Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Guru Baru
Hari ini adalah hari pertama Aisyah mengajar. Suasana sekolah yang cukup ramai di pagi hari, pun para murid yang terlihat sedang buru-buru masuk ke kelas, karena bel masuk sudah berbunyi.
Setelah mendapat arahan dari sang kepala sekolah yaitu Ustadzah Nawawi, Aisyah pun ditunjuk untuk menjadi wali kelas di kelas XI B, yaitu murid tingkat SMA. Serta ia pun mengajar bahasa Arab untuk tingkat kelas XI dan XII.
Aisyah sebenarnya masih belum yakin, apa ia akan bisa melewati hari pertamanya mengajar di pesantren ini, atau tidak. Sejak menginjakkan kaki di halaman pesantren ini, hati Aisyah sudah berdegup kencang tak karuan.
"Semoga lancar ya Aisyah, nanti biar saya panggilkan terlebih dahulu ketua kelas dari kelas XI B-nya." Bu Nawa pun pergi keluar dari ruangannya.
Sementara Aisyah, kini ia masuk ke dalam ruang kerja guru, yang di mana, banyak sekali meja-meja bertumpukan buku, alat tulis dan berkas penting. Mejanya berjajar rapi.
"Bu Aisyah ya?" tanya seorang wanita bertubuh gemuk, dengan pipi chubby, serta makeup yang cukup menor. Wanita tersebut adalah salah satu tenaga pengajar di pesantren ini. Dia adalah Sukmawati, atau lebih dikenal dengan panggilan Bu Suk.
"Iya, saya Aisyah." Seulas senyuman malu-malu terukir di wajah Aisyah.
"Maa Syaa Allah... guru barunya ternyata cantik banget ya," ucap Bu Sukma.
Aisyah semakin tersipu malu, sambil menundukkan wajahnya. "Perkenalkan, saya Sukmawati, tapi lebih sering di panggil Bu Suk," ucapnya memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangan. Aisyah pun membalas uluran tangan Sukma.
Tanpa basa-basi, Sukma pun mengajak Aisyah untuk pergi ke meja kerjanya.
"Nah, kedepannya ini akan menjadi meja kerja Bu Aisyah. Deketan sama saya, kalau ada apa-apa, nanti tanyain ke saya aja atau ke guru-guru lainnya di sini. Jangan sungkan-sungkan ya." Sukma mengelus pelan pundak Aisyah. Lalu para guru yang lain pun ikut menyapa kedatangan Aisyah di sana.
'Hm, sepertinya, orang-orang di sini pada baik-baik semua.'
^
Setelah memecah jalanan pagi yang cukup ramai, kini Adam menghentikan motor bebeknya, tepat di halaman parkir pesantren.
Para murid yang melihat Adam, mereka memberi salam seraya tersenyum menghormati.
Setumpuk berkas di dalam kardus, dipeluk oleh Adam, dibawanya ke ruang guru.
"Assalamu'alaikum...." Seperti biasa, Adam yang memang terkenal ramah kepada semua orang, setiap masuk ke dalam ruangan ia tidak pernah telat untuk mengucapkan salam sekencang mungkin.
Adam menurunkan kardus yang ada di tangannya itu ke atas meja kerjanya. Setelah menyapa beberapa guru lelaki, kini perhatiannya teralih ke arah penjuru sana. Di mana seorang wanita cantik yang begitu menawan, tengah berdiri sambil mengobrol dengan beberapa guru wanita lainnya.
'Loh, bukannya itu Aisyah ya? Kok bisa dia ada di sini?' Adam masih melayangkan tatapan ke arah Aisyah, hingga secara tak sengaja, kedua manik mereka saling bertemu sekilas, sebelum Aisyah mengalihkan pandangannya ke arah lelaki muda, yang bernama Hazel.
"Assalamu'alaikum Bu...."
"Eh, Hazel ... wa'alaikumussalam. Ada apa Zel?" tanya Sukma, yang mendapati anak teladan sepesantren, sudah ada di kantor guru sepagi ini.
"Saya di suruh sama Bu Ustadzah untuk mengantar Bu Aisyah ke kelas."
"Oh, iya benar. Saya yang kamu maksud."
Hazel sedikit terkejut saat tahu kalau yang tengah berdiri di samping Bu Sukma adalah Aisyah yang akan menjadi wali kelasnya. Karena Hazel kira tadi, wanita yang berdiri di dekat Bu Suk adalah calon santriwati yang akan pesantren di sini.
"O-oh, iya Bu. Mari saya antar Bu." Aisyah pun berpamitan dan pergi mengikuti langkah Hazel.
Sebelum keluar dari ruang guru, Adam hendak berteriak memanggil Aisyah, tapi ia urungkan, karena tak mungkin ia memberikan kesan cringe kepada Aisyah di hari pertamanya mengajar.
"Oh... jadi Aisyah benar-benar mengajar di sini ya," gumamnya sambil menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
***
"Nara... ayo makan dulu Nar, aku udah masakin makanan kesukaan kamu nih," teriak Lidya di balik pintu kamar Nara.
Sejak kejaidan hari kemarin, Nara belum sempat makan. Lidya yang memang begitu dekat dengan kerabatnya itu, ia benar-benar khawatir akan keadaan Nara.
"Nar... kamu udah bangun 'kan? Ayo keluar dulu Nar." Lidya masih berusaha membujuk Nara agar mau keluar.
"Nar... jawab aku Nar! Kamu jangan bikin khawatir aku dong! Udah semaleman kamu gak keluar-keluar kamar." Lidya semakin mengencangkan suaranya, berharap akan ada sahutan dari dalam kamar sana.
Bersambung
Baru sampai sini ya author lanjutinnya.
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat