Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Waktu bergulir menyusuri kalender 2002 dengan ritme yang monoton bagi Sandi. Hari berganti minggu, dan minggu melebur menjadi bulan. Rutinitasnya sebagai siswa kelas 2 SMP Pejuang Bangsa menyita seluruh fokusnya; mulai dari tugas matematika Pak Gunawan yang memusingkan hingga latihan silat sore hari yang menguras fisik. Di tengah hiruk-pikuk itu, secarik kertas lecek di dalam dompetnya perlahan mulai terlupakan, tertimbun oleh tumpukan kuitansi pembayaran sekolah dan kartu perpustakaan yang kusam.
Menjelang akhir pekan, tepat setelah badai Ujian Akhir Semester (UAS) semester genap mereda, Sandi dan komplotan kecilnya memutuskan untuk melakukan ritual "buang sial". Pantai Ancol menjadi pelarian paling logis bagi remaja Jakarta Timur untuk melepas penat. Dengan tawa yang membahana dan candaan khas anak SMP yang terkadang garing, mereka menikmati embusan angin laut yang membawa aroma garam dan kebebasan.
Satu per satu rekan sekelasnya mulai berpamitan saat matahari mulai condong ke ufuk barat, menyisakan empat orang yang memang dikenal sebagai inti dari kelas mereka. Ada Sandi, sang pelindung yang tangguh; Andra yang humoris; Vino yang terkadang emosional; dan Anggita, gadis tomboi yang tetap terlihat manis meski sering kali bersikap lebih garang dari teman laki-lakinya.
Mereka melangkah di atas jembatan kayu yang membentang di pinggir pantai, tempat di mana deburan ombak terdengar lebih ritmis. "Eh, kita foto-foto di sini yuk, mumpung mataharinya lagi cantik-cantiknya mau tenggelam," seru Anggita sambil mengeluarkan kamera saku dari tasnya.
Andra nyengir kuda, "Boleh, Nggi! Pas banget nih, tinggal 'Kelompok Sableng' yang tersisa. Golden hour begini harus diabadikan."
Vino langsung menyambar dengan nada sewot yang dibuat-buat, "Alah, berak lu! Itu kata 'sableng' kan cuma sebutan dari Pak Gunawan doang gara-gara kita sering protes soal rumus. Bisa-bisanya lo bangga ngecap kita kelompok sableng."
Sandi dan Anggita tertawa renyah mendengar gerutu Vino. Sandi menimpali sambil bersandar di pagar jembatan, "Walaupun dicap sableng, nggak ada yang bisa geser posisi kita di peringkat kelas sejak kelas satu, kan? Anggita ranking satu, gue kedua, lo ketiga, dan Andra keempat. Pak Gunawan itu cuma iri karena murid pintarnya pada bandel."
"Ho'oh, emang rada-rada tuh guru matematika kita," sahut Anggita setuju.
"Udah ah, nggak usah bahas nilai dulu. Kita lagi liburan nih! Ayo kita foto," ajak Andra.
Vino melihat kamera di tangan Anggita dengan bingung, "Lah, terus siapa yang motoin? Masak gantian doang? Nggak seru kalau nggak ada foto berempat sekaligus."
Anggita mengedarkan pandangannya ke sekitar jembatan yang mulai ramai oleh pasangan-pasangan yang mencari suasana romantis. Matanya tertuju pada sepasang remaja yang berdiri tak jauh dari mereka. "San! Minta tolong sama cowok yang di sana tuh. Kayaknya dia lagi asyik berduaan sama ceweknya, pasti mood-nya lagi bagus buat dimintain tolong."
Sandi menoleh ke arah yang ditunjuk Anggita. Ia melihat punggung seorang remaja laki-laki yang sedang berdiri menghalangi sosok perempuan di hadapannya, seolah sedang menutupi si gadis dari terpaan angin laut yang cukup kencang. "Yaudah, mana kamera lo. Gue coba ngomong baik-baik sama abangnya."
Sandi berjalan menghampiri pasangan itu dengan langkah santai. "Permisi, Bang... maaf mengganggu sebentar. Boleh minta tolong fotoin saya sama temen-temen di sana nggak?"
Remaja laki-laki itu menoleh dengan senyum ramah yang sopan. Namun, saat si cowok bergeser, sosok gadis yang tadi terhalangi ikut menoleh. Mata gadis itu membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut yang luar biasa.
"Sansan?!" pekik cewek itu, suaranya melengking tinggi mengalahkan suara ombak.
Sandi tertegun di tempat. Dunia seolah mengecil secara mendadak. "Eh... Saskia? Gue kira siapa tadi, Sas."
Saskia tidak memedulikan tatapan bingung orang-orang di sekitarnya. Ia melangkah maju dengan wajah yang langsung berubah cemberut—wajah 'oneng'-nya yang sangat familiar bagi Sandi. "Iiiihhh, kamu tuh ya! Katanya mau telepon aku lewat wartel atau telepon koin! Sampai sekarang, berbulan-bulan, nggak ada satu pun telepon masuk dari kamu. Sansan jahat! Jahat banget!"
Saskia mulai melancarkan serangan "cubitan maut" ke lengan Sandi dengan gerakan cepat yang membuat Sandi kelabakan. Sandi mencoba menghalau tangan mungil itu sambil meringis, "Aduh, sori, sori, Sas! Gue beneran lupa... eh, nggak lupa sih, cuma ya itu... gue sibuk banget UAS, banyak tugas dari sekolah yang musti dikejar."
Saskia membuang muka, melipat tangannya di dada dengan ekspresi yang sangat dramatis. "Au'ah! Pokoknya aku benci sama Sansan. Kamu nggak nepatin janji!"
Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak enak hati. Ia kemudian menoleh ke arah remaja laki-laki yang sejak tadi berdiri diam menyaksikan keributan kecil itu. Cowok itu terlihat rapi, dengan gaya yang menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan yang setara dengan Saskia. "Maaf, situ pacarnya Saskia ya?" tanya Sandi ragu.
Remaja itu tersenyum tenang, tatapannya dewasa. Ia mengangguk pelan, "Iya, gue pacarnya Saskia."
Sandi memaksakan senyum ramah dan mengulurkan tangannya. "Gue Sandi, temen lama saskia waktu SD dulu. Maaf ya, pacar lo emang suka heboh begini kalau ketemu temen lama."
Cowok itu menjabat tangan Sandi dengan mantap. "Gue Nanda. Salam kenal, San."
"Ngg... Sas, sori ya gue pinjem pacar lo bentar... eh maksudnya, nanda, boleh nggak gue minta tolong buat fotoin gue sama temen-temen gue di sana?"
Nanda mengangguk maklum. "Boleh, nggak masalah. Sas, gue tinggal bentar ya, mau bantuin temen lo dulu."
Saskia hanya mendengus, matanya masih menatap ke arah laut lepas dengan bibir mengerucut, benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang dalam mode "merajuk level maksimal". Sandi pun kembali ke kelompoknya membawa Nanda. Selama beberapa menit, Nanda membantu mengambilkan berbagai pose untuk Kelompok Sableng tersebut dengan latar belakang matahari tenggelam yang memukau.
"Bro, makasih banyak ya udah mau bantuin. Sori nih jadi ganggu waktu pacaran kalian," ujar Sandi tulus setelah menerima kembali kameranya.
Nanda mengangguk santai. "Santai aja, San. Kalau gitu gue balik ke—"
Kalimat Nanda terhenti seketika. Matanya menyisir tempat di mana Saskia tadi berdiri merajuk. Sandi pun ikut menoleh. Hasilnya nihil. Tempat itu sudah kosong. Saskia menghilang di tengah keramaian pengunjung Ancol yang semakin padat saat senja.
"Lah... kemana si Saskia?" Nanda mulai terlihat panik.
Jantung Sandi mencelos. Ia sangat mengenal watak gadis itu. "Aduh, si 'oneng'! Bener-bener ya kelakuannya. Nan, buruan cari dia! Dia itu orangnya pelupa parah dan benar-benar buta arah. Kalau dia jalan dikit aja pas lagi badmood, dia bisa lupa tadi arah datangnya dari mana!"
Nanda tampak semakin tegang. "Beneran, San? Tadi dia cuma berdiri di situ!"
"Percaya sama gue, dia kalau panik makin kacau. Ayo, gue bantu cari juga sama temen-temen gue!" seru Sandi. "Nggi, Ndra, Vin! Bantu cari Saskia, temen SD gue yang tadi. Dia ilang di kerumunan!"
Tanpa menunggu komando kedua, mereka semua langsung berpencar, membelah keramaian dermaga dan bibir pantai Ancol yang mulai diselimuti kegelapan malam, sementara suara ombak seolah menertawakan keteledoran mereka sore itu.
Suasana Ancol yang semula ceria berubah menjadi tegang. Deburan ombak yang tadinya terdengar menenangkan kini seolah berubah menjadi suara bising yang memburu waktu. Kelompok "Sableng" terbagi menjadi dua formasi pencarian: Andra dan Vino menyisir area pujasera, Sandi dan Anggita mengambil jalur pasir pantai yang mulai basah oleh pasang laut. Sementara Nanda pacarnya Saskia yang tampak pucat berlari ke arah dermaga utama.
Lampu-lampu taman berwarna kuning temaram mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di atas pasir. Di sela-sela langkah kaki mereka yang terburu-buru, Anggita, dengan sifat kritisnya walaupun tomboi, sisi wanitanya tetap melekat, melirik Sandi yang tampak sangat gelisah.
"San?" panggil Anggita, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di antara riuh pengunjung.
Sandi menoleh singkat, matanya masih sibuk memindai kerumunan orang yang sedang duduk di hamparan tikar. "Ngapa, Nggi?".
Anggita melangkah lebar untuk menyejajarkan posisinya dengan Sandi. "Yang kita cari itu sebenarnya siapanya lo sih? Kayaknya lo kenal luar-dalam banget sama dia. Sampai tahu detail sifatnya yang... unik itu."
Sandi terkekeh kecil, tawa yang terdengar getir sekaligus rindu. "Dia itu teman sekelas gue waktu SD di Bhayangkara. Namanya Saskia, tapi gue sering panggil dia Oneng. Karena ya itu... dia orangnya pelupa parah, gampang panikan, teledor, penakut, manja banget... yah, pokoknya paket lengkap sifat Oneng ada di dia semua deh."
Anggita ikut terkekeh, membayangkan sosok gadis cantik yang tadi dilihatnya merajuk secara dramatis. "Terus gue perhatiin tadi, pas dia lihat lo, dia langsung nyubit-nyubit lo tanpa ragu. Kesannya kayak kalian dekat banget, San. Apa memang lo... pernah punya hubungan spesial? Pacaran monyet gitu pas SD?"
Langkah Sandi hampir saja tersandung urat pohon yang mencuat dari pasir. Ia menoleh ke Anggita dengan ekspresi terkejut yang berlebihan. "Ah, gila lo! Mana ada gue kepikiran pacaran pas masih SD. Masih zamannya main kelereng sama gambar tepok, Nggi. Ngaco aja lo."
Anggita tertawa renyah, sebuah tawa yang seolah menggoda rahasia di balik mata Sandi. "Yeee, siapa tahu kan? Tapi kalau misalnya nih, ya... Misalnya doang gue bilang. Kalau suatu saat dia putus dari pacarnya yang rapi tadi, lo mau nggak jadi pacar dia?"
Seketika, langkah kaki Sandi terhenti sepenuhnya. Ia terdiam, mematung di atas pasir pantai yang dingin. Sandi mendongak, menatap langit Ancol yang kini telah berubah menjadi ungu gelap setelah matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Ada keheningan panjang sebelum ia menjawab.
"Jauh!" gumam Sandi singkat, nyaris seperti bisikan.
Anggita mengerutkan keningnya, ia menghampiri Sandi lebih dekat, mencoba membaca raut wajah sahabatnya itu di bawah keremangan lampu. "Maksud lo jauh apa, San? Alamat rumahnya yang jauh atau gimana?"
Sandi mengalihkan pandangannya dari langit, menatap wajah Anggita dengan tatapan yang sulit diartikan. "Status gue jauh sama dia, Nggi. Dia itu anak orang kaya raya, cucu purnawirawan jenderal polisi. Dia tinggal di istana di Pondok Indah. Sedangkan gue?" Sandi tersenyum getir, menatap kaosnya yang mulai kusam. "Walaupun kakek gue juga purnawirawan polisi tapi ga setinggi jabatan kakeknya, gue cuma anak yatim dari Jatinegara yang sekolahnya saja masih disubsidi keringat Nyokap."
Anggita menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba memberikan sudut pandang lain. "Yang namanya perasaan mah nggak mandang kasta kali, San. Tahun 2002 ini masa lo masih mikirin feodalisme sih?"
Tuk!
"Aduh! Sue lo, San! Sakit pala gue lo jitak, njing!" pekik Anggita sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Sandi menarik tangannya kembali dengan wajah tanpa dosa. "Lo aja yang pe’a! Ngomongin cinta di usia yang masih bau kencur begini. Sekolah aja masih dibayarin orang tua, pakai seragam saja masih harus dicuciin Nyokap, sudah berani bahas 'nggak mandang status'. Preeet, tahu nggak!"
Anggita masih mengelus kepalanya, namun tawanya kembali pecah. "Ya siapa tahu itu bisa kejadian kan nanti? Takdir siapa yang tahu, Bos!"
Sandi menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba hadir setiap kali ia memikirkan celah antara dunianya dan dunia Saskia. "Sudah ah, nggak usah dibahas lagi. Sekarang prioritas kita cari 'anak ayam' itu sebelum benar-benar gelap total. Kalau dia kenapa-kenapa di tempat begini, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri."
Anggita mengangguk patuh, menyadari keseriusan di nada bicara Sandi. Mereka pun kembali melanjutkan pencarian, membelah keramaian pengunjung yang semakin padat, sementara di kejauhan, lampu-lampu kapal di dermaga mulai berkedip-kedip seolah memberi tanda akan adanya pencarian yang lebih panjang.
Suasana Ancol semakin pekat oleh malam. Lampu-lampu sorot dari wahana permainan di kejauhan mulai berpendar kontras dengan hitamnya langit laut. Di tengah keriuhan suara musik dari speaker taman dan tawa pengunjung, mendadak sebuah teriakan parau pecah dari tenggorokan Sandi.
"ANJIIIIINNNGG!!! ONENG, DIMANA LO!!!"
Teriakan itu begitu kencang, penuh dengan frustrasi yang meledak-ledak hingga beberapa pengunjung menoleh kaget. Anggita pun tersentak. Ia belum pernah melihat Sandi sekacau ini. Di sekolah, Sandi adalah sosok yang tenang, ranking dua yang selalu punya kendali atas situasi. Namun detik ini, Sandi terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.
Anggita segera menghampiri, tangannya terulur lembut mengelus dada Sandi yang naik-turun karena napas yang memburu. "Sabar, San! Tarik napas... Kita pasti nemuin dia kok. Ada Andra sama Vino juga kan yang lagi nyisir di sektor lain. Jangan panik begini," ucap Anggita, mencoba menjadi jangkar bagi kegelisahan sahabatnya.
Sandi tidak tenang. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri hingga berantakan, matanya liar menyisir setiap kerumunan. "Nggi, lo nggak tau dia! Lo nggak paham seberapa parah dia! Jalan aja bisa kejedot pintu kelas, alamat rumahnya sendiri aja dia bisa lupa kalau sudah panik. Bayangin kalau dia sendirian di tempat seluas ini, di tengah ribuan orang... dia bisa bener-bener ilang, Nggi!"
Mendengar nada suara Sandi yang begitu protektif—nada suara yang bahkan belum pernah ditujukan padanya—ada sebersit rasa perih yang menyelinap di hati Anggita. Sebagai teman sekelas yang selalu bersaing nilai dan sering menghabiskan waktu bersama, Anggita menyadari sesuatu: ruang di hati Sandi untuk gadis bernama Saskia itu ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Anggita menelan pahit perasaannya, lalu menarik tangan Sandi dengan tegas. "Kalau gitu lebih baik kita cari lagi, San. Daripada lo cuma berdiri di sini teriak-teriak dan frustrasi nggak jelas. Ayo! Jangan diem aja. Kan lo sendiri yang bilang kita harus nemuin dia sebelum bener-bener gelap. Setiap detik lo diem di sini, dia bisa makin jauh."
Sandi tertegun. Ia menghirup napas dalam-dalam, mencoba memasok oksigen ke otaknya yang sedang kacau, lalu mengembuskannya perlahan. Bahunya yang tegang sedikit melandai. "Sori, Nggi... gue... gue bener-bener cemas banget. Otak gue isinya skenario buruk semua."
Anggita memaksakan sebuah senyum tipis, menatap mata Sandi dengan pengertian yang tulus. "Gue tau, San. Itu sifat lo banget. Lo nggak bakal tenang kalau orang yang lo sayang... eh, maksud gue, kalau temen lo lagi dalam bahaya. Ayo, ke arah sana belum kita cek."
Sandi mengangguk mantap. Keberaniannya kembali terkumpul. Mereka berdua pun kembali membelah lautan manusia di sepanjang bibir pantai, menyelinap di antara tikar-tikar penyewa dan gerobak penjual makanan, berharap menemukan sosok gadis "Oneng" yang telah mengacaukan ritme jantung Sandi malam itu.