NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Tingkah Maksimal

Di dalam ruangan yang remang-remang dan harum aromaterapi itu, jari-jemari mungil Gisel mulai bergerak pelan. Matanya yang terpejam rapat mulai mengerjap-ngerjap kecil, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang temaram.

​"Nggghhh..."

​Gisel melenguh pelan. Ia merasakan kepalanya sedikit pening, dan seluruh tubuhnya terasa sangat rileks efek dari kasur king size super empuk yang sedang ia tiduri.

​Perlahan tapi pasti, ingatan terakhirnya mulai berputar kembali di dalam otak layaknya sebuah film dokumenter:

​Adrian menariknya di depan pintu mobil...

​Wajah Adrian yang sangat dekat...

​Dan... kecupan singkat yang mendarat tepat di bibirnya!

​Deg!

​Mata Gisel langsung membelalak sempurna seolah baru saja disengat aliran listrik tegangan tinggi. Ia refleks langsung terduduk tegak di atas ranjang.

​Gisel memegang bibirnya sendiri dengan kedua tangan, matanya melotot panik "Astaga naga bonar!!! Tadi itu beneran?! Gue beneran dicium sama Bos Kulkas?! Di depan umum?! Dan gue langsung pingsan?!"

​Gisel meraba bibirnya dengan panik. Mengapa bibirnya terasa sedikit kebas dan agak hangat? Apakah setelah ia pingsan tadi terjadi "perang dunia ketiga" yang tidak ia ketahui?

​Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Gisel terperangah menyadari bahwa ia tidak lagi berada di gudang logistik yang berdebu, melainkan di sebuah kamar tidur super mewah bernuansa abu-abu dan hitam yang sangat maskulin. Wangi parfum mahal Adrian sangat pekat tercium di sini.

​Gisel berdiam diri dengan wajah yang kembali merah padam semerah buah naga "Tunggu... ini kamar siapa?! Jangan-jangan gue diculik ke rumahnya Pak Adrian lagi?!"

Dengan jantung yang masih berdegup kencang ugal-ugalan, Gisel bergerak sangat perlahan untuk turun dari ranjang king size yang luar biasa empuk itu. Kakinya yang masih sedikit lemas mencoba menapak di atas lantai marmer dingin yang dilapisi karpet bulu tebal.

​Ia menelan ludah dengan susah payah. Sambil terus memegang bibirnya yang masih terasa sedikit kebas, ia melangkah berjinjit seperti maling amatir menuju satu-satunya pintu kayu tebal yang ada di ruangan itu.

Gisel memegang gagang pintu besi yang dingin dengan tangan yang sedikit gemetar. Sangat perlahan, ia menarik gagang tersebut hingga pintu terbuka beberapa milimeter saja membentuk sebuah celah kecil yang cukup untuk satu matanya mengintip ke luar.

​Cklek...

​Gisel menahan napasnya rapat-rapat saat matanya mulai memindai ruangan di balik pintu tersebut.

​Dan di sanalah pria itu berada.

​Bukan di sebuah rumah mewah asing, melainkan di balik meja kerja raksasanya di lantai 40 gedung Bramantyo Grup. Adrian sedang duduk dengan sangat tenang. Kemeja putihnya yang tadi lengannya digulung kini sudah dirapikan kembali, namun jasnya masih tersampir di sandaran kursi.

​Yang paling membuat pertahanan Gisel runtuh seketika adalah Adrian sedang memakai kacamata baca berbingkai tipis.

​Cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari kaca jendela besar di belakangnya menerangi garis rahang tegas dan hidung mancung sang CEO. Adrian terlihat sangat fokus, matanya bergerak lincah membaca dokumen di tangannya dengan kening yang sedikit berkerut serius.

​Tingkat ketampanan Sang Kulkas mendadak melonjak naik 200% di mata Gisel!

​Gisel membatin dengan histeris, wajahnya memanas lagi "Aduuuh... mami!!! Kenapa itu Kulkas kalau lagi serius pake kacamata malah gantengnya kelewatan sih?! Bikin pusing kepala barbie aja!"

Gisel terlalu asyik mengagumi pemandangan indah di depannya sampai ia lupa bahwa indra pendengaran dan insting seorang Adrian Bramantyo itu setajam elang.

​Tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas dokumen, Adrian tiba-tiba bersuara. Suara baritonnya yang berat dan tenang memecah keheningan ruangan yang luas itu.

​"Sela... jika kamu sudah selesai mengagumi ketampanan saya dari balik celah pintu, sebaiknya kamu keluar. Masih ada sisa pekerjaan yang harus kamu bantu." kata Adrian tenang.

​Deg!

​Gisel mematung sempurna. Matanya melotot horor. Bagaimana bisa pria itu tahu kalau dia sedang diintip, padahal Adrian sama sekali tidak menoleh ke arah pintu?!

​Karena panik dan refleks terkejut, tangan Gisel yang memegang daun pintu tiba-tiba kehilangan kendali.

​BRAK!

​Gisel terjungkal ke depan karena pintu terbuka lebar secara paksa, dan ia pun kembali mendarat di lantai dengan posisi yang sangat tidak estetik untuk kesekian kalinya hari ini.

Suara benturan pintu dan tubuh Gisel yang mendarat di lantai marmer langsung menggema di seluruh penjuru ruangan CEO yang sunyi itu.

​Gisel meringis sambil memegangi dahinya. Ia benar-benar mengutuk kesialannya hari ini.

Kenapa di depan Adrian dia selalu saja berakhir dengan pose-pose yang sangat tidak estetik?!

​Sementara itu, di balik meja kerjanya, Adrian meletakkan dokumen yang dipegangnya dengan perlahan. Ia melepas kacamata bacanya, lalu bangkit dari kursi kebesarannya. Dengan langkah kaki yang santai namun berwibawa, sang CEO Kulkas berjalan menghampiri Gisel.

Adrian berdiri menjulang tepat di depan Gisel yang masih setengah tiarap di atas lantai marmer. Ia melipat tangannya di dada, menundukkan kepala untuk menatap Gisel dengan binar mata yang memancarkan rasa geli yang teramat sangat.

​Adrian menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan "Sepertinya hobi barumu sekarang adalah tiarap di depan saya ya, Sela? Di gudang tiarap, di depan ruangan saya pun tiarap."

​Mendengar ledekan halus bernada tenang itu, jiwa "Macan Gudang" Gisel yang sempat ciut mendadak bangkit kembali karena dipicu rasa gengsi yang luar biasa.

​Gisel langsung buru-buru bangkit berdiri. Ia merapikan kemeja dan rok kerjanya yang sedikit berantakan dengan gerakan yang sangat grogi namun mencoba terlihat galak.

​Gisel berkacak pinggang dengan wajah merah padam, mencoba meledak tapi suaranya agak bergetar "P-Pak Adrian! Nggak usah ngeledek ya! Saya itu tadi... tadi refleks kaget karena Bapak tiba-tiba ngomong padahal mata Bapak lagi ngeliatin kertas! Bapak punya mata di punggung ya?!"

​Adrian terkekeh pelan. Ia melangkah maju satu langkah, otomatis memangkas jarak di antara mereka dan membuat Gisel refleks mundur hingga punggungnya menempel pada daun pintu kayu ek di belakangnya.

​Adrian menatap lekat-lekat bibir Gisel yang masih sedikit bengkak kemerahan, lalu berbisik lembut "Saya tidak punya mata di punggung. Tapi seluruh fokus dan perhatian saya... selalu tertuju padamu sejak kita masuk ke dalam mobil di gudang tadi."

​Deg.

​Gisel langsung bungkam seribu bahasa. Pipinya kembali memanas. Kalimat Adrian barusan beneran bikin jantungnya berdebar ugal-ugalan! Ia teringat kembali dengan kejadian di depan pintu mobil tadi.

​Gisel mata melotot panik, mengalihkan pembicaraan dengan gugup.

"E-eh... Pak! Udah ah! Jangan deket-deket! T-tadi di mobil... Bapak beneran... itu... anu... c-ciuman sama saya?!"

​Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru tersenyum tipis, lalu menundukkan kepalanya sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Gisel yang sedang panik menggemaskan.

Gisel menahan napasnya. Jarak di antara mereka kini benar-benar tidak aman untuk kesehatan jantungnya. Ia bisa mencium dengan sangat jelas aroma maskulin yang khas dari tubuh Adrian. Punggungnya yang menempel di daun pintu membuat Gisel terkunci sempurna, tidak bisa mundur lagi.

​Adrian menatap lekat-lekat mata Gisel yang bergerak panik. Senyum tipis yang mematikan itu masih terpatri di bibirnya. Sang CEO Kulkas ini benar-benar tahu bagaimana cara memanfaatkan kepanikan sekretarisnya.

Adrian semakin menundukkan kepalanya, hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Gisel. Ia berbisik dengan suara bariton yang sangat rendah dan serak, sanggup membuat bulu kuduk Gisel meremang indah.

​"Kenapa bertanya seperti itu, Gisel? Apa kamu mau mengulanginya lagi sekarang... untuk memastikan itu nyata atau hanya mimpi?" kata Adrian dengan suara yang sangat lembut.

​DEG!

​Pertanyaan itu laksana ledakan dinamit di kepala Gisel. Otaknya langsung mengalami error sistem jilid dua. Wajahnya yang tadi sudah semerah kepiting rebus, kini seolah-olah siap mengeluarkan asap saking panasnya!

​Gisel membatin dengan histeris dan panik. "Aaaaaakkkhhh!!! Ini Kulkas beneran udah rusak total mesinnya! Kenapa dia jadi pinter banget ngegombal begini sih?! Mami, tolong Gisel!!!"

​Gisel tahu, kalau ia terus berdiam diri di sana sambil menatap mata elang Adrian, ia pasti akan meleleh menjadi bubur dan menyerah pada pesona sang bos. Jiwa "Macan Gudang"-nya berteriak untuk segera melakukan evakuasi darurat.

Dengan sisa-sisa tenaga dan keberanian yang ia punya, Gisel menggunakan kedua telapak tangannya untuk mendorong dada bidang Adrian dengan sekali sentakan.

​Dorongan mendadak itu membuat tubuh jangkung Adrian refleks sedikit terhuyung mundur. Dan di detik yang sangat sempit itu, Gisel melihat sebuah celah.

​Tanpa pikir panjang lagi, dengan kelincahan yang luar biasa seperti kucing yang dikejar anjing, Gisel membungkukkan badannya dan menyelinap lincah tepat di bawah ketiak serta lengan Adrian yang sedang bertumpu di pintu.

​"TIDAK MAU YA, BAPAK MODUUUSSS!!!" kata Gisel.

​Gisel berhasil lolos! Ia langsung berlari kencang membelah ruangan kerja Adrian yang luas menuju pintu keluar utama lobi lantai 40, mengabaikan rasa pening di kepalanya yang sebenarnya belum hilang sepenuhnya.

​Adrian yang tertinggal di depan pintu ruang istirahat refleks berbalik badan. Ia terpaku menatap punggung Gisel yang sedang berlari terbirit-birit kabur darinya.

​Bukannya marah karena didorong dan dikatai "modus", tawa renyah dan lepas kembali menggelegar dari bibir Adrian. Ia benar-benar dibuat sangat bahagia oleh tingkah laku sekretaris dadakannya itu.

Gisel terus berlari sekuat tenaga membelah lobi lantai 40. Beberapa staf yang sedang asyik mengetik sampai mendongak kaget melihat sang sekretaris dadakan berlari kencang dengan wajah semerah buah naga matang.

​Begitu melihat papan petunjuk toilet wanita, Gisel langsung berbelok tajam dan menerobos masuk ke dalam.

Braakk!

​Gisel menutup pintu toilet dengan kencang lalu langsung menguncinya dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya di daun pintu yang dingin, lalu merosot perlahan hingga terduduk di lantai.

​Gisel memegang dadanya yang naik-turun dengan kencang. Napasnya tersengal-sengal, memejamkan mata.

"Aduh... jantung gue! Please, tenang dong! Jangan berisik banget begini, kedengeran sampai luar tahu!" gumam Gisel pelan.

​Setelah beberapa detik mencoba mengatur napas, Gisel bangkit berdiri dan melangkah gontai menuju wastafel. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Rambutnya sedikit acak-acakan, matanya membelalak lebar, dan yang paling parah seluruh wajahnya dari kening sampai leher berwarna merah padam sempurna.

​Dan saat matanya turun menatap bibirnya sendiri yang masih terasa sedikit berdenyut hangat, ingatan tentang bisikan Adrian di dekat telinganya tadi kembali terngiang otomatis.

​"...mengulanginya lagi sekarang?"

​Gisel membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang dingin, merintih malu.

"Aaaaaakkkhhh!!! Mami... tolongin Gisel! Itu beneran Pak Adrian kan ya?! Kenapa dia jadi pinter banget bikin serangan jantung begini sih?! Mana kuat gue kalau tiap hari diginiin!"

​Gisel langsung menyalakan keran air dengan kecepatan penuh. Ia meraup air dingin itu dan membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba mendinginkan suhu tubuh dan otaknya yang sudah mengalami overheat akibat pesona maut sang CEO Kulkas.

Gisel benar-benar merasa belum siap keluar dari area toilet ini. Merasa membasuh muka saja belum cukup untuk mendinginkan kepalanya, ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu bilik WC dan mengunci pintunya rapat-rapat.

​Ia mendudukkan dirinya di atas penutup toilet yang tertutup, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding bilik yang dingin.

Gisel memejamkan matanya erat-erat, lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Ia mengulangi hal itu berkali-kali, mencoba memaksa detak jantungnya yang masih berdebar ugal-ugalan untuk kembali ke ritme yang normal.

​Gisel membatin dengan frustrasi yang teramat sangat "Tarik napas, Gisel... buang. Tarik napas... buang. Oke, lo harus tenang! Lo nggak boleh keliatan lemah di depan si Kulkas Rusak itu!"

​Namun, setiap kali Gisel mencoba menenangkan diri, bayangan Adrian yang memakai kacamata baca, senyuman tipisnya yang mematikan, hingga bisikan seraknya di dekat telinga tadi justru kembali berputar otomatis di kepalanya layaknya kaset rusak.

​Gisel meremas ujung kemejanya dengan gemas dan berdiam diri, merutuki dirinya sendiri.

"Aduh... kenapa juga gue pake acara terpesona segala sih?! Dia itu bos lo, Gisel! Bos yang nyebelin, dingin, dan otoriter! Tapi... tapi kenapa kalau dia lagi mode senyum tipis begitu tingkat gantengnya langsung ilegal banget?! Jantung gue beneran meronta-ronta kayak mau loncat keluar dari dada"

​Gisel benar-benar merasa belum sanggup dan belum mampu jika harus berhadapan muka lagi dengan Adrian dalam waktu dekat. Ia butuh waktu ekstra untuk membangun kembali benteng pertahanannya yang sudah luluh lantak hanya karena satu bisikan maut sang CEO.

Gisel yang sedang memeluk lututnya di atas penutup toilet langsung mematung sempurna. Ia menahan napasnya rapat-rapat ketika mendengar suara pintu utama toilet wanita terbuka, disusul oleh derap langkah sepatu hak tinggi dan suara obrolan yang sangat familier di telinganya suara gosip.

​Dua orang karyawan wanita dari divisi lain masuk sambil mencuci tangan di wastafel, tepat di depan bilik WC tempat Gisel bersembunyi.

​Karyawan A: "Eh, lo udah liat update-an terbaru di grup Telegram 'Pasukan Pengawal' dari si Budi belum?! Sumpah, gue beneran nggak nyangka!"

​Karyawan B: Terdengar sangat antusias sambil membenahi riasan "Udah dong! Gila ya, si Gisel itu beneran pake pelet apa sih?! Kemarin malem digendong Pak Adrian waktu pingsan di lobi, eh siang ini digendong lagi bridal style lewatin lobi utama! Mana baju mereka berdua sama-sama kotor kena noda oli lagi. Habis ngapain coba mereka berdua di gudang?!"

​Mendengar namanya disebut-sebut, jantung Gisel kembali berdegup kencang, tapi kali ini karena rasa malu yang luar biasa. Ia membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

​Karyawan A: "Nah, itu dia! Si Budi kan intelijennya kuat banget tuh. Dia bikin laporan eksklusif kalau tadi di ruang admin gudang yang sempit itu, mereka berdua kejebak berduaan. Terus pas pintu dibuka, si Gisel mukanya merah padam dan Pak Adrian senyum-senyum misterius. Budi berani jamin kalau di dalem tadi mereka berdua abis cipokan maut tingkat dewa!"

​Karyawan B: "Hah?! Beneran lo?! Wah, pantesan pas balik ke kantor tadi si Gisel digendong lagi dalam keadaan pingsan! Pasti pingsan karena lemes abis 'diserang' sama bibir dinginnya Pak Adrian yang mematikan itu! Beruntung banget ya jadi Gisel, dapet ciuman pertama dari CEO Kulkas dambaan seantero kantor!"

​DEG!

​Gisel yang mendengar kesimpulan super sesat bin ajaib dari kedua karyawan itu beneran serasa ingin menghilang saja dari muka bumi saat ini juga.

Ternyata laporan investigasi Budi di grup Telegram semalam dan siang ini benar-benar sukses membuat seisi kantor percaya kalau dia pingsan karena kehabisan napas akibat berciuman dengan sang bos besar.

Kedua karyawan wanita itu terus terkikik geli sambil merapikan lipstik mereka sebelum akhirnya suara langkah kaki mereka terdengar menjauh dan pintu toilet kembali tertutup rapat.

​Suasana toilet kembali sunyi senyap.

​Gisel masih terduduk kaku di atas toilet. Wajahnya yang tadi sudah mulai mendingin, kini kembali meledak semerah buah naga matang bahkan menjalar sampai ke telinga dan lehernya. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dengan perasaan frustrasi yang tak terkira.

​Gisel mengerang frustrasi tanpa suara "BUDIIIII!!! Lo beneran mau gue gantung di tiang bendera kantor besok pagi ya?! Gosip macam apa itu?! Masa gue pingsan dibilang karena serangan cipokan maut sih?! Ya ampun... harga diri gue sebagai Macan Gudang beneran udah terjun bebas ke dasar jurang!"

to be continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!