Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Zira dan Nathan tiba di Jakarta sekitar pukul 02.00 dini hari. Mobil milik Nathan perlahan memasuki pekarangan rumah Mama Sarah. Zira kemudian menekan bel rumah karena ia lupa membawa kunci cadangan. Untung saja, Mama Sarah masih terjaga, seperti biasanya, karena pada jam-jam tersebut mama selalu bangun untuk menjalankan salat tahajjud.
Setelah pintu terbuka, Zira dan Nathan serempak menyapa, "Assalamualaikum, Mah." Mama Sarah tersenyum dan sedikit terkejut melihat mereka datang lebih awal. "Waalaikumsalam, eh, kalian sudah sampai. Mama kira pulangnya lusa," balas Mama Sarah.
Nathan menjelaskan dengan tenang, "Iya, Mah. Kami memutuskan pulang lebih cepat supaya Zira bisa istirahat dulu." Mama Sarah mengangguk setuju, "Oh, iya, itu bagus sekali, Nak Nathan."
Saat itu, Mama Sarah baru memperhatikan penampilan Zira dan tidak dapat menyembunyikan ekspresinya yang terkejut. Doa yang selama ini ia panjatkan perlahan mulai terwujud.
Zira menyela percakapan, "Mah, Zira ke kamar dulu ya. Capek banget," ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Nathan bersama Mama Sarah.
Mama Sarah menatap Nathan dengan penuh rasa syukur dan berkata, "Nak Nathan, terima kasih sudah membantu Zira kembali menjadi seperti dulu." Mendengar itu, Nathan tersenyum hangat. "Bukan saya yang mengubahnya, Mah. Itu semua dari hati Zira sendiri. Dia ingin kembali memakai pakaian seperti itu. Perubahan perlahan akan terjadi, Mah. Doakan yang terbaik untuk Zira," Nathan menjelaskan dengan penuh kesabaran.
Mama Sarah mengangguk penuh pengertian, "Iya, Nak. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua. Sana istirahat. Kamu pasti capek sekali."
Nathan berpamitan sambil melangkah menuju kamar, "Iya, Mah. Nathan ke kamar dulu. Assalamualaikum." Mama Sarah membalas dengan senyuman hangat, "Waalaikumsalam, Nak Nathan. Semoga kalian selalu bahagia."
Mama Sarah diam sejenak sambil memandangi ke arah kamar mereka. Hatinya dipenuhi ketenangan dan harapan. Baginya, Nathan sudah menjadi bagian dari keluarga sendiri.
Zira sudah menunggu suaminya di kamar, namun karena waktu yang terasa lama, ia akhirnya tertidur akibat kelelahan setelah perjalanan panjang dari Bandung ke Jakarta. Perjalanan tersebut cukup melelahkan dan membuat Zira kehilangan energi. Saat Nathan masuk ke kamar, ia melihat istrinya telah terlelap. Nathan memahami betul bahwa Zira pasti sangat kelelahan. Tanpa berniat membangunkannya, Nathan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.
Usai membersihkan diri, Nathan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Ia kembali mendapati Zira masih tertidur nyenyak. Dengan penuh perhatian, Nathan memutuskan untuk tidak mengganggunya. Ia perlahan berbaring di samping Zira dan menyelipkan pelukan hangat, memberikan rasa nyaman kepada istrinya. Meski Zira sempat bergumam kecil dalam tidurnya, ia tetap tidak terbangun. Senyum lembut terukir di wajah Nathan saat ia memeluk Zira lebih erat, menikmati momen damai bersama wanita tercintanya.
Keesokan harinya, karena hari itu adalah Minggu, Zira memutuskan untuk mulai membereskan barang-barang yang ia bawa pulang dari Bandung. Nathan yang melihat banyaknya oleh-oleh yang ditumpuk oleh istrinya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Sayang, kamu bawa oleh-olehnya banyak sekali, ya," katanya sambil tersenyum tipis.
"Iya, Mas. Yang ini buat Mama, Aryan, Papa Alex, dan Tante Juwita. Nah, yang ini untuk Aliya dan Zita," jawab Zira dengan antusias.
"Terus, katanya ada juga untuk Mas? Mana?" tanya Nathan penasaran.
"Hmm... itu nanti malam aku kasih," sahut Zira dengan wajah merona, teringat lingerie yang direkomendasikan oleh adik iparnya sebelumnya.
Zira menghubungi dua sahabatnya melalui panggilan video untuk memberi tahu bahwa ia sudah tiba di Jakarta.
"Assalamualaikum, teman-teman," sapa Zira.
"Waalaikumsalam! Wah, tumben nih video call? Ada apa, Zir?" tanya Aliya.
"Aku sudah sampai di Jakarta, guys. Yuk, main ke rumahku! Aku bawa banyak oleh-oleh buat kalian," kata Zira dengan semangat.
"Awww, jadi makin sayang deh sama kamu, Zira! Muachh!" sahut Zita dengan nada bercanda.
"Oke, gue otw sekarang," jawab Aliya antusias.
"Eh, jemput gue dong! Mobil gue lagi di bengkel," pinta Zita.
"Kebiasaan banget, ya. Ya udah, gue otw ke rumah lo dulu, baru kita bareng ke tempat Zira," balas Aliya.
"Bye-bye, Zir! Kami otw ke rumahmu ya. Sampai ketemu!" pamit Zita.
"Oke, aku tunggu. Assalamualaikum," balas Zira.
"Waalaikumsalam," jawab Aliya dan Zita kompak.
Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju ke kamar Zira. Betapa terkejutnya mereka melihat kondisi kamar yang sudah berantakan seperti kapal pecah.
"Astaghfirullah, Zira! Kamarmu kok berantakan begini," ujar Aliya terkejut melihat keadaan kamar Zira.
"Ini semua 'oleh-oleh' dari Umi Aisyah," balas Zira sambil tersenyum pasrah.
"Mertua kamu baik banget, ya. Eh, btw, aku malah salfok sama penampilan kamu, Zir. Senang deh lihat kamu kayak dulu lagi," ucap Aliya dengan antusias.
"Doain aja yang terbaik buat aku ya, guys," jawab Zira tulus.
Tak lama, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Oh iya, ini aku bawain oleh-oleh untuk Aliya dan Zita. Rekomendasi dari Putri, adik iparku," katanya sambil menyerahkan bingkisan kecil.
"Kayaknya kamu akrab banget sama adik ipar kamu, ya," komentar Zita penasaran.
"Aku dan Putri udah kayak bestie sekarang, tau. Malah sebelum balik ke Jakarta, aku sama dia belanja seharian penuh!" balas Zira sambil terkekeh.
"Pantas aja kamu lupa sama kami," canda Aliya sambil pura-pura manyun.
"Aku mana mungkin lupa kalian, buktinya aku tetap beliin oleh-oleh khas Bandung buat kalian," jawab Zira sambil tertawa kecil.
"Iya deh, makasih banget ya!" kata Zita tulus.
"Iya, makasih juga ya, Zir," timpal Aliya dengan senyum lebar.
"Sama-sama! Besok kita harus ngumpul lagi," tutup Zira dengan nada ceria.
Aliya memandang dengan tatapan bercampur antara terkejut dan mencoba menahan senyum saat ia berkata, "Wow, apa ini benar-benar lingerie seksi? Jangan-jangan kamu dan Pak Nathan sudah melakukannya lagi, dan kali ini dalam keadaan sadar sepenuhnya?" Suaranya mengandung nada menggoda yang sulit disembunyikan. Zira, yang merasa tak mampu memberikan tanggapan, memilih untuk tetap terdiam. Namun, keheningan itu justru lebih mirip jawaban diam-diam yang menggema seperti sebuah pengakuan.
Menangkap isyarat tersebut, Aliya langsung berubah ceria seraya berkata, "Wah, selamat ya, Zira! Sepertinya kita bakal punya keponakan baru nih." Rona bahagia terlihat jelas di wajahnya. Zita, yang berada di sana juga, segera menimpali dengan antusiasme tulus, "Aku benar-benar ikut senang, Zir. Aku nggak sabar nunggu keponakan baru kita lahir."
Zira hanya tersenyum kecil dan menjawab dengan singkat tapi penuh harap, "Doain aja ya."
"Lo tau nggak, Zira? Rafa akhirnya tahu fakta kalau lo sama Pak Nathan itu sudah menikah, dan kamu tahu apa yang dilakukan Rafa setelah tahu itu? Dia nangis sejadi-jadinya, kayak anak kecil yang kehilangan permen favoritnya, benar-benar heboh banget! "tutur Aliya sambil mencoba menahan tawanya.
"Sumpah ya, waktu gue sama Aliya lihat tingkah laku Rafa itu, rasanya lucu banget sampai pengin ketawa terus," ujar Zita sambil mengingat kejadian tersebut dengan ekspresi geli.
"Kalau dengar cerita kalian, sepertinya seru banget lihat Rafa nangis sampai segitunya. Jujur, jadi ada rasa penasaran dan pengin lihat reaksi dia secara langsung," sahut Zira dengan nada bercanda tapi penuh rasa ingin tahu.