NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta penyambutan

"Aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi selama setengah jam hanya untuk memastikan kondisi Andre," desis Rafan. Langkahnya tertahan di depan pintu kayu kokoh sebuah bangunan bertingkat.

"Kukira dia akan disekap di hutan atau gedung tua, ternyata malah di asrama seperti ini," gumamnya curiga. Matanya menyisir deretan pintu yang tampak serupa, namun instingnya menuntun pada satu pintu dengan warna berbeda dan tombol bel di sisi kiri.

Sejak kapan penculik membawa sandera ke tempat seramai ini?

"Apa aku harus mendobraknya?" Rafan meraba pistol di saku kanan. Keraguan sempat melintas, namun rasa khawatir memaksanya melangkah maju. Ia datang tanpa persiapan, tanpa tahu berapa banyak moncong senjata yang mungkin tengah membidiknya di balik pintu itu.

Ceklek.

Pintu terbuka sebelum Rafan sempat bertindak. Ia tertegun. Alih-alih moncong senjata, ia justru disambut oleh Andre yang berdiri tegak bersama barisan pria lainnya.

"Hah, kalian?!" Rafan nyaris berteriak. Secara refleks, ia menepis kasar lengan Andre yang tengah memamerkan senyum puas.

"Aku bergegas ke sini karena cemas, dan ternyata... tidak terjadi apa-apa?" Rafan menggertakkan gigi. Amarahnya memuncak saat menyadari ia baru saja terjebak dalam skenario konyol. "Apa yang kalian lakukan di sini?!"

"Maaf, Pak. Jika tidak begini, Bapak tidak akan mau datang," sahut Andre sembari menunduk santun, meski sudut bibirnya masih menyunggingkan seringai tipis.

"Apa tujuan kalian menjebakku?"

"Kami mengadakan pesta penyambutan untuk Bapak!" seru mereka serempak.

Rafan menatap wajah-wajah familiar itu satu per satu. Mengapa hari ini mereka terlihat begitu berbeda? Mungkin karena setelan santai yang mereka kenakan, membuat para bawahannya yang biasanya dingin kini tampak seperti gerombolan pemuda pengacau.

"Penyambutan?" Rafan mengerutkan alis. Belum sempat ia menolak, Andre sudah menarik lengannya, menyeretnya melewati lorong putih yang dingin.

"Aku tidak butuh hal seperti ini," sahut Rafan datar, meski ia membiarkan dirinya dituntun hingga berbelok ke sebuah ruangan.

Langkah Rafan terhenti. Matanya perih menatap dekorasi mencolok yang memenuhi ruangan. Kertas warna-warni dan balon menempel di dinding dengan acak. Cahaya lampu tumblr berkelap-kelip, menciptakan bayangan yang menari-nari di setiap sudut. Sebuah proyektor terbentang di dinding, sejajar dengan sofa panjang yang tampak nyaman.

"Tempat macam apa ini?" gumam Rafan. Pandangannya beralih pada meja berisi minuman soda dan... tumpukan kotak tisu? "Untuk apa tisu sebanyak itu?"

"Ini hasil kerja keras kami semua, Pak. Tolong jangan ditolak," bujuk Andre dengan suara rendah, menuntun Rafan ke sebuah sofa single di posisi tengah, singgasana khusus untuk sang atasan. "Ini cara kami membangun kekeluargaan."

"Kita berpesta!" teriak mereka antusias.

Suasana bising itu mulai mengusik ketenangan Rafan. Ia tidak terbiasa dengan keramaian, namun melihat binar di mata mereka, Rafan mencoba meredam egonya.

"Bapak, silakan minumannya." Andre menyodorkan gelas, mengamati raut datar Rafan yang tak kunjung luruh. Andre bertanya-tanya, apakah pria sedingin Rafan pernah benar-benar tersenyum?

"Hng, tidak buruk," gumam Rafan akhirnya. "Pesta kejutan ini... setidaknya mengusir rasa kantukku."

Waktu melesat hingga dini hari, namun kebisingan itu belum juga surut. Meski awalnya terpaksa, Rafan mulai menikmati momen-momen langka itu. Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, atmosfer ruangan berubah. Lampu utama dimatikan, menyisakan kerlip lampu kecil yang redup dan musik yang berdentum pelan.

"Kapan ini berakhir?" gumam Rafan. Ia memperhatikan para pria yang kini tampak seperti bayangan gila di matanya, bergerak mengikuti irama musik di sudut ruangan.

"Apa ini rumahmu?" tanya Rafan saat Andre mendekat.

"Ini kos-kosan, Pak," jawab Andre cerah.

Rafan terbelalak. "Kalian melakukan kegilaan ini di kos-kosan?!"

Para pria itu menoleh serempak, mengangguk polos.

"Kenapa kalian memutar musik sekencang ini? Kalian tidak memikirkan penghuni lain?" keluh Rafan kesal.

"Tenang, Pak. Saya sudah izin. Kebetulan pemilik kos sedang berlibur dan penghuni lain pulang kampung karena besok hari Minggu," sanggah Andre antusias.

"Sudahlah! Karena kita sudah puas menari, bagaimana kalau lanjut ke acara inti?" Erwin menyela, berusaha menengahi perdebatan. "Ayo, hidupkan proyektornya!"

Rafan hanya bisa bersabar. Baginya, semua ini membuang waktu, namun ada rasa ingin tahu yang menggelitik. Ia memperhatikan salah satu pria meletakkan kotak tisu di setiap tempat duduk.

"Menonton film? Yang benar saja," dengus Rafan remeh saat layar mulai menyala.

"Hey! Bisakah salah satu dari kalian menjawab pertanyaanku? Kita mau menonton apa?"

"Maaf, Pak. Kami terlalu fokus. Silakan duduk dan nikmati," sahut Andre ramah.

Rafan perlahan duduk di sofa, perasaannya mendadak tidak enak. "Kenapa aku merasa ada yang salah di sini?"

“Ah…”

Desahan pertama lolos dari pengeras suara, membuat manik mata Rafan membulat sempurna. Gambar di layar menampilkan gairah yang tak semestinya. Seorang wanita dengan pakaian minim... itu film dewasa.

"Sial!" Rafan memaki. Ia menoleh ke samping, mendapati bawahannya tengah menonton dengan mulut ternganga, begitu khidmat seolah sedang belajar ilmu pengetahuan penting.

"Hey---apa maksud kalian mengajakku menonton ini?!"

"Bapak, ini momen terpenting yang kami tunggu. Lihat dan nikmati saja! Tidak usah malu, karena kami akan menjaga rahasia Bapak," sahut Andre tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Brengsek!" Rafan menggertakkan gigi. Anehnya, ia tidak beranjak. Dengan alis bertaut dan jantung yang mulai berdegup kencang, ia justru membenarkan posisi duduknya.

Ruangan yang sunyi kini hanya dipenuhi suara-suara pembangkit hasrat. Pandangan Rafan terpaku pada adegan di layar. Sensasi aneh mulai menggelitik perutnya. Saat tangan pria di film itu mulai menjamah sang wanita, Rafan tak sadar ia berkali-kali menelan ludah.

"Ng!" Rafan tersentak. Rasa sesak mulai menjalar di bagian bawah tubuhnya. Secara refleks, ia mengubah posisi duduk dengan kaki mengapit kuat.

"Milikku terbangun... sial, jangan sampai ada yang melihat!" benak Rafan kalut. Ia harus segera menghentikan kegilaan ini sebelum harga dirinya hancur berkeping-keping.

"Aku pamit!" Tiba-tiba salah satu pria beranjak bangun.

"Kenapa? Ini belum klimaks!" seru Andre protes.

"Aku harus pulang, sudah jam dua pagi," sahut pria itu sembari berlari keluar.

"Cih, dia pasti ingin melampiaskannya pada istrinya," gumam Andre kesal. Ia menoleh pada pria di sampingnya. "Yanto, kamu juga mau pulang?"

"Tidak. Percuma pulang, aku sedang bertengkar dengan istriku. Dia tidak akan membiarkanku menyentuhnya," dengus Yanto sedih. "Aku ke toilet dulu." Ia bergegas pergi membawa kotak tisunya.

Andre kemudian melirik Rafan yang tampak kaku. Ia berbisik pelan ke samping sofa, "Apa semua berjalan lancar, Pak?"

Rafan tersentak. "Apa yang kamu lakukan?!"

"Memastikan keadaan..." Andre melirik kaki Rafan yang mengapit rapat. Ia segera paham. "Bapak juga boleh ke toilet. Tisunya di sebelah kiri. Jika Bapak malu, bilang saja mau buang air kecil. Nanti saya bawakan tisunya menyusul."

Kalimat itu telak menghantam harga diri Rafan.

"Aku pulang sekarang!" Rafan berdiri dengan tegang. "Aku baru ingat, pintu rumahku belum terkunci!"

"Tunggu, Pak! Bawa satu kotak tisu ini. Siapa tahu Bapak butuh di jalan," ujar Andre polos, menyodorkan kotak tisu.

Rafan menerimanya dengan kaku. "Hm. Persiapkan dirimu juga. Jam empat pagi, datang ke kantor. Bawa tersangka wanita itu ke ruang interogasi," tegas Rafan dengan senyum palsu yang mengerikan.

"Hah? Jam empat pagi ini?!"

"Kenapa? Ada aturan yang melarang?" Rafan menatap datar. "Masalah kunci kos ini, kuserahkan padamu. Sampai jumpa dua jam lagi."

Rafan melangkah pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Andre yang terpaku dengan beban tugas baru yang mencekik.

Pukul 04.00 – Ruang Interogasi

Pencahayaan redup dan atmosfer tegang memenuhi ruangan. Rafan duduk dengan tatapan dingin, menyudutkan wanita di depannya. Di balik kaca dua arah, Andre berdiri tegak mengawasi.

"Jadi, siapa yang membantumu membunuh Pak Willy?" tanya Rafan dengan nada yang mampu membekukan darah.

Wanita itu, Surti, terperanjat. "A-apa maksud Bapak? Saya tidak membunuh siapa pun!"

"Benarkah?" Rafan merogoh map, mengeluarkan selembar foto. "Lalu ini? Bukankah ini korban pertamamu?"

Surti terpaku melihat foto putrinya yang tersenyum indah. "Ini... foto mendiang putri saya. Mana mungkin saya membunuhnya?"

"Putrimu tidak bunuh diri, Surti. Kebenarannya adalah... ini pembunuhan! Dan kamulah penyebabnya!" tegas Rafan tajam.

"Apa yang kamu tahu?!" Surti menggebrak meja, amarah menyulut matanya. "Kamu hanyalah polisi baru! Kalian semua adalah polisi gadungan yang tunduk pada uang! Kalian melindungi pembunuh!"

Suara Surti pecah menjadi isakan. "Jika kalian mau memproses kasus putriku dulu, dia tidak akan mati! Dia tidak akan bunuh diri jika si Willy sialan itu dipenjara!"

4 Tahun Lalu – Kediaman Willy

Surti berlari melintasi lorong kediaman majikannya. "Di mana Hana?"

Ia menemukan Heru, pelayan lain, tengah membopong tubuhnya sendiri yang bersimbah darah di bagian perut.

"Apa yang terjadi?!" teriak Surti histeris.

"Hana... tolong selamatkan dia," rintih Heru menahan sakit luar biasa akibat luka tembak. "Tuan Willy menyeretnya ke kamar. Aku mencoba membantu, tapi pengawalnya menembakku."

Surti tak lagi berpikir jernih. Ia berlari menaiki tangga. Di sana, ia berpapasan dengan Willy yang baru keluar kamar sembari merapikan setelan formalnya. Pria itu tersenyum puas, tanpa sedikit pun rasa sesal.

"Kamu membesarkan putrimu dengan baik," bisik Willy dingin sebelum melangkah pergi.

Surti menyerbu masuk ke dalam kamar. Matanya membelalak. Hana duduk di atas ranjang besar, meringkuk di balik selimut tebal dalam keadaan tanpa busana. Rambut panjangnya yang biasa terkuncir rapi kini berantakan. Ada noda darah di sudut bibirnya.

"Ibu..." bisik Hana lirih. Air mata meluncur deras di pipinya yang lebam.

"Hana!" Surti memeluk putrinya erat.

"Ibu... dia... bajingan itu telah menghancurkanku," raung Hana dalam pelukan ibunya. "Hidupku hancur! Aku tidak pantas hidup lagi!"

"Tidak! Jangan bicara begitu!" Surti menangkup wajah putrinya, mencoba memberi kekuatan di tengah kehancuran mereka. "Bedebah itulah yang tidak pantas hidup. Ibu akan melakukan segala cara. Polisi akan menangkapnya. Ibu akan mencari pengacara terbaik untuk kita!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!