Stefani Agnesia Smith, Dokter cantik berumur 22 tahun yang terlahir dari keluarga terpandang. Memiliki otak super cerdas dan cantik membuat semua pria tertarik kepadanya. Tapi karena sifatnya yang judes dan dingin membuat semua lelaki tidak berani untuk mendekatinya. Hingga ada seorang pria tampan yang merupakan ceo muda dari perusahaan terkenal mendekatinya.
Bisakah sang Ceo menaklukan hati si Dokter cantik?
Tunggu lanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Hari-H
Pernikahan antara Leo dan Stefani tinggal 3 hari lagi. Semua persiapan sudah dipersiapkan. Mulai dari gaun pengantin, gedung pernikahan, souvenir, aksesoris, undangan, dll.
Undangan pernikahan bahkan sudah disebar. Kolega bisnis, kerabat, dan sahabat terdekat turut hadir dalam pesta yang digadang-gadang menjadi pesta pernikahan termewah tahun ini.
Seluruh awak media sudah gencar mencari informasi tentang pesta pernikahan ini. Mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa meliput pernikahan putra dan putri dua konglomerat dunia tersebut.
Pernikahan antara Stefani dan Leo itu berarti juga menyatukan dua keluarga sekaligus. Bersatunya Keluarga Richard dan Keluarga Smith membuat para pebisnis dunia semakin merasa kesulitan untuk menyaingi dua perusahaan itu. Satu saja mereka kesulitan, apalagi dua.
Yang menarik perhatian bukan hanya pengantinnya, melainkan undangan yang tersebar. Undangan berdesain modern dan berwarna silver. Yang paling mencolok adalah nama Stefani dan Leo ditulis dengan tinta perak asli dengan pengait undangan berupa batu permata asli.
Di Sosial media banyak yang membicarakan tentang undangan pernikahan Leo dan Stefani.
*°Undangannya aja mewah, apalagi pernikahannya° tulis salah satu Netizen sambil memamerkan foto undangan yang ia dapat.
°Undangan orang konglomerat emang beda sama undangan orang melarat° tulis Netizen yang lain*.
Sedangkan di kediaman Keluarga Richard, Felisya sibuk memilah seserahan-seserahan yang akan berikan kepada Keluarga mempelai wanita. ia juga sudah menyiapkan mas kawin untuk calon menantunya. Mas kawin yang diberikan tentunya adalah barang yang jauh dari kata murah.
"Ma, udahlah. Mama daritadi beresin itu nggak selesai-selesai. Kan bisa dikerjain nanti" ucap Leo yang dari tadi hanya duduk diam sambil menatap ibunya yang sibuk memilah barang.
Felisya menghentikan aktivitasnya. ia berdiri tegak sambil menatap putranya yang sebentar lagi akan menikah.
"Mau nanti gimana sih Le, pernikahan kamu itu kurang 3 hari lagi, jadi semua harus disiapin dari sekarang. Daripada kamu ngoceh nggak jelas, lebih baik kamu masuk kamar terus hafalin nama calon istri kamu sama nama ayahnya. Biar pas ijab kabul lancar dan nggak malu-maluin keluarga. Udah sana pergi!!" oceh Felisya yang berujung pengusiran pada anaknya. Setelah mengucapkan itu, ia kembali membereskan barang-barang.
Leo mencebik kesal. ia melangkah menuju kamarnya dengan mulut komat-kamit mencibir ibunya.
"Yang nikah siapa..yang ribet siapa. Lagian kalo nama Stefani gue mah udah hafal di luar kepala" gumam Leo.
Ia terus melangkah menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat adiknya sedang duduk termenung di pinggir kolam renang. ia pun berniat untuk menghampiri Rayn. Dibukanya pintu kaca pembatas Ruang tengah dan kolam Renang.
Perlahan, ia melangkah mendekat kearah Rayn. ia lalu duduk disamping Rayn yang sedang menengadah keatas sambil menejamkan matanya.
"Ngapain lo disini?" tanya Leo sambil menoleh kearah Rayn.
"Peduli apa lo tentang gue!" sinis Rayn tanpa merubah posisinya.
Leo mendesah pelan. ia ikut menatap depan.
"Lo masih marah sama gue?" pertanyaan itu lolos dari bibir Leo.
Rayn tersenyum sinis. ia membuka matanya dan menatap Leo dengan tatapan tajam.
"Seharusnya lo nggak nikahin dia, lo tau kan kalo gue juga suka sama dia. Tapi apa yang lo lakuin?, lo malah nikung gue dan nikahin orang yang gue suka. Lo egois tau nggak!!" tukas Rayn dengan tatapan tajamnya.
Leo membalas tatapan itu dengan tatapan santai tanpa beban. ia tersenyum miring mendengar ucapan adiknya.
"Egois lo bilang?" tanya Leo sinis. Tatapan yang tadinya santai kini berubah menjadi tatapan tajam.
"Yang patut disebut egois disini itu Lo!, lo selalu pengen apapun yang lo mau itu terpenuhi tanpa peduliin orang lain. Sejak kecil, lo selalu dapetin semua yang lo mau dan gue yang selalu mikul beban yang ada. Pernahkah lo berfikir gimana rasanya jadi gue?, yang selalu dituntut ini itu sama keluarga. Apa lo pernah mikir gimana tertekannya gue saat semua remaja bersenang-senang nikmati masa mudanya sedangkan gue harus tetap belajar, belajar, dan belajar. Dari dulu gue selalu menjadi pihak yang harus terus mengalah saat keinginan gue dan lo sama. Gue harus selalu mengalah, mengalah, dan terus mengalah sama lo. Tapi kalo untuk Stefani, sorry Ray. Sampek kapanpun gue nggak akan mengalah apalagi kalah sama lo" Ucap Leo dengan suara berat. Dadanya naik turun menahan emosi yang bergejolak dihatinya. Sedangkan Rayn, ia hanya diam termangu dan menatap kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Leo bangkit dari duduknya.
"Gue harap lo ngerti apa yang gue omongin" ucap Leo sambil menunduk menatap Rayn yang duduk dibawah. ia kemudian pergi meninggalkan kolam renang menyisakan Rayn yang masih diam membisu.
"Seegois itukah gue?"
****
Leo masuk kedakam kamarnya dengan perasaan kesal. ia mengusap wajahnya kasar saat mengingat percakapannya dengan Rayn tadi.
"Stefani milik gue, gak akan ada yang bisa ngambil dia dari gue. Termasuk lo Ray!!" ucap Leo sambil menatap pantulan dirinya dicermin.
Drttt....drtttt
Ponsel Leo bergetar. ia merogoh saku celanya dan mengambil benda pipih itu.
"Ada apa Jack?" tanya Leo to the point.
"Tugas sudah selesai Tuan"
Leo menyeringai iblis.
"Kerja bagus, nanti aku kesana" jawab Leo.
"Baik Tuan."
Sambungan telfon terputus. Leo memutar-mutar ponselnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Mari bersenang-senang"
Leonard Valentino Richard
**Tandai typo....jangan lupa like, coment, and vote ya....
Happy Reading 😘**