NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: MAYA YANG MULAI BERUBAH

Ardi tidak ingat kapan dia tertidur.

Yang dia ingat: ruang keluarga gelap, sofa terlalu pendek, dingin merayap dari lantai marmer. Pukul setengah enam pagi, ponselnya bergetar.

Bram: Ardi, rapat jam 8. Jangan telat.

Dia duduk, leher kaku. Selimut tipis menutupi tubuhnya—mungkin Maya yang membawikan. Di dapur, air mengalir dan bau kopi mulai tercium. Ardi berdiri, melipat selimut. Wajahnya di cermin lorong pucat, mata sembab.

“Selamat pagi, Mas Ardi. Kopi?” Yuni tidak menoleh.

“Hitam.”

“Mbak Maya belum turun.”

Ardi menatap langit-langit. “Nggak tahu.”

Kopi panas membakar lidah. Ponsel bergetar.

Maya: Rapat jam 8, kan? Kamu harus mandi. Wajahmu kelihatan seperti orang habis menangis.

Ardi: Aku baik-baik saja.

Maya: Kamu pembohong.

Dia tidak membalas. Kopi habis, dia naik. Di lorong, pintu kamar Maya tertutup. Dia ingin mengetuk, duduk di sampingnya, bilang semuanya terasa berat. Tapi tangannya tidak bergerak.

Air dingin membasahi wajahnya. Di cermin, bayangannya asing. Dia berpakaian rapi—kemeja putih, dasi biru tua, jas hitam. Wajah CEO. Tapi matanya tidak bisa berbohong.

Ketika turun, Maya berdiri di ambang pintu dapur. Rambut basah, wajah tanpa riasan, daster lusuh. Matanya waspada.

“Kamu pergi?”

“Rapat.”

“Sarapan dulu.”

“Nggak lapar.”

Maya mendekat, menyentuh kemejanya, merapikan kerah. “Mata kamu merah.”

Ardi menangkap tangannya. “Aku nggak apa-apa.”

“Kamu pembohong.” Suaranya pelan, tapi bukan marah. Lebih seperti kelelahan.

Dia ingin mengatakan semuanya. Tapi yang keluar hanya, “Aku janji akan bicara sama Bram. Tentang perusahaan.”

Maya melepaskan tangannya. “Pulang cepat.”

---

Perjalanan ke kantor terasa lebih panjang.

Setiap lampu merah, Ardi menatap ponsel. Maya tidak mengirim pesan. Sari juga tidak. Hanya Bram yang sudah mengirim pengingat rapat.

Ponsel bergetar. Maya: Hati-hati di jalan.

Iya.

Di kantor, lift membawanya ke lantai 20. Asisten Bram berdiri di depan ruang rapat dengan wajah tegang. “Pak Bram menunggu.”

Bram duduk di ujung meja panjang, sendirian. Laptop terbuka, dokumen berserakan. Matanya pada layar, jari mengetik pelan.

“Tutup pintunya.”

Ardi menutup pintu.

Bram mengangkat wajah. Mata tajam, waspada. “Duduk.”

Ardi duduk di seberang.

Bram mendorong kertas ke hadapannya. “Laporan penjualan kuartal ini. Angkanya turun lagi.”

Penjualan turun delapan persen. Proyek investor asing molor tiga minggu. “Aku akan perbaiki.”

“Kau bilang itu bulan lalu. Dua bulan lalu.” Bram mencondongkan tubuh. “Ada yang mengganggumu, Ardi. Aku perlu tahu.”

“Tidak ada.”

“Kau berbohong.” Suaranya datar, bukan tuduhan, hanya fakta. “Aku dengar dari Sari. Dia cerita kalian sering bertengkar. Dia bilang kau berubah, jadi dingin. Ada apa?”

Ardi mengepalkan tangan di bawah meja. “Aku hanya lelah. Banyak tekanan.”

Bram menatapnya lama. “Urus perusahaan. Selesaikan masalah pribadimu. Jangan sampai mengganggu pekerjaan.”

“Baik.”

“Rapat selesai.”

Ardi berdiri, berjalan ke pintu. Di ambang, dia berhenti.

“Ayah.”

“Ya?”

“Aku akan perbaiki.”

---

Di ruang kerjanya, Ardi menatap tumpukan dokumen. Ponsel bergetar. Sari.

Ardi, aku masih mikirin kita. Tapi aku nggak mau maksa. Kamu tenang dulu.

Dia membaca, lalu meletakkan ponsel. Tidak membalas.

Jam satu siang, Maya menelepon.

“Ardi. Bram telepon. Dia minta kita makan malam bersama. Di luar.”

“Kapan?”

“Nanti malam. Jam tujuh. Di restoran langganannya.”

Ada yang ganjal di dadanya. “Dia bilang kenapa?”

“Tidak. Hanya bilang ingin makan malam bertiga.” Suaranya bergetar. “Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku tidak tahu. Tapi ada yang berbeda dari suaranya.”

“Kita akan hadapi.”

Dia mendengar Maya menarik napas panjang. Kemudian sambungan terputus. Tidak ada aku sayang kamu. Tidak ada janji. Hanya diam yang menggantung.

---

Ardi tiba di rumah pukul setengah enam.

Maya sudah berdandan. Blus putih, rok panjang abu-abu, rambut disanggul rapi. Wajah pucat, tapi senyum sudah tersusun.

“Kamu cepat.”

“Aku tidak bisa konsentrasi kerja.”

Maya mendekat, merapikan dasinya. “Kamu gugup?”

“Kamu tidak?”

Dia tidak menjawab. Hanya menatap Ardi dengan mata basah, lalu menunduk.

“Aku tidak bisa kehilangan kamu.”

“Kamu tidak akan.”

Di luar, bunyi klakson. Bram sudah datang.

---

Restoran di Menteng itu tempat biasa Bram makan malam bersama klien. Meja pojok, tertutup tirai. Ketika Ardi dan Maya masuk, Bram sudah duduk, segelas wine di tangan.

“Duduk.” Suaranya datar.

Ardi duduk di sebelah kiri Bram. Maya di seberang. Jarak yang cukup, tapi tidak cukup untuk membuat nyaman.

Bram memesan makanan tanpa bertanya. Setelah pelayan pergi, dia menatap Ardi.

“Aku sudah bicara dengan Sari. Dia cerita kalian sering bertengkar. Dia bilang kau berubah, jadi dingin. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi selesaikan.”

Maya menunduk, jari memilin ujung rok.

“Aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga orang lain,” lanjut Bram. “Tapi jangan biarkan masalah pribadi mengganggu perusahaan. Aku tidak bisa melindungimu selamanya.”

Ardi tidak menjawab.

Bram menyesap winenya, lalu menuang untuk Maya. Maya tersenyum—senyum yang dulu hanya untuknya. Ardi melihat tangan Bram yang tegap memegang botol wine, melihat Maya yang mengangguk sopan. Dadanya terasa sesak. Bukan takut ketahuan. Tapi melihat mereka duduk berdua, seperti pasangan sungguhan, membuatnya ingin menarik Maya dari kursi itu dan membawanya pergi.

Dia mengepalkan tangan di bawah meja, menahan diri.

Bram beralih ke Maya. “Kau diam saja. Tidak bilang apa-apa tentang Ardi?”

Maya mengangkat wajah. Matanya tenang—terlalu tenang. “Aku hanya ingin keluarga ini damai.”

“Damai?” Bram tersenyum pahit. “Keluarga ini tidak pernah damai sejak awal.”

Makanan datang. Mereka makan dalam sunyi. Ardi tidak bisa menelan, hanya memindahkan nasi. Maya juga diam.

Setelah selesai, Bram berdiri. “Aku pulang duluan. Kau antar Maya.”

Di luar restoran, Bram melangkah ke mobilnya, lalu berhenti. Dia menoleh.

“Ardi. Kadang aku bertanya-tanya, apakah kesalahan terbesar aku adalah terlalu sibuk bekerja. Atau—” dia menatap Maya sebentar, “—atau menikah lagi.”

Pintu tertutup. Mobil menghilang.

---

Di mobil Ardi, mereka duduk dalam diam.

Maya menatap ke luar jendela. Lampu kota berpendar basah oleh gerimis. Ardi menyalakan mesin, melaju pelan.

“Dia tahu ada yang salah. Tapi dia belum tahu apa.”

Ardi tidak menjawab.

“Aku takut. Suatu hari dia akan tahu. Kita akan kehilangan segalanya.”

Ardi menepi, mematikan mesin. Di bawah lampu jalan, wajah Maya rapuh. Tangannya gemetar.

“Maya. Lihat aku.”

Perlahan dia menoleh. Mata basah, tapi air mata tidak jatuh.

“Aku tidak akan biarkan dia menyakitimu.”

Maya tersenyum pahit. “Kau tidak bisa melindungi aku dari ayahmu sendiri.”

“Aku bisa.”

“Kau sama seperti dia. Ingin memiliki, tapi takut bertanggung jawab.”

Ardi terdiam.

“Kau bilang kau sudah memilih. Tapi kau masih belum bilang ke Sari siapa aku. Kau masih belum bilang ke Bram. Kau hanya menyembunyikan. Takut konsekuensinya.”

“Aku tidak takut.”

“Kau takut.” Maya menatap matanya. “Kau takut kehilangan perusahaan. Kau takut Bram marah. Kau takut Sari membenci kita. Kau takut semua orang tahu.”

Ardi tidak bisa menjawab.

“Aku juga takut. Tapi setidaknya aku tidak berbohong pada diriku sendiri.”

Dia membuka pintu, keluar. Hujan gerimis membasahi rambutnya, blus putihnya mulai basah.

Ardi turun. “Maya—”

“Jangan.” Dia mengangkat tangan. “Aku butuh sendiri. Antar aku pulang.”

---

Di rumah, Maya naik ke lantai dua tanpa menoleh.

Ardi berdiri di ruang keluarga, mendengar langkah kakinya menjauh. Dia duduk di sofa, menatap kosong ke dinding.

Ponsel bergetar. Sari.

Ardi, aku masih sayang kamu. Tapi aku nggak akan maksa. Jaga diri.

Dia membaca, lalu mematikan layar.

Pesan lain. Dari Maya.

Aku tidak akan pergi. Tapi aku tidak akan menunggu selamanya.

Ardi menatap layar, jari di atas kolom balasan. Tidak membalas.

Di luar, hujan mulai turun lebih deras.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!