Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan di Meja Operasi
Udara di dalam ruang kerja pribadi Geovani yang biasanya steril kini terasa berat oleh aroma maskulin yang tajam dan parfum manis Briella yang samar. Geovani sedang fokus menatap layar monitor besar, meninjau beberapa proposal akuisisi medis yang sangat krusial bagi kelangsungan bisnisnya. Cahaya biru dari layar memantul di kacamata peraknya, memberikan kesan dingin yang tidak tersentuh.
Briella melangkah masuk dengan sangat pelan, tumit sepatunya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna hitam yang terbungkus jubah tipis dengan warna senada. Ia tahu benar bagaimana cara memanipulasi situasi saat pria itu sedang berada di puncak konsentrasinya.
"Kau masih bekerja, Dokter? Bukankah ini sudah terlalu larut untuk mengurus angka-angka membosankan itu?" tanya Briella dengan suara rendah yang mengalun lembut.
Geovani tidak mengalihkan pandangannya dari layar, jemarinya tetap bergerak lincah di atas papan ketik. "Bisnis tidak mengenal waktu, Briella. Apalagi saat target kita sedang dalam posisi paling lemah seperti sekarang."
"Angka-angka itu tidak akan lari ke mana-mana, tapi calon ibu dari anakmu ada di sini," Briella berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi kerja Geovani.
Briella meletakkan tangannya di bahu tegap Geovani, merasakan otot-otot yang menegang di balik kemeja katun mahalnya. Ia mulai memijat pelan leher pria itu, memberikan tekanan yang presisi di titik-titik saraf yang ia pelajari dari buku kedokteran milik Geovani. Geovani akhirnya menghentikan gerakannya, kepalanya sedikit bersandar pada sandaran kursi.
"Apa yang kau inginkan, Briella? Jangan mengalihkan perhatianku jika kau hanya ingin mengeluh tentang kebosanan," ujar Geovani dengan mata terpejam, menikmati pijatan yang tak terduga itu.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa keputusan bisnis yang kau ambil besok akan menguntungkan masa depan kita, bukan hanya ambisimu sendiri," Briella membungkuk, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Geovani.
Geovani membuka matanya, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kembali tajam. "Maksudmu tentang tawaran merger dari klinik satelit Adijaya? Aku sudah memutuskan untuk menolaknya."
"Kenapa? Jika kau mengambil alih klinik itu sekarang, kita bisa menghancurkan mereka lebih cepat dari dalam," Briella menggerakkan tangannya ke depan, melingkari leher Geovani secara perlahan.
Briella mulai menggunakan kekuasaan barunya sebagai mahasiswi berprestasi sekaligus pembawa ahli waris Geovani untuk menekan sisi logis pria itu. Ia tahu bahwa Geovani memiliki obsesi pada rasa sakitnya, namun ia juga tahu Geovani sangat menghargai efisiensi bisnis. Ia merayu Geovani dengan cara yang sangat halus, menggunakan sentuhan fisik sebagai senjatanya.
"Mengambil alih klinik yang sedang dilanda skandal adalah langkah berisiko. Reputasi rumah sakitku bisa ikut tercemar," balas Geovani sambil memegang pergelangan tangan Briella yang ada di dadanya.
"Tapi kau adalah Geovani. Kau bisa mengubah kotoran menjadi emas hanya dengan satu tanda tangan. Kau ingin melihat mereka merangkak memohon padamu, bukan?" Briella memutar kursi Geovani agar pria itu menghadapnya.
Briella duduk di pinggiran meja kerja yang dipenuhi dokumen penting, membiarkan jubah tipisnya terbuka sedikit untuk menunjukkan lekuk tubuhnya. Ia menatap Geovani dengan pandangan menantang, seolah-olah ia sedang melakukan operasi bedah pada ego pria itu. Ruangan yang tenang itu mendadak dipenuhi oleh ketegangan yang sangat pekat.
"Kau mulai berani mengatur keputusan bisnisku, Little One. Apakah kau pikir anak di perutmu itu memberimu hak istimewa?" Geovani menarik pinggang Briella hingga tubuh mereka merapat.
"Tentu saja. Anak ini adalah masa depanmu, Geovani. Dan aku adalah orang yang akan memastikan masa depan itu bersinar dengan cara menghancurkan mereka yang mencoba menghalanginya," jawab Briella tanpa sedikit pun rasa takut.
Briella mengusap rahang tegas Geovani, lalu mendaratkan ciuman ringan di sudut bibirnya yang kaku. Ia bisa merasakan napas Geovani yang mulai memburu, sebuah tanda bahwa rayuannya mulai menembus pertahanan dingin sang dokter. Briella terus mendesak, memberikan argumen-argumen manipulatif yang dibalut dengan godaan fisik.
"Jika kau tidak mengambil klinik itu, ayah Prilly akan menjualnya ke pihak ketiga dan kita akan kehilangan akses ke data laboratorium mereka sepenuhnya," Briella melanjutkan bisikannya.
Geovani terdiam sejenak, memproses kata-kata Briella sambil menatap matanya yang penuh dengan kilatan dendam yang indah. Ia menyadari bahwa Briella benar-benar telah berubah menjadi sosok predator yang haus akan kekuasaan. Hal ini justru membuat obsesinya pada Briella semakin dalam dan gelap.
"Kau benar-benar tahu cara menyentuh titik terlemahku, bukan hanya secara medis, tapi juga secara mental," Geovani mencengkeram dagu Briella, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.
"Itu karena aku adalah muridmu yang paling pintar, Dokter. Dan sekarang, tunjukkan padaku bahwa kau adalah penguasa sejati dengan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita," rayu Briella lagi, kali ini dengan suara yang lebih mendesak.
Tangan Geovani merayap naik ke punggung Briella, merasakan kelembutan kain sutra dan panas dari kulit mahasiswi itu. Ia merasa tertantang oleh keberanian Briella yang menggunakan tubuh dan statusnya sebagai calon ibu untuk memanipulasi keputusan bisnisnya. Ini adalah permainan kekuasaan yang sangat ia nikmati.
"Baiklah. Aku akan mengubah kontraknya besok pagi. Aku akan mengakuisisi klinik itu dengan harga yang sangat rendah, membuat mereka merasa dihina dua kali lipat," ujar Geovani akhirnya dengan nada yang sangat dingin.
Briella tersenyum penuh kemenangan, ia merangkul leher Geovani dan memberikan ciuman yang lebih dalam sebagai tanda terima kasih. Di meja operasi bisnis ini, ia baru saja memenangkan satu putaran penting. Ia merasa kekuatannya tumbuh pesat, dan Geovani adalah sumber kekuatan yang paling mematikan bagi musuh-musuhnya.
"Terima kasih, Mas Geovani. Aku tahu kau tidak akan membiarkan kesempatan ini hilang begitu saja," ucap Briella dengan nada yang berubah menjadi sangat manis.
"Jangan berpikir ini gratis, Briella. Setiap keputusan yang kubuat atas permintaanmu memiliki harga yang harus kau bayar di kamar ini," Geovani mengangkat tubuh Briella dengan mudah dari atas meja.
Briella tertawa kecil, suara tawa yang mengandung kepuasan yang brutal. "Aku selalu membayar utangku, Dokter. Apalagi jika bayarannya melibatkan rasa sakit yang sangat aku rindukan darimu."
Geovani membawa Briella menuju sofa panjang di sudut ruangan, mengabaikan tumpukan pekerjaan yang tadi ia anggap sangat penting. Bagi Geovani, melihat Briella yang manipulatif dan penuh godaan adalah hiburan yang jauh lebih berharga daripada angka-angka di bursa efek. Ia merasa terobsesi dengan transformasi Briella yang sangat cepat ini.
Di bawah temaram lampu ruang kerja, Briella terus memainkan perannya dengan sangat sempurna. Ia merayu, menekan, dan memberikan kenikmatan secara bergantian, memastikan bahwa Geovani tetap berada di bawah kendalinya. Ia menyadari bahwa untuk menghancurkan keluarga Adijaya, ia harus memegang kendali atas sang penghancur itu sendiri.
"Kau adalah monster yang sangat cantik, Briella. Aku tidak menyangka benihku akan menciptakan ambisi yang seluas ini di dalam dirimu," bisik Geovani di tengah pergulatan emosi mereka.
"Aku belajar dari yang terbaik. Dan aku akan memastikan bahwa tidak ada satu pun orang di Upper-Chrome yang bisa menghentikan apa yang telah kita mulai malam ini," sahut Briella dengan napas tersengal.
Malam itu, di meja operasi kekuasaan mereka, satu lagi paku ditancapkan pada peti mati keluarga Adijaya. Briella telah berhasil menggunakan godaan dan statusnya untuk mengubah arah bisnis Geovani. Ia bukan lagi sekadar alat, ia mulai menjadi otak di balik beberapa gerakan catur yang paling mematikan.
Saat fajar mulai menyingsing, Geovani kembali ke meja kerjanya untuk menandatangani dokumen akuisisi klinik tersebut. Briella berdiri di sampingnya, mengenakan jubahnya kembali dengan rapi, menatap tanda tangan itu dengan mata yang berkilat penuh kemenangan. Serangan selanjutnya sudah di depan mata, dan ia sudah tidak sabar untuk mengeksekusinya.
"Sekarang, bersiaplah untuk pesta amal minggu depan. Aku ingin kau tampil sebagai pemenang di hadapan ayah Prilly," perintah Geovani sambil menutup map dokumen tersebut.
"Aku akan tampil dengan cara yang tidak akan pernah mereka lupakan, Dokter. Mereka akan melihat bagaimana seorang 'darah kotor' mengambil alih takhta mereka," jawab Briella dengan penuh keyakinan.
Geovani menatap kepergian Briella dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menyadari bahwa ia telah menciptakan sekutu yang mungkin suatu saat akan sangat sulit ia kendalikan. Namun untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati setiap detik dari drama kehancuran yang sedang mereka susun bersama.