tidak mau mama dan papa semakin sedih.
"Oke Some bisa loe jelaskan sedikit," selidik Setyo menatap Some penuh perhitungan.
Some menghembuskan nafasnya, "Iya gue emang lagi sakit jadi sering mimisan nggak jelas," ujarnya perlahan.
"Emang mimisan sebanyak itu bisa disebut sakit biasa," koreksi Cassie bingung.
"Some bukannya loe itu sering banget check up sama pak Hanry. Apa emang itu terjadi lagi, maksudnya penyakit yang mungkin lebih serius," ujar Dina teringat rahasia Some yang biasnya disampaikan gadis itu padanya. Benar Some pernah sekali di diagnosa kelainan paru - paru, namun penyakit itu bisa sembuh dengan cara obat biasa.
"Ahh kenapa loe berpikir kesana gue sehat aja kok, ini hanya gejala demam," elak Some.
"Beneran Some apalagi setelah gue lihat loe mudah linglung dan agak lemah," ujar Dina menghawatirkan.
"Guys gue tahu rencana Tuhan ini selalu indah, jika memang kita pemilik cerita tersebut. Gue harap apapun yang gue rasakan sekarang, loe tetap menjadi bagian hidup gue ketika gue tersenyum," ujar Some akhirnya pasrah. Seketika itu mereka langsung terdiam, merasa bersimpati.
"Emh masa depan loe udah ada yang nentuin, itukan masa depan idaman semua orang. Ketika dia dijodohkan dan masuk universitas ternama," ujar Cassie sambil terkekeh riang.
"Ihs Cassie nggak semua impian seseorang bisa diatur sama papa sendiri, belum tentu kan," kesal Dina.
"Tapi.. gue akan berusaha mewujudkannya guys," ujar Some ceria. Setyo, Dina dan Cassie memeluk gadis itu.
"Meskipun wajah loe sendu pas menyebutkan kata tersebut, gue yakin loe bisa Some," kata Cassie nampak sendu melihat wajah Some yang terlihat suram.
"Dari pada galau mending ke kantin yuk, lapar," ujar ceria Dina sambil memegang perutnya. Mereka lalu mengangguk ceria dan berjalan beriringan menuju kantin.
**
Selesai kumpulan OSIS Some langsung pulang ke rumah. Dan seperti hati lainnya ia pulang menuju malam. Dan ia juga akan merasa heran ketika lagi - lagi mobil papa terparkir di pekarangan.
"Ma dan pa," sapa Some ketika ia membuka pintu utama. Keheningan yang dirasakannya ketika ruang keluarga itu nampak sepi.
Dengan berat hati Some melangkahkan kakinya ke ruangan lain. Mencari jejak mama dan papa atau saja Ranu. Dia sempat tercengang mendengar pertengkaran di ruangan keluarga.
"Ma! Ingat papa nggak pernah berharap punya keluarga seperti itu," teriak papa tepat pada mama yang sedang terisak. Namun bisa dilihat Some kalau papa juga sehabis menangis.
"Pa stop jangan berkata seperti itu, mimpi kita hampir menjadi nyata," ujar mama Some memegang tangan papa.
"Tapi semua ini bagaikan bencana di sore hari, yang belum diketahui papa," ujar papa sambil menghembuskan nafas perlahan.
Dilain tempat Ranu nampak menahan isak tangisnya sambil memegang secercah surat. Some mengerutkan keningnya bingung. Apa yang sebenarnya ia pikirkan sebenaenya tak pernah terbayang untuk menjadi kenyataan.
"Pa kita selalu berharap yang terbaik untuk keluarga dan anak - anak kita. Ini bukannya bencana ini hanya perkara dan mama harap Some baik - baik saja," ujar mama tenang dan menghampiri Ranu yang masih menangis.
"Some anak yang kuat Ghina, papa hanya berharap kalau dia menjadi anak pertama papa yang membawa keluarga kita," ujar papa.
"Dia sudah berusaha melakukannya, dan papa tahu kakak nggak mungkin melakukan semuanya sendiri. Jadi tetaplah menjadi keluarga yang seperti ini," ujar Ranu memangankan.
"Apa kamu tidak khawatir pada kondisi kakakmu?" tanya papa sedikit keras.
"Khawatir pa, tapi itu hanya diagnosis belum tentu benar kakak punya kanker. Ada yang berhasil melewatinya pa," ujar Ranu sambil menunduk lesu. Dari perkataannya Some mengeluarkan air mata pedihnya.
"Dan ternyata mereka sudah tahu!" pekik Some dalam hati.
"Jadi menurut kamu apa sebaiknya kita lakukan kembali yang telah papa rencanakan. Apa itu tak mengganggu keadaan saat ini Ranu?" tanya papa ketika dirinya berasa diambang ketakutan.
"Tidak Some pasti selalu ada untuk kita," ujar mama lalu menangis lagi.
"Baiklah," ujar papa. Ketika ia berbalik ke arah lain dia nampak terkejut melihat kehadiran Some dibalik tembok rumahnya. Ia lalu merasa tersakiti karena gadis itu berusaha menutupi semua dari dirinya.
"Some!" ujar papa sambil menarik tangan Some ke arah keluarganya. Mereka nampak tak bisa berkutik karena kabar yang baru saja diketahuinya saja sudah membuatnya Shok.
"Kenapa kamu nggak bilang sama mama kalau kamu diagnosis punya penyakit parah Some?" kata mama ketika wanita itu memang kedua bahunya untuk memastikan keadaanya.
"Aku nggak sanggup ma, apalagi aku tahu mama dan papa akan begini," ujar Some tulus.
Papa dan mama saling memeluk Some. "Jangan di pikirkan tetaplah hidup kamu adalah hidup mu, jangan sampai disatukan dengan penyakit nggak jelas itu," ujar papa memeluknya dalam - dalam membuat Some tak kuasa untuk tidak menangis.
"Tapi bukannya Some nggak akan lama lagi di dunia ini, dan Some sangat kesal kenapa Some bisa sakit," ujarnya kesal.
"Syang itu bukan sakit itu adalah sembuh dan cara Allah menyayangi kamu," ujar papa menenangkan.
"Tetap saja Some bukan Cassie dan Dina yang masih siap menjalani hidup dengan sehat wal Afiat. Some hampir kanker, dan sebentar lagi akan ada operasi lain," ujar Some pilu. Membuat Ranu dan mama menunduk merasakan kepahitan itu.
"Ada papa dan mama, juga Ranu yang selalu mendukung kamu sayang," ujar papa lagi.
"Makasih pa, biar saja aku tak perlu menuruti semua kata dokter. Lagi pula umur sudah ditentukan," ujar Some sambil menunduk. Ia tahu keadaanya pantai membuat mama dan papa cemas, sehingga mereka akan melakukan check up kemana saja.
"Mama rencananya mau check up kamu di Singapura sayang, ini demi kamu," ujar mama.
"Nggak perlu ma itu hanya membuang uang," tolak Some.
"Sudahlah papa sudah mempercayakan semuanya pada dokter Hanry, juga specialis di sana, besok kami check up ya," ujar papa.
"Tapi pa," merasa kalut.
"Kenapa?" tanya papa.
"Kalau aku ke rumah sakit aku akan operasi karena kayanya ada kebocoran lagi," ujar Some sendu.
"Tetaplah santai, operasi hanya pisau kecil yang menembus kulit kamu," kata papa sambil tertawa menenangkan.
"Ya udah kalau kamu tolak ajakan mama ke Singapura, nanti kamu date lagi ya, mumpung stoknya masih banyak," ujar mama yang membuat Some malu. Namun kakehan kecil dadi mamanya itu membuat Some kembali tegar.
"Ihs apaan sih ma," kesal Some yang langsung dipeluk Ranu dengan penuh sayang.
**