NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Yumna Sakit

Sejujurnya Yumna masih tak rela harus kembali secepat itu. Tapi, dia menyadarinya posisi dan tanggung jawabnya. Dia tak hanya seorang anak yang baru saja menemukan keluarga kandungnya, yang masih ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama mereka. Dia adalah istri Elbara, juga seorang ibu sambung dan menantu, yang memiliki banyak tanggung jawab dalam rumah tangganya. Sekalipun Elbara terang-terangan memberinya kebebasan untuk memilih, namun tak serta-merta dia manfaat hal itu. Dia harus bijak dalam mengambil segala keputusan. Itulah yang dia pikirkan.

Kampung halaman sang ayah kandung sudah tertinggal jauh di belakang. Mobil yang dikendarai Niko melaju stabil siang itu. Di bangku belakang, Elbara sudah sibuk membalas chat dari beberapa klien yang menghubunginya. Aktivitas yang demikian itu, membuat Yumna paham. Bahwa Elbara benar-benar mengabdikan diri sepenuh hati untuk perusahaan keluarganya. Terkadang Yumna juga merasa kasihan. Pagi hingga sore Elbara sibuk di kantor. Setelah pulang ke rumah pun, dia harus tidur sangat larut hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

"Apa mereka tidak ada sanak saudara yang bisa membantu? Sampai dia harus mengerjakan semuanya sendiri..." begitu pikir Yumna.

"Apa kamu lapar?"

Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Yumna tersentak dari lamunannya.

"Perjalanan masih sekitar dua jam lagi." ujar Elbara lagi.

"Em..., pak Bara mau makan apa?" balas Yumna bertanya.

Di bangku kemudi, Niko melipat bibirnya ke dalam. Dia menahan tawanya yang hampir saja lolos. Dia selalu merasa lucu, setiap kali Yumna memanggil Elbara dengan embel-embel pak.

"Biar saya bantu cari tempat yang rekomended." Yumna menunjukkan ponselnya.

"Saya tak seribet itu. Saya bisa makan apa saja." sahut Elbara.

"Oh..." Yumna merasa kena mental saat itu.

Yumna akhirnya diam. Dia menyesal sudah mengatakan hal itu.

"Memang diam itu lebih baik." batinnya.

"Pilih tempat makan yang tidak terlalu ramai." ujar Elbara kemudian.

"Siap, tuan." sahut Niko membalas.

Beberapa menit berlalu, Elbara tiba-tiba menyuruh Niko putar balik.

"Berhenti di warung tenda itu." titah Elbara setelah mobil putar balik.

Niko pun menjalankan tugasnya. Tiba di sana, hanya Niko yang turun. Dia segera merapat ke warung kaki lima yang ditunjuk oleh Elbara. Sementara Yumna hanya diam sambil memperhatikan Niko yang sedang berbicara dengan penjualnya. Lalu dia beralih pada tenda-tenda sederhana yang ada di dekat warung itu. Banyak kudapan dijajankan di sana. Tak lama kemudian Niko pun kembali.

"Ikan bakarnya habis, tuan. Tinggal sate sama penyetan ayam dan bebek." kata Niko.

"Oh, dia mencari ikan bakar..." begitu ujar Yumna dalam hati.

"Sate boleh. Yumna mau apa?" tanya Elbara pada sang istri.

"Samain saja. Setengah porsi." balas Yumna.

"Baik."

Niko kemudian kembali lagi warung itu.

"Memangnya kenyang makan setengah porsi?" gumam Elbara.

"Itu cukup." balas Yumna.

"Mau beli yang lain?" tanya Elbara setelahnya.

"Tidak." jawabnya singkat.

Suasana di dalam mobil itu kembali hening. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Dirasa terlalu canggung dan tak nyaman, Elbara pun buka suara.

"Saya pikir kamu akan tinggal beberapa hari lagi."

"Tidak. Lagi pula mama juga akan segera pulang. Kita bisa bertemu lagi." kata Yumna.

"Saya juga kepikiran dengan Aluna. Dia mulai tertarik dengan sekolah. Saya tidak mau dia berubah pikiran, hanya karena kesal sama saya yang pergi terlalu lama." imbuhnya lagi.

"Jadi, dia mau sekolah?" Elbara baru tahu hal itu.

"Maaf, saya lupa mengatakannya. Rencananya setelah Aluna benar-benar mau, baru saya mengatakannya pada pak Bara." balas Yumna apa adanya.

"Nanti kita sama-sama cari sekolah yang bagus buat Aluna." ujar Elbara.

"Iya."

Kemudian Niko datang bersama pemilik warung, mengantar pesanan mereka. Lalu Niko ikut kembali, dia memilih makan di warung tenda. Tak ingin mengganggu makan siang atasannya.

___

Malam harinya, Aluna mendatangi kamar Elbara bersama susternya. Yumna sedikit malas beranjak, karena dia merasa kurang enak badan sejak pulang dari rumah kakek neneknya. Perutnya mual dan kepalanya terasa pusing.

"Mama..." Aluna merengek sambil minta gendong.

Tapi Yumna tetap berusaha memberikan kesan terbaik untuk Aluna. Entahlah, dia akan selalu merasa bersalah kalau membuat Aluna sedih. Seperti sekarang, Yumna tetap menggendong Aluna meski kondisi tubuhnya sedang tak bersahabat.

"Nyonya, non Aluna minta tidur sama nyonya dan tuan." ujar Vivi mengadukan keinginan Aluna.

"Ya sudah, Aluna tidur di sini malam ini ya." tutur Yumna sambil mencium pipi Aluna.

"Boleh?" tanya Aluna.

"Tentu saja." jawab Yumna.

"Kalau begitu saya permisi, nyonya." pamit Vivi.

"Terimakasih, Vi. Kamu cepat istirahat juga, ya." begitu kata Yumna.

"Iya, nyonya. Terimakasih."

Yumna kembali menutup pintu setelah Vivi pamit.

"Pa."

Yumna langsung menutup mulutnya. Dia hampir saja memanggil Elbara dengan sebutan pak. Dia lupa kalau sedang bersama Aluna. Elbara pun menyadari hal itu.

"Aluna mau tidur di sini kan? Sini naik!" kata Elbara sambil menepuk kasur di sampingnya. Lalu dia menaruh bukunya di atas nakas.

Yumna kemudian menurunkan Aluna di atas kasur. Aluna langsung lari ke pelukan Elbara.

"Papa lagi belajar, ya...?" tanya Aluna.

"Iya." jawabnya.

"Mama, sini...!!" giliran Aluna yang menepuk kasur si sisi kanannya.

Yumna pun duduk di sebelah Aluna. Menyandarkan punggungnya di headboard, seperti yang dilakukan Elbara.

"Mama bilang, katanya Aluna mau sekolah." ujar Elbara.

"Iya, iya...!!" balas gadis kecil itu. "Aku mau sekolah. Mama bilang, kalau aku belajar di sekolah juga aku akan semakin pintar seperti papa..." celotehnya.

"Oh iya...?!! Mama bilang begitu...?" Elbara memang sedang berbicara dengan Aluna, tapi matanya melirik Yumna.

"Iya. Kata mama, papa itu piiiintaaarr sekaliiii...! Banyak yang menyukai papa dan sayang sama papa." lagi, Aluna mengatakan segalanya tanpa ada yang ditutupi.

Yumna jadi menyesal, kenapa dia harus membawa-bawa Elbara saat ngobrol dengan anak kecil itu. Yumna kalau anak kecil akan selalu bicara jujur. Yumna khawatir Elbara akan salah paham. Dan mengira kalau dia diam-diam mengaguminya.

"Jadi, Aluna suka dan sayang sama papa karena papa pintar?" lagi, Elbara melirik Yumna. Tapi tangannya menyentil hidung Aluna.

"Ah...?!!!" Aluna tampak bingung. Wajah lugunya sangat menggemaskan.

"Pokoknya aku sayang sama papa." begitu katanya lagi. "Semua juga sayang sama papa."

"Semuanya?!!" Elbara mengikuti ritme obrolan Aluna.

"Iya. Aku, mama, Oma. Semua sayang sama papa...!!" seru Aluna. Dia terlihat sangat bahagia.

Elbara tersenyum sambil mencuri pandang pada Yumna, yang sejak tadi memilih tak terlibat dalam obrolan papa dan anak itu.

"Kenapa dia pucat sekali...?" batin Elbara.

Yumna semakin mual saja, isi di dalam perutnya seakan sudah tak tahan lagi untuk keluar. Yumna pun turun dari kasurnya menuju kamar mandi.

"Aluna tunggu di sini ya." ujar Elbara.

Dengan pelan Elbara meraih kursi rodanya, lalu dia turun dengan tertatih dan pindah posisi ke kursi roda. Dari dalam kamar mandi terdengar suara Yumna yang sedang muntah.

"Yumna..., kamu tidak apa-apa?!" seru Elbara di depan pintu kamar mandi.

"Yumna...?!!" panggilnya lagi.

Kemudian Yumna keluar, keringat membasahi keningnya. Wajahnya semakin pucat. Yumna berjalan ke arah kasur, lalu kembali duduk di sana.

"Mama sakit? Aku panggil oma ya..." si kecil Aluna langsung turun dari kasur.

"Berbaring yang nyaman." kata Elbara.

Yumna memantuhinya. Lalu Elbara membantu menyelimuti Yumna.

"Apa yang kamu rasakan?" tanya Elbara lagi.

"Mual, pusing. Sedikit kedinginan." jawabnya.

Elbara menyentuh kening Yumna dengan telapak tangannya.

"Panas. Tapi dia kedinginan."

Bu Kartika datang bersama Aluna, bertepatan saat Elbara mematikan AC di dalam kamarnya.

"Kenapa?" tanya Bu Kartika sambil menyentuh kening Yumna.

"Demam, ma. Tapi dia kedinginan. Bawa ke rumah sakit saja, ya." kata Elbara.

Tiba-tiba Yumna menahan tangan Elbara yang sejak tadi ada di sampingnya.

"Tidak perlu." ujarnya pelan.

"Tidak apa-apa. Mama ambilkan alat kompres dulu." kata Bu Kartika.

Elbara teringat sesuatu. Dia membuka laci di sampingnya, lalu mengambil plester demam dari dalam sana.

"Mama tolong ambilkan obat saja. Yumna biasa pakai ini." ujar Elbara.

"Dia tahu...?!" batin Yumna saat melihat Elbara membuka kemasan plester demam yang biasa dia pakai.

Elbara merapikan rambut Yumna yang menutupi keningnya. Lalu mengusap kening Yumna dengan tisu. Barulah dia menempelkan plester itu. Seketika itu Bu Kartika merasa lega. Ternyata putranya bisa bersikap hangat juga pada Yumna.

"Mama buatkan minuman hangat dulu kalau begitu." kata Bu Kartika. Setelah itu dia keluar.

"Mama jangan sakit." Aluna memeluk Yumna.

"Mama tidak apa-apa, sayang. Aluna tidur ya." ujar Yumna.

"Aku mau sama mama." balas Aluna.

"Aluna..." tegur Elbara.

Kemudian Yumna menggelengkan kepalanya. Seolah mengatakan kalau tidak masalah. Elbara hanya bisa menghela nafas. Dia pasrah.

Saat Bu Kartika kembali, Aluna sudah tertidur pulas. Lalu Bu Kartika menggendong Aluna.

"Biar Aluna sama mama. Kalau ada apa-apa panggil mama." pesan Bu Kartika.

"Iya, ma." balas Elbara.

Elbara membiarkan pintu kamarnya tertutup tanpa dikunci. Untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Dia juga tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Masih di sisi Yumna, duduk di atas kursi rodanya.

"Aku akan berjuang untuk sembuh secepatnya. Agar aku bisa menjagamu." batin Elbara.

___

Tengah malam itu Yumna terbangun. Dan yang pertama ditangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Elbara. Pria itu tidak sedang tertidur. Dia sedang membaca sebuah proposal.

"Dia...?!"

Saat tahu Yumna sudah bangun, Elbara segera meletakkan map hitam itu begitu saja dia tas kasur.

"Kenapa? Butuh sesuatu?" tanya Elbara.

Yumna menarik tubuhnya agar bisa duduk lebih nyaman.

"Minum." katanya.

Elbara menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Yumna.

"Maaf, sudah merepotkan." ujar Yumna, sambil memainkan gelasnya.

Elbara mengambil gelas itu dari tangan Yumna. Lalu meletakkannya kembali di atas nakas.

"Tidak ada yang merepotkan. Saya suami kamu, kalau kamu lupa." balas Elbara.

Yumna melipat bibir bawahnya. Dia merasa tak enak hati pada Elbara. Sehingga dia tidak membalas ucapan Elbara.

"Masih sakit?" tanya Elbara.

"Sedikit." jawab Yumna singkat.

"Kita ke rumah sakit saja bagaimana?" tanya Elbara lagi.

"Tidak perlu. Istirahat saja sudah cukup." jawab Yumna.

"Lain kali kalau sudah merasa tidak enak badan, bilang saja. Jangan ditahan-tahan." tutur Elbara.

"Maaf. Saya hanya tidak ingin merepotkan pak Bara dan keluarga." begitu ujar Yumna.

"Kenapa kamu selalu saja merasa merepotkan kami? Apa kamu tidak pernah menganggap kami sebagai keluargamu?" kata Elbara.

"Saya tahu pernikahan ini tidak didasari dengan perasaan apapun. Tapi bukan berarti saya tidak mengkhawatirkan kamu. Saya peduli sama kamu. Apa kamu tidak tahu seberapa paniknya saya ketika kamu tidak menjawab dan tidak membuka pintu kamar mandi selama itu? Apa kamu tahu, saya tidak bisa tidur karena terus memikirkan kondisi kamu? Tak hanya saya, semua orang mengkhawatirkan kamu. Berhentilah merasa merepotkan. Semua di rumah ini adalah keluarga. Apalagi kamu, istri saya. Nyonya muda Wiranata. Semua menyayangi kamu."

Penuturan Elbara yang panjang lebar itu, benar-benar tepat sasaran. Yumna sampai menitihkan air mata saat mendengarnya. Elbara lantas mengulurkan tangannya, mengusap air mata itu.

"Maaf. Apa saya membuatmu takut?" ujar Elbara dengan suara yang lebih lembut.

Yumna tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala.

"Kenapa menangis? Mana yang sakit? Kita ke rumah sakit saja ya?!" Elbara kembali cemas.

Lagi-lagi Yumna hanya menggelengkan kepala. Elbara semakin galau dibuatnya. Dia yakin sekali Yumna menangis karena menahan rasa sakit. Tapi dia tidak mau diajak ke rumah sakit. Bahkan sekedar bilang bagian mana yang sakit pun tidak mau. Lantas dia harus bagaimana...?!!

......................

1
Mita Paramita
Dewi mau jadi pelakor 🤣🤣🤣
aku
tanggung jawab tor!!! aku merinding 😭😭😭😭
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Mita Paramita
🔥🔥🔥elbara sukses bikin Yumna hamil
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
aku
waahh papa bara bner2 ye 😌
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Mita Paramita
lanjut 🔥
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
ada2 aja cobaan yumna dan el pengganggu hubungan mereka selalu muncul
Reni Anjarwani
licik bgt
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
doubel up
.~.☆YSN☆.~.
lanjutttt
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel. up
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel trs makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!