Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Camelia menggunakan lotion di tubuhnya, dia tidak ingin pria tua itu menyentuh langsung kulitnya, atau mencium langsung kulitnya.
Dia juga memakai lipstik merah andalannya, lalu mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Camelia terus berpikir saat dirinya melakukan semua itu. Camelia benar-benar merasa kalau dia pernah melihat pria itu, tapi kapan dan di mana itu yang dia tidak ingat.
Saat Camelia masih berpikir, pria itu datang dengan sebotol minuman mahal di tangannya.
"Cantik, kamu sudah siap rupanya?" tanya pria itu yang melihat sepertinya Camelia sudah mengenakan semua aksesoris dan peralatan tempurnya.
Camelia berjalan dengan gemulai ke arah pria tua itu.
"Tentu saja tuan, ini kali pertama tuan ke lentera malam ya, aku belum pernah lihat tuan. Sayang sekali, kenapa pria sekaya dan setampan tuan tidak tidak ku temui saat aku masih muda dan cantik dulu!" Camelia langsung merayu pria itu.
Camelia ingin tahu, siapa sebenarnya pria itu. Pria yang tidak pernah dia lihat, tapi memberinya uang yang begitu banyak. Padahal kalau segi penampilan di panggung tadi, dia malah tidak sebagus Tifani, salah seorang kembang yang masih muda dan pakaiannya sangat bagus, Camelia hari ini tidak bersemangat melayani pria, karena itu dia tidak berpenampilan seglamor yang biasanya.
Pria itu justru memberikan uang yang sangat banyak padanya, itu benar-benar membuatnya curiga.
"Kamu masih cantik dan muda sayang, lihat ini... aku bawakan kamu minuman dari kota Dinar. Ini minuman mahal, kita minum bersama ya" kata pria itu yang langsung ingin membuka tutup botol minuman yang dia bawa.
"Tuan, tapi aku udah pernah minum saat melayani tamu. Nanti tamuku tidak puas" kata Camelia yang menarik pria itu ke kursi dan mulai duduk di pangkuannya.
Pria itu yang tadinya ingin segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Gandara kepadanya. Mulai tergoda oleh rayuan dan sikap Camelia yang begitu manja dan menggodanya terus sejak tadi.
"Bagitu ya, aku sudah banyak mendengar tentang Camelia si kembang paling populer di Lentera malam. Jadi memang sesuai dengan gelar itu ya, kamu benar-benar sangat menggoda. Sangat sayang kalau di lewatkan bukan?" tanya pria itu setelah mengatakan beberapa patah kata yang membuat Amelia semakin curiga.
Pria itu atas meletakkan botol minuman itu di atas meja, dan mulai merabaa tubuh Camelia. Camelia tentu saja mengerjakan tugasnya dengan baik, dia di bayar untuk membuat tamu itu pulang dengan puas.
Sambil membuat pria itu terlena, Camelia pun mulai bertanya.
"Datanglah setiap malam mulai besok ya tuan" kata Camelia.
"Harga mu terlalu mahal sayang"
Mata Camelia melebar, dia yakin dan semakin yakin ada yang tidak beres.
"Begitukah, memang gaji tuan berapa?" tanya Camelia yang masih membuat pria itu terlena.
"Hanya 70 ribu sebulan, cantik" kaya pria itu yang masih memejamkan matanya merasakan segala kenikmatan yang diberikan oleh Camelia.
"Tuan tinggal di mana?" tanya Camelia.
"Di asrama besar Godean"
Camelia tersenyum miring mendengarnya. Hanya orang-orang Cokrodima yang tinggal di sana. Pantas saja Camelia merasa sangat familiar dengan pria itu, karena pria itu adalah salah satu pengawal yang tidak pernah turun dari mobil Cokrodima.
Camelia lantas menoleh ke arah minuman yang ada di sebelahnya.
Camelia membuka tutup botol minuman itu dan meminumnya tapi tidak ditelan.
Camelia meraih dagu pria yang tengah merasakan kenikmatan dari Camelia itu, lalu mencium bibir pria itu, pria itu membuka mulutnya tanpa sadar. Saat Camelia menuang semua minuman di mulutnya pada pria itu. Pria itu dengan tempe sadar meminum minuman tersebut dan menelannya. Karena memang dia sangat haus setelah bergulat selama beberapa menit dengan Camelia.
Camelia tersenyum miring, dan bangkit dari tubuh pria itu.
Mata pria itu perlahan terbuka karena merasakan sesuatu yang hilang padahal dia belum sampai pada puncaknya.
"Cantik, kenapa berdiri. Mau ganti gaya ya?" tanya pria itu.
Camelia menarik selimut yang ada di atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu baik-baik saja tuan? kamu sudah minum minuman itu loh?" tanya Camelia dengan senyuman menyeringai yang membuat pria itu menoleh ke arah botol minuman itu.
Tak lama wajahnya merah, dia memegang lehernya yang terasa seperti tercekik.
"Ck.. kasihan" kata Camelia yang langsung berjalan ke arah pintu.
"To.. tolong... minuman ini di racun, Gandara punya penawarnya. Cepat panggil Gandara" kata pria itu tergagap sambil meminta tolong pada Camelia.
Namun baru dua langkah pria itu kakinya berjalan mendekat ke arah Camelia. Pria itu sudah jatuh ke lantai dengan mulut yang sudah mulai mengeluarkan busa.
"Tolong aku" kata pria itu yang wajahnya mulai membiru.
Camelia yang sebenarnya sudah berada di depan pintu sejak tadi, tidak langsung menggedor pintu atau memanggil penjaga supaya datang ke kamarnya dan menolong pria itu. Dia menunggu sampai dia benar-benar yakin kalau pria itu tidak akan bisa selamat.
Setelah kondisi pria itu mengenaskan, dan sudah tidak bergerak, Camelia baru menggedor pintu.
Dok dok dok
"Penjaga... penjaga, tolong penjaga!" teriak Camelia sambil menggedor-gedor pintu.
Awalnya kamera berteriak dengan suara pelan untuk mengulur waktu lagi supaya dia yang yakin dan memastikan kalau pria itu sudah mati, baru lama kelamaan dia berteriak dengan kencang supaya para penjaga cepat datang.
Ceklek
Pintu terbuka dari luar dan akhirnya para penjaga yang masuk melihat pemandangan yang begitu mengejutkan mereka. Pria itu mati, dengan mata terbuka lebar wajah yang membiru dan banyak sekali busa keluar dari mulutnya.
"Apa yang terjadi?" tanya penjaga.
"Aku tidak tahu, pria itu minum minuman yang dia bawa, aku baru mau ambil gelas. Dan dia sudah kejang-kejang dan mati begitu" kata Camelia yang matanya berkaca-kaca saat bercerita seperti itu kepada para penjaga.
Camelia juga menunjukkan wajahnya yang ketakutan dan tangannya dia buat gemetaran sendiri.
Pada penjaga melihat Camelia belum berpakaian, dan pria itu juga dalam keadaan polos.
Para penjaga lalu melapor pada Gandara, para tamu lain yang mendengar hal itu juga keluar dan melihat dengan takut apa yang terjadi. Dengan banyaknya tamu yang melihat kejadian itu maka Gandara tidak mungkin menyalahkan Camelia atas apa yang terjadi.
"Bagaimana dia bisa mati?"
"Karena minuman itu"
"Apa minuman itu di beri racun"
Banyak sekali yang bergunjing, Laila yang tamunya juga keluar langsung menghampiri Camelia.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Laila.
"Tentu saja kak, wanita tua licik itu ingin aku mati dengan terang-terangan sekarang. Lihat saja, aku yang akan lebih dulu membuatnya mati" kata Camelia mengepalkan tangannya.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍