Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI BALIK JENDELA NOVENA
Setelah dua minggu bertarung melawan infeksi paru-paru di ruang isolasi, Clarissa akhirnya diizinkan kembali ke rumah singgah di kawasan Novena. Meskipun tubuhnya masih sangat ringkih dan ia harus menggunakan bantuan kursi roda, binar di matanya telah kembali. Udara luar, meski hanya melalui jendela mobil, terasa seperti anugerah yang luar biasa setelah sekian lama terkunci di balik dinding rumah sakit.
Adrian mendorong kursi roda Clarissa memasuki rumah singgah. Ruangan itu sudah tertata rapi. Bastian rupanya telah menyiapkan segalanya, termasuk memasang beberapa foto mereka di Jakarta pada dinding, memberikan kesan "rumah" yang lebih kental.
"Selamat datang kembali di rumah, Sayang," bisik Adrian sambil membimbing Clarissa pindah ke sofa favoritnya.
Clarissa menghirup dalam-dalam aroma ruangan itu bukan aroma obat, melainkan aroma pengharum ruangan vanila yang lembut. "Terima kasih, Adrian. Aku sempat berpikir nggak akan pernah bisa lihat ruangan ini lagi."
Sore itu, Adrian tidak membiarkan Clarissa melakukan apa pun sendiri. Ia dengan telaten menyuapi Clarissa bubur ayam hangat yang dibeli dari pasar dekat rumah sakit. Setiap suapan disertai dengan cerita-cerita lucu tentang teman-teman basketnya di Jakarta, berusaha mengalihkan perhatian Clarissa dari rasa mual yang terkadang masih muncul.
"Adrian," panggil Clarissa di sela suapannya.
"Iya, aku di sini."
"Kamu tahu nggak? Selama aku di ruang isolasi kemarin, yang paling aku takutkan bukan kematian."
Adrian meletakkan mangkuk buburnya, menatap Clarissa dengan saksama. "Terus, apa yang paling kamu takutkan?"
"Aku takut aku belum sempat jadi orang yang benar-benar baik buat kamu. Aku takut aku pergi saat aku masih membawa sisa-sisa Clarissa yang dulu sombong. Aku ingin kamu ingat aku sebagai Clarissa yang sekarang... yang mencoba taat, yang memakai jilbab karena cinta pada Tuhan, dan yang mencintai kamu dengan tulus."
Adrian terdiam sejenak. Ia mengambil tangan Clarissa yang kurus, mencium punggung tangannya dengan penuh rasa hormat. "Kamu sudah jadi orang baik, Clar. Bahkan kalau kamu tidak melakukan apa-apa pun, keberanian kamu untuk berubah sudah lebih dari cukup di mata aku. Jangan bicara soal pergi lagi, ya? Fokus kita sekarang adalah siklus terakhir bulan depan."
Malam harinya, suasana rumah singgah terasa begitu tenang. Bastian sudah tertidur di kamarnya karena kelelahan mengurus administrasi. Di ruang tengah, Adrian duduk di lantai beralaskan karpet, sementara Clarissa berbaring di sofa dengan bantal yang ditumpuk tinggi.
Sesuai permintaan Clarissa, Adrian membacakannya sebuah buku tentang sejarah wanita-wanita hebat dalam sejarah Islam. Suara Adrian yang berat dan tenang mengisi ruangan, menciptakan suasana yang sangat damai.
"Adrian, boleh aku tanya sesuatu?" potong Clarissa pelan.
"Boleh, apa itu?"
"Setelah semua ini selesai... maksud aku, kalau nanti hasil tes aku bersih dan kita pulang ke Jakarta... apa kamu beneran mau ngenalin aku ke Mama kamu secara resmi? Maksudku, dengan kondisi fisikku yang seperti ini?" Clarissa menyentuh jilbabnya, ia tahu rambutnya belum tumbuh sempurna di baliknya.
Adrian menutup bukunya. Ia bangkit dan duduk di tepi sofa, dekat dengan posisi kepala Clarissa. "Aku sudah cerita semuanya ke Mama. Tentang perjuangan kamu, tentang jilbab kamu, bahkan tentang betapa keras kepalanya kamu kalau disuruh makan obat."
Adrian tersenyum kecil. "Mama bilang, dia nggak sabar mau ketemu wanita yang sudah bikin anak laki-lakinya jadi lebih rajin ibadah dan lebih dewasa. Jadi, jangan pernah minder lagi, ya? Di mata aku dan keluarga aku, kamu adalah pemenang."
Sebelum Adrian pamit untuk tidur di kamar sebelah (bersama Bastian), ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya. Di dalamnya terdapat sebuah bross jilbab berbentuk kupu-kupu kecil yang bertahtakan permata biru, senada dengan warna tasbih yang selalu Clarissa bawa.
"Ini buat apa?" tanya Clarissa terkejut.
"Kupu-kupu itu simbol transformasi, Clar. Dari ulat yang merayap di tanah, jadi makhluk indah yang bisa terbang. Itu kamu. Pakai ini di jilbab kamu besok ya, biar kamu selalu ingat kalau kamu sudah terbang tinggi meninggalkan masa lalu kamu."
Clarissa mendekap bross itu di dadanya. Air mata haru kembali menetes. Di rumah singgah di Singapura ini, ia menyadari bahwa cinta yang paling hebat bukanlah yang datang saat kita sedang di puncak, tapi yang menggenggam tangan kita saat kita sedang merangkak di lembah paling dalam.
"Tidur yang nyenyak ya, Sayang," bisik Adrian sambil mengusap kening Clarissa melalui kain jilbabnya.
"Kamu juga, Adrian. Terima kasih untuk hari ini."
Ketenangan ini adalah ketenangan sebelum badai. Siklus kemoterapi terakhir, yang paling berat dan menentukan, akan dimulai dalam beberapa hari.