" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Rafael tak se detik pun meninggalkan Meera, mungkin berkedip pun rasanya ia tak ingin, matanya terus menatap fokus pada wajah pucat Meera yang terbaring dengan mata yang masih terpejam, keningnya terbungkus perban, dokter sudah menempatkan nya di ruang perawatan termewah.
Sedangkan Cecilia memilih duduk di luar ruangan,ia duduk di kursi tunggu,ingin pulang tapi ia masih sangat khawatir,ingin di dalam namun Rafael masih berada di dalam.
Begitupun dengan Damares,ia memilih ikut duduk di kursi tak jauh dari Cecilia, keduanya tak terlibat obrolan apapun, setelah tadi Cecilia menceritakan tentang kronologi kejadian yang sebenarnya pada Rafael,Alex dan Damares.
Bik Munah yang tadi sudah datang kini diminta untuk pulang ke mansion,wanita paruh baya itu harus mengawasi semua pekerja di mansion,termasuk dalam mengatur makan para art, satpam,supir dan tukang kebun, semuanya beliau yang mengaturnya.
Di dalam ruangan...
" Ra... please..buka mata kamu Ra,aku ga sanggup liat kamu kayak gini" ucap Rafael lirih, suaranya terdengar pelan di samping Meera.
Diluar,ratu Ambar berjalan cepat menuju kamar perawatan Meera,wanita paruh baya itu benar-benar sangat khawatir setelah mendengar dan melihat berita tentang kecelakaan.
" Ratu" sapa Damares yang langsung bangkit dari duduknya saat melihat dan menyadari siapa yang datang.
Begitupun dengan Cecilia yang tak pernah menduga akan kedatangan wanita nomor satu di negara itu,ia segera menunduk hormat.
" Dimana Meera?" tanya ratu Ambar cepat.
" Ada di dalam, bersama pangeran" jawab Damares cepat.
Ratu Ambar mengangguk mengerti,beliau melangkah menuju pintu, membukanya secara perlahan dan masuk.
" Bu..." sapa Rafael pelan,saat melihat siapa yang datang.
" Tenanglah....Meera pasti akan baik-baik saja" putri Ambar mendekat dan mengusap lembut punggung sang putra.
" A-aku takut sekali Bu" adu Rafael tentang perasaan nya.
Ratu Ambar tersenyum lembut,tangan nya beralih mengusap rambut sang putra " itu kecelakaan,tak ada yang bisa menduga nya" ucap ratu Ambar mencoba menenangkan pikiran putranya.
Mendengar ucapan sang ibu, pangeran Rafael segera menggeleng" itu bukan murni kecelakaan Bu, seseorang sengaja melakukan itu padanya untuk memberikan ancaman pada ku,aku tak akan membiarkan itu,aku akan mencarinya" .
" Kalau begitu lakukan secara perlahan, jangan terburu-buru,itu justru akan semakin mengancam keselamatan nya" ucap ratu Ambar serius, beliau percaya sang putra tidak mungkin salah menduga, putranya memiliki insting yang kuat dalam menghadapi sesuatu.
Rafael mengangguk setuju dengan apa yang sang ibu katakan, ibunya adalah seorang wanita yang cerdas dan bijaksana, memiliki banyak pertimbangan dalam setiap keputusan yang diambil.
Ratu Ambar memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit setelah memastikan seperti apa keadaan Meera, walaupun gadis cantik itu belum sadarkan diri,beliau tak mungkin menunggunya, mengingat waktu yang sudah malam.
" Ibu harus segera kembali, sampaikan salam ibu kepadanya saat ia sudah siuman nanti,dan ingat,kamu juga harus istirahat, perketat pengawasan,di pastikan semuanya akan baik-baik saja" .
" Baik Bu" jawab Rafael patuh,ia mengantar sang ibu sampai di depan pintu ruangan Meera.
" Jaga dia, jangan izinkan siapapun masuk tanpa se izin ku,kecuali kedua orang tuanya" perintah Rafael tegas pada beberapa bodyguard yang berjaga di depan pintu kamar rawat Meera.
Rafael meminta agar Cecilia masuk menemani Meera,ia memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit, pekerjaan yang sangat penting tengah menunggu nya,tak bisa ia tunda, baru saja Alexander menghubungi Damares dan sahabatnya itulah yang menyampaikan pesan tersebut padanya.
Walaupun sangat berat meninggalkan Meera,tapi Rafael juga sadar,bahwa ia juga memiliki tanggung jawab lain yang tak kalah pentingnya,saat ini ia bukan hanya sebagai seorang pangeran,tapi juga seorang pengusaha muda yang namanya mulai di kenal sejak beberapa tahun terakhir ini.
Terlebih di beberapa negara luar,ia di kenal dengan sebutan singanya Sahan, Karena di akui Rafael begitu ahli da cepat dalam membaca harga saham global.
Ia juga di kenal dengan julukan pengusaha dingin dan kejam,tak pernah memberikan ampunan kepada para pengusaha yang berani mencurangi nya.
Usianya memang masih sangat muda untuk para rekan bisnisnya,namun kemampuan nya tak pernah di ragukan,cukup bisa diandalkan dan pasti akan selalu menjadi bahan pertimbangan oleh para calon koleganya.
Saat ini hanya tinggal Cecilia yang berada di dalam kamar Meera, sedangkan kedua orang tua meera di katakan tengah dalam perjalanan kembali ke negara itu, pasangan paruh baya itu langsung menaiki pesawat beberapa menit setelah mendapatkan kabar yang menimpa sang putri kesayangan.
" Uh..." Cecilia langsung bangkit dari duduknya saat mendengar suara lenguhan lirih dari Meera, sahabatnya itu terlihat mulai membuka matanya.
" Bebe......" panggil Cecilia yang langsung menghambur memeluk tubuh Meera yang masih terbaring lemah, karena merasa sangat bahagia melihat sahabatnya kembali membuka matanya, Cecilia sampai lupa pesan dokter untuk segera memanggil mereka jika Meera siuman.
" Ya Tuhan..aku takut banget Ra,tapi syukurlah akhirnya kamu sadar juga" ucap Cecilia menciumi wajah Meera,namun sedetik kemudian ia baru sadar.
Plak...
" Ya ampun aku sampai lupa" tangan nya memukul keningnya sendiri saat ingat dengan pesan dokter,dengan cepat Camelia menekan tombol panggilan darurat yang berada di samping ranjang pasien.
Cecilia baru menyadari mata Meera melihat sekeliling kamar perawatan nya.
" Papa dan mama kamu sedang dalam perjalanan pulang,bik Munah tadi datang,tapi kami memintanya untuk kembali ke mansion setelah mengantarkan segala kebutuhan kamu,dan.. pangeran Rafael sejak kamu masih di IGD terus menunggu,tapi tadi dia pamit ada yang harus ia kerjakan katanya,bahkan tadi ibu Ratu juga menjenguk mu,tapi beliau tidak mungkin terlalu lama berada di sini,beliau khawatir berbagai berita akan kembali muncul" .
Cecilia menjelaskan semuanya pada Meera,ia tau sahabat nya itu mengharapkan kehadiran beberapa orang di sisinya saat ini,namun Cecilia berharap dengan penjelasan nya barusan sahabatnya itu bisa lebih memaklumi, mereka semua benar-benar sangat sibuk,bukan kan perhatian padanya.
Meera mengagguk pelan,bibir pucatnya menyunggingkan senyuman tipis, kepala nya masih terasa begitu pusing,ia bahkan tak terlalu tau bagaimana semuanya bisa terjadi pada nya, kejadiannya benar-benar sangat tiba-tiba.
" Kamu tidak perlu memikirkan semuanya, yang perlu kamu pikirkan adalah kesehatan mu,kamu membuat kami semua sangat ketakutan,kamu tau, bahkan pangeran sampai gemetar saat tiba di IGD tadi" ucap Cecilia berusaha memberikan semangat pada sahabatnya.
" Aku baik-baik saja,hanya kepala ku yang terasa sedikit pusing dan tubuh ku rasa nya sakit semua" jawab Meera pelan,rasanya ia begitu sulit untuk bicara.
Cecilia mengangguk cepat" tunggu sebentar ya, dokternya akan segera datang,kamu jangan banyak bergerak atau bicara dulu" Cecilia menyimpan gelas air putih setelah memberikan sedikit minum untuk sahabatnya.
Hingga akhirnya dokter yang menangani Meera masuk dan memeriksa semuanya.
" Kondisi nona Meera sudah cukup baik,nona ludah melewati masa kritisnya,tolong di perbanyak istirahat dan jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu" ucap dokter wanita yang menggantikan rekan nya menangani Meera,semua itu ulah Rafael yang menolak dokter laki-laki yang menjadi dokter Meera.
Cecilia mengagguk " terimakasih dok" jawab Cecilia sopan.
Dokter muda itu mengangguk seraya tersenyum ramah sebelum meninggalkan kamar rawat Meera.
abis digampar Meera, sekarang bapaknya Meera, btw gpp namanya juga usaha, kerahkan seluruh usaha dan sabarmu ya EL
Ganbatte 💪
harus konsekuen dong dengan pilihan nya...ya sana jalan aja atau berkencan sama si Camelia..kan ngebet banget sama pangeran 😄
ini pasti akan sedikit lebih sulit.
Meeramu sudah berubah, dia bukan lagi Meera yg dulu
merana deh🤣
Meera kamu harus semakin kuat..
belajar menghadapi tantangan hidup
yg tentu tidak mudah.. yakinkan diri bahwa kamu kuat kamu bisa💪💪