NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Markas The Vultures malam itu lebih mirip sirkus tanpa pawang. Aroma pizza hangat bercampur dengan bau pembersih jok motor memenuhi ruangan lantai bawah. Di tengah ruangan, Dion sedang mencoba melakukan atraksi konyol: berdiri dengan satu kaki di atas meja biliar sambil mencoba memasukkan keripik kentang ke mulutnya sendiri dengan cara dilempar.

"Satu... dua... hap!"

Pluk. Keripik itu mendarat tepat di dahi Dion, membuatnya terjungkal ke sofa dan memancing tawa menggelegar dari Leonard.

"Skor hari ini, Keripik satu, Dion nol!" Leonard terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya. "Kau ini benar-benar tidak punya bakat sirkus, Dion. Lebih baik kau fokus merayu pelayan kantin saja, itu lebih masuk akal."

Clark, yang biasanya sibuk dengan kode-kode rumit di laptopnya, kali ini ikut bergabung. Ia memakai kacamata hitam di dalam ruangan—entah apa tujuannya. "Jangan hina dia, Leo. Dion sedang melatih koordinasi mata dan mulut. Persiapan kalau nanti Lauren memintanya makan kue pengantin Kent secara paksa."

"Heh! Jangan bawa-bawa namaku dan 'istri' berisik itu!" seru Kent dari sudut ruangan, meski tangannya tetap sibuk mengelap busi motornya dengan ritme yang menenangkan.

Di tengah kegaduhan itu, Nikolas Martinez duduk menyamping di sofa tunggal, matanya terpaku pada layar ponsel. Sejak pulang sekolah tadi, pikirannya tidak tenang. Ia terus memikirkan bagaimana keadaan Salene setelah insiden "darurat" di hari terakhir ujian itu.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang kini sudah ia simpan dengan nama 'Tuan Putri'.

From: Tuan Putri

Terima kasih.

Hanya dua kata. Singkat, padat, dan sangat 'Salene'. Namun bagi Nik, dua kata itu terasa seperti ledakan kembang api di tengah malam yang sunyi. Ia tanpa sadar menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang sarat akan kelegaan.

"Waduuuh... lihat itu," celetuk Leonard, menyenggol lengan Dion. "Bos kita sedang tersenyum pada benda mati. Apakah itu tanda-tanda gangguan jiwa atau tanda-tanda 'porselen' kita mulai mencair?"

Nik langsung mematikan layar ponselnya, namun terlambat. Kent, yang duduk paling dekat dengannya, sudah menangkap kilatan itu. Kent sedikit condong ke arah Nik dan berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar oleh yang lain.

"Dia mengirim pesan?" tanya Kent datar.

Nik terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Iya..." jawabnya singkat, namun nada suaranya tidak bisa menyembunyikan getaran aneh yang ia rasakan.

Sementara itu, di mansion Lumiere, Salene baru saja menyelesaikan makan malam yang sangat melelahkan secara mental. Madame sepanjang waktu hanya membahas tentang prediksi nilai dan bagaimana Salene harus tetap menjaga citranya selama liburan kenaikan kelas nanti. Begitu masuk ke kamarnya, Salene segera mengunci pintu.

Ia menatap pesan balasan dari Nik yang masuk beberapa menit kemudian.

From: Nikolas Martinez

Tidur yang nyenyak, Sal. Kau sudah berjuang hebat hari ini.

Jantung Salene berdegup kencang. Ia merasa pesannya tadi terlalu dingin, namun ia tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan yang normal. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil. Persetan dengan aturan Madame tentang jam telepon. Ia hanya ingin mendengar suara yang tadi pagi menenangkannya di tengah badai rasa malu.

Di markas, ponsel Nik berdering. Nama 'Tuan Putri' terpampang jelas. Nik langsung berdiri dan berjalan menuju balkon lantai atas, meninggalkan teman-temannya yang mulai bersorak-sorak nakal.

"Halo?" suara Nik rendah, berat, dan hangat.

"Nik..." Salene terdiam sejenak, suaranya terdengar kecil. "Maaf menelepon malam-malam."

"Tidak apa-apa. Ada apa, Sal? Perutmu masih sakit?"

"Sedikit. Tapi sudah jauh lebih baik," Salene merebahkan dirinya di tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya yang megah. "Aku... aku tidak tahu harus bicara apa. Hanya ingin memastikan kau tidak marah karena aku memaki-maki mu di parkiran tempo hari."

Nik tertawa kecil, suara tawa yang membuat perut Salene terasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang. "Aku sudah lupa soal itu. Aku tahu itu bukan kau yang bicara, tapi beban di pundakmu."

Percakapan yang awalnya kaku itu perlahan mencair. Entah bagaimana, topik pembicaraan melompat dari tugas sekolah ke hal-hal yang tidak masuk akal.

"Nik, kau tahu tidak? Aku baru membaca artikel tentang Mars," kata Salene tiba-tiba. "Kenapa ya Mars tidak bisa dihuni? Padahal warnanya cantik, mirip warna motor lamamu."

Nik tertegun, lalu mulai menjelaskan tentang atmosfer yang tipis, kurangnya medan magnet, dan radiasi kosmik dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti namun sangat cerdas. Salene cukup kaget. Di balik jaket kulit dan tangan yang penuh oli, Nik ternyata memiliki pengetahuan yang luas. Suaranya saat menjelaskan terasa sangat menenangkan, jauh dari kesan 'begajulan' yang selama ini ia sematkan pada pria itu.

"Wah... kau cukup pintar ya," puji Salene tulus.

"Hanya karena aku suka mesin, bukan berarti aku tidak suka membaca, Tuan Putri," balas Nik jenaka.

Hampir satu jam mereka berbicara. Salene bercerita tentang hobi melukisnya yang tersembunyi, dan Nik bercerita tentang mimpinya membangun bengkel restorasi mobil klasik terbesar di London. Untuk sesaat, mereka bukan lagi 'Porselen Lumiere' dan 'Sampah Martinez'. Mereka hanyalah dua remaja yang sedang mencari frekuensi yang sama di bawah langit yang sama.

"Nik..."

"Hm?"

Salene memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. "Sekali lagi... terima kasih untuk hari ini. Untuk jaketnya, untuk seragamnya, dan karena tidak meninggalkanku di toilet tadi."

Nikolas tersenyum di balik kegelapan balkon markas. "Iya, sama-sama, Tuan Putri. Istirahatlah. Besok kita sudah bebas dari ujian."

"Selamat malam, Nik."

"Selamat malam, Sal."

Setelah panggilan terputus, Nik tetap berdiri di balkon, menatap lampu-lampu London yang berkelap-kelip. Di bawah sana, Leonard dan Dion masih tertawa konyol, tapi di sini, di tempat Nik berdiri, semuanya terasa berbeda. Ia tahu, liburan kenaikan kelas menuju kelas 12 ini tidak akan pernah sama lagi.

Porselen itu tidak hanya sudah retak, tapi sudah mulai menunjukkan warna-warna indah yang selama ini disembunyikan.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!