Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Mama Ariana
Tuan Mahesa masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia segera naik ke lantai dua menuju kamarnya. Begitu mendengar kabar dari Radit, pria itu langsung pulang ke rumah. Istrinya butuh dirinya sekarang.
"Assalamualaikum." ucapnya ketika masuk ke dalam kamar. Mama Ariana yang sedang duduk di atas tempat tidur terkesiap begitu mendengar salam. Ia menghambur ke pelukan suaminya ketika melihat sosok suaminya itu memasuki kamar.
"Papa..., hiks... Ari, Pa...." isaknya dalam pelukan Tuan Mahesa. Tuan Mahesa membelai lembut rambut istrinya itu.
"Kita doakan saja tidak ada yang terjadi padanya, Ma. Kita jangan berpikiran buruk dulu. Sebelum jasadnya kita temukan, ada kemungkinan ia masih hidup." ucap Tuan Mahesa mencoba menyabarkan istrinya. Meski, hatinya serasa hancur sekarang.
Mendengar ucapan suaminya, bukannya membuat ia lebih tenang, Mama Ariana malah tambah terisak. Sebab si Papa mengatakan kata 'jasad' di dalamnya. Memikirkannya, sudah membuat hati sang Mama makin teriris. Tuan Mahesa mempererat pelukannya.
"Apa salah kita, ya Pa. Hati Mama sakit banget, Pa. Ari Mama..., Ari Mama, Pa..., Huhuu...." isak Mama Ariana lebih kencang.
Tuan Mahesa menyeka sudut matanya yang mulai basah. Buliran bening itu pun telah menetes juga dari kedua matanya. Ia tidak boleh menunjukkannya. Ia harus kuat.
"Semua pasti ada hikmahnya, Ma. Terima saja. Kita hanya bisa berdoa sebanyak-banyaknya sekarang. Doakan agar Ari baik-baik saja." Tuan Mahesa menjauhkan tubuh Ariana, memegang kedua bahunya, menatap dalam kedua manik mata istrinya itu, memberi keyakinan.
Mama Ariana menatap kedua mata suaminya yang memerah. Mengusap air mata yang memenuhi wajahnya, mencoba tersenyum dengan tegar. "Mama yakin, Ari masih hidup, Pa. Firasat Mama yang mengatakannya. Dia masih hidup. Dia masih hidup untuk memberikan Mama cucu. Dia sudah berjanji akan hal itu." katanya yakin.
❇❇❇
Kiran menatap pemandangan malam dari atas balkon. Sekilas melirik tenda yang terpasang di halaman. Hatinya berdesir halus. Ia akan menikah besok. Nyeri melintir hatinya yang mencoba tetap tegar. Ia akan menikah tanpa didampingi orang tua, bahkan satu sanak saudara sekalipun. Ia menghela nafas pelan, menepis perasaan miris yang menyambanginya.
Ari tak lagi datang ke kamarnya sejak malam itu. Sebenarnya Kiran merasa sedikit aneh. Namun ia menepis semuanya. Mungkin Mama Ariana yang melarangnya, pamali. Padahal Kiran hanya ingin meminta foto keluarganya itu kembali pada Ari. Minimal besok ia akan menggenggam foto itu di tangannya. Menggantikan kehadiran kedua orang tuanya.
❇❇❇
Radit duduk di atas sofa, berhadapan dengan Mama dan Papanya. Mereka berada di dalam ruang kerja Papa Mahesa sekarang, di lantai dua.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pa?" tanya Radit yang sudah bingung memikirkan apa tindakan yang harus diambil.
Tuan Mahesa menghela nafas pelan, menatap ke arah lain. Dahi pria itu berkerut. Ia sedang berpikir keras sekarang.
Mama Ariana yang duduk di sampingnya masih menunduk lesu. Mencoba menahan air matanya yang masih ingin jatuh. Ia harus kuat. Membenarkan kata suaminya, bahwa dia harus terus berprasangka baik. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
"Kita tidak bisa mengumumkan tentang kehilangan Ari, Pa. Takutnya malah mengundang orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya. Jika kita tidak mengatakannya lalu bagaimana dengan pernikahannya besok? Apa harus kita batalkan?"
Radit bergidik ngeri membayangkan satu peristiwa dulu ketika ia sempat diculik oleh sekelompok orang dan menyekapnya di dalam gudang. Kala itu ia masih kecil. Ia tak ingin adiknya mengalami itu. Meski sekarang semua tampak baik-baik saja. Namun tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi kedepannya. Berhati-hati sepertinya lebih utama.
Mama Ariana terkesiap mendengar penuturan Radit. Membayangkan jika hal itu terjadi.
*Kasihan sekali Ariana, ya.
Baru mau dapat mantu, eh, anaknya malah kecelakaan. Padahal kan dia pingin banget dapet cucu.
Iya. Padahal tadinya kan dia udah senang kali ya, Jeng*.
Suara gosip teman-temannya itu memenuhi benaknya. Wanita itu merinding membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Tidak boleh, ia tidak mau jika sampai dikasihani.
"Tidak! Tidak bisa, Kak! Mama gak mau jika teman Mama mengasihani Mama. Pernikahan itu akan tetap terjadi!" Mama Ariana menggeleng cepat, membantah Radit.
Tuan Mahesa langsung menatap istrinya tidak mengerti. "Maksud Mama apa sih, Ma? Jika pernikahan itu tetap berjalan, lalu siapa yang akan menikah? Radit?"
Mata Mama Ariana membulat seketika. Merasa jika suaminya telah memberikan ide yang sangat bagus untuknya. "Bagus juga tuh, Pa. Biar Radit aja yang nikah."
"Papa bukan ngasi usul, Ma." Tuan Mahesa menggelengkan kepadanya melihat tingkah istrinya. Kemudian tersenyum geli menatap Radit. "Udah, segera cari calon malam ini, Dit. Besok kamu nikah."
Radit membulatkan kedua matanya, Nasib jadi jomblo, pikirnya. Ia masih diam, malas menanggapi. Hatinya masih dihinggapi kesedihan. Merasa heran melihat Papanya yang bisa tenang. Mungkin ia harus banyak belajar dari sang Papa. Belajar ikhlas dan sabar.
"Gak perlu repot-repot, Pa. Radit tinggal nikahi Kiran aja."
"Hah?" kedua pria itu tersentak kaget seketika. Menatap Mama Ariana dengan tatapan tak percaya.
"Ma, Ari sedang apa di luar sana, bagaimana keadaannya pun kita tak tahu. Entah mati atau hidup kita pun tak tahu. Jangan becanda dong, Ma." tutur Radit lirih. Semua tidak lucu pikirnya. Ia masih mencoba strategi lain. Win-win solution. Agar bisa menjangkau kebaikan pada semuanya.
"Mama serius, Kak!"
Radit menatap mata Ariana dengan tidak percaya. Begitu pun Tuan Mahesa. Menggeleng tidak percaya. Susah sekali menebak istrinya.
"Satu kata, Ma. Tidak!"
"Radit!"
"Mama!"
"Radit!" suara bariton sang Papa menghentikan Radit yang kembali ingin menyela sang Mama. Tuan Mahesa paling tidak suka jika ada dari anaknya membantah sang istri di depannya. Ia takkan membiarkannya.
"Mama tau kan, Ari tuh cinta banget sama Kiran. Nanti kalau Radit nikahi calon istrinya itu, trus Ari ketemu, nanti bagaimana?" Radit memelas menatap Mama Ariana. Demi apapun, ia tak akan mau menikahi wanita mata duitan, licik dan penipu itu. Itu akan menjadi mimpi buruk baginya.
"Kakak hanya menikahi Kiran sampai Ari ditemukan. Setelah Ari ketemu, kalian bisa pisah."
"Ma, tidak boleh mempermainkan agama, Ma. Ini pernikahan." Papa menyela. Berbicara dengan nada yang paling halus menurutnya. Istrinya sedang sensitif sekarang.
"Iya, Ma. Ini pernikahan. Bukan permainan ludo atau ular tangga, di mana Radit boleh menggantikan Ari. Radit nggak setuju, Ma. Radit gak mau main-main sama pernikahan."
Raut wajah Mama Ariana berubah. Ia merasa sedih. Bayangan kehilangan Ari, ditambah gosip yang nanti akan menerpanya, menghantuinya. "Kak...." lirihnya menatap si sulung dengan tatapan memohon.
"Gak bisa, Ma. Radit gak mau. Beneran, Ma. Mending Mama suruh Radit kerjain yang lain, asal jangan suruh nikahi wanita ma...." hampir saja ia kelepasan, ingin mengucapkan 'mata duitan' pada gadis itu di depan kedua orang tuanya. Syukur, ia masih bisa menahannya.
Mama Ariana menatap dalam kedua mata Radit lalu mendesah lirih, "Kenapa sih, Kakak selalu aja bantah perintah Mama. Kenapa semua kebijakan Mama selalu salah di depan Kakak."
Radit merasa bersalah. "Bukan begitu Ma...." Tuan Mahesa masih terdiam di tengah perdebatan anak dan istrinya itu.
"Ya sudah. Jika memang Kakak gak mau. Biarin Mama mati aja, ikut nyebur ke sungai. Mama mau jemput Ari." ujar Mama terisak. Perasaan bersalah Radit kian bertambah. Ia menatap sang Papa yang menaikkan kedua bahunya.
"Pa...." pintanya memohon agar Papa membela.
"Ya udah, kalau kamu gak mau. Kamu cari malam ini wanita yang bisa kamu nikahi. Gak perlu cantik. Yang penting sabar, sayang sama anak-anak kamu nantinya. Yang paling penting lagi ilmu agamanya." Radit melongo. Si Papa, bukannya bantuin.
"Kalau gak, biar si Bara aja, Ma. Biar dia yang gantiin Ari. Postur tubuh dia dengan Ari kan hampir sama, Ma. Nanti kita buat seakan-akan mereka nikah. Cuma sandiwara aja." entah darimana tiba-tiba saja ide itu datang dan masuk dalam kepalanya. Mama menatapnya tajam.
"Ya udah deh, Ma. Demi Mama." katanya mengalah kemudian dibalas senyuman manis dari sang Mama. "Makasih ya, Kak."