NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sore itu, aroma bumbu rahasia ayam goreng Golden Aroma yang gurih beradu dengan dinginnya hembusan AC, menciptakan atmosfer yang begitu kontras dengan keriuhan jalanan Rawamangun di luar sana. Kelompok Sableng tengah berada dalam puncak kehangatan mereka; tawa renyah Anggita, celotehan Vino yang tak ada habisnya, hingga nafsu makan Andra yang seolah merayakan kesembuhannya, semuanya melebur menjadi satu. Di tengah momen itu, Sandi menyeka sisa saus di jarinya, lalu memberikan isyarat pada Andra untuk memberinya jalan keluar dari kursi sofa yang menghimpit.

"Gue pesen ice cream-nya sekarang ya? Biar pas kalian kelar makan, langsung ada pencuci mulutnya," ujar Sandi santai.

Andra yang mulutnya masih penuh dengan daging ayam, hanya bisa mengangguk mantap bersama Vino dan Anggita. Namun, saat Sandi melangkah menuju wastafel untuk membersihkan tangan, ia merasakan bayangan mungil yang mengekor di belakangnya. Saskia, dengan gerakan yang sangat halus namun terencana, berdiri tepat di samping Sandi saat pemuda itu menyalakan keran air.

Sambil berpura-pura ikut mencuci tangan, Saskia mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh frekuensi telinga Sandi. Tanpa diduga, tangan mungilnya merogoh saku celana seragam SMP Sandi, menyelipkan sebuah dompet kulit kecil yang terasa padat ke dalamnya.

"Yang, pegang dompetku ya. Pesen ice cream-nya dan ambil uangnya dari situ. Jangan pakai uang tabunganmu," bisik Saskia lembut, matanya menatap pantulan wajah Sandi di cermin wastafel.

Sandi menoleh, sedikit terkejut dengan tindakan impulsif gadis itu. "Gue masih ada uang kok, Sas. Serius! Masih cukup kalau cuma buat traktir es krim doang," tolak Sandi, mencoba menjaga harga dirinya yang setinggi langit.

Saskia tidak bergeming. Ia mematikan keran, lalu berbisik kembali dengan nada yang lebih tegas namun penuh kasih, "Yang, jangan nolak-nolak lagi, oke? Seperti kataku tadi malam, sekarang kita ini satu tim. Uangku ya uangmu juga."

Sandi menarik napas panjang, membiarkan mesin hand dryer meniupkan udara hangat ke tangannya yang basah. Ia tahu, berdebat dengan Saskia dalam mode "keras kepala" seperti ini hanya akan berakhir sia-sia. "Makasih ya, Sas. Nanti pasti gue ganti kalau sudah ada rezeki lebih."

Mendengar itu, wajah Saskia langsung cerah. Senyum manisnya merekah sempurna. "Iya, nanti kalau kamu sudah jadi suamiku, kamu harus ganti pakai seluruh gaji kamu. Oke?" selorohnya jahil sembari mengerlingkan mata.

Sandi tak bisa menahan senyumnya. Secara spontan, ia mengulurkan tangan dan mengelus puncak kepala Saskia dengan penuh kasih—sebuah gestur langka yang jarang ia tunjukkan di tempat umum. "Dasar... Ya sudah, sana balik ke meja. Gue pesen dulu."

Saskia mengangguk riang dan melangkah kembali ke arah teman-temannya dengan gaya kemenangan. Sementara itu, Sandi berjalan menuju konter pemesanan. Saat tiba di depan pelayan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet milik Saskia. Namun, saat ia membuka lipatan dompet tersebut untuk mengambil uang, gerakan tangannya mendadak kaku. Matanya terpaku pada sebuah slot transparan di bagian tengah dompet.

Di sana, terselip sebuah foto usang yang warnanya mulai sedikit memudar. Itu adalah foto mereka berdua saat masih duduk di bangku SD kelas 3. Dalam foto itu, Sandi kecil tampak sedang membuang muka dari arah kamera dengan ekspresi gengsi yang kentara, sementara Saskia kecil tertawa lebar, memamerkan deretan giginya yang belum rapi, sembari menarik-narik lengan Sandi dengan posesif.

Ada getaran halus yang tiba-tiba menjalar di ulu hati Sandi. Ia mencelos. Bukan karena nominal uang yang ada di sana, melainkan karena kenyataan bahwa Saskia telah menyimpan dan membawa momen itu ke mana-mana selama bertahun-tahun. Rasa sayang gadis itu ternyata jauh lebih dalam dan jauh lebih lama dari yang selama ini Sandi bayangkan. Ia merasa ada haru yang menyesakkan dada, sebuah apresiasi luar biasa atas ketulusan yang selama ini ia anggap sebagai "gangguan" biasa.

Sandi menggigit bibir bawahnya, menahan matanya agar tidak memanas di depan umum. Ia bergumam sangat pelan, "Dasar Oneng... bisa-bisanya lo simpan foto memalukan itu."

"Kak? Jadi pesanannya?" suara pelayan A&W memecah lamunan Sandi.

Sandi tersentak, sedikit gelagapan. "Eh, iya Kak. Maaf. Jadi, berapa totalnya untuk lima ice cream?"

Pelayan itu tersenyum maklum, lalu mengulangi rincian pesanan beserta harganya. Sandi segera mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompet Saskia, menyelesaikannya, dan menerima uang kembalian. Dengan perasaan yang masih berkecamuk—campuran antara bangga, haru, dan tanggung jawab yang semakin besar—Sandi melangkah kembali ke meja Kelompok Sableng. Ia menatap Saskia dari kejauhan, menyadari bahwa mulai hari ini, ia benar-benar harus menjaga gadis "oneng" itu dengan segenap kemampuannya.

Suasana di pojok A&W Rawamangun itu makin riuh. Sisa-sisa tulang ayam di piring plastik dan gelas Root Beer yang tinggal menyisakan es batu menjadi saksi betapa "buasnya" nafsu makan Kelompok Sableng sore itu. Sandi melangkah kembali ke meja dengan gaya santainya, menyelipkan kembali dompet cokelat milik Saskia ke dalam saku celananya—dompet yang baru saja memberinya kejutan emosional lewat selembar foto usang.

"Udah gue pesen, tinggal diantar mas-masnya," lapor Sandi sembari menggeser kursi di sebelah Andra.

Andra mengangguk, menyeka mulutnya dengan tisu. "San, abis dari sini lo langsung gas ke Pondok Indah?"

Sandi menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit restoran sejenak. "Iya lah, mau ke mana lagi? Ya kali gue mau mampir ke hotel dulu bareng Saskia," celetuk Sandi asal, niatnya murni hanya ingin melontarkan banyolan garing.

Mendengar itu, tawa pecah dari mulut Vino dan Andra. Anggita pun ikut terkekeh geli. Namun, reaksi Saskia sedikit berbeda. Pipinya mendadak merona merah jambu, matanya mulai menatap kosong ke arah gelas minumannya, dan sebuah senyum simpul yang aneh terukir di bibirnya. Benar saja, "radar" imajinasi Saskia langsung menangkap sinyal kata 'hotel' dan mulai mengolahnya menjadi skenario drama romantis di kepalanya.

Sandi kembali melanjutkan bicaranya pada Andra, "Gue harus langsung ke sana. Kasihan Nyokap sendirian beresin barang-barang di paviliun belakang rumah Saskia. Dari pagi pasti beliau udah capek banget ngangkatin barang ke mobil pick-up. Lagi pula, sekarang udah sor—"

Kalimat Sandi terputus. Ia melirik Saskia yang masih dalam mode "trans". Tatapan gadis itu kosong, tapi bibirnya komat-kamit kecil tak jelas. Sandi tahu betul, kalau dibiarkan, imajinasi Saskia bisa sampai ke pelaminan dalam waktu lima menit.

Tak!

Sandi mendaratkan sentilan yang cukup mantap di kening Saskia.

"Aduh!" pekik Saskia sembari memegangi jidatnya yang kini nampak sedikit memerah.

Anggita tersentak, hampir tersedak es batunya. "Gila lo, San! Ngapain lo sentil Saskia? Kasihan, Pe'a! Dia nggak salah apa-apa juga!"

Sandi tetap tenang, menyesap sisa Root Beer-nya. "Otaknya lagi konslet, makanya gue lurusin dikit biar nggak makin jauh 'jalan-jalannya'."

Andra dan Vino saling pandang, raut wajah mereka penuh tanda tanya besar. "Maksudnya gimana sih? Gue beneran gagal paham," tanya Andra mewakili kebingungan teman-temannya.

"Lo semua nggak akan paham sama makhluk satu ini," tunjuk Sandi pada Saskia menggunakan jempolnya. "Kalau dia sudah masang wajah kayak tadi, kayak orang kesambet, itu tandanya otak 'oneng'-nya lagi kambuh. Percuma gue jelasin, lo nggak bakal percaya."

Vino menggaruk kepalanya. "Emangnya seaneh apa sih pikirannya?"

Sandi menaikkan sebelah alisnya, gaya tengilnya keluar. "Makanya gue bilang tadi, lo semua nggak akan paham meskipun gue jabarin pakai rumus matematika Pak Gunawan. Coba saja lo tanya dia sendiri, pasti dia tadi lagi mikirin yang enggak-enggak."

Anggita menoleh ke arah Saskia yang masih menunduk malu, mengusap-usap keningnya yang habis disandera jari Sandi. "Emang bener lo lagi mikirin yang aneh-aneh, Sas? Mikirin apa coba?"

Saskia mendongak pelan, wajahnya masih memerah, lalu menjawab dengan kepolosan tingkat dewa. "Tadi aku... cuma kepikiran omongannya Sandi yang bilang mau mampir ke hotel. Jadi aku bayangin deh gimana kalau beneran..."

Hening sejenak.

Anggita, Andra, dan Vino saling melirik satu sama lain dengan mata membelalak. Sedetik kemudian, mereka menoleh secara serempak ke arah Sandi yang kini memasang wajah "I told you" penuh kemenangan.

"Betul, kan?" ucap Sandi singkat.

Sedetik kemudian, tawa Andra, Vino, dan Anggita meledak sehebat-hebatnya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai beberapa pengunjung lain menoleh ke arah meja mereka. Mereka tidak menyangka bahwa di balik wajah cantik dan anggun Saskia, ternyata tersimpan imajinasi yang sangat liar dan "oneng" persis seperti yang dituduhkan Sandi.

Suasana di meja pojok A&W Rawamangun mendadak senyap dari riuh rendah tawa saat pelayan datang membawa nampan berisi lima waffle ice cream premium yang tampilannya sangat menggoda. Es krim vanila yang lembut, disiram sirup cokelat pekat di atas potongan waffle yang masih hangat, seolah menjadi magnet bagi mata Kelompok Sableng yang sedari tadi sudah "panas" karena perdebatan konyol.

Sandi segera menggeser salah satu mangkuk es krim itu ke depan Saskia. "Sekarang, mending lo dinginin dulu otak lo pakai es krim ini, Sas. Biar imajinasi lo nggak lari-lari lagi sampai ke pelaminan sebelum waktunya," celetuk Sandi sembari meraih sendok plastiknya.

Saskia hanya bisa mengangguk patuh dengan wajah yang masih menyisakan rona merah jambu. Sipu malunya belum hilang sepenuhnya, apalagi setelah "rahasia" isi kepalanya dibongkar habis-habisan.

Anggita, yang sudah mulai menyuap es krimnya, menimpali dengan nada provokatif namun jenaka, "Udah, Sas. Habisin dulu es krimnya biar seger. Nanti kalau kita sudah bubar dari sini, terserah lo deh mau lanjutin mikir apa atau mau beneran ajak Sandi mampir ke hotel. Itu hak prerogatif lo."

Saskia memberanikan diri menatap Sandi dengan tatapan menggoda, namun Sandi langsung memasang pose siaga. Tangannya sudah terangkat di udara, siap memberikan sentilan "peringatan" kedua jika Saskia mulai merespons ucapan Anggita.

"Coba saja lo dengerin omongan Anggita lagi, Sas. Gue jamin tangan gue mendarat lebih keras di jidat lo!" ancam Sandi dengan gaya tengilnya.

Tawa renyah kembali meledak dari Andra, Vino, dan Anggita. Mereka benar-benar menikmati momen di mana Sandi berusaha keras menjaga "kewarasan" Saskia. Di tengah sisa-sisa candaan itu, mereka akhirnya menikmati es krim tersebut dalam kehangatan persahabatan yang kental, sejenak melupakan beban tugas sekolah yang menanti di rumah.

Setelah semua hidangan tandas, mereka berlima beranjak keluar menuju pelataran parkir. Udara sore Jakarta yang mulai lembap menyambut mereka. Empat motor dengan warna-warni mencolok—merah, kuning, hijau, dan biru—telah siap untuk membelah aspal menuju destinasi masing-masing.

Seperti ritual yang sudah menjadi tradisi tetap, Saskia kembali terlihat kesulitan dengan pengait helmnya. Ia tampak meraba-raba tali helm di bawah dagunya dengan wajah bingung. Tanpa kata, Sandi menarik pelan lengan Saskia untuk mendekat. Dengan gerakan yang sangat telaten dan mantap, Sandi memasangkan tali pengait helm itu hingga terdengar bunyi klik yang sempurna.

Anggita, Vino, dan Andra yang sudah berada di atas motor masing-masing hanya bisa terkekeh kecil melihat pemandangan itu. "Oke, kita pisah di sini ya, San," seru Anggita sembari menyalakan mesin Ninja merahnya yang menderu ganas. "Lo kan arahnya ke Selatan, sedangkan gue bertiga harus balik ke Timur."

Sandi mengangguk mantap, memutar kunci kontak Ninja hijaunya. "Sip. Hati-hati di jalan lo pada. Dan buat Andra, thank you, brother, buat makan siang ayamnya."

Andra yang sudah siap dengan Supra birunya melambaikan tangan. "Woles, San! Justru gue yang harusnya makasih karena lo sudah menepati janji traktiran es krim premiumnya. Mood gue langsung naik drastis nih."

"Okelah kalau begitu, gue duluan ya! Cabut!" seru Sandi.

Saskia pun melambaikan tangannya dengan ceria dari jok belakang. "Semuanya makasih ya! Hati-hati di jalan!"

Kelompok Sableng saling melambaikan tangan sebelum akhirnya berpisah di persimpangan jalan. Sandi dan Saskia melaju mantap menuju kawasan Pondok Indah, meninggalkan keriuhan Rawamangun di belakang.

Dalam perjalanan yang mulai ditemani lampu-lampu jalan, Saskia sesekali menoleh ke belakang, memastikan bahwa kawan-kawannya tidak lagi terlihat. Setelah merasa benar-benar hanya berdua dengan Sandi, senyum Saskia merekah lebar. Ia memajukan posisi duduknya, memeluk perut Sandi dengan sangat erat, lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu lebar pemuda itu.

"Sayang?" panggil Saskia pelan, suaranya sedikit teredam oleh desau angin dan helm.

Sandi melirik spion sesaat. "Apa? Jangan bilang lo beneran menganggap serius banyolan Anggita tadi soal hotel."

Saskia terkekeh kecil, tangannya semakin erat memeluk perut Sandi. "Tapi aku jadi penasaran tahu, Yang. Ngebayanginnya seru juga."

Sandi mendengus geli. "Udah ah, jangan dibahas lagi. Sekarang gantian gue yang mau tanya sama lo."

"Tanya apa tuh, Sayang?" sahut Saskia manja.

"Soal foto," jawab Sandi singkat namun bermakna dalam.

Tubuh Saskia mendadak tersentak kecil di belakang Sandi. "Kamu... kamu lihat fotonya, Yang?" tanyanya dengan nada yang sedikit bergetar, antara malu dan terkejut.

Sandi mengangguk mantap di balik helmnya. "Gue lihat pas buka dompet lo tadi di kasir. Kenapa lo masih simpan foto itu, Sas? Foto zaman kita masih bocah ingusan kelas 3 SD."

Saskia terdiam sejenak. Ia membenamkan wajahnya lebih dalam ke bahu Sandi, bahkan sempat memberikan kecupan kecil di sana melalui sela-sela jaket Sandi. "Karena... karena aku sudah suka sama kamu sejak saat itu, Yang. Foto itu saksi bisu waktu aku pertama kali ngerasa kalau aku pengen bareng kamu terus. Kamu nggak marah, kan?"

Sandi menggelengkan kepalanya perlahan. "Gue nggak marah, Sas. Gue cuma kaget. Ternyata lo sampai sebegitunya mengabadikan momen yang bahkan gue sendiri sudah hampir lupa. Gue sedikit terharu liat lo sampai nyatet tahun, nama kita, bahkan nama sekolah kita di bawah foto itu."

Saskia tersenyum sangat manis, meski Sandi tidak bisa melihatnya secara langsung. "Karena itu momen paling berharga buat aku. Foto itu yang bikin aku selalu ingat sama kamu kalau lagi kangen. Aku merasa aman dan nyaman sekali kalau ada di dekat kamu, dari dulu sampai sekarang."

Sandi tertegun mendengar pengakuan jujur itu. Perasaannya mendadak hangat, mengalahkan dinginnya angin sore. Ia mengangguk perlahan dan bergumam sangat pelan, "Makasih... makasih banyak ya, Yang."

"Hah? Apa? Kamu ngomong apa tadi?" tanya Saskia antusias, ia mencoba mendekatkan telinganya ke celah helm Sandi.

"Enggak, gue nggak ngomong apa-apa kok," kilah Sandi, kembali ke mode gengsinya.

"Bohong! Aku lihat mulut kamu komat-kamit kayak lagi ngomong sesuatu gitu," desak Saskia tidak mau menyerah.

"Nggak ada! Lo salah lihat kali. Mungkin efek lapar lagi lo," balas Sandi ketus, namun terselip nada bercanda.

Saskia tidak menyerah begitu saja. Ia melepaskan satu tangannya dari pinggang Sandi dan berniat mencubit dada Sandi sebagai hukuman karena tidak mau jujur. Namun cubitan Saskia justru mendarat tepat di area sensitif dada Sandi.

"Kasih tahu nggak ngomong apa! Aku tahu kamu tadi ngomong!" seru Saskia sembari menekan cubitannya.

Sandi langsung meringis kesakitan, tubuhnya sedikit berjengit di atas motor. "Sas! Aduh! Pentil gue lo cubit itu! Sakit, Pe'a!"

Saskia tersentak kaget dan buru-buru melepaskan cubitannya. Menyadari "salah sasaran", ia langsung tersipu malu namun tak bisa menahan tawa gelinya. "Eeehh! Maaf, Sayang! Aku nggak sengaja, sumpah! Hahaha!"

Sandi menghela napas panjang, berusaha menstabilkan motornya. "Setan lo, Sas. Main grepe-grepe sembarangan di jalan raya. Kalau kita oleng gimana?"

Saskia masih tertawa geli, bahkan sampai memukuli punggung Sandi dengan gemas. "Lagian kamunya nggak mau jujur sih!"

Sandi melirik ke belakang sebentar melalui spion, melihat wajah Saskia yang begitu bahagia. Ia akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri. "Iya, iya! Gue tadi ngomong... makasih... makasih ya, Sayang!"

Mendengar kata "Sayang" keluar langsung dari bibir Sandi untuk pertama kalinya dengan nada yang begitu tulus, Saskia mendadak mematung. Wajahnya memerah sempurna, jantungnya berdegup kencang karena kegirangan. Tanpa kata, ia kembali membenamkan wajahnya ke punggung Sandi, menyembunyikan senyum lebarnya yang tidak bisa ia kontrol lagi.

Sandi hanya bisa terkekeh kecil di balik helmnya, menikmati momen manis yang jarang terjadi di antara mereka berdua di tengah bisingnya jalanan Jakarta.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!