wanita bernama Ayu yang hidup dalam kemiskinan setelah menikah dengan suaminya yang bernama Sugi.
Sugi sang suami hanyalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, sehingga membuat Ayu mengambil jalan pintas dengan melakukan pesugihan yang mana mengorbankan anak atau anggota keluarganya.
Bagaimanakah kisah perjalanan Ayu, ikuti kisah selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sosok menakutkan-2
"Aaarrgh, Sakit, mbok. Pelan-pelan," ucap Ayu sembari meringis menahan sakit.
"Wah, ini darah stosel nya masih ada tertinggal, mbak ," ucap Mbok Ginah, lalu menyungkit dengan ujung jemarinya yang ditekan dibagian bawah perut wanita.
Seketika gumpalan darah berbentuk hati meluncur dari organ inti wanita yang baru saja melahirkan itu. Seketika kain sarung yang digunakan oleh Ayu basah dan terasa lengket. Aroma amis menyeruak dengan begitu kuat.
"Wah, banyak sekali stosel-nya, Mbak," Wanita paruh baya itu terlihat kaget.
Ratih dan Minten saling tatap. Ternyata mereka sedang mencuri dengar pembicaraan mbok Gina dan Ayu. "Berarti benar si Ayu habis melahirkan," bisik Minten pada rekannya. Keduanya tampak membersihkan rumah tanpa bersungguh, entah apa yang sedang mereka inginkan.
"Tuh, kan bener. Kemana coba bayinya? Jika hidup gak ada dengar suara nangis, jika meninggal mengapa tidak dikubur?" Ratih menimpali. Keduanya berbisik dan hampir tidak terdengar. Mereka terus mencuri dengar pembicaraan Ayu dengan mbok Gina.
"Bayinya dikubur dimana, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu, sembari mengurut wanita yang tiba-tiba kaya mendadak dalam sekejab saja.
Ayu membolakan matanya, menatap tajam pada wanita yang kini tengah memperbaiki letak perutnya. Tanpa sepengetahuan Ayu, mbok Gina menaikkan rahimnya hingga dalam, sehingga membuat ia akan kesulitan untuk memiliki keturunan lagi.
"Bisa gak sih, kalian itu tidak ikut campur urusan orang? Mau saya kubur dimana anak saya itu-kan urusan saya, kenapa kalian yang repot?" Ayu tampak ketus dengan pertanyaan dari wanita paruh baya itu.
Mbok Gina mencoba bersabar. "Bukan ikut campur, Mbak. Namanya bayi yang sudah genap sembilan bulan, jika lahir dalam keadaan meninggal, maka harus disempurnakan fardhu kifayahnya, jika tidak, itu sama dengan dosa ditanggung oleh orang sekampung," Wanita itu mencoba menjelaskan kepada Ayu tentang apa yang dimaksudnya.
Ayu mencebikkan bibirnya. "Jangan sok tau, dan jangan ikut campur urusanku," sahut Ayu kesal. Wajahnya sudah tampak merah padam karena ucapan wanita paruh baya itu dapat membuatnya terjebak dalam permainannya sendiri.
Wanita itu tampak tersinggung, dan gelagat Ayu sangat mencurigakan baginya.
Minten dan Ratih semakin menajamkan indera pendengarannya, dan ini akan menjadi bahan gosip yang hot banget untuk dighibahkan.
"Sudah! Mbok kemari buat ngurut saya, atau mau jadi wartawan tak bergaji yang kerjanya ingin mengorek informasi dari saya!" kemarahan Ayu sepertinya sudah tidak lagi dapat dibendungnya.
Mbok Gina tersentak kaget. Ia tidka menduga jika Ayu semarah itu. Suara amarah wanita itu terdengar menggeelgar, sehingga membuat Minten dan juga Ratih ikut melongok ke ruang tempat dimana Ayu diurut.
"Ya, ampun, Yu..., istighfar," Minten mencoba menengahi, "Tak baik ngomong kasar gitu, bagaimanapun mbok Gina lebih tua dari kamu," ucapnya dengan setenang mungkin.
Ayu beranjak bangkit dari tidurnya, lalu membenahi kain sarungnya yang melorot. Ia mengambil lembaran uang seratus ribu sebanyak lima lembar, lalu melemparkannya dihadapan wanita paruh baya itu.
"Nih, ini uang, ambillah, dan pergi dari rumahku!!" hardiknya dengan kasar.
"Yu, kamu ini, Ya. Gak ada tata krama sedikitpun! Mbok Gina cuma nanya, anak kamu kemana? Kalau emang meninggal kenapa tidak dikebumikan? Dan kamu kenapa juga marah-marah? Apa kamu terserang baby blues atau juga kamu emang lagi buat tumbal pesugihan!" Ratih yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.
Seketika wajah wanita itu memerah, lalu menatap ketiga wanita itu dengan tatapan ingin membu-nuh. Ia sudah kehabisan akal sehatnya. Pergi ke dapur dan mengambil sebilah parang tajam lalu mengacungkannya kepada ketiga wanita itu.
"Brengseek, kalian! Pergi darirumahku, atau aku akan mencincang kalian!" ancamnya dengan geram.
Bagas yang mendengar keributan dan melihat ibunya membawa senjata tajam, bergegas menutup pintu kamar untuk melindungi saudarinya.
Sedangkan Mbok Gina dan Ratih beserta Minten, memilih keluar dari rumah yang mana mereka melihat jika wajah Ayu seketika berubah menjadi amat mengerikan dan seperti sedang dirasuki syetan.
Bahkan ia tak menyadari darah kental yang keluar dari rahimnya.
Setelah berhasil membuat ketiganya melarikan diri. Maka ia duduk tanpa sehelai benangpun, sebab kain sarung yang digunakannya sudah melorot.
Ia terduduk diantara darah kental yang mirip dengan hati sapi dan berasal dari sisa melahirkannya.
Rambutnya tergerai dan acak-acakkan. Seolah ada bisikan yang memintanya untuk memakan darah tersebut. Dengan rakus ia memakannya hingga tak tersisa.
******
Lembayung jingga menggantung dilangit senja, pertanda jika maghrib akan tiba.
Bagas membuka pintu dengan hati-hati. Lalu ia mengintai sang ibu yang ternyata tertidur diatas ceceran darah yang sudah mengering dari darah nifasnya, sedangkan darah stosel telah habis dilahapnya, sehingga membuat mulutnya tampak merah dan menjijikkan. Aroma amis sangat memualkan perut dan terasa diaduk untuk segera dimuntahkan.
Bocah berjalan berjingkat tanpa menimbulkan suara. Ia menghampiri ibunya, lalu meraih senjata tajam itu dan menyingkirkannya jauh agar tidak ditemukan oleh wanita yang telah melahirkannya itu.
Lalu ia meraih kain sarung yang tergeletak dilantai tak jauh dari sang yang sedang berbaring. Ia menutupkan nya ke tubuh wanita yang meringkuk bagaikan seekor udang.
"Kak Laila," panggilnya.
Gadis bertubuh kurus itu melongok keluar dari balik pintu.
"Sini," panggilnya.
Lalu gadis kecil itu menghampiri sang adik.
"Bersihkan tubuh ibu, pakai kain basah, biar aku bantu carikan daster dan dalemannya," ucap bocah itu, lalu beranjak ke kamar ibunya.
Laila menganggukkan kepalanya. Lalu bergegas kekamar mandi, mengambil handuk dan membasahinya, lalu membersihkan noda darah yang melekat ditubuh wanita itu dengan penuh cinta.
Sementara itu, Bagas mencari pakaian daster dilemari sang ibu. Ia membuka lemari pakaian dan alangkah terkejutnya ia saat melihat tumpukan uang dan juga perhiasan yang memenuhi isi lemari.
Seketika Bagas melongo. Ia mengsusap kedua matanya, dan memastikan jika yang dilihatnya bukanlah ilusi belaka.
Saat ia membuka matanya, ia melihat jika tubuh Shaleh dan juga tubuh bayi yang merupakan adik yang baru dilahirkannya itu tampak tercabik dan merintih menahan tangis. Darah dimana-mana, keduanya menangis menahan sakit.
Bagar berjalan mundur, menjauh dari pintu lemari, keduanya semakin berteriak menangis saling bersahutan, tiba-tiba kamar berubah seolah menjadi genangan darah.
Tubuh bocah itu seolah kaku dan tidak dapat digerakkan, bahkan untuk berteriak saja ia tak mampu.
Diluar sana, hari semakin meremang, pertanda Maghrib akan tiba. Jendela kamar sang ibu masih terbuka. Lalu tiba-tiba saja sosok mengerikan dengan rambut gimbal dan dada belubang hingga menembus punggung bergerak masuk melalui jendela dan menatapnya dengan seringai mengerikan.
Aroma amis darah semakin menyeruak yang membuat bocah itu hampir sesak nafas. Sosok itu perlahan mendekati Bagas yang saat ini merasa sangat kaku dan tak dapat bergerak.
untuk yang Mega J episode nya gak banyak jadi enak untuk dibaca
sampe baca 2x
oh aku ingat pelajaran Sugi yang cinta mati pada istrinya walaupun sudah tahu akan sipat nya
hidup Sugi
baru kali ini ana baca novel gini amat
Akhy Sugi kayaknya yang akan mendapatkan piala Oscar 2030 mendatang
Sugi genius
Sugi prosesor
Sugi
Sugi
Sugi
sugi.sugi
Sugi
Sugi cerdas