Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Desa Qingshui
Mereka pun turun dari gunung dan meninggalkan wilayah Gunung Yanhuo.
Rombongan Ling Xi mulai bergerak ke arah utara, wilayah yang berbeda dengan Gunung Yanhuo.
Hari demi hari, hawa panas perlahan mulai menghilang, digantikan dengan angin dingin yang menusuk tulang. Tak lupa mereka pun langsung mengenakan mantel hangat.
Ketika mulai memasuki wilayah salju, terlihat rumput berubah pucat, pepohonan berwarna biru es dan embusan napas mereka langsung terlihat di udara.
"Wilayah ini sudah masuk ke wilayah salju," ujar Paman Yun sambil memperhatikan tanah. "Phoenix Es berada jauh di atas gunung sana, di pegunungan Xueyuan."
Ling Xi menarik jubahnya lebih rapat. Api suci dari Phoenix Api berdenyut lembut dalam tubuhnya, mengatur suhu tubuhnya agar tetap stabil.
Lian yang melihat perubahan Ling Xi pun bergumam, "Menarik. Api dan Es saling menahan bukan bertabrakan."
Bai Hu menatap Ling Xi sekilas. "Tubuhmu beradaptasi lebih cepat, Xi'er."
Ling Xi tersenyum kecil mendengar itu.
Setelah beberapa jam akhirnya matahari telah berpindah ke ufuk barat. Walau ada panas matahari, namun itu tidak membuat wilayah salju mencair.
"Sekarang aku mengerti. Panas dan dingin di sini tidak saling bertabrakan," ucap Ling Xi.
...****************...
Kini waktu senja pun tiba, mereka telah sampai di Desa Qingshui, desa kecil yang berada di kaki pegunungan Xueyuan.
Lampu-lampu minyak menyala redup, namun suasana terasa... terlalu sunyi.
Bahkan tidak terdengar suara tawa anak-anak. Apalagi suara-suara orang yang mempromosikan dagangannya tidak terdengar sama sekali.
Ling Xi berhenti melangkah dan diikuti yang lain.
"Desa ini masih hidup," ucapnya pelan. "Tapi... terlihat suasananya seperti kosong."
"Kita cari penginapan di desa sini terlebih dahulu untuk singgah sementara."
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya menemukan sebuah penginapan kecil di ujung desa yang bernama Xueyuan Kèjū.
Dari luar, penginapan itu terlihat sederhana, mereka pun langsung masuk ke dalam dan menuju tempat resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan, nona?" tanya resepsionis.
"Kami mau pesan kamar, apakah masih ada?"
Resepsionis pun melihat catatan kamar yang masih kosong.
"Kami masih ada tiga kamar kosong, nona."
Mereka saling melihat satu sama lain. Tak lama mereka semua mengangguk setuju untuk memesan tiga kamar.
"Ini kuncinya, nona, tuan," ucapnya sambil menyerahkan tiga kunci.
"Nona, tuan, tunggu sebentar," ucapnya memberhentikan langkah Ling Xi dan rombongannya.
"Saya sebagai pemilik penginapan Xueyuan Kèjū hanya mengingatkan pada kalian untuk tidak keluar malam."
Bai Hu menatap tajam. "Kenapa?"
Pemilik kediaman menelan ludahnya. "Beberapa hari terakhir... ketika saya keluar malam, saya melihat orang-orang desa seperti kerasukan, dan tak lama kemudian, mereka berjalan seperti sebuah boneka yang dikendalikan. Mata mereka seperti tidak ada kehidupan."
Mereka pun saling pandang. "Terima kasih, paman untuk peringatannya. Kalau begitu, kami pamit untuk menuju kamar."
"Baiklah. Selamat beristirahat, nona, tuan."
...****************...
Malam pun turun begitu cepat. Setelah makan malam di lantai bawah, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Mereka bukannya istirahat seperti yang dikatakan di awal, tetapi justru mereka melakukan meditasi di kamar masing-masing.
Ketika bermeditasi, tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di atap kamar penginapan.
Mereka pun langsung membuka pintu dan keluar dari kamar.
"Apa kalian merasakan ada sesuatu yang melintas?" tanya Ling Xi.
"Iya. Kami merasakannya," ucap mereka semua.
"Aku rasa, ini pasti ulah iblis lagi. Sebaiknya kita periksa keluar," ucap Lian.
Mereka pun mengangguk dan perlahan keluar dari penginapan karena takut menimbulkan kebisingan yang akan mengganggu para tamu istirahat.
Mereka pun berkumpul di halaman belakang penginapan.
Paman Yun berjongkok dan menyentuh tanah yang membeku untuk dianalisis.
"Dari jejak ini, ada sebuah simbol yang disembunyikan, dan itu sangatlah halus."
Ling Xi pun ikut berlutut dan menyentuh tanah yang beku itu.
Ranah Ilahi Takdir miliknya langsung aktif.
Di matanya langsung terlihat benang-benang takdir berwarna merah di desa ini.
Diantara benang-benang takdir itu ada beberapa diantaranya yang membeku.
Ling Xi pun langsung terkejut. "Ini... warga desa ini bukan diculik, melainkan mereka dijadikan prajurit raja iblis dengan cara menguras energi kehidupannya."
Wajah Lian, Bai Hu dan juga Paman Yun langsung mengeras. "Energi kehidupan..."
"Mereka sudah melewati batas. Kita harus segera bertindak," ucap Paman Yun.
Tiba-tiba setelah berbicara itu - terdengar suara langkah
KREEEKKK...