Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Babak Penyisihan – Seol vs Pendekar Tulang Besi
Matahari pagi menyinari Lembah Naga Putih dengan cahaya keemasan yang menembus kabut tipis di antara puncak-puncak gunung. Udara masih dingin, tetapi tribun sudah mulai dipenuhi oleh ribuan penonton yang datang dari berbagai penjuru Murim. Hari kedua turnamen dimulai, dan enam belas peserta yang lolos dari babak pertama akan bertarung untuk memperebutkan delapan tiket menuju babak selanjutnya.
Seol berdiri di area persiapan di belakang panggung, pedang Seol Hwa tersandang di pinggangnya. Ia sudah memulihkan qi-nya semalaman, dan tubuhnya terasa lebih ringan dari biasanya. Mungkin karena kemenangan kemarin, atau mungkin karena ia akhirnya bisa mengukur sejauh mana kekuatannya setelah dua setengah tahun berlatih.
“Pertandingan babak kedua belas! Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi melawan Baek Ho dari Sekte Tulang Besi!”
Nama itu membuat Seol mengerjap. Ia menoleh ke tribun Sekte Tulang Besi, dan di sana, seorang pemuda berdiri dengan tubuh yang sangat besar—jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Tingginya mungkin dua kepala di atas Seol, dengan bahu selebar pintu gerbang dan lengan sebesar paha orang biasa. Rambutnya pendek, wajahnya persegi, dan matanya—matanya menyala dengan semangat bertarung yang tidak bisa disembunyikan.
Ini bukan Baek Ho temannya. Ini adalah Baek Ho dari Sekte Tulang Besi, salah satu peserta yang dijagokan di turnamen ini.
---
Naik ke Panggung
Seol melangkah ke panggung dengan tenang. Di depannya, Baek Ho sudah berdiri dengan senyum lebar, mengepalkan tinju kanannya ke telapak tangan kiri berulang-ulang, menciptakan bunyi dug dug dug yang bergema di seluruh lembah.
“AKHIRNYA!” teriak Baek Ho, suaranya menggema seperti genderang perang. “Aku sudah menunggu pertarungan ini sejak aku melihat namamu di undian! Murid baru Sekte Pedang Surgawi yang katanya mendengar nyanyian pedang! AYO TUNJUKKAN PADAKU!”
Seol tidak menjawab. Ia mencabut pedang Seol Hwa perlahan, bilahnya berkilat di bawah sinar matahari pagi. Ia mengambil posisi—kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang, pedang diangkat setinggi dada, ujungnya mengarah ke lawan.
Posisi dasar. Tapi ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang membuat Baek Ho berhenti memukul-mukul tinjunya.
“Mulai!” teriak wasit.
Baek Ho melesat maju.
---
Kekuatan yang Luar Biasa
Seol tidak punya waktu untuk berpikir. Tubuhnya bergerak dengan refleks yang sudah terlatih selama dua setengah tahun. Ia menghindar ke kanan, tubuhnya bergeser seperti bayangan, dan pedang di tangannya berdesis memotong udara, mengarah ke lengan Baek Ho.
Tapi Baek Ho tidak menghindar. Ia membiarkan pedang itu mengenai lengannya.
Crak!
Seol merasakan getaran menjalar dari ujung pedang ke tangannya. Bukan getaran biasa—ini adalah getaran yang terasa seperti memukul batu, bukan daging. Ia mundur selangkah, memeriksa pedangnya. Masih utuh. Tapi lengannya sendiri terasa mati rasa.
Baek Ho tertawa. “HAHAHA! Teknik Tulang Besi! Tidak ada pedang biasa yang bisa melukai aku! Aku sudah berlatih selama sepuluh tahun untuk ini! Tulangku sudah sekeras baja, kulitku sudah setebal perisai! Apapun seranganmu, tidak akan—”
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Seol sudah bergerak lagi.
Kali ini ia tidak menyerang langsung. Ia melesat ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke belakang, lalu ke depan—bergerak dalam pola yang tidak terduga, menciptakan ilusi bahwa ada empat atau lima Seol di atas panggung sekaligus. Baek Ho berhenti, matanya mengikuti gerakan Seol, tetapi ia tidak bisa menangkap mana yang asli dan mana yang bayangan.
“Teknik yang bagus!” teriak Baek Ho, tetapi ada nada frustrasi di suaranya. “Tapi kau tidak bisa terus berlari selamanya!”
Ia mengepalkan kedua tinjunya, dan qi-nya meledak. Gelombang qi menyebar ke segala arah, dan Seol merasakan getaran itu mengganggu keseimbangannya. Ia hampir terjatuh, tetapi ia menahan diri dengan menancapkan pedangnya ke lantai panggung.
“Dia menggunakan gelombang qi untuk mendeteksi posisimu,” bisik Gu di kepalanya. “Diam sejenak. Biarkan ia kehilangan jejak.”
Seol berhenti. Ia berdiri diam di tempatnya, menekan qi-nya hingga hampir tidak ada.
Baek Ho mengerjap. Gelombang qinya tidak mendeteksi apa pun. Seol menghilang.
“Di mana—?”
Seol bergerak.
Ia melesat maju dengan kecepatan penuh, pedang di tangannya berdesis. Tapi kali ini, ia tidak menyerang tubuh Baek Ho. Ia menyerang kaki-nya.
Baek Ho menyadari serangan itu terlambat. Ia berusaha menghindar, tetapi tubuhnya terlalu besar, terlalu lambat. Pedang Seol mengenai betis kirinya—bukan dengan bilah, tetapi dengan gagangnya. Pukulan keras yang tepat pada titik saraf di belakang lutut.
Baek Ho tersentak. Kakinya terasa mati rasa, dan untuk sesaat, keseimbangannya hilang. Tubuh besarnya oleng ke depan, dan ia harus menjejakkan tangan kanannya ke lantai untuk tidak jatuh.
Seol tidak memberi waktu. Ia berputar, pedangnya berkelebat, dan kali ini, tujuh bayangan muncul di sekeliling Baek Ho—tujuh pedang yang menyerang dari tujuh arah sekaligus.
Pedang Bayangan. Tingkat dua.
---
Saat Bayangan Menyerang
Baek Ho tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang ilusi. Ia hanya bisa mengepalkan tinjunya, memusatkan seluruh qi-nya ke kulitnya, dan berharap.
Tujuh bayangan itu menghantamnya hampir bersamaan. Enam hanyalah ilusi, tidak meninggalkan bekas. Tapi yang satu—yang asli—mengenai pergelangan tangan kanannya, tepat di titik di mana baju besi tulangnya paling tipis.
Baek Ho menjerit. Bukan jeritan sakit yang memilukan, tetapi jeritan terkejut yang keras dan menggema. Tangannya yang selama ini dianggap tidak bisa ditembus oleh pedang biasa, sekarang berlumuran darah. Darah menetes dari pergelangan tangannya, membasahi jubah abu-abunya, menciptakan bercak merah yang kontras dengan warna abu-abu itu.
Ia menatap tangannya, lalu menatap Seol. Matanya berubah—bukan marah, tetapi kagum.
“Kau… kau melukai aku,” katanya, suaranya tidak lagi berteriak. “Pedang itu… bukan pedang biasa.”
Seol berdiri di hadapannya, napasnya terengah tetapi pikirannya jernih. Pedang Seol Hwa di tangannya masih mengkilap, tidak setetes darah pun menempel di bilahnya. “Pedang ini pinjaman,” katanya. “Tapi tekniknya bukan pinjaman.”
Baek Ho terdiam sejenak. Darah terus menetes dari pergelangan tangannya, tetapi ia tidak tampak kesakitan. Yang tampak adalah rasa ingin tahu yang besar.
“Teknik apa itu?” tanyanya. “Aku belum pernah melihat teknik seperti itu. Bayangan yang bergerak sendiri, menyerang dari berbagai arah… itu bukan teknik yang diajarkan di sekte kalian, kan?”
Seol tidak menjawab. Ia tidak bisa. Ia tidak boleh.
Baek Ho tidak memaksa. Ia mengangguk, seolah mengerti. “Rahasia, ya? Aku mengerti. Setiap pendekar punya rahasianya masing-masing.”
Ia melihat tangannya yang berdarah, lalu menatap Seol dengan senyum lebar—senyum yang tidak terlihat pahit, tidak terlihat kecewa. Senyum yang tulus.
“Aku menyerah.”
---
Kemenangan yang Tidak Terduga
Seluruh lembah terdiam.
Wasit mengerjap. “Kau… kau menyerah?”
“Ya!” Baek Ho mengangkat tangan kirinya yang masih utuh, memberi isyarat. “Aku tidak bisa melawannya jika ia terus bergerak seperti itu. Dan lukaku… aku tidak bisa menggunakan tangan kananku dengan maksimal. Kalau aku terus bertarung, aku hanya akan memperparah lukaku. Dan besok aku masih harus bertarung di babak berikutnya—oh, tapi aku sudah kalah, ya? Berarti tidak ada babak berikutnya untukku.” Ia tertawa kecil, seolah baru menyadari kebodohannya sendiri.
Seol tidak bisa menahan senyum kecil. Pemuda ini benar-benar berbeda.
Baek Ho menatap Seol dengan mata berbinar. “Tapi lain kali, aku akan berlatih lebih keras. Aku akan menemukan cara untuk mengalahkan teknik itu. Dan kita akan bertarung lagi!”
Seol mengangguk. “Aku akan menunggu.”
Wasit mengangkat tangannya. “Pemenang: Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi!”
Tribun bergemuruh. Tidak semua orang bertepuk tangan—beberapa dari Sekte Tulang Besi terlihat kecewa dengan kekalahan cepat wakil mereka—tetapi sebagian besar penonton memberikan tepuk tangan yang tulus. Mereka melihat sesuatu yang langka: seorang pendekar muda kurus yang mengalahkan lawan yang jauh lebih besar dengan kecepatan dan teknik, bukan kekuatan kasar.
Seol berdiri di tengah panggung, pedang Seol Hwa di tangannya, napasnya masih terengah tetapi pikirannya jernih. Ia menoleh ke tribun timur, ke barisan jubah merah.
Cheonmyeong masih duduk di tempatnya, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Tapi ada yang berbeda. Senyum itu tidak lagi terlihat percaya diri. Ada ketegangan di rahangnya, ada kekhawatiran di matanya.
Seol menatapnya sebentar, lalu berbalik dan turun dari panggung.
Satu pertandingan. Satu kemenangan. Masih panjang jalan menuju final. Tapi aku sudah menunjukkan padamu, Cheonmyeong. Aku bukan lagi sampah yang dulu.
---
Setelah Pertandingan – Pertemuan yang Tak Terduga
Seol baru saja meletakkan pedangnya di area persiapan ketika suara keras menggelegar di belakangnya.
“HEI! KAU BAIK-BAIK SAJA?”
Seol menoleh. Baek Ho berdiri di belakangnya, tangan kanannya sudah diperban tebal, tetapi senyum lebarnya tidak berubah. Ia membawa dua botol di tangannya—bukan air, tetapi anggur.
“Kau… kau tidak perlu istirahat?” tanya Seol, sedikit terkejut.
“Istirahat? Untuk apa? Lukaku hanya goresan kecil! Besok juga sembuh!” Baek Ho tertawa keras. “Ayo, minum! Ini anggur terbaik dari Sekte Tulang Besi! Aku menyelundupkannya dari asrama. Jangan bilang siapa-siapa!”
Seol menatap botol itu ragu. “Aku… aku tidak biasa minum anggur.”
Baek Ho mengerjap. “TIDAK PERNAH MINUM ANGGUR? Kau… kau benar-benar dari desa terpencil, ya?” Ia tertawa lagi, lalu membuka botolnya sendiri dan meneguk langsung dari mulut botol. “Ahhh! Segar!”
Ia duduk di samping Seol tanpa diminta, tubuh besarnya membuat bangku kayu itu berderit protes. “Kau tahu, aku suka padamu. Tidak banyak orang yang bisa membuatku menyerah. Apalagi dengan tubuh sekurus kau. Kau pasti berlatih sangat keras, ya?”
Seol tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk.
Baek Ho menepuk punggungnya—tepukan yang membuat Seol hampir terpental dari bangku. “Aku suka orang yang berlatih keras! Di Sekte Tulang Besi, semua orang hanya mengandalkan kekuatan bawaan. Tidak ada yang mau berlatih teknik. Mereka pikir dengan tubuh sebesar ini, mereka sudah cukup kuat. Tapi kau… kau membuktikan bahwa teknik lebih penting daripada kekuatan!”
Ia meneguk anggurnya lagi, lalu menatap Seol dengan mata yang tiba-tiba menjadi serius.
“Kau tahu, aku tidak selalu seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Seperti… besar.” Baek Ho tertawa kecil, tetapi tawanya berbeda. Tidak keras, tidak menggema. Ada nada pahit di dalamnya. “Dulu aku anak paling kurus di desaku. Semua orang mengejekku. Mereka bilang aku tidak akan pernah menjadi pendekar karena tubuhku terlalu kecil. Aku tidak punya bakat, tidak punya teknik, tidak punya apa-apa.”
Seol terdiam. Cerita itu terlalu familiar.
“Tapi suatu hari, seorang pendekar tua lewat di desaku. Ia melihatku sedang berlatih dengan ranting pohon—hanya berlatih sendiri, karena tidak ada yang mau mengajariku. Ia tertawa, lalu berkata: ‘Anak ini tidak punya bakat, tapi punya kemauan. Itu lebih berharga.’ Ia membawaku ke Sekte Tulang Besi dan melatihku. Teknik Tulang Besi adalah teknik yang paling cocok untukku—mengubah tubuh menjadi perisai. Butuh waktu bertahun-tahun, tapi sekarang…” Ia mengangkat lengan kanannya yang diperban. “Aku tidak lagi kurus.”
Seol menatap Baek Ho dengan perasaan yang aneh. Di balik tubuh besarnya, di balik tawanya yang keras, ada masa lalu yang sama dengannya.
“Aku juga dulu kurus,” kata Seol pelan. “Dan semua orang mengejekku.”
Baek Ho menatapnya. Matanya berubah—tidak lagi keras, tetapi lembut.
“Kau juga?” tanyanya.
Seol mengangguk. “Di klanku, aku dianggap sampah. Meridianku rusak sejak lahir. Mereka bilang aku tidak akan pernah menjadi pendekar.”
Baek Ho tidak tertawa. Ia hanya menatap Seol dengan mata yang dalam.
“Tapi kau membuktikan mereka salah,” katanya.
“Kau juga,” kata Seol.
Mereka berdua terdiam. Kemudian Baek Ho tertawa—tawanya yang keras, menggema, membuat beberapa peserta lain menoleh.
“KITA HARUS MINUM UNTUK ITU!” teriaknya, menyodorkan botol anggur ke tangan Seol. “MINUM! SEKARANG!”
Seol tidak bisa menolak. Ia membuka botol itu, meneguk sedikit, dan langsung terbatuk-batuk. Anggur itu terasa pahit, panas, dan membuat tenggorokannya terbakar.
Baek Ho tertawa terbahak-bahak. “HAHAHA! WAJAHMU! SEPERTI ANAK KECIL MINUM OBAT!”
Seol memaksakan diri meneguk lagi, kali ini lebih banyak. Rasa pahit itu perlahan berubah menjadi hangat, menyebar dari tenggorokan ke dada, ke perut, ke seluruh tubuh. Ia tidak menyukainya, tetapi juga tidak membencinya.
“Untuk persahabatan!” kata Baek Ho, mengangkat botolnya.
Seol mengangkat botolnya. “Untuk persahabatan.”
Mereka minum bersama, di bawah tenda area istirahat yang mulai sepi, di antara para peserta yang bersiap untuk pertandingan berikutnya. Dua pemuda dari dunia yang berbeda, dengan masa lalu yang berbeda, tetapi dengan hati yang sama.
---
Peringatan di Tengah Keramaian
Saat matahari mulai condong ke barat, suasana di area istirahat berubah. Para peserta dari berbagai sekte mulai berdatangan, wajah-wajah mereka penuh dengan konsentrasi dan ketegangan. Di sudut tenda, beberapa peserta dari Kultus Darah duduk bersama, berbicara dengan bisik-bisik, mata mereka sesekali melirik ke arah peserta lain dengan senyum tipis.
Baek Ho yang tadinya ceria tiba-tiba menjadi serius. Matanya menyipit ke arah rombongan jubah merah itu, dan senyumnya menghilang.
“Kau harus waspada,” katanya, suaranya pelan—untuk pertama kalinya ia berbicara dengan volume normal. “Terhadap mereka.”
Seol mengikuti arah pandangannya. “Kultus Darah?”
“Ya.” Baek Ho menggigit bibirnya. “Aku sudah mendengar cerita tentang mereka. Bukan hanya dari guruku, tapi dari pendekar-pendekar tua yang pernah bertarung melawan mereka. Mereka tidak bermain adil. Mereka menggunakan teknik-teknik yang… tidak wajar. Yang merusak jiwa. Dan yang paling berbahaya…” Ia menunjuk ke arah seorang pemuda yang duduk sendirian di sudut tenda, tidak berbicara dengan siapa pun. “Itu.”
Seol mengikuti arah jarinya. Di sudut tenda, dengan punggung bersandar di tiang kayu, Ryu Cheonmyeong duduk dengan mata terpejam. Ia tidak minum. Ia tidak makan. Ia hanya duduk di sana, napasnya teratur, qi-nya berdenyut pelan di sekelilingnya seperti gelombang yang tidak terlihat.
“Aku melihat pertarungannya hari ini,” lanjut Baek Ho. “Ia mengalahkan lawannya tanpa menyentuh pedang. Tanpa bergerak. Lawannya hanya… jatuh. Seperti ada yang meremas jantungnya dari dalam. Aku belum pernah melihat teknik seperti itu.”
“Itu karena teknik itu dilarang,” kata Seol datar.
Baek Ho menatapnya. “Kau tahu tentang teknik itu?”
Seol terdiam. Ia tidak bisa bercerita tentang duel di hutan belakang, tentang teknik terlarang yang digunakan Cheonmyeong dulu, tentang bagaimana Gu mengorbankan satu ekornya untuk menyelamatkannya. Tapi ia bisa memberi peringatan.
“Aku pernah bertarung dengannya,” katanya akhirnya. “Dulu, sebelum ia bergabung dengan Kultus Darah. Ia menggunakan teknik yang sama—teknik yang mengorbankan darah dan jiwa untuk kekuatan. Saat itu, aku hampir mati.”
Baek Ho mendengarkan dengan saksama. “Tapi kau selamat.”
“Karena seseorang menyelamatkanku. Dengan harga yang besar.” Seol mengepalkan tangannya. “Sekarang ia lebih kuat. Aku bisa merasakannya bahkan dari sini.”
“Dan kau masih akan melawannya?”
Seol menatap mata Baek Ho. Mata yang besar, jujur, dan tidak mengenal takut.
“Aku sudah berjanji,” katanya. “Bukan hanya untuk diriku sendiri. Tapi untuk orang yang menyelamatkanku. Dan untuk keluargaku yang mati karena mereka.”
Baek Ho terdiam sejenak. Kemudian ia mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan mendukungmu. Bukan di arena—aku sudah kalah, jadi tidak bisa bertarung lagi. Tapi di luar arena, aku akan menjadi temanmu. Aku akan menjagamu. Dan jika kau butuh bantuan melawan Kultus Darah…” Ia mengangkat tangan kanannya yang diperban. “Aku akan memukul mereka sampai tulang mereka hancur.”
Seol tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Baek Ho dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Selama ini, ia selalu bertarung sendirian. Gu membantunya, tetapi Gu adalah jiwa dalam batu, bukan manusia. Seol Hwa membantunya, tetapi ia melakukannya dengan jarak, dengan perhitungan, dengan tujuan yang tidak pernah ia pahami.
Tapi Baek Ho… Baek Ho menawarkan persahabatan tanpa alasan. Tanpa syarat. Hanya karena ia percaya.
“Terima kasih,” kata Seol, suaranya sedikit serak.
Baek Ho tersenyum lebar. “Teman tidak perlu berterima kasih!”
Ia mengangkat botol anggurnya yang hampir kosong. “Untuk kemenanganmu hari ini! Untuk mengalahkan Kultus Darah nanti! Dan untuk persahabatan!”
Seol mengangkat botolnya. “Untuk persahabatan.”
Mereka minum bersama, di bawah cahaya lentera yang mulai menyala di seluruh lembah, di antara para peserta yang mulai bersiap untuk hari berikutnya.
---