"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
“Kamu ini lucu banget deh. Saya jadi gemas
sama kamu.”
“Pak Adi apaan sih!” Jujur saja, aku merasa
risi jika diperlakukan seperti ini olehnya. Aku tidak suka, apalagi di sini
banyak orang penting.
Ali yang melihat sikap Adi terhadap bawahannya
merasa sangat tidak nyaman, apalagi dia melakukan hal itu di depan semua orang.
Ia pun menoleh ke arah bosnya, ia sedikit kaget melihat bosnya menahan amarah,
terlihat dari raut wajahnya. Bahkan tangannya sudah mengepal kuat. Ia tahu
bosnya tidak suka dengan sikap Adi terhadap Yuri. Jangankan bosnya, dirinya
saja tidak suka melihat pemandangan seperti itu.
“Sabar Pak, jangan ke pancing api cemburu,”
ucap Ali pelan sambil memperhatikan sikap Adi.
“Saya enggak cemburu, saya cuma enggak suka
aja sama sikap Adi. Menurut saja itu terlalu berlebihan, saya tidak paham.
Apakah dia sengaja melakukan hal itu agar semua orang tahu, bahwa ia sedang
menjalani hubungan?”
“Kalau dari padangan saya, dia memang sengaja
melakukan hal itu. Tapi menurut saya hal seperti itu tidak tepat.” Alex
menghela napasnya. Ia sudah tidak tahan melihat sikap Adi, ia pun mencebikkan
bibirnya.
“Cih!”
Akhirnya jam makan siang telah usai, sebagian
orang sudah kembali ke tempat kerjanya, tinggal lah aku, pak Adi, Ali dan kak
Alex di sini.
“Pak Alex, saya mau mengucapkan banyak terima
kasih. Semoga kedepannya semua lancar tidak ada hambatan sama sekali menjelang
hari H nanti.”
“Sama-sama, semoga acara kita nanti bisa
lancar sesuai rencana.”
“Kalau begitu saya pamit.”
“Pak Adi! Tunggu dulu,” ucap Alex menahan
langkah Adi begitu juga dengan diriku.
“Maaf, bisakah saya berbicara dengan bawahan
Pak Adi.”
“Maksud Pak Alex, Yuri?”
“Iya, saya mau bicara penting sama dia. Kalau
pun lama, biar saya yang antar dia kembali ke tempat kerjanya.”
“Pak Alex serius?”
“Iya, saya menjamin keselamatannya!” aku semakin bingung dibuatnya, buat apa coba
dia menahanku di sini? Padahal aku ingin kembali ke tempat kerja.Tanpa aba-aba
kak Alex langsung menariku tanganku dan membawaku pergi entah ke mana, dia
meninggalkan Ali dan juga pak Adi yang
saat ini tengah melongo melihatku ditarik paksa oleh kak Alex.
“Pak Ali, si Yuri mau dibawa ke mana? Kok Pak
Alex kaya maksa gitu ya?” tanya Adi bingung, sedangkan Ali hanya tersenyum lalu
meninggalkan Adi begitu saja.
“Kak! Saya mau dibawa ke mana? Tolong lepas
tangan saya!” ia terus saja menarik tanganku, sampai tanganku merasa sakit. Ia menggenggam
pergelangan tanganku terlalu kuat.
“Kak! Stop dulu, tangan saya sakit.” Sayangnya
ucapanku tidak didengar, ia terus menarikku dan berjalan cepat, padahal aku
sedang memakai sepatu hak yang lumayan tinggi. Ternyata dia membawaku ke
parkiran mobil.
“Ayo, masuk!” perintahnya, aku menggelengkan
kepalaku. Aku tidak mau masuk ke dalam mobil, aku takut.
“Kenapa diam? Ayo masuk!” merasa heran, kenapa
sikap dia jadi berubah begini. Ia terlihat sedang marah.
“Saya mau dibawa ke mana?”
“Ke mana saja, yang penting kamu ikut sama
saya dulu. Kamu tenang aja, setelah ini saya antar kamu kembali ke perusahaan
kamu.” Dengan ragu aku pun masuk ke dalam mobil miliknya, ia menjalankan
mobilnya dengan buru-buru. Saking cepatnya aku sampai berpegangan kuat ke
lenganya. Melihat aku ketakutan, ia merendahkan laju kendaraannya.
“Maaf, kamu jadi takut ya?” ucapnya, aku hanya
mengagukkan kepala. Rasanya nyawaku sudah hampir keluar dari tubuhku. ia pun
melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan sedang.
“Kamu mau bawa saya ke mana?”
“Ke tempat saya.”
“Kita mau ngapain ke tempat Kakak?” panikku, ini pertama
kalinya aku dibawa pergi oleh laki-laki. Jujur saya, aku sangat takut. Aku
takut dia akan melakukan sesuatu di luar batas.
Selama dalam perjalanan, aku terus diam tanpa
bicara apa pun padanya. Pikiranku sudah dipenuhi hal-hal negatif. Butuh waktu
25 menit untuk sampai tujuan, ternyata ia membawaku ke apartemen. Lagi-lagi
jantungku semakin kencang, untuk apa ia membawaku ke sini.
“Ayo turun,” ucapnya, saat membuka pintu
untukku. Aku masih diam, aku tidak mau keluar dari dalam mobil, aku takut.
“Kenapa diam? Ayo turun, kita sudah sampai.”
“Sa-saya enggak mau turun.”
“Kenapa?”
“Saya mau kembali ke tempat kerja, tolong
antar saya. Pekerjaan saya banyak.”
“Nanti saya antar kamu ke tempat kerja, tapi
tolong turun dulu. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu, saya tahu kamu pasti
berpikir yang tidak-tidak dengan saya, ‘kan?” Aku langsung kaget saat dia tahu
apa yang aku pikirkan tentang dia.
“Jangan takut, saya janji enggak akan buat
macam-macam sama kamu. Ayo turun.” Karena dia terus memaksa aku untuk turun
dari mobilnya, mau tidak mau aku harus ikuti apa kata dia. Semoga saja dia
tidak berbuat macam-macam, kalau sampai terjadi. Akan aku laporkan dia ke
polisi.
Saat aku memasuki lobi apartemen, semua orang
yang ada di sini melihat ke arah kami berdua. Aku merasa heran dengan tatapan
orang-orang itu, sebenarnya mereka melihat apa sih?
“Cuekin aja, jangan kamu pikirkan tatapan
mereka semua. Bagi saya hal itu sudah biasa,” ucapnya, aku hanya menganggukkan
kepala saja dan melanjutkan perjalanan ke lantai atas.