NovelToon NovelToon
Tumbal Mata

Tumbal Mata

Status: tamat
Genre:Zombie / Kutukan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Thriller / Epik Petualangan / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Setelah aku selamat dari kecelakaan itu, aku berhasil untuk bertahan hidup. Tetapi masalah yang kuhadapi ternyata lebih besar daripada dugaanku. Aku tersesat dihutan yang lebat dan luas ini. Aku mungkin masih bisa bertahan jika yang kuhadapi hanyalah binatang liar. Tapi yang jadi masalah bukanlah itu. Sebuah desa dengan penduduk yang menurutku asing dan aneh karena mereka mengalami sebuah penyakit yang membuat indera penglihatan mereka menjadi tidak berfungsi. Sehingga mereka harus mencari "Cahaya" mereka sendiri untuk mengatasi kegelapan yang amat sangat menyelimuti raga mereka. Mereka terpaksa harus mencari dan mencari sampai bisa menemukan mata mereka yang hilang. Dan akhirnya mereka bertemu dengan kami. Beberapa penumpang yang selamat setelah kecelakaan itu, harus bertahan hidup dari kejaran atau mungkin bisa kusebut penderitaan mereka atas kegelapan yang menyelimuti mereka. Berjuang untuk mendapatkan "Cahaya Mata" mereka kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelemahan Mereka

Kami pun beranjak pergi meninggalkan kuburan Kak Evelyn. Kak Willie mengambil busur dan beberapa anak panah yang menjadi peninggalan terakhir darinya. Walaupun dia tidak terlalu mahir dalam memanah, tetapi Kak Willie terus berusaha untuk mengasah kemampuannya.

"Padahal aku belum sempet ngucapin terimakasih buat Kak Evelyn sama Kak Doni yang bantuin aku buat bikin ketapel ini. Kenapa mereka malah pergi secepat ini?" isak Vivi yang masih larut dalam kesedihan.

"Udah gausah disesali. Kak Evelyn sudah melakukan yang terbaik. Biarkan dia tenang disana. Jangan buat dia sedih karena ngeliat kamu terus-terusan sedih," jawabku menenangkan. Vivi perlahan menyeka air mata di pipinya yang merona.

Matahari mulai meningkat kehangatannya. Suara angin berhembus diantara sela-sela tebu hingga menghasilkan suara yang mendesis. Suara serangga yang bernyanyi. Bau tanah kering dan rumput lembab mengiringi perjalanan kami ke utara.

Kami terus berjalan melalui pinggiran ladang dengan penuh semangat dan harapan. Kami sudah tidak peduli lagi akan perasaan tentang teman-teman kami yang telah pergi terlebih dahulu. Karena kami tahu, mereka telah gugur dengan sangat terhormat dan akan terus kami kenang akan jasa-jasanya.

Kami masih terus mengawasi para zombie yang meringkuk bersembunyi diantara batang tebu didalam sana. Sembari berjalan, aku terus memperhatikan tingkah laku mereka. Mereka hanya diam dan tidak bereaksi sama sekali. Aku mulai menghitung ada berapa jumlah zombie disana.

"Tiga belas, empat belas, ... ," gumamku.

"Sial! Kira-kira jumlahnya ada 22. Itu pun yang hanya nampak oleh penglihatanku. Aku juga belum tau seberapa banyak zombie yang masih bersembunyi jauh didalam sana,"

Aku pun meminjam ketapel yang terkalung di leher Vivi dan bersanding dengan kalung emasnya. Vivi kemudian memberikannya kepadaku. Lalu, aku mulai mengambil sebuah batu kerikil dan membidiknya disalah satu zombie yang lokasinya tidak terlalu jauh didalam petak tebu itu.

"Kamu mau ngapain, An?" tanya Vivi.

"Aku mau mastiin sesuatu," jawabku sembari masih fokus dalam membidik . Ketapel pun kulepaskan tetapi sedikit meleset dari target.

"Woi woi! Ngapain lu, Ndra? Lu mau nyari mati disini?" gertak Kak Willie hingga membuat yang lain juga ikut menoleh kearahku.

"Aku mau mastiin sesuatu, Kak. Lihat dan pelajari," jawabku sembari mencari kerikil yang cocok untuk kujadikan peluru.

Aku kembali menarik ketapelku dan membidik seorang zombie yang masih meringkuk tanpa reaksi itu. Semua orang pun berhenti dan melihat apa yang kulakukan saat ini. Berulang kali aku berusaha untuk mengenainya, tetapi semua bidikanku terus tertahan oleh daun-daun tebu yang berada di sekelilingnya.

Setelah beberapa kali aku mencoba, aku pun berhasil mengenai tepat di kepalanya. Dia sempat terguling dan segera kembali terduduk meringkuk lagi melindungi kepalanya dari sengatan matahari. Pak Bonadi mengangguk melihatnya tanpa reaksi. Aku kembali mencoba membidik zombie itu kembali.

"Mampus kau!" seruku ketika bidikanku mengenai kepalanya untuk kedua kalinya.

Tak disangka, dia pun merasa terusik oleh ulahku. Dia kemudian bangkit dan berdiri menyibak semak dan mulai berjalan keluar dari sana. Kami pun bersiap untuk menghadapinya. Tetapi ketika dia keluar dari semak, dia langsung menggeliat seperti seekor lintah yang diberi garam di tubuhnya.. Kami pun tercengang melihat tingkah lakunya.

Tiba-tiba Pak Bonadi langsung terjun dan menerjangnya. Zombie itu mencoba untuk kabur dan kembali menuju semak-semak . Tetapi kalah cepat dan segera ditangkap oleh Pak Bonadi. Pak Bonadi pun kemudian memegangi badan zombie itu.

"Lihatlah matahari sialan! Kau saat ini amat kekurangan vitamin D," ledek Pak Bonadi sembari masih memegangi zombie yang semakin menggeliat kesakitan itu.

Tenaga Pak Bonadi masih jauh lebih besar ketimbang zombie yang berperawakan agak kurus tersebut. Zombie itu semakin menggeliat hebat dan berteriak dengan sangat keras hingga memekakkan telinga kami. Pak Bonadi yang geram pun langsung membantingnya ke tanah hingga dia jatuh tersungkur. Pak Bonadi langsung menghantamkan kepalanya ke tanah untuk membuatnya diam. Dia masih meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri. Aku kemudian terjun dan ikut membantu apa yang sedang Pak Bonadi lakukan.

"Cepat! Paksa dia membuka mata," perintah Pak Bonadi yang sudah mengunci pergerakan zombie itu.

Aku langsung menurutinya dan langsung menyumpal mulut bisingnya dengan gumpalan tanah. Aku pun langsung memaksanya untuk membuka matanya dan melihat apa yang akan terjadi berikutnya. Dia melawan dengan menutup matanya rapat-rapat. Tetapi aku tak mau kalah, aku terus memaksanya untuk membuka mata.

Beberapa kali aku mencoba, aku pun berhasil membuka matanya. Bola mata dengan pupil yang runcing itu pun tiba-tiba langsung memutih terkena paparan sinar matahari. Aku dan Pak Bonadi menjadi sangat terkejut atas kejadian itu.

"Cepat! Lakukan juga pada mata yang satunya," perintah Pak Bonadi.

Aku pun melakukan hal yang sama ke mata lainnya. Dan kejadian serupa pun terjadi. Pupil mata yang runcing, layaknya mata seekor hewan karnivora itu pun perlahan menjadi memutih. Zombie itu menjadi menggila dan kami pun tak sanggup lagi untuk menahan pergerakannya. Pak Bonadi langsung melepaskan kunciannya dan menarikku tubuhku menjauh.

Dia kemudian menggeliat ditanah sembari berteriak dengan suara yang amat memilukan. Dia seperti kesakitan dengan terus memegangi matanya yang mulai memutih itu.

"Pupil mata yang runcing. Layaknya mata seekor anjing pemburu. Pantas saja anjing-anjing kemarin tidak memiliki bola mata yang lengkap," gumam Pak Bonadi.

"Sebelumnya saat kejadian dipondok kayu, zombie yang bertamu ke rumah kita memiliki pupil mata horizontal layaknya mata seekor domba. Maka semakin jelas juga asal usul darimana mereka mendapatkan bola mata," sambungnya.

"Mungkin kamu benar. Pondok kayu yang kita tinggali dan dengan padang rumput yang luas sangat cocok untuk menggembalakan domba disana," sahut Pak Bonadi.

"Apa mungkin para zombie yang menyerang kita semalam membunuh domba-domba untuk diambil matanya hingga membuat domba-domba itu mati?" tanyaku lagi.

"Bisa jadi," jawab Pak Bonadi.

Kemudian tiba-tiba sekujur tubuhnya menjadi kaku. Setelah itu dia tak bergerak lagi. Kami menjadi sangat tercengang atas kejadian tersebut. Kami mendekatinya perlahan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi diikuti yang lainnya.

Dia terbujur kaku dengan mata melotot dan mulut yang menganga menggambarkan penderitaan yang teramat sangat. Aku hanya menatapnya datar. Aini yang baru saja sampai langsung memeluk tanganku dan menyembunyikan kepalanya diantara tanganku.

"Pantas saja dia bersembunyi di dalam semak-semak. Mereka memang berusaha untuk menghindari silaunya sinar matahari. Dasar payah," gumam Pak Bonadi sembari meludah kearah zombie yang sudah tak bernyawa itu.

"Dengan begini kita sudah tahu akan kelemahannya. Setelah ini kita tidak usah khawatir untuk beristirahat. Kita akan tidur diwaktu menjelang sore, dan kembali melanjutkan perjalanan setelah matahari terbenam," ucap Pak Bonadi. Kemudian kami meninggalkan area itu dan segera melanjutkan perjalanan.

Matahari yang mulai berkurang kehangatannya. Angin yang berhembus pelan diantara dedaunan sehingga menghasilkan suara mendesis. Bayang-bayang pohon yang memanjang. Akhirnya kami pun sampai di penghujung ladang yang luas ini.

Kami melihat sebuah saluran irigasi yang cukup luas disana. Dan di kejauhan terlihat juga siluet jalan raya yang dipenuhi oleh hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang. Aku merasa tak percaya oleh apa yang kulihat saat ini.

1
Elythos
mirip sama penulisnya ini
Elythos: iya anak kicik
total 4 replies
Reaz
good job
Chimpanzini Sudah Hiatus: thanks kk udh mampir
total 1 replies
AI
Kalau PoV 1 harusnya enggak pake "batinku"
Chimpanzini Sudah Hiatus: ohh pantesan wkwk
total 6 replies
AI
Kenapa enggak dikasih deskripsi karakter cewe tomboynya sebelum dialog?
Chimpanzini Sudah Hiatus: siap kk. deskripsinya bagus, terlalu lengkap malah. mungkin akan ku pake beberapa.
total 3 replies
mengerikan nabung dulu ah nanti lagi XD
Chimpanzini Sudah Hiatus: okeii thanks udh mampir
total 1 replies
Verlit Ivana
enak dibaca padahal bab ini lumayan panjang, tp gak bikin bosen.
Chimpanzini Sudah Hiatus: hehe thanks udh mampir
total 1 replies
Verlit Ivana
hoo serem kasusnya sadis.
ナテブー
kak harus di lanjut terus sampai tamat yaa
Chimpanzini Sudah Hiatus: makasihh atas rating positifnyaa
total 1 replies
Theafterworld
Hell nah bro, di novel apapun bisa terjadi wkwk
Chimpanzini Sudah Hiatus: waduh cik 💀💀
total 1 replies
JEJE SUKA BACA
Seyem
JEJE SUKA BACA
Lanjut
Supri ASeng
Hani....???
Supri ASeng: Ya, han/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
total 2 replies
Supri ASeng
semangat, hani
Supri Aseng
Thor... penjaga makam kuno, titip. salam 😃😃😃
Chimpanzini Sudah Hiatus: gapapa
total 4 replies
Supri Aseng
wewe gombel kalah sama penjaga makam kuno
☺☺☺
Chimpanzini Sudah Hiatus: waduhh
total 1 replies
Supri Aseng
bElum baca sudah tamAt, Thor☺☺☺
Supri Aseng: aku pun wong jowo, mbak☺☺☺
total 6 replies
Riva Armis
Bagus. Mudah buat dibaca
Chimpanzini Sudah Hiatus: makasihh udh mampir
total 1 replies
Serenarara
Semangat nulisnya thor!
Chimpanzini Sudah Hiatus: makasihh udh mampirr
total 1 replies
kaum lelembut
aku baca nama 'aini' kaya manggil nama sendiri jadi nya hehehe
kaum lelembut: wah keren,, tar lanjut baca lagi deh .. biasa kalo siang gini sibuk dulu hehe
total 4 replies
FrontMan
serem juga, udah kayak final Destination
Chimpanzini Sudah Hiatus: makasihh kk
coba baca sampe akhir, dijamin makin serem makin buat mimpi buruk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!