NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Sisa Hangat di Tengah Dinginnya Beton

...Chapter 2: Sisa Hangat di Tengah ...

...Dinginnya Beton...

Malam di dalam Mall ternyata jauh lebih mengerikan daripada siang hari. Cahaya bulan yang menembus atap kaca hanya menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyerupai monster. Di luar gerbang besi toko elektronik ini, suara seretan kaki "mereka" terdengar jelas, sesekali diikuti oleh hantaman tumpul pada dinding.

Aku duduk bersandar pada tumpukan kardus lemari es, memeluk pipa besiku. Mataku tetap terjaga, memandangi empat gadis yang kini terlelap di atas hamparan karpet contoh yang aku ambil dari toko sebelah.

Yuki tidur dengan napas teratur, memeluk sebuah boneka lusuh yang dia temukan di jalan. Di dunia mimpinya, mungkin dia sedang berada di kamarnya yang nyaman, bukan di gudang pengap yang berbau debu dan maut. Aku mengalihkan pandangan, merasa dadaku sedikit sesak melihat kepolosan yang lahir dari hancurnya akal sehat.

"Belum tidur, Zidan?"

Sebuah suara bisikan yang serak memecah keheningan. Aku menoleh. Kurumi sudah duduk tegak, tangannya masih menggenggam erat gagang sekopnya seolah itu adalah bagian dari tubuhnya.

"Gue nggak terbiasa tidur kalau ada orang asing di sekitar gue," jawabku bohong. Kenyataannya, aku hanya takut jika aku memejamkan mata, mereka semua akan menghilang dan aku kembali sendirian.

Kurumi bangkit berdiri, melangkah pelan agar tidak membangunkan yang lain, lalu duduk di sampingku. Jarak kami cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya yang kontras dengan dinginnya udara malam.

"Terima kasih untuk makanannya," ucap Kurumi sambil menatap botol air mineral di depannya. "Sudah lama kami tidak makan dengan tenang tanpa harus terus berlari."

"Itu cuma sisa logistik yang hampir basi," kataku ketas, mencoba menutupi rasa peduliku. "Kalau kalian nggak muncul, gue mungkin bakal buang itu minggu depan."

Kurumi terkekeh pelan, sebuah tawa tipis yang terdengar sangat lelah. "Lo payah dalam berbohong, tahu. Gue lihat gimana lo meriksa masa kedaluwarsanya sebelum lo kasih ke Yuki."

Aku terdiam, memutar-mutar pipa besi di tanganku. "Gue cuma nggak mau repot kalau salah satu dari kalian keracunan dan mati di sini. Bau bangkai di Mall ini sudah cukup menyengat tanpa tambahan dari kalian."

Hening sejenak. Kurumi menundukkan kepalanya, membiarkan rambut ungunya menutupi sebagian wajahnya. "Zidan... soal Yuki... lo nggak marah kan kalau kami minta lo buat 'ikut bermain'?"

"Gue tahu gimana rasanya kehilangan kewarasan, Kurumi," jawabku sambil menatap langit-langit gudang yang gelap. "Di tempat ini, kalau lo terlalu melihat realita, lo bakal cepat mati. Gue nggak keberatan pura-pura liat Megumi-nee kalau itu bikin dia tetap tenang."

Kurumi menoleh ke arahku, matanya yang ungu berkilat tertimpa sedikit cahaya bulan. Ada binar yang sulit kujelaskan—campuran antara rasa syukur dan sesuatu yang lebih dalam. Tanpa diduga, dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku tersentak, tubuhku kaku seketika. "Woi, apa-apaan..."

"Sebentar saja," bisik Kurumi. Suaranya terdengar sangat rapuh sekarang. "Sekop ini... terkadang terasa sangat berat kalau gue harus bawa sendirian. Biarkan gue istirahat sebentar,

sebelum besok gue harus jadi 'pembasmi' lagi."

Aku tidak membalas, tapi aku juga tidak mendorongnya menjauh. Aku membiarkan bahuku menjadi sandaran bagi gadis yang selama ini menjadi tameng bagi

teman-temannya. Di bawah tekanan kiamat yang gila ini, untuk pertama kalinya aku merasa pipa besi di tanganku tidak lagi terasa dingin.

"Tidurlah," ucapku pelan, hampir tak terdengar. "Gue yang jaga malam ini."

Kurumi tidak menjawab, tapi napasnya mulai beraturan di bahuku. Di tengah kepungan mayat hidup dan dunia yang telah mati, aku menyadari satu hal: daftar bertahan hidupku baru saja bertambah satu poin penting.

Bukan lagi soal makanan atau air, tapi soal memastikan gadis di bahuku ini tetap bernapas sampai matahari terbit.

[To Be Continued...]

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!