Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KEBOHONGAN AGUNG PARA DEWA
Celah dimensi ungu itu terasa seperti gilingan raksasa yang mencoba menghancurkan atom-atom di tubuh Han Jian. Namun, alih-alih hancur, Tulang Ilahi Transenden milik Han Jian justru berpendar semakin terang, menyerap gesekan ruang-waktu sebagai nutrisi tambahan. Ketika cahaya ungu itu memudar, Han Jian mendapati dirinya berdiri di atas hamparan lantai kaca yang memantulkan pemandangan ribuan galaksi di bawah kakinya.
Inilah Alam Dewa Sejati.
Tempat ini tidak memiliki langit maupun daratan seperti dunia bawah atau Dunia Atas. Semuanya terdiri dari bangunan-bangunan geometris yang mustahil, melayang di antara nebula berwarna emas dan perak. Udara di sini tidak lagi mengandung Qi, melainkan sesuatu yang jauh lebih murni: Esensi Asal.
Namun, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Han Jian berdiri. Di kejauhan, ia melihat ribuan pilar cahaya raksasa yang menjulang dari kegelapan kosmos menuju ke sebuah istana pusat yang melingkar. Saat ia mempertajam penglihatannya dengan pupil Ilahi, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Pilar-pilar itu bukan sekadar cahaya. Itu adalah arus energi jiwa yang ditarik secara paksa dari dunia-dunia di bawah. Ia melihat untaian energi dari Benua Awan Biru, dari Dunia Atas, dan jutaan tempat lain yang tidak ia kenal.
"Jadi... ini adalah 'tujuan akhir' dari kultivasi?" gumam Han Jian, suaranya bergetar karena kemarahan yang luar biasa.
"Jian-er... perhatikan pilar-pilar itu," suara Han Shuo bergema di dalam tulangnya, terdengar penuh kepedihan. "Mereka tidak memberikan keabadian. Mereka sedang memanen kita."
"Kau benar, kecil sekali harapan bagi seorang 'ternak' untuk menyadari kebenaran ini."
Sebuah suara yang tenang namun dingin terdengar dari belakang Han Jian. Ia berbalik dan melihat seorang pria tua dengan jubah yang seolah terbuat dari rasi bintang yang bergerak. Pria itu memegang sebuah tongkat kayu sederhana, namun kehadirannya membuat ruang di sekitarnya melengkung.
"Aku adalah Arsitek Nasib, salah satu dari tiga penguasa Alam Dewa Sejati," ucap pria itu. "Selamat, Han Jian. Kau adalah subjek pertama dalam satu eon yang berhasil mencapai tempat ini tanpa memiliki Dantian. Kau adalah anomali yang sangat... berharga."
Han Jian mengangkat Tombak Pemutus Takdir, ujungnya menunjuk tepat ke tenggorokan sang Arsitek. "Pilar-pilar itu... apa yang kalian lakukan pada mereka yang berkultivasi hingga ke puncak?"
Sang Arsitek tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak memiliki empati sedikit pun. "Kultivasi adalah sistem yang kami ciptakan. Kami memberikan harapan tentang 'Keabadian' agar manusia-manusia di bawah sana berjuang memurnikan energi mereka. Mengapa? Karena energi jiwa yang murni adalah satu-satunya bahan bakar yang bisa menjaga Alam Dewa tetap ada. Mereka yang mencapai tahap 'Dewa' dan naik ke sini, sebenarnya hanya datang untuk 'disembelih' dan diubah menjadi Esensi Asal murni."
Han Jian merasakan mual yang luar biasa. Seluruh sejarah perjuangan para kultivator, jutaan tahun pertumpahan darah demi mencapai tingkat yang lebih tinggi, semuanya hanyalah sebuah sistem peternakan berskala galaksi.
"Termasuk ayahku?" desis Han Jian.
"Han Shuo adalah kasus khusus," jawab Arsitek Nasib. "Dia menemukan rahasia ini terlalu cepat. Itulah sebabnya kami memerintahkan Sekte Tulang Langit untuk memenjarakannya. Kami ingin membedah rahasia Tulang Purba miliknya. Dan sekarang, kau membawanya langsung kepadaku secara sukarela."
Tanpa peringatan, Han Jian meledak. Ia tidak lagi peduli dengan perbedaan level atau kekuatan. Kebohongan agung ini telah menghancurkan segala rasa hormatnya terhadap tatanan alam semesta.
BOOOM!
Han Jian melesat dengan kecepatan yang melampaui cahaya. Tombaknya menghantam perisai transparan sang Arsitek dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan sepuluh tata surya sekaligus.
"Seni Tulang Ilahi: Kehancuran Kosmos!"
Cahaya putih meledak, menghancurkan lantai kaca di sekitar mereka. Namun, Arsitek Nasib hanya mengangkat satu tangannya. "Di dunia ini, aku adalah hukum. Aku adalah pencipta sistemmu. Kau tidak bisa membunuh penciptamu dengan alat yang dia berikan padamu."
Sang Arsitek mengibaskan tangannya, dan tiba-tiba Han Jian merasa tulangnya menjadi sangat berat. Struktur atom di dalam Tulang Ilahi Transenden-nya dipaksa untuk bergetar pada frekuensi penghancuran diri.
"Aaaakh!" Han Jian berlutut, keringat darah emas mengucur dari kulitnya.
"Kau pikir kau kuat karena tidak memiliki Dantian?" Arsitek Nasib berjalan mendekat, menatap Han Jian seolah melihat serangga yang menarik. "Justru karena kau tidak memiliki Dantian, kau tidak memiliki filter. Aku bisa memanipulasi Esensi Asal di sekitarmu untuk menghancurkanmu dari dalam."
Di tengah penderitaan yang tak tertahankan, Han Jian merasakan kehadiran ayahnya di dalam sumsum tulangnya semakin kuat. Han Shuo tidak lagi hanya berbisik; ia memberikan seluruh kesadarannya untuk menopang struktur tulang Han Jian agar tidak hancur.
"Jian-er... mereka menciptakan hukumnya... maka kau harus menciptakan hukummu sendiri!"
Han Jian mendongak, matanya yang semula putih cahaya kini mulai menghitam di bagian pusatnya, menciptakan kontras yang mengerikan. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Selama ini ia menggunakan energi luar untuk memperkuat tulangnya. Tapi bagaimana jika ia berhenti mengambil energi dari dunia yang dikuasai para dewa ini?
Bagaimana jika aku menciptakan energi dari kehampaan di dalam tulangnya sendiri?
Han Jian mulai menarik seluruh energinya kembali ke pusat tulang punggungnya. Ia memutuskan koneksinya dengan alam semesta. Ia menjadi sebuah titik hitam tunggal di tengah kemegahan Alam Dewa.
"Apa yang kau lakukan?" Arsitek Nasib mengerutkan kening. Ia kehilangan kendali atas struktur tubuh Han Jian.
Han Jian berdiri perlahan. Suaranya kini bukan lagi suara manusia, melainkan suara dari kehampaan sebelum alam semesta diciptakan.
"Kau bilang kau adalah Arsitek Nasib... tapi kau lupa satu hal," Han Jian mengangkat kepalanya, dan aura hitam pekat—energi Kehampaan Purba—mulai menyelimuti tombaknya. "Aku lahir dari sebuah kehampaan. Aku tumbuh tanpa wadah. Jika dunia ini adalah bangunanmu, maka aku akan menjadi rayap yang memakan fondasinya."
Han Jian menghilang.
Krak!
Tongkat kayu sang Arsitek patah. Sebuah luka sayatan muncul di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam jutaan tahun, seorang penguasa Alam Dewa Sejati merasakan darah mengalir dari wajahnya.
"Kau... kau menggunakan energi dari Luar Batas?" Arsitek Nasib gemetar, wajahnya penuh ketakutan.
Han Jian muncul di belakangnya, auranya kini menelan cahaya bintang di sekitarnya. "Sistemmu tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki tempat di dalamnya. Hari ini, peternakan ini akan tutup selamanya."
Pertempuran sesungguhnya untuk kebebasan seluruh jiwa di alam semesta baru saja dimulai. Han Jian bukan lagi seorang kultivator; ia telah menjadi Kaisar Kehampaan yang akan merobek setiap benang takdir yang dibuat oleh para dewa palsu.