“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.
Semuanya berawal dari ...
Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.
Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.
Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : BALI
Di malam yang sama.
Di dalam kamar Isyana. Dia tengah sibuk membantu Ikbal menyiapkan baju-baju yang akan di bawa pria itu ke Bali. Walaupun dia tahu kalau Ikbal ke Bali bukan untuk masalah pekerjaan, melainkan liburan bersama selingkuhan nya. Tapi Isyana masih memerankan akting sebagai seorang istri yang baik.
Setelah selesai persiapan nya. Dia mengantar Ikbal keluar rumah. Mencium punggung tangan Ikbal dan melambaikan tangan nya. Saat mobil Ikbal keluar dari pekarangan rumah.
“Bu Isyana,” panggil Bu Lastri pelayan rumahnya yang berjalan dari arah dapur menghampirinya.
“Ada apa, Bu Lastri?” tanya nya seraya menoleh ke arah Bu Lastri.
“Ini saya temukan di dalam saku kemejanya, Pak Ikbal. Apakah ini milik Bu Isyana?” Bu Lastri memberikan sebuah anting-anting yang hanya sebelah saja ke tangannya.
Dia mengerutkan dahi menatap lekat anting-anting tersebut. Lalu dia genggam dengan kuat di telapak tangan nya.
“Bu Isyana?” Bu Lastri menyentuh pundaknya. Membuat dia tersentak kaget dan sadar dari lamunan.
“Oh iya, ini memang milik saya. Terima kasih ya sudah menemukannya.” Dia memaksakan bibirnya yang kelu tersenyum. Betapa beratnya dia menahan rasa malunya jika Bu Lastri sempat curiga tentang perselingkuhan suaminya.
“Sama-sama Bu Isyana. Kalau begitu saya kebelakang dulu.” Bu Lastri pun pamit kembali ke dapur.
Dia pun menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dia tidak berhenti menatap anting-anting yang kini ada dalam genggaman nya. “Ini pasti anting-anting nya Nabila.”
Keesokan hari. Isyana menghubungi Elvano dan mengajak nya bertemu di kafe kemarin. Pria itu mengiyakan ajakan nya. Mereka pun bertemu di kafe tempat kemarin mereka mengobrol.
Sambil menyesap gelas berisi teh herbal yang dia pesan. Sesekali dia mengedarkan pandangan nya. Selagi mendengarkan perkataan Elvano.
“Namanya Jameson, dia sangat ingin bertemu dengan mu. Setelah melihat perayaan yang kita lakukan di New York saat itu.” Elvano menatap nya dengan menjelaskan perkataan nya.
“Apa dia Mr.Jameson dari Soneirs Company?” tanya nya.
Elvano pun mengangguk. “Iya benar, apa kamu sudah mengenalnya?”
“Mengenalnya sih belum, tapi beberapa bulan lalu ada sebuah email masuk dari Mr.Jameson CEO Soneirs Company... aku tidak membalasnya karena aku pikir hanya pesan spam saja,” ucap nya dengan tersenyum.
Elvano mengulurkan tangan nya mengusap pucuk kepala Isyana. “Kamu ini ada-ada saja... Mr. Jameson sangat ingin bertemu denganmu.”
Dia terdiam memaku saat pria di hadapan nya itu bersikap santai padanya. Bahkan tidak segan untuk menyentuh pucuk kepalanya.
“Jadi dimana dia sekarang?” Dia memalingkan wajahnya yang memerah.
“Di Bali,” jawab Elvano seraya tersenyum pasif.
Pikiran Isyana langsung melayang memikirkan Ikbal dan Nabila. Kesempatan yang bagus untuk alasan dia pergi ke Bali.
“Kalau begitu kita mengunjungi nya di Bali,” ucapnya tiba-tiba.
Elvano mengerutkan dahi menatapnya dengan penuh tanya. “Sekarang?”
Isyana tersenyum lebar dan mengangguk. Dia meraih tangan Elvano dan mengajak nya keluar dari kafe tersebut.
Di dalam mobil Elvano. Isyana sibuk memperhatikan ponselnya. Dia sedang mengirim pesan kepada Dira sang asisten.
“Sya, memangnya kamu nggak ada pekerjaan lain? Apakah harus sekarang juga kita menemui James?” Elvano meliriknya sambil mengemudi dengan batas aman.
“Aku nggak ada meeting penting untuk beberapa hari ini... astaga, aku hampir lupa. Kamu pasti sangat sibuk ya,” ucap Isyana dengan wajah terkejut menatap Elvano di sebelahnya.
“Kalau aku gampang, Sya. Ada asisten yang handle semuanya... tapi yang aku khawatirkan apa kamu yakin tidak masalah meninggalkan kerjaan. Apalagi sebentar lagi project untuk perusahaan ku harus dilaksanakan.” Elvano menjelaskan sambil menatap fokus ke arah jalan raya.
“Jangan khawatir, ada Dira asisten ku,” jawab Isyana santai dan singkat.
Elvano menautkan alisnya. “Memangnya sepenting itu ya menemui James? Sampai-sampai kamu tidak sabaran seperti ini?”
Isyana terdiam dia menoleh menatap Elvano. Wajah pria itu seketika menjadi serius. Alisnya yang tertaut dan tatapan nya yang menajam. Isyana tahu kalau saat ini Elvano sedang marah.
“Kenapa cara bicaranya begitu? Apa Elvano cemburu?” batin Isyana.
Elvano menoleh kearah Isyana. Wanita itu menatapnya dalam diam. Dia sedikit gugup dibuatnya.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa!” Isyana memalingkan wajahnya kearah luar jendela. Lalu dia tersenyum gemas melihat sikap Elvano yang cemburu.
“Ada apa, Sya? Kenapa kamu memalingkan wajahmu?” Elvano meraih pundak Isyana yang sedang menatap ke arah jendela.
Isyana menggeleng kan kepalanya dan tersenyum tipis.
“Kamu cemburu kan,” ucap Isyana brutal.
Elvano terdiam keduanya saling menatap. Elvano memalingkan wajahnya kearah jalan raya lagi.
“Cemburu? Enggak kok, hahaha,” jawab Elvano seraya tertawa sumbang karena gugup.
“Halah bohong, lagian kamu yang minta aku menemui Mr. Jameson. Tapi malah kamu juga yang marah, nggak jelas banget,” tutur Isyana sambil menahan tawanya.
“Aku nggak cemburu, Sya. Baiklah iya sekarang juga kita ke Bali temuin James.” Elvano geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat Isyana yang menahan tawa karena tingkahnya.
“Aku sangat merindukan senyuman mu itu, Sya,” batin Elvano.
Akhirnya saat itu juga Elvano meminta asisten nya untuk menyiapkan jet pribadi miliknya. Lalu terbang ke Bali bersama Isyana untuk menemui partner bisnisnya bernama Jameson.
Matahari sudah mulai turun di ufuk barat. Isyana melirik arloji di tangan kirinya. Saat ini dia dan Elvano sedang duduk di salah satu kafe yang ada di Bali. Menunggu kedatangan Jameson CEO dari Soneirs Company partner bisnis Elvano.
“Hai Elmubarak?”
Elvano dan Isyana sama-sama menoleh kearah suara yang memanggil Elvano. Ada seorang pria yang berkebangsaan portugis itu tersenyum menatap Elvano.
“Hai James, how are you bro,” ucap Elvano seraya berdiri dan memeluk Jameson.
“Im fine thanks... how about you bro?” Jameson pun ikut duduk bersama dengan Elvano dan Isyana.
“Aku juga baik-baik saja... oh iya perkenalkan ini Isyana Germian Sen Event Organizer yang sudah lama mau kamu temui,” ucap Elvano seraya memperkenalkan Isyana pada Jameson.
“Nona Isyana? Nice to meet you.” Jameson mengulurkan tangan nya pada Isyana.
Isyana tersenyum ramah dan menjabat tangan Jameson. “Nice to meet you too Mr. Jameson... maafkan aku karena tidak membalas surel dari mu,” ucap Isyana menyesal.
“Its okay.” Jameson tersenyum santai sambil menepuk bahu Elvano.
Mereka pun berbincang-bincang mengenai pekerjaan. Tidak lama sekitar satu jam. Jameson pun harus kembali mengurus pekerjaan nya. Dia pamit undur diri pada Elvano dan Isyana.
“Sampai bertemu lagi, Nona Isyana.” Jameson menjabat tangan Isyana dan menatapnya penuh kagum.
“Baik, sampai bertemu juga Mr Jameson.” Isyana membalas senyuman Jameson dengan ramah.
Jameson pun pergi meninggalkan Isyana berdua dengan Elvano.
“Sya, karena sudah hampir malam. Bagaimana jika kita menginap malam ini di hotel terdekat,” ucap Elvano seraya melirik arlojinya.
Isyana mengangguk.
Elvano pun hendak berbalik. Tapi pandangan nya tidak sengaja menangkap pemandangan yang kurang mengenakkan. Dia melihat Nabila yang tengah menyeruput segelas kopi dan mengobrol dengan santai dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya.
“Sebentar, Sya.”
“Kamu mau kemana El?” tanya Isyana saat Elvano berjalan melewatinya. Pandangan nya mengikuti langkah kaki Elvano. Betapa terkejutnya dia melihat Nabila dan Ikbal yang sedang bersendau gurau di sana.
“Nabila?” Elvano mendekati meja tempat Nabila duduk. Diikuti dengan Isyana yang berdiri di belakang Elvano.
“Elvano?" Nabila sangat terkejut. Raut wajahnya membeku dia berdiri dengan badan yang gemetar melihat Elvano.
“Mas Ikbal?” Isyana menatap Ikbal yang juga sama terkejutnya seperti Nabila. Pria itu hampir menumpahkan gelas yang dia senggol di atas meja.
“Kalian berdua? Ngapain disini?” Isyana pura-pura terkejut dan menatap penuh tanya Ikbal dan Nabila.
To be continued....