Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Baru Ditemukan
Auna duduk di bangku plastik dingin di lorong rumah sakit. Udara ber-AC terasa menusuk, tapi tidak mendinginkan dadanya yang terasa panas. Ia menyandarkan kepala ke dinding di samping pintu kamar perawatan Zifa.
“Auna…”
Suara itu lembut. Auna menoleh, Uti Yaya (ibunya) sudah berdiri di sampingnya, segera menarik Auna ke dalam dekapan hangat.
“Bu… Zifa, dia…” Suara Auna tercekat. Ia sudah berusaha menahan air mata sejak keluar dari gudang, tapi kini pertahanannya runtuh. Ia menangis tersedu-sedu di bahu ibunya.
“Dia ketakutan, Nak. Dokter bilang traumanya dalam. Dia menolak semua orang selain kamu dan ibuk,” bisik Uti Yaya, mengusap punggung Auna. “Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu melakukan yang terbaik untuk melindungi Zifa.”
Auna menggeleng, melepaskan pelukan ibunya. Wajahnya sembap. “Tapi lihat, Bu. Aku merusak dia. Aku merusak segalanya, aku menyembunyikan kebenaran soal ayahnya, Bu. Bertahun-tahun. Zifa pantas marah. Dia pantas menolak Zhafran.”
Di seberang lorong, Zhafran duduk di sofa tunggal, lututnya rapat, kepala menunduk dalam. Ia mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Auna. Rasa bersalah menghimpitnya, sama besarnya dengan rasa sakit Auna. Ia ingin sekali mendekat, memeluk istrinya, tapi ia tahu saat ini Auna butuh ibunya, dan Zifa menolaknya mentah-mentah.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi derap langkah tergesa-gesa. Muncul Bu Onik, ibu Zhafran, dengan wajah kaku dan tegang, diikuti oleh Ayah Zhafran.
Bu Onik langsung menghampiri Zhafran, tapi pandangannya beralih tajam ke arah Auna.
“Zhafran! Kenapa kamu di sini saja?! Kenapa Zifa tidak mau ketemu kamu?!” tanya Bu Onik dengan nada suara yang tertahan, mencoba menjaga intonasi di rumah sakit.
Zhafran mengangkat kepala. “Ma, tenanglah. Zifa trauma. Dia butuh waktu.”
“Waktu? Sampai kapan?” Bu Onik mengibaskan tangannya, bergerak mendekati Auna. Ayah Zhafran berusaha menahan istrinya, tapi Bu Onik sudah terlanjur berdiri di depan Auna.
“Auna! Kamu dengar kan, anakmu menolak Zhafran?!” tuntut Bu Onik, tanpa basa-basi. “Kamu pikir ini semua salah siapa? Semua gara-gara kebohonganmu dari awal! Kamu merusak mental anakmu sendiri dengan rahasia bodoh ini!”
Uti Yaya maju selangkah, melindungi putrinya. “Buk, jaga bicaramu! Auna melakukan ini untuk melindunginya!”
“Melindungi? Kenapa tidak sekalian dia bilang ke Zhafran soal hotel itu?!” balas Bu Onik sengit. “Sekarang Zhafran sudah artis besar, reputasinya seolah-olah suami yang dicurangi! Gara-gara foto-foto kotor itu tersebar, Auna! Padahal semua itu kamu dan si Rafka itu yang salah! Mau ditaruh di mana muka keluarga kita?!”
Auna mendongak, matanya yang basah menatap lurus ke mertuanya. “Bu… saya dijebak. Zhafran sudah tahu, ini semua ulah Rina,” katanya dengan suara serak.
“Dijebak? Dijebak lalu kenapa kamu tidak bilang dari awal?!” Bu Onik mendesis. “Kamu sengaja kan, menyembunyikannya dari Zhafran supaya bisa bebas dengan Rafka di belakang Zhafran, iya kan?!”
Zhafran tiba-tiba bangkit. “CUKUP, Ma!” Suara Zhafran keras dan tegas, membuat semua orang di lorong terdiam. Ia berjalan cepat mendekati Auna dan Bu Onik.
“Auna tidak salah. Aku yang salah. Aku yang tidak mendengarkan dia. Soal foto, semua itu fitnah dan rekayasa,” Zhafran menatap ibunya dengan tatapan keras. “Aku sudah melihat videonya. Auna adalah korban, dan mama harus minta maaf. Sekarang.”
Bu Onik terkejut. Ia menatap putranya, lalu ke Auna, lalu kembali ke Zhafran. Wajahnya memerah karena malu dan marah yang bercampur aduk.
“Zhafran, kamu membela dia?! Setelah semua yang dia sembunyikan?!”
“Aku membela kebenaran, Ma,” jawab Zhafran datar. Ia menoleh ke Auna. “Sayang, kamu baik-baik saja?”
Auna hanya mengangguk pelan, air matanya menetes lagi melihat pembelaan suaminya. Ayah Zhafran segera menarik Bu Onik menjauh ke sudut lorong, mencoba menenangkan istrinya yang sudah terlihat sangat emosional. Zhafran berdiri di samping Auna, menatap pintu kamar Zifa yang tertutup rapat. Ia merangkul bahu Auna, mengabaikan rasa sakit pada bahu Auna yang bengkak.
“Kita hadapi ini sama-sama, ya,” bisik Zhafran. “Aku tahu Zifa butuh waktu. Aku akan ada di sini sampai dia mau memanggilku ‘Ayah’.”
Auna menyandarkan kepalanya di dada Zhafran, lega karena ia tidak sendirian lagi.
“Auna,” panggil Zhafran lembut. “Rafka tadi bilang, Ayah menyimpan flashdisk dengan video itu. Aku ingin kita tonton sama-sama. Aku perlu melihat dengan mataku sendiri, bagaimana kamu berjuang saat aku tidak ada. Kamu mau?”
Apa Auna akan setuju untuk menonton video jebakan Rina bersama Zhafran?