Soques, merupakan negara yang tepat di mana sebuah Kerajaan berdiri megah.
Dengan kekuasaan yang dimiliki, Raja itu membuat semuanya seolah-olah sebagai permainan hidup. Memilih seorang gadis yang berasal dari Keluarga yang memiliki popularitas sebagai pendamping hidupnya.
Tidak ada rasa manis dalam setiap kehidupan, semua berubah seketika disaat melangkah di kehidupan yang baru.
~Satu Yang Terpisah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja Yang Egois
Matahari masih berpijar terang di langit, hawa-hawa dingin masih terasa di Kerajaan Soques. Selama perjalanannya menuju ruangannya sendiri, Vianze tak henti-hentinya mengganggu Adik kecilnya. Vianze menasihati Adiknya agar tidak membuat Kertia ataupun Leonard kesulitan dalam menjaga dirinya. Beberapa langkah lagi mereka sampai di depan pintu ruangannya yang dikawal oleh dua penjaga.
Cklek!
"Kami kembali Yang Mulia." Ucap Kertia dan Leonard bersamaan dalam posisi berlutut.
"Baiklah, aku mempunyai tugas untuk kalian berdua," Ujar Vianze lalu menurunkan Adiknya dari rangkuhannya, sebenarnya lelah juga jika harus merangkuh Yanze sacara terus menerus. "Aku-"
Tok! Tok! Tok!
"Yang Mulia! Yang Mulia!"
"Tolong buka pintunya Yang Mulia!"
Vianze mengeritkan dahinya karena suara bisingan dari depan pintunya. Pria dengan wajah unik yang masih di dalam ruangan terkejut dengan teriakkan para gadis pelayan, Vianze memerintahkan Leonard untuk membukanya sedangkan dirinya kembali pada meja kerjanya.
Saat Leonard usai membukakan pintu, Vianze terkejut dengan tangisan kedua pelayan Queena.
"Yang Mulia tolonglah Ratu!"
"Keadaannya sungguh tidak stabil!"
"Saat ini dia tidak sadarkan diri lagi!"
Nier dan Riena mencoba menjelaskan pada Vianze apa yang terjadi, tetapi jika mereka menjelaskan dengan keadaan seperti itu mustahil bagi Vianze mengetahuinya dengan rinci. Namun, saat mendengar perihal Queena, Vianze langsung tersentak dari tempat duduknya. Dia seperti telah menduga bahwa ini akan terjadi.
"Kak Queena kenapa?" Yanze yang tidak tahu apa-apa mulai bertanya dengan wajah polosnya.
"Kertia, jagalah Yanze untukku," Titah Vianze. "Dan Leonard, langsung panggil Dokter Istana."
Yanze meronta-ronta dari rangkuhan Kertia, bocah kecil itu juga ingin melihat Queena, dia juga dapat mendengar bahwa Queena tidak sadarkan diri. Mau tak mau Vianze hanya mengangguk dan membiarkan Adiknya ikut.
Vianze langsung menyuruh kedua pelayan itu membawanya ke tempat Queena.
♤Di Tempat Lain♤
Berita tentang Queena tersebar luas begitu saja di Istaja besar itu. Ratu kesayangan mereka mendadak tidak sadarkan diri, semua orang dapat menduganya karena dari awal ada yang tidak beres dengan penampilan Queena. Wajahnya yang pucat dan matanya yang sayu, namun Queena terus mengatakan baik-baik saja.
Menyebarnya berita itu sampai di kedua telinga Fenith. Saat mendengar berita menarik itu Fenith tidak ada henti-hentinya tersenyum.
"Hei hei hei~ Ratu kita tumbang lagi?~" Seringai Fenith.
Sekarang Fenith juga ingin melihat kondisi Queena, bukan karena rasa khawatir, melainkan karena hal lain.
"Kurasa menyingkirkanmu tidak sesulit itu~" Ucapnya. Upaya untuk merebut posisi Queena sangat ingin dilakukan Fenith, tetapi ada begitu banyak halangan yang menimpanya.
Deg!
Fenith berhenti sejenak dan memegang dadanya, dan langsung mengambil posisi berlutut menahan rasa sakit.
"Da- dada ku terasa sakit!" Lirihnya.
Pelayan yang bersama Fenith langsung membantunya dan menanyakan keadaan Fenith. Namun sayang seribu sayang, Fenith harus melakukan hal yang sama seperti Queena. Darah merembes di mana-mana, dan itu semua terjadi melalui mulutnya. Beberapa pelayan Fenith tak ada habisnya selalu berteriak memanggil nama gadis kecil itu.
"Kita harus memanggil seseorang untuk memeriksa keadaan Nona Fenith." Ucap salah satu pelayan yang mendapat anggukkan dari pelayan lain.
...👑👑👑👑...
"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi padamu Queena." Lenier tidak ada habisnya meneteskan air mata sambil mengamati Queena yang berbaring lemah di atas ranjangnya, Aldone sebagai Suaminya berusaha untuk menenangkan Lenier agar tidak terkalu terpuruk dengan keadaan.
Vianze juga berada di tempat yang sama, maupun Yanze. Bocah yang memiliki paras seperti Raja tengah diam dalam rangkuhan Kertia, sama sekali tidak bersuara. Sekarang mereka sedang menunggu Leonard untuk memanggil Dokter Istana agar dapat memeriksa keadaan Queena.
Sebelumnya, Lenier telah menggunakan sihirnya untuk menetralkan tubuh Queena dengan sihir penyembuh miliknya, namun itu hanya beesifat sementara, Lenier hanya bisa membuat Queena dalam keadaan stabil, dan itu tidak dapat bertahan lama. Sebagai gadis lulusan Akademi Fhujin ini masih terlihat lemah.
Vianze juga mengetahui perihal sihir penyembuh milik Lenier. Dan sesuai prediksinya seharusnya itu berhasil, namun tidak, Lenier hanya bisa melakukan hal yang bersifat sementara pada Queena.
"Yang Mulia!" Leonard langsung memasuki kamar Queena bersama dengam Dokter Istana yang dikenal olehnya maupun Queena.
"Tunggu apa lagi, ce-"
"Yang Mulia!" Kini teriakkan terjadi lagi. Vianze mendapati dua pelayan pribadi Fenith tengah menangis sambil menunjukkan wajah khawatir.
"Ada apa ini?"
"No- Nona Fenith tidak sadarkan diri! Tiba-tiba dia pingsan saat berjalan menuju ke sini." Suara serak terdengar di telinga Vianza karena tangisan.
"Apa maksudmu?" Kini Vianze tak kalah hebat dengan raut wajahnya.
"Kertia dan Leonard tetaplah di sini," Titahnya. "Aku akan menemui Fenith seorang diri, dan menyuruh pengawal untuk memanggil Dokter lainnya."
"Hei... Jangan barcanda," Lenier hanya terdiam seribu bahasa dengan tingkah laku yang Vianze buat. "Istrimu dalam keadaan krisis dan kau menghkawatirkan gadis ja*ang itu." Ujar Lenier dalam hati.
Aldone dapat memahami Istrinya hanya dari raut wajahnya saja.
"Lenier tenanglah, kita harus memprioritaskan kesembuhan Ratu terlebih dahulu."
"Kak Queena!" Kini air mata yang tertahan akhirnya tumpah juga. Yanze turun dari rangkuhan Kertia dan menuju sisi ranjang di mana Queena terbaring lemah dengan wajah pucatnya.
Riena dan Nier berusaha menangkan Yanze, ini adalah hal yang biasa bagi Queena untuk mendapatkan perilaku seperti ini.
...👑👑👑👑...
Masih dalam situasi yang sama, namun emosi yang telah stabil. Saat ini Lenier tengah menenangkan dirinya di balkon besar yang ada di kamar Queena, Nier melihat sosok gadis yang kini mulai tenang dari yang sebelumnya, dia mendekatinya secara perlahan.
"Putri?" Panggil Nier, karena Sang Suaminya adalah calon Raja selanjutnya maka Lenier merupakan calon Ratu berikutnya oleh karena itu Nier secara hormat memanggil Lenier dengan sebutan Putri.
"Aku tidak menyangka bahwa Raja itu sangat egois." Tutur kata Lenier sama sekali tidak bisa di rem, emosinya memang stabil namun kekesalannya pada Vianze belum padam.
Saat ini belum ada kabar dari Queena, Dokter masih dalam proses penyembuhan Queena serta meneliti penyakitnya.
"Mengapa Queena harus mengalami semua ini." Keluhnya.
"Ratu seperti itu adalah Ratu yang luar biasa," Nier mencoba mencairkan suasana. "Jarang melihat Ratu seperti Yang Mulia Queena." Nier terus menceritakan perihal Queena yang sangat tangguh.
Betapa tangguhnya seorang Ratu yang berdiri di takhta yang penuh duri, dirinya yang selalu dimanfaatkan hanya bisa diam tanpa melakukan pembalasan seolah-olah di sinilah tempat dia berjuang dan tempat dia putus asa. Tapi Queena selalu membuat orang-orang disekitarnya tetap merasa aman tanpa mengetahui seluk beluk pahitnya perjalanan Queena.
"Uhuk uhuk!"
"Pangeran, jangan meminumnya seperti itu."
"Ini demi kesembuhan Kak Queena!"
"Tunggu, itu tidak ada hubungannya."
Lenier terus mengamati bocah yang berumur enam tahun itu. Lenier berfikir bahwa bocah itu sangat menyayangi Queena melebihi Fenith yang merupakan Kakak angkatnya sendiri. Tetapi, yang membuat dirinya lebih bingung adalah.
"Nier?" Nier menoleh karena Sang Putri memanggilnya.
"Aku bingung dan sedikit lupa, kupikir Vianze hanya memiliki Kakak dan tidak memiliki Adik, apa aku yang salah perkiraan?"
"………………"
Tidak mendapat jawaban dari Nier, gadis dengan rambut cokelat itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nier.
"Mengapa kau hanya diam?"
...👑👑👑👑...
"Bagaimana?"
"Se- sebenarnya, sihir apa yang membuatnya seperti ini?" Tanya Dokter itu dengan suara yang terbata-bata.
"Apa maksudmu?" Vianze mengeritkan dahinya.
"Ma-maksud ku, Nona Fenith dalam keadaan buruk, karena sepertinya ada yang sedikit melakukan sesuatu pada dirinya menggunakan sihir yang kuat," Ujar Dokter itu yang terus tunduk di hadapan Vianze. "Aku juga tidak tahu rincinya dari mana sihir ini berasal, namun aku yakin sebuah sihir kuat telah mengenai hatinya."
"Hatinya?!"
"Cih! Kupikir kau akan tahu lebih detail!" Tukas Vianze dengan kesal.
"Tu-tunggu dulu, ku dengar Yang Mulia Ratu juga dalam keadaan yang sama, tetapi, mengapa Raja ada di sini? Tidak bersama Istrinya?" Dokter itu terkejut juga untuk yang pertama kalinya.
"Pergilah!" Seusai dibayar Dokter itu pun langsung pergi dari hadapan dengan wajah gugup.
Vianze mendekatkan dirinya ke sisi ranjang Fenith dan mengelus lembut pucuk kepalanya.
"Semoga kau baik-baik saja."
kalimat yunze sakti banget bisa bikin raja vianze lsg menghilang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
gemeeeessshhh banget...niat ngerawat kak queena sampe lupa apelnya diabisin sendiri
api emosi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣