NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamoruuu

Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.

Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.

Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datang Larut Malam

Malam semakin larut. Di dalam rumah besar Aksara, suasana terasa hening. Para pelayanan wanita sudah tidak terlihat, karena mereka semua sudah beristirahat. Berbeda dengan pelayan pria yang masih terlihat berdiri di depan rumah untuk berjaga-jaga.

Di lantai dua, Rara sedang berada di kamar. Ia sudah berganti pakaian tidur yang sopan dan nyaman. Ia sebenarnya sudah sangat mengantuk, tapi entah kenapa matanya sulit terpejam. Ia kemudian memutuskan turun kebawah, mengambil air minum karena air minum yang disiapkan dikamarnya habis.

Tiba-tiba...

Terdengar langkah kaki dan suara wanita masuk ke rumah. Memanggil-manggil nama Aksara. Rara mengernyitkan dahi. Ia berjalan menuruni anak tangga karena penasaran.

Mata Rara menyipit melihat sosok wanita yang baru saja datang itu.

"Naura?" Gumam Rara pelan.

Naura berjalan tergesa-gesa, sedangkan disebelahnya ada Michi yang menemani dengan wajah yang terlihat panik. Michi melihat Rara yang berdiri di tangga dan memberikan anggukan kecil, ia seolah ingin memberitahu kalau ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena hanyalah seorang pelayanan.

"Mau ngapain dia kesini malam-malam?" Benak Rara merasa curiga.

Saat Naura menaiki anak tangga dan melihat Rara, ia memasang wajah sinis.

"Dimana Aksara?" Tanya Naura ketus.

"Kenapa kamu kesini malam-malam?" Rara balik bertanya.

"Bukan urusan kamu! Urusan aku sama Aksara. Dimana dia?"

Rara hanya menjawab dengan lirikan mata yang mengarah keruang kerja Aksara.

Naura berjalan melewati Rara dan menyenggol bahu gadis itu, yang membuat Rara semakin kesal.

"Permisi Nona Rara saya mau mengantar Nona Naura dulu..." Ucap Michi menunduk, dan melanjutkan langkah Naura berjalan menuju ruang kerja Aksara yang memang terletak di lantai dua tidak jauh dari kamar utama.

"Aksara!" Panggil Naura.

Di Ruang Kerja...

Aksara sedang fokus memeriksa beberapa berkas penting di mejanya. Tiba-tiba pintu diketuk dan terbuka tanpa izin.

"Aksaraaa! Sibuk, kah?" Seru Naura ceria sambil masuk membawa tas kerja besar dan setumpuk berkas.

Aksara mengangkat wajah, kelihatan sedikit terkejut tapi tetap tenang. "Naura? Kenapa kamu ke sini malam-malam seperti ini? Kenapa tidak ke kantor saja besok?"

"Ini ada data yang sangat mendesak! Harus kita bahas dan tanda tangan sekarang juga kalau tidak mau deadline-nya molor," jawab Naura dengan wajah serius palsu. Ia langsung meletakkan semua berkasnya di meja Aksara, memenuhi sisi lain meja yang kosong.

"Kan bisa ditunggu besok pagi," sahut Aksara pelan, suaranya datar.

"Ih! Kamu kan bosnya. Masa tidak perduli dengan perusahaan. Ayolah! Sebentar saja," rayu Naura manja. Ia lalu duduk di kursi tamu di dekat meja Aksara, sangat dekat.

Karena rasa tanggung jawab dan sopan santun, akhirnya Aksara mengangguk. "Yasudah. Tapi cepat selesaikan."

— 

Di Kamar Tidur...

Rara duduk di tepi ranjang dengan wajah tenang, tidak ada cemburu buta atau marah-marah. Ia mendengar suara percakapan dan tawa Naura yang terdengar samar-samar.

'Ih... modus lagi. Bawa kerjaan tapi maunya godain orang,' batin Rara mendecakkan lidah.

Rara tidak kesana untuk ikut campur. Ia tahu posisinya, tapi ia juga tahu Aksara adalah orang yang punya prinsip. Rara memilih untuk tetap diam dan bersabar di kamar.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Suara di sebelah masih terdengar. Rara menghela napas panjang. Ia berdiri, merapikan bajunya sedikit, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah tenang dan anggun.

Ia tidak terlihat marah, wajahnya datar dan sopan.

"Aduh, lelah sekali rasanya... leherku pegal," keluh Naura sambil meregangkan badan. "Aksara, tolong temani aku sampai selesai... dan juga tolong antar aku pulang nanti. Aku takut pulang sendirian."

Aksara baru mau menjawab, tiba-tiba...

Pintu ruang kerja terbuka pelan.

Rara muncul di ambang pintu. Wajahnya tenang, tidak ada senyum berlebihan, juga tidak ada cemberut.

"Maaf mengganggu," ucap Rara dengan suara lembut tapi jelas terdengar.

Aksara langsung menoleh. "Ra? Belum tidur?"

"Belum. Aku mau ambil air minum," jawab Rara singkat. Matanya lalu beralih menatap Naura yang sedang duduk dekat sekali dengan meja Aksara.

"Eh Rara... maaf ya, kerjaan lagi banyak sekali dan sangat mendesak," kata Naura sok sibuk.

Rara hanya mengangguk pelan, tidak bereaksi berlebihan. "Oh begitu. Yasudah, silahkan dilanjutkan. Hati-hati kalau pulang malam-malam, takutnya ada orang jahat."

Rara tidak memarahi Aksara, tidak juga memarahi Naura. Ia hanya berdiri tegak dengan aura yang tenang tapi berwibawa. Tatapannya bertemu dengan mata Aksara.

Tatapan itu seolah berkata, 'Aku menunggu di kamar. Jangan terlalu malam.'

Aksara mengerti isyarat itu. Ia merasa sedikit bersalah.

"Yasudah, Nau... sepertinya untuk bagian ini bisa kita lanjutkan besok pagi di kantor. Ini sudah sangat larut," kata Aksara tiba-tiba sambil menutup salah satu berkas.

"Hah? Tapi kan ini belum selesai!" Protes Naura kecewa.

"Sudah cukup untuk malam ini. Rara juga sudah menunggu," potong Aksara tegas, namun tetap sopan.

Naura menatap Rara yang masih berdiri tenang di pintu. Jantungnya berdebar aneh. Rara tidak terlihat cemburu, tidak terlihat sedih, justru Rara terlihat sangat percaya diri dan anggun. Itu membuat Naura merasa seperti orang ketiga yang mengganggu.

"Yasudah... iya!" Jawab Naura pasrah sambil membereskan barang-barangnya dengan kesal.

Sesaat kemudian...

Naura pamit pulang dengan wajah tidak suka. Aksara mengantar sampai pintu depan saja, ia menugaskan Santos untuk mengantar Naura pulang.

Setelah mobil pergi, Aksara berbalik dan melihat Rara yang masih berdiri di ujung tangga.

Mereka saling berpandangan. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada pelukan.

"Maaf," ucap Aksara pelan.

"Tidak apa-apa, kok. Sudah selesai, kan? Sana istirahat!" Jawab Rara singkat lalu berbalik badan berjalan menuju kamar.

Aksara menghela napas, lalu mengikuti langkah istrinya itu dari belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!